Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Menuju Alubarna
Fajar menyingsing di gurun Alabasta dengan cahaya keemasan yang menyilaukan. Pasir membentang tanpa batas, panas terik sudah mulai terasa meskipun matahari baru terbit.
Going Merry berlabuh di pantai dekat kota Erumalu—kota yang dulunya hijau tapi sekarang menjadi kota hantu karena kekeringan. Dari sini, kami akan memulai perjalanan darat ke ibukota Alubarna.
Aku berdiri di dek kapal, menatap hamparan gurun di depan kami. Jarak ke Alubarna sekitar 100 kilometer melintasi gurun panas. Perjalanan yang melelahkan bahkan tanpa musuh yang menghalangi.
"Semua sudah siap?" tanya Luffy sambil memakai topi jeraminya dengan mantap.
Kami semua mengangguk. Setiap orang sudah membawa persediaan air, makanan, dan senjata mereka masing-masing.
Vivi berdiri dengan Karoo—bebek raksasa peliharaannya—dengan wajah penuh tekad. "Aku akan memimpin kalian ke Alubarna melalui rute tercepat. Kita harus sampai sebelum Rebel Army menyerang."
"Berapa lama perjalanannya?" tanya Nami sambil menyeka keringat yang sudah mulai bercucuran.
"Kalau kita jalan kaki, dua hari," jawab Vivi. "Tapi kalau kita berlari dan tidak istirahat banyak... mungkin satu hari."
"Satu hari berlari di gurun panas?" Usopp langsung pucat. "Aku akan mati kehausan!"
"Kau tidak akan mati, Usopp," kata Sanji sambil menyalakan rokok. "Kita punya cukup air. Tapi memang akan melelahkan."
Zoro mengecek pedangnya satu per satu. "Tidak masalah. Aku sudah pernah melewati yang lebih buruk."
Aku meregangkan tubuh, merasakan otot-otot yang sudah kulatih dua hari terakhir. "Aku siap. Spider Burst ku akan berguna untuk perjalanan cepat."
Robin keluar dari kabin dengan tas kecil di punggungnya. "Aku akan ikut dengan kalian. Aku tahu jalan pintas yang bisa memangkas waktu perjalanan."
Chopper—dengan bentuk hybrid-nya yang bisa berjalan dengan dua kaki—mengecek tas medis nya. "Aku bawa obat dan perban ekstra. Kalau ada yang terluka di tengah jalan, aku bisa merawat."
Luffy tersenyum lebar—senyuman yang penuh dengan kepercayaan diri. "Yosh! Kalau semua sudah siap, AYO BERANGKAT!"
Perjalanan melintasi gurun Alabasta jauh lebih berat dari yang kubayangkan.
Panas matahari terik membakar kulit. Pasir masuk ke sepatu, membuat setiap langkah terasa berat. Angin gurun membawa pasir yang menyengat mata dan tenggorokan.
Tapi kami terus bergerak.
Vivi memimpin di depan dengan Karoo. Robin berjalan di sampingnya, memberi arahan tentang jalan pintas. Luffy, Zoro, dan Sanji berjalan di barisan tengah. Aku, Nami, Usopp, dan Chopper di belakang.
"Hah... hah... panas sekali..." Usopp mengeluh sambil menyeka keringat.
"Jangan terlalu banyak bicara," kata Chopper sambil memberikan botol air ke Usopp. "Bicara banyak akan membuat kau lebih cepat dehidrasi."
Aku menggunakan jaring untuk membuat semacam payung improvisasi—jaring tipis yang membentang di atas kami untuk sedikit menghalangi sinar matahari.
"Terima kasih, Kenji," kata Nami dengan lega. "Setidaknya sedikit lebih sejuk sekarang."
"Sama-sama," jawabku sambil tetap fokus mempertahankan jaring.
Tapi Spider Sense ku tiba-tiba berdering pelan.
"Ada yang mengikuti kita," gumamku sambil menoleh ke belakang.
Zoro langsung meletakkan tangan di pedangnya. "Berapa banyak?"
"Tidak yakin," jawabku sambil fokus pada Spider Sense. "Tapi mereka menjaga jarak. Sepertinya sedang mengamati kita."
"Baroque Works," kata Robin dengan tenang. "Mereka pasti sudah tahu kita menuju Alubarna. Mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang."
"Biarkan mereka datang," kata Luffy dengan santai. "Aku akan hajar siapapun yang menghalangi kita!"
Tapi musuh tidak datang. Mereka hanya terus mengikuti dari kejauhan.
"Mereka menunggu kita kelelahan," analisa Sanji sambil menyalakan rokok baru. "Di gurun seperti ini, stamina adalah segalanya. Kalau kita kelelahan dan dehidrasi, kita akan mudah dikalahkan."
"Kalau begitu kita tidak boleh berhenti terlalu lama," kata Vivi dengan serius. "Kita harus terus bergerak sampai keluar dari gurun terbuka ini."
Kami mempercepat langkah.
Jam demi jam berlalu. Matahari bergerak melintasi langit. Panas semakin terik.
Usopp hampir jatuh beberapa kali karena kelelahan. Chopper harus menopangnya.
