Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Sihir, tapi Restu Alam
"Om, cobain deh. Ini dalemnya ada daging ikannya beneran, lho. Ibukku yang milih sendiri ikannya, gemoy-gemoy kayak gini..."
Sri Lestari, atau yang kini akrab dipanggil Tari, tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangan mungilnya, menirukan ukuran ikan yang besar.
Matanya yang bulat bersinar jenaka di bawah poni rambutnya yang dipotong rata ala mangkok.
Pria berkumis tebal yang sedang lewat di Pasar Inpres itu menghentikan langkahnya.
Ia menatap ragu pada baskom besar berisi adonan gorengan kecokelatan itu.
"Beneran boleh dicicip, Nduk?" tanyanya.
Hatinya luluh melihat bocah kecil yang bicara begitu lancar. Konon, anak kecil itu pantang bohong.
"Boleh, Om. Boleh banget. Cicip aja dulu, kalau tresno baru diboyong pulang," sahut Kang Jaka, paman Tari, seraya menyodorkan tusuk lidi berisi potongan bakso goreng ikan yang masih hangat.
Pria itu mengambil satu, meniupnya sebentar, lalu mengunyahnya.
Matanya langsung melotot.
Rasa gurih ikan tenggiri berpadu dengan bumbu bawang dan sedikit pedas merica meledak di mulut.
Teksturnya garing di luar, tapi kenyal lembut di dalam. Bukan sekadar tepung kanji seperti jajanan SD biasanya.
"Wah, eco tenan ini, Mas. Rasa ikannya nendang. Pas buat temen ngopi atau lauk nasi anget."
Sebelum Kang Jaka atau Kinar, ibu Tari, sempat membuka mulut menyebut harga, suara cempreng Tari sudah mendahului.
"Tiga ribu lima ratus aja se-ons, Om. Murah meriah, muntah!" seru Tari polos, maksudnya murah meriah, tapi dia asal sebut istilah yang sering didengar dari tukang obat.
Kinar dan Kang Jaka saling pandang, nyaris tersedak ludah sendiri.
Tiga ratus lima puluh rupiah? Itu harga yang lumayan tinggi untuk jajanan pasar.
Tapi Tari sudah terlanjur bicara, mereka tidak tega memotong.
"Kalau nggak laku, nanti kita turunin," bisik Kinar pada kakaknya.
Pria itu berpikir sejenak.
Tiga ribu lima ratus. Memang agak mahal, tapi rasanya memang premium.
"Ya wis, bungkusin setengah kilo, Mas. Buat orang rumah ngerasain barang enak."
"Siap, Juragan!" Kang Jaka sigap mengambil timbangan bebek, timbangan meja logam.
Kinar dengan cekatan membungkusnya dengan kertas minyak cokelat yang dialasi daun pisang.
Saat timbangan sudah pas, tiba-tiba tangan kecil Tari menyambar garpu, menusuk dua butir bakso goreng ekstra, dan menjatuhkannya ke dalam bungkusan pembeli.
"Om Ganteng, ini bonus dari Tari ya," ucapnya sambil mengedipkan mata genit.
Lalu ia menoleh pada ibunya dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
"Ibuk, Pakdhe, jangan marah ya... Tari cuma mau Om ini seneng. Kalau Om seneng, nanti rejekinya lancar."
"Iya, Nduk, nggak marah kok," jawab Kinar dan Jaka hampir bersamaan, menahan tawa melihat tingkah bocah lima tahun itu.
Pria pembeli itu tertawa renyah, merasa diistimewakan.
"Wah, makasih ya, Nduk Cantik. Pinter banget dagangnya. Besok Om mampir lagi."
"Ati-ati di jalan ya, Om!" Tari melambaikan tangan mungilnya.
Anehnya, begitu pria itu beranjak pergi, langkah kakinya tampak lebih ringan, seolah beban kerjanya hari itu sedikit terangkat.
Tak lama kemudian, seorang ibu-ibu berdaster batik dengan wajah masam datang mendekat.
Tari kembali mempersilakan mencicipi.
"Enak juga. Berapaan?" tanya ibu itu ketus.
"Tiga ribu lima ratus se-ons, Bu," jawab Kinar sopan.
"Bungkus sekilo."
Ibu itu tidak banyak nawar, mungkin karena rasanya memang cocok di lidah.
Selesai ditimbang, lagi-lagi Tari melakukan aksi 'tangan jahil'-nya.
Plung! Tiga butir bakso masuk sebagai bonus.
Ibu yang tadinya cemberut itu reflek menutup mulut, menahan senyum geli.
Tari langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ibuk, Pakdhe... Tante ini kelihatan capek tapi wajahnya baik banget. Tari nggak tahan pengen kasih lebih. Jangan marah ya?"
Kang Jaka menggeleng-gelengkan kepala.
"Iya, Tari sayang. Pakdhe nggak marah. Siapa yang bisa marah sama kamu?"
