Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: DARAH DAGING
#
Pagi datang dengan cahaya muda yang masuk lewat celah kayu jendela. Suara ombak masih ada, konsisten, gak peduli apa yang terjadi dengan kehidupan manusia di pantai ini.
Sari bangun pertama. Matanya langsung terbuka, bukan karena tidur nyenyak tapi karena mimpi. Mimpi yang sama yang terus datang setiap malam sejak tiga bulan lalu. Mimpi tentang ibunya. Tentang suara tangisan yang gak pernah berhenti di dalam mimpi itu.
Dia duduk pelan, jangan sampai bangunkan yang lain. Arjuna tidur di sebelahnya, muka masih penuh lebam, napasnya teratur sekarang tapi tadi malam sempat batuk darah dua kali. Pixel di pojok lain, peluk laptop kayak boneka mati.
Ratna udah bangun. Berdiri di dapur kecil, bikin teh. Tangannya pegang dua cangkir, satu buat diri sendiri, satu lagi kayaknya buat Sari.
"Kau gak bisa tidur?" tanya Ratna tanpa noleh.
"Gak bisa," jawab Sari sambil duduk di kursi makan yang satu-satunya. Kayu kursi itu udah miring, kayak mau jatuh tapi gak jatuh juga.
Ratna taruh teh di depannya. Duduk di kursi lain. Mereka diam sebentar. Hanya suara ombak dan uap teh yang naik.
"Ibu tau kan," kata Sari akhirnya. Suaranya pelan. Gak ada emosi di sana, kosong gitu aja kayak udah dikeluarin semua energinya. "Ibu tau aku anak dia."
Ratna mengangguk. "Aku tau sejak pertama kau masuk rumah ini."
"Gimana Ibu bisa tau?"
"Matamu," jawab Ratna sambil natap dia. "Kau punya mata yang sama kayak dia. Dan ada sesuatu di cara kau bicara. Cara kau cari jawaban. Cara kau mikirin sesuatu. Itu turunan Adrian."
Sari mengencang. Tangannya ngepal di bawah meja sampe buku jari putih.
"Aku gak mau tau," bisiknya. "Gak mau tau apa lagi tentang dia. Gak mau tau cerita masa lalu dia. Tapi aku tau kau akan cerita."
"Kau benar," Ratna menggeleng. "Karena kau butuh dengar. Bukan untuk mengerti dia. Tapi untuk mengerti diri kau sendiri."
"Aku kenal diri aku sendiri."
"Kau pikir kau kenal," koreksi Ratna. "Tapi selama kau gak tau darimana kau datang, kau gak akan pernah bener bener tau kemana kau pergi."
Sari gak jawab. Cuma natap teh yang panas di depannya, uapnya naik ke udara dan menghilang.
"Ibumu," angkat Ratna pelan. Saking pelannya Sari hampir gak denger. "Ibumu bernama Wulandari."
Sari mendekat. "Wulandari?"
"Iya. Wulandari Putri. Wanita yang dicintai Adrian dulu. Sebelum dia jadi monster."
"Dulu Adrian cinta ibuku?"
"Cinta. Beneran cinta." Ratna minum teh. "Waktu itu Adrian belum punya uang. Belum punya kekuatan. Dia cuma mahasiswa biasa yang kerja paruh waktu di pabrik untuk bayar kuliah. Dan Wulandari juga pekerja pabrik. Mereka ketemu di sana."
Sari natap Ratna dengan mata yang mulai gak bisa tahanlagi. "Ibuku... ibuku pekerja pabrik?"
"Iya. Gadis polos dari desa yang naik ke kota nyari kerja. Cantik tapi gak percaya diri. Mereka jatuh cinta dalam waktu cepat. Terlalu cepat mungkin. Dan sebelum Adrian tau Wulandari hamil, dia sudah ketemu Hendrawan dan bisnis gelap mulai."
"Pak Hendrawan yang mulai bisnis gelap?" tanya Sari confused.
"Bukan yang mulai. Tapi yang kasih modal pertama. Gak tau itu uang untuk apa. Waktu dia sadar, Adrian sudah terlalu dalam. Dan Wulandari... Wulandari hamil enam bulan."
