NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Rooftop

Rayyan menghentikan motor di depan rumah sakit. Rayyan melepas helm fullface-nya dan turun dari motor sport hitam miliknya. 

Ketika Luna masih tertidur, Rayyan memutuskan untuk pulang sebentar. Sekedar mandi dan berganti baju. 

Rayyan berjalan menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa langkah masuk, ponselnya bergetar di dalam saku jaket.

Rayyan mengeluarkannya sambil tetap berjalan. Layar menyala, menampilkan satu pesan dari nomor tak dikenal. Dia membuka pesan itu.

Ada sebuah video.

Rayyan membukanya tanpa curiga.

Satu detik kemudian, langkahnya terhenti. Darahnya mendidih.

Itu adalah video dirinya dan Alana. Lebih panjang dan tanpa sensor.

Notifikasi baru masuk. Sebuah pesan.

Lo suka hadiah dari gue?

Tangan Rayyan terkepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya terlihat. Dadanya naik turun cepat, menahan marah. 

Rayyan segera menelpon nomor itu, tapi tidak aktif. Rayyan menelpon lagi. Tetap tidak aktif.

Dia baru akan mencoba untuk ketiga kalinya ketika notifikasi lain muncul. Grup alumni. Puluhan pesan masuk dalam hitungan detik.

Rayyan membukanya. Video yang sama sudah dikirimkan di grup angkatan.

Detik itu juga, Rayyan teringat Alana.

Rayyan langsung berlari. Langkahnya tergesa. Ketika berada di ujung lorong, Rayyan melihat Alana masuk ke dalam lift. 

“Alana!”

Rayyan kembali berlari. Tapi pintu lift tertutup rapat tepat saat dia sampai di depannya.

Rayyan menatap layar digital di atas pintu lift. Angka lantai bergerak… naik… naik… sampai berhenti di lantai paling atas, yaitu rooftop.

Rayyan panik.

Dia menekan tombol lift berulang-ulang dengan kasar. Tapi lift tak juga bergerak turun. Justru berhenti di lantai lain.

Tanpa pikir panjang, Rayyan berlari ke arah pintu tangga darurat. Dia mendorong pintunya hingga terbuka keras, lalu mulai memanjat anak tangga dua-dua, napasnya memburu, tubuhnya bergerak sangat cepat

Sesampainya di rooftop, Alana sudah berdiri tepat di tepi pagar pembatas.

“Lana!”

Detik terakhir sebelum tubuh Alana condong ke depan, Rayyan berhasil menangkap pergelangan tangannya dan menariknya kuat. Tarikan kuat itu membuat Alana terhuyung dan jatuh tepat menabrak dadanya.

Alana mendorong tubuh Rayyan sekuat tenaga. “Lepasin gue!”

Rayyan mundur satu langkah. 

“Lo gila?!” sergah Rayyan marah, suaranya keras, tapi getaran takutnya tidak bisa disembunyikan. 

“Lo pikir dengan lo mati, semua masalah lo selesai?!”

Melihat Rayyan ada di hadapannya, kemarahan Alana memuncak. Matanya yang sendu, berubah tajam.

“Diem lo! Semua ini gara-gara lo! Hidup gue hancur gara-gara lo!” 

Alana memukul dada Rayyan, berkali-kali, melampiaskan semua kemarahannya. Rayyan tidak menghindar, hanya menatap Alana dengan rahang mengeras dan napas tertahan.

“Papa marah sama gue! Mas Rangga putusin gue! Gue malu, Rayyan!”

Napasnya putus-putus, dadanya naik turun tidak teratur. “Gue malu! Semua orang lihat gue! Semua orang lihat tubuh gue!”

Suara Alana bergetar, kepalanya menggeleng keras, seakan ingin mencabut diri dari rasa itu. 

“Gue udah nggak ada harga dirinya lagi! Semua itu gara-gara lo!”

Rayyan menelan ludah, suaranya melemah namun tetap tegas. “Gue mau tanggung jawab, Na.”

Alana menatapnya lama, lalu tertawa getir. “Lebih baik gue mati, Rayyan!”

Alana berbalik badan, melangkah lagi menuju pagar pembatas.

“Lo emang selalu kayak gini,” ucap Rayyan. Kali ini suara Rayyan terdengar lebih dingin.

“Pengecut!”

Alana berhenti, tapi tidak menoleh.

“Selalu lari dari masalah! Dari dulu lo cuma mau hidup lo sempurna. Lo benci kalau ada cacat di rencana lo. Lo bahkan buat orang lain keluar dari sekolah cuma gara gara lo khawatir kalau rangking dia di atas lo.”

Alana langsung memutar badan, matanya menatap Rayyan tajam.

“Tutup mulut lo! Lo nggak tau apa-apa tentang gue!” seru Alana murka.

Tubuh Alana menegang. Kedua tangannya gemetar menahan amarah.

Rayyan menghembuskan napas panjang. Bahunya jatuh sedikit. Wajahnya kian melembut. Kali ini, suaranya lebih rendah dan tenang. “Gue mau tanggung jawab, Na. Gue mau nikahin lo.”

Kemarahan Alana berubah menjadi penghinaan. Dia tersenyum sinis. “Lo pikir gue mau sama lo?” 

“Jadi apa hidup gue kalau gue sama cowok yang kekanak-kanakan, nggak bisa menghargai waktu dan aturan, dan nggak bisa bertanggung jawab kayak lo!”