Wajah ibu berdaster itu berubah drastis. Kerutan di dahinya menghilang.
"Nduk, Tante beneran kelihatan baik? Orang-orang bilang muka Tante judes lho."
Tari menatap ibu itu lekat-lekat.
Di mata Tari, ia melihat aura kelabu di sekitar ibu itu perlahan menipis, digantikan rona kehijauan yang sejuk, seperti tunas padi yang baru tumbuh.
"Tante cantik kok kalau senyum. Senyum itu ibadah, Tante. Nanti rejekinya nempel lho," celoteh Tari sungguh-sungguh.
"Masya Allah... Makasih ya, Nduk."
Ibu itu pergi dengan senyum merekah, merasa beban hidupnya diringankan hanya oleh pujian tulus seorang bocah.
Tari merasakan dadanya sedikit hangat.
Ada benang tipis tak kasat mata yang terhubung sesaat.
Ia sadar, ia baru saja 'menyentil' sedikit keberuntungan untuk ibu itu.
Dulu, energi ini disedot habis-habisan oleh bisnis Bapaknya, Suryo Wibowo, sampai ia sakit-sakitan.
Sekarang, ia memberikannya sukarela, dan rasanya tidak menyakitkan.
Sepanjang siang, Tari terus berulah dengan seribu satu alasan manis untuk memberi bonus.
"Om ini gagah kayak tentara."
"Mbah ini mirip Mbah Uti yang baik."
"Kakak ini manis kayak gula jawa."
Dagangan yang dibawa Kinar, sekitar lima puluh kilo adonan, ludes tak bersisa lewat tengah hari.
Meski Tari sering memberi bonus, keuntungan yang didapat tetap luar biasa.
Setelah dihitung di atas dipan bambu pasar, uang recehan logam dan kertas lusuh itu terkumpul banyak.
Hampir lima puluh ribu rupiah! Di jaman itu, jumlah segitu sudah sangat besar untuk ukuran pedagang kaki lima sehari.
Dalam perjalanan pulang naik gerobak sapi yang disewa, karena angkot belum masuk sampai ke pelosok desa mereka, Kinar mendekap Tari erat-erat.
"Nduk, kamu bener-bener jimat keberuntungan Ibuk."
Tari mendongak, menatap wajah ibunya yang lelah tapi berbinar.
"Ibuk seneng?"
Kinar mencium pipi gembil anaknya.
"Seneng banget, Nduk. Sekarang Ibuk nggak takut lagi kita bakal kelaparan. Ibuk bisa ngerawat kamu dengan baik tanpa bantuan keluarga Wibowo."
"Yang penting Ibuk seneng. Tari janji bakal makan banyak, biar sehat terus," bisik Tari.
Di kejauhan, saat gerobak mereka melintasi sawah yang kering kerontang, sekilas padi-padi yang mereka lewati tampak menegakkan batangnya, seolah memberi hormat pada sang Dewi Sri kecil yang lewat.
Sesampainya di rumah bilik bambu milik Abah Kosasih, Mak Sari langsung menyambut dengan wajah was-was.
Tapi melihat keranjang kosong, senyumnya merekah.
"Alhamdulillah! Laris manis ya?"
Malam itu, setelah makan malam dengan lauk ikan asin dan sayur asem, Abah Kosasih memanggil Tari.
Pria tua itu menatap cucunya dengan sorot mata tajam namun penuh kasih.
"Tari, Nduk. Sini sama Abah Kung."
Abah Kosasih memeriksa denyut nadi Tari.
Ia tahu cucunya bukan anak sembarangan.
Ia takut Tari terlalu memaksakan diri menggunakan 'bakat'-nya seperti saat dimanfaatkan keluarga bapaknya dulu.
"Abah, jangan khawatir. Tari udah ngerti kok," potong Tari sebelum kakeknya bicara panjang lebar.
"Tari cuma... 'nyolek' dikit. Kalau orang itu emang ada jatah rejeki, Tari cuma bilang 'ayo semangat'. Kalau emang nggak ada, Tari nggak bakal maksa ngadain yang nggak ada."
Mengadakan yang tidak ada adalah pantangan besar.
Itu melawan kodrat Tuhan.
Dulu, keluarga Wibowo memaksanya melakukan itu demi proyek-proyek besar mereka, dan bayarannya adalah nyawa Tari yang hampir melayang.
Abah Kosasih tertegun.
Bocah lima tahun ini bicaranya seperti orang tua yang sudah makan asam garam dunia.
"Kamu paham itu sendiri, Nduk?"
Tari mengangguk.
"Tari nggak mau sakit lagi. Tari mau nemenin Ibuk sama Abah Kung lama-lama."
Abah Kosasih menghela napas lega, lalu tersenyum haru.
"Pinter putune Abah. Inget ya, Nduk. Gusti Allah itu Maha Kaya. Kita cuma perantara. Jangan pernah korbankan nyawamu buat keserakahan orang lain lagi. Termasuk buat kami."