"Terus?"
"Terus Adrian berubah. Cinta dia ke Wulandari bukan ilang, tapi dia takut. Takut Wulandari tau apa yang dia lakuin. Takut kalau Wulandari cerita ke polisi atau media, semua yang dia bangun akan runtuh. Jadi dia..."
Ratna berhenti. Tangannya gemetar pegang cangkir.
"Dia apa?" bisik Sari, meski dari cara Ratna berhenti dia udah bisa nebak jawabnnya.
"Dia paksa Wulandari pergi. Kasih uang puluhan juta. Bilang kalau Wulandari gak mau pergi, anak yang akan lahir akan dijual. Diperdagangkan. Seperti barang."
"Tidak..."
"Wulandari lari. Lari ke kota lain. Lahirkan kau sendirian di rumah sakit murah. Hidup miskin tapi free dari Adrian." Ratna natap Sari. "Tiga tahun dia hidup tenang. Sampai Adrian cari dia."
"Kenapa?"
"Karena citranya di dunia bisnis mulai terancam. Ada reporter yang mau investigasi. Dan Adrian butuh semua orang yang bisa ancam dia diam. Termasuk Wulandari yang bisa kasih bukti tentang masa lalu mereka."
"Dia gak bunuh ibuku?" suara Sari mulai gak stabil sekarang.
"Gak langsung," jawab Ratna. "Dia kirim orang. Orang-orang itu datang ke rumah kalian. Saat kau umur tiga tahun. Wulandari coba lari tapi..."
"Tapi dia gak cepat cukup," sambung Sari pelan. Air matanya jatuh. "Aku ingat. Aku ingat waktu itu. Aku ingat ada orang datang. Ada yang teriak. Ibuku bilang aku harus lari. Lari dan jangan lihat ke belakang."
"Kau lari," Ratna mengangguk. "Lari sampai kau sampe jalan besar. Sampai tetangga nemuin kau menangis sendirian. Dan dari sana kau dipindahin ke panti asuhan."
"Dan ibuku?" Sari's suaranya gak stabil. "Ibuku kemana?"
Ratna gak bisa jawab langsung. Wajahnya hancur. Ratna yang dari tadi terlihat dingin dan terkontrol sekarang ikutan nangis.
"Ibu tau?" bisik Sari. "Ibu tau dimana ibuku?"
"Adrian bilang dia dijual," jawab Ratna. "Dijual ke jaringan perdagangan manusia yang dia kontrol sendiri. Dijual ke luar negri."
Sari berdiri tiba-tiba. Kursi jatuh ke belakang, bikin suara keras yang bangunin Arjuna dan Pixel.
"Apa?" Arjuna langsung duduk, waspada.
Tapi Sari gak bisa jawab. Gak bisa bicara. Gak bisa napas.
Tangannya gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar. Dada terasa kayak mau pecah dari dalem.
"Sari?" Arjuna berdiri. "Sari apa yang terjadi? Kau baik baik aja?"
"Dia jual ibuku," kata Sari akhirnya. Suaranya keluar tapi kayak suara orang yang udah sangat jauh. "Dia jual ibuku kayak barang. Ibuku yang aku cari selama bertahun tahun. Ibuku yang aku tunggu setiap hari di panti. Ibuku yang..."
Dia gak bisa lanjut. Tangisannya pecah. Bukan tangis pelan. Tapi tangis yang keras. Rawung. Dari dalam dada. Dari tempat paling dalem yang selama bertahun-tahun Sari tahan.
Arjuna langsung ke dia. Peluk. Erat. Sari ambruk di pelukan Arjuna, kaki gak kuat, lutut hampir menyentuh lantai tapi Arjuna tahan. Jangan sampe dia jatuh. Jangan sampe gadis ini jatuh lebih jauh.
"Aku di sini," bisik Arjuna sambil usap punggungnya. "Aku di sini. Aku gak akan lepas."
"Kenapa?" Sari raung di dadanya. "Kenapa dia lakuin ini? Dia ayahku! DIA AYAHKU! Dan dia jual ibuku kayak binatang! Kenapa? KENAPA?!"