Nami juga mulai limbung. Sanji langsung ada di sampingnya, membantu berjalan sambil memberikan air.
Bahkan Zoro—yang biasanya kuat seperti banteng—mulai terlihat lelah.
Aku juga merasakan kelelahan. Mempertahankan jaring payung sambil berjalan di pasir panas menguras stamina lebih cepat dari yang kukira.
Tapi aku tidak boleh berhenti. Aku harus terus bergerak.
"Vivi," Luffy memanggil dari depan. "Berapa lama lagi sampai kita keluar dari gurun terbuka ini?"
"Masih sekitar 10 kilometer," jawab Vivi sambil menyeka keringat. "Di sana ada oasis kecil. Kita bisa istirahat sebentar di sana."
"10 kilometer lagi..." gumam Usopp dengan putus asa. "Aku tidak akan sampai..."
"Kau akan sampai!" kata Luffy dengan semangat. "Aku akan gendong kau kalau perlu!"
"Benarkah?!" Usopp langsung bersemangat.
"Tidak," jawab Luffy dengan polos.
"KENAPA KAU KASIH HARAPAN PALSU?!" Usopp berteriak frustasi.
Kami semua tertawa—meskipun lelah, kami masih bisa tertawa. Itu yang membuat Kru Topi Jerami spesial.
Tapi Spider Sense ku tiba-tiba berdering sangat keras!
"BAHAYA! DARI BAWAH!" teriakku.
Semua orang langsung melompat ke samping!
Tepat saat itu, pasir di bawah kami meledak!
BOOM!
Dari bawah pasir, muncul sesosok makhluk raksasa—kadal gurun sebesar rumah dengan sisik yang berkilauan!
"DESERT LIZARD!" Vivi berteriak. "Predator paling berbahaya di gurun Alabasta!"
Kadal raksasa itu meraungan dan langsung menyerang dengan mulut terbuka lebar, menampakkan gigi tajam yang bisa menghancurkan batu!
"Gomu Gomu no... BAZOOKA!" Luffy langsung menyerang dengan kedua tinjunya!
WHAM!
Kadal itu terpental ke belakang, tapi langsung bangkit lagi. Sisiknya yang keras melindungi tubuhnya dari serangan Luffy!
"Sisiknya keras!" Luffy menggertakkan gigi.
Kadal itu menyerang lagi—kali ini dengan ekornya yang panjang, menyapu ke arah kami semua!
"MENGHINDAR!" Zoro berteriak.
Kami semua melompat—tapi Usopp yang kelelahan tidak cukup cepat!
"USOPP!" teriakku sambil menembakkan jaring, menangkap Usopp dan menariknya menjauh tepat sebelum ekor kadal menghantamnya!
"Te-terima kasih, Kenji!" Usopp gemetar.
Zoro langsung menyerang dengan ketiga pedangnya. "Oni Giri!"
SLASH!
Pedangnya menghantam sisik kadal—tapi sisik itu terlalu keras! Pedang Zoro hanya menciptakan goresan tipis!
"Tch! Sisik ini sekeras baja!" Zoro mundur untuk mengambil posisi lain.
Sanji menyerang dari udara dengan tendangan berputar yang menyala!
"Diable Jambe: Flambage Shot!"
WHAM!
Tendangannya menghantam kepala kadal dengan api biru yang panas!
Kali ini ada efek—kadal itu meraungan kesakitan!
"Api bekerja!" Sanji berteriak. "Serangnya dengan serangan panas!"
Tapi kadal itu tidak bodoh. Dia langsung menyelam kembali ke bawah pasir, menghindari serangan!
"Dia kabur ke bawah pasir!" Nami berteriak.
Spider Sense berdering lagi!
"Dia akan muncul lagi! Dari arah... SANA!"
Aku menunjuk ke kiri!
Kadal itu meledak keluar dari pasir dengan mulut terbuka lebar, mengarah ke Vivi dan Karoo!
"VIVI!" kami semua berteriak.
Tapi aku sudah bergerak. Aku menggunakan Spider Burst—ledakan kecepatan yang baru kukuasai!
WHOOSH!
Tubuhku meledak maju dengan kecepatan luar biasa!
Dalam sekejap, aku sudah di depan Vivi!
Aku menembakkan jaring berlapis Armament Haki—jaring hitam yang keras seperti baja!
"Spider Web: Armament Shield!"
Jaring membentuk perisai di depan Vivi!
Mulut kadal menggigit perisai jaring—CLANG!
Gigi tajamnya bertemu dengan jaring berlapis Haki ku!
Jaring ku menahan!
"Bertahan!" gumamku sambil memperkuat Haki.
Tapi kekuatan gigitan kadal itu luar biasa! Jaring ku mulai retak!
"Kenji tidak bisa menahan lama!" Chopper berteriak.
"Aku tahu!" Luffy sudah berlari mendekat. Dia mengambil napas dalam—
Dan tiba-tiba, tubuhnya berubah!
Kulitnya menjadi kemerahan, uap keluar dari tubuhnya! Ini adalah—
"Gear Second!" teriakku dengan terkejut.
Luffy sudah bisa menggunakan