"Nggih, Abah," jawab Tari mantap.
Suasana di ruang tengah yang hanya diterangi lampu petromaks itu terasa syahdu.
"Nah, sekarang sebagai gantinya..." Abah Kosasih mengambil ranting.
"Coba tulis lagi huruf yang kemarin Abah ajarin."
Wajah Tari langsung berubah jadi mendung.
"Yaaah... Abah..."
Entah kenapa, setiap kali bangun tidur, semua pelajaran menulis itu hilang dari kepalanya.
Tari bisa merasakan energi tanaman, bisa tahu niat orang, tapi kalau disuruh nulis huruf 'A', hasilnya malah mirip cacing kepanasan.
Abah Kosasih tertawa melihat cucunya manyun.
"Ya sudah, besok lagi belajarnya. Sekarang dengerin Abah."
Di ruang tengah itu berkumpul semua anggota keluarga: Kinar, Kang Jaka, Mira, dan Mak Sari.
Abah Kosasih berdehem, wajahnya tampak serius tapi ada binar semangat baru.
"Abah sudah putuskan. Mulai minggu depan, Abah mau buka buku lagi. Abah mau ikut Ujian Penyetaraan Pegawai Desa."
Kinar terkejut.
"Abah serius? Abah kan..."
"Abah masih kuat!" potong Kang Jaka cepat, memberi semangat.
"Urusan sawah sama kebun, biar Jaka yang pegang semua. Abah fokus belajar aja. Tenaga Jaka masih turah-turah kalau cuma buat macul dua petak sawah."
Mira yang sedang hamil ikut menimpali sambil mengelus perutnya.
"Iya, Bah. Mira dukung seratus persen. Kalau Abah jadi Carik, nanti cucu yang di perut ini pasti bangga punya kakek hebat."
"Soal biaya pendaftaran dan beli buku, Kinar bisa bantu dari hasil jualan, Bah," tambah Kinar semangat.
"Hari ini aja untungnya lumayan. Kinar rencana mau bikin varian baru, nggak cuma bakso ikan, tapi juga kerupuk kulit ikan. Pasti laku keras."
Mak Sari mengibaskan tangan.
"Duitmu simpen aja buat Tari, Nar. Buat sekolah dia nanti. Duit simpanan Mak sama Abah dari hasil panen cengkeh dua tahun lalu masih cukup kalau cuma buat biaya ujian."
"Betul kata Makmu," Abah Kosasih menimpali.
"Abah juga mau cari sampingan nulis surat buat orang-orang desa yang buta huruf. Nggak bakal ngerepotin kalian."
"Pokoknya kita sekeluarga dukung Abah!" seru Kang Jaka.
Tari mengamati wajah kakeknya.
Di bawah sinar lampu petromaks yang remang-remang, dahi Abah Kosasih yang biasanya tertutup bayangan hitam kekhawatiran, kini tampak padang.
Tari tersenyum.
Ia tidak perlu mengeluarkan kekuatan apa pun.
Ternyata, keberuntungan sejati itu datang dari hati yang ikhlas dan dukungan keluarga yang rukun.
Kehadiran Tari di rumah ini hanya membuka sumbatan energi negatif yang selama ini menumpuk karena rasa rendah diri Abah.
"Abah Kung paling top!" seru Tari sambil mengacungkan jempol mungilnya.
Abah Kosasih tersipu, wajah tuanya memerah senang.
Hatinya membuncah.
Meski hidup sederhana di desa, tanpa kemewahan seperti di rumah keluarga Wibowo di Jakarta, ia merasa inilah kekayaan sesungguhnya.
Selesai musyawarah, Mak Sari menyuruh semuanya bubar.
"Mira, jangan kelamaan duduk deket lampu, asepnya nggak bagus buat bayi. Sana istirahat, cari angin di teras sebentar," titah Mak Sari penuh perhatian.
"Iya, Mak. Mas Jaka, ayo."
Kinar membereskan piring.
"Biar Kinar yang cuci piring, Mak. Mak istirahat aja."
Malam itu, rumah gubuk itu terasa penuh kehangatan.
Di luar, suara jangkrik bersahutan.
Tari yang sudah mengantuk digendong Abah Kosasih ke kamar.
Sebelum benar-benar terlelap, Tari sempat melihat Abah kembali ke meja, mengecilkan api lampu petromaks agar hemat minyak tanah, lalu mulai membuka buku tua yang kertasnya sudah menguning.
Di mata Tari yang setengah terpejam, ia melihat secercah cahaya keemasan melingkupi tubuh tua kakeknya.
Bukan sihir, tapi restu alam.
Tanaman pot di sudut ruangan tampak menegakkan daunnya, seolah ikut mendoakan sang kakek yang sedang berjuang mengubah nasib di usia yang hampir senja.