"Aku gak tau," jawab Arjuna jujur. "Aku gak tau kenapa manusia bisa jadi sekejam itu. Tapi aku tau satu hal."
Dia pegang wajah Sari. Angkat wajahnya supaya matanya ketemu.
"Kau bukan dia," katanya tegas. "Kau gak akan pernah jadi dia. Mau segimana besar kebencian yang kau rasain sekarang, itu gak akan bikin kau jadi monster. Karena kau punya hati yang terlalu baik untuk itu."
"Aku gak mau hati yang baik!" Sari pukul dadanya. "Aku mau balas! Aku mau dia rasain apa yang ibuku rasain! Aku mau..."
"Sari, dengarkan aku," Arjuna pegang tangannya yang pukul dadanya. Pegang kuat. "Kau boleh marah. Kau boleh benci dia. Itu wajar. Itu manusiawi. Tapi jangan biar kebencian itu ubah siapa kau. Karena kalau kau jadi kayak dia, ibumu mati sia-sia. Dia mati supaya kau bisa hidup. Supaya kau bisa jadi orang yang lebih baik dari dia."
"Ibuku mati supaya aku..."
"Ibumu rela pergi supaya kau bebas," Ratna ikut bicara. "Dia pilih kau. Terkahir. Bilang ke orang orang Adrian, 'Jangan sentuh anakku. Aku akan pergi dengan tenang tapi anakku harus bebas'."
Sari natap Ratna. "Benekah?"
"Teman aku di dalam jaringan itu yang bilang. Saksi yang sempat dengar. Wulandari bilang itu tepat sebelum mereka bawa pergi."
Sari menangis lagi. Tapi kali ini beda. Bukan tangis marah. Tapi tangis untuk ibunya yang rela korbankan diri supaya anak perempuannya bisa hidup bebas.
"Dia baik hati," bisir Sari. "Ibuku baik hati."
"Sangat baik hati," ngangguk Ratna sambil usap air matanya sendiri. "Itulah yang bikin Adrian takut. Bukan karena dia bisa ekspos dia. Tapi karena kebaikan Wulandari adalah bukti kalau Adrian masih bisa berubah. Dan Adrian gak mau berubah."
Sari terus menangis di pelukan Arjuna. Nangis sampai gak ada air matanya lagi. Nangis sampai suaranya habis. Sampai badannya lemes dan gak kuat berdiri.
Arjuna pegang dia erat sepanjang waktu itu. Gak bilang apa-apa lagi. Kadang kata-kata gak perlu. Kadang yang paling dibutuhin orang yang lagi hancur cuma tau ada orang yang mau pegang mereka. Mau tetap ada. Gak pergi.
Pixel diam di pojok. Natap mereka berdua dengan mata yang juga basah. Dia gak tau harus bilang apa. Jadi dia diam. Dan itu mungkin hal terbaik yang dia bisa lakuin.
Jam berlalu pelan. Matahari naik. Cahaya bertambah. Ombak terus bersuara.
Akhirnya Sari berhenti nangis. Gak karena dia udah tenang. Tapi karena dia capek. Capek nangis. Capek marah. Capek merasa sakit.
Dia duduk di lantai, punggung ke dinding. Arjuna duduk di sebelahnya. Bahu mereka menyentuh.
"Aku mau lihat video itu," kata Sari tiba-tiba.
Arjuna noleh ke dia. "Video apa?"
"Video dari Pak Hendrawan. Yang ada di file enkripsi itu." Sari natap depan. Matanya udah gak ada airnya lagi. "Aku mau tau semua. Semua yang dia tinggalin. Sebelum kita mulai."
"Sari, Pak Hendrawan bilang video itu untuk Bab berikutnya..." Pixel mulai.
"Sekarang," potong Sari. Suaranya keras tapi gak ada energy di sana. "Aku mau lihat sekarang."
Arjuna natap Pixel. Pixel natap balik. Lalu dia ngangguk, buka laptop.
"Tapi," kata Arjuna sambil pegang tangan Sari yang dingin. "Aku di sini."
"Aku tau," jawab Sari. "Aku tau kau di sini."
Pixel buka file. Layar laptop menyala.
Dan video dimulai.