Rahang Rayyan mengeras. “Lo pikir gue mau sama lo?” 

“Kalau gue bisa milih, gue juga nggak mau sama cewek egois, angkuh, sombong, dan pengecut kayak lo!”

Alana melotot. “Kalau gitu ngapain lo mau nikahin gue?!”

“Karena itu kenyataan yang harus gue hadapi! Karena itu konsekuensi yang harus gue tanggung sekarang!” jawab Rayyan frustasi.

“Gue nggak mau! Gue nggak mau sama lo!” teriak Alana lebih keras.

“Na-

“Lo aja nggak bisa bertanggung jawab sama diri lo sendiri! Gimana lo bisa tanggung jawab sama gue?!”

Rayyan menunduk sebentar, tangan mengepal lalu mengendur. Suaranya lirih, nyaris putus asa. “Gue akan berusaha, Na.”

“Gue nggak butuh usaha lo! Gue nggak butuh semua itu! Gue nggak mau sama lo!”

Rayyan mendekat satu langkah. “Gue tahu, Na. Gue tahu ini sama sekali nggak ada di rencana hidup lo. Tapi ini yang terjadi sekarang. Suka nggak suka, terima nggak terima, sekarang lo hamil anak gue.”

Alana mengacak rambutnya frustasi. “Iya! Karena gue hamil anak lo, gue lebih milih mati!”

“Lo pikir gue bakal biarin lo mati bawa anak gue?!” Suara Rayyan meninggi, ikut terpancing emosi.

“Lo gila ya?!” balas Alana lebih keras.

“Iya, gue emang udah gila. Karena gue nggak nemu jalan keluar lain selain ini.” Rayyan mengusap wajahnya kasar, frustasi.

Rayyan menarik napas dalam, menahan gejolak amarah yang mulai menguasai dirinya. 

Sedetik kemudian, sorot mata Rayyan berubah tajam. “Kalau lo mati sekarang. Dia, orang yang udah buat lo jadi kayak gini, dia nggak akan bayar apapun.” 

Suara Rayyan bergetar penuh penekanan. “Hidupnya akan baik-baik aja. Sementara lo… lo harus korbanin seluruh hidup lo.”

Suara Rayyan semakin tajam. “Lo kalah Na, lo kalah dari dia. Lo mau itu terjadi?”

Alana terdiam. Dada naik turun dengan cepat. Kedua tangan mencengkram ujung baju erat-erat.

Tanpa sadar, dia menggeleng pelan. Kemudian sorot matanya tajam. “Kalau gitu biar anak ini aja yang mati.”

Rayyan menutup mata sejenak, menahan gemetar di ujung suaranya. Suaranya putus asa. “Gue mohon, Na. Pertahanin anak itu. Dia nggak salah apa-apa. Gue yang salah. Tolong lahirin anak itu, Na. Kalau lo emang nggak mau ngebesarin anak itu, nggak papa. Biar gue aja. Lo bisa kasih anak itu ke gue dan lo lanjutin lagi hidup lo.”

Alana menggeleng pelan sambil tertawa getir. “Lo pikir gampang? Setelah semua yang udah terjadi, lo pikir hidup gue akan sama kayak dulu lagi?” 

“Lo bisa, Na. Lo bisa karena lo punya bokap yang sayang sama lo,” jawab Rayyan mantap.

...***...

Rayyan berdiri tepat di depan pintu ruang rawat Alana, bahunya bertumpu di dinding. Wajahnya gusar.

“Tom,” panggil Rayyan begitu Thomas mengangkat  teleponnya.

“Ada apa?” 

“Lo udah lihat video yang dikirim di grup alumni?” Suara Rayyan terdengar tegang.

“Udah. Gila! Keterlaluan banget nyebarin video kayak gitu,” komentarnya.

Rayyan menarik napas tajam, lalu berkata tanpa berbelit. “Gue mau minta tolong lo buat hapus video itu. Semua yang udah tersebar. Dan lacak siapa pengirimnya.” 

Thomas diam beberapa saat sebelum  berkata, “gue tahu video itu nggak pantes buat disebarin. Tapi… apa urusannya video itu sama lo?”

Rayyan menutup mata sejenak, rahangnya mengeras. “Cowok di video itu… itu gue.”

“Ha?” Thomas terdengar terkejut.

“Gue bakalan jelasin lengkapnya nanti. Sekarang lo bantu gue dulu,” pinta Rayyan lagi.

Thomas diam sebentar. “Oke. Lo utang penjelasan sama gue.”

Rayyan mengangguk pelan meskipun Thomas tidak dapat melihatnya. 

“Gue kirim juga nomor orang yang kirim video itu ke gue.”

“Iya.”

“Thanks, Tom.”

Setelah Rayyan menutup sambungan telepon itu, dia kembali ke dalam ruangan. Rayyan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Bercak air mata terlihat jelas di pipi Alana. Bahkan dalam tidurnya, bulir air mata masih sesekali keluar dari sudut matanya. 

Wajah Alana yang sembab dan berkeringat. Rambutnya menempel di pelipis. Tatapan Rayyan beralih pada punggung tangan Alana. Ada bekas luka akibat infus yang dilepas paksa dengan kasar.

Rayyan kembali menatap Alana, tatapannya melembut. “Gue tahu lo kuat, Na.”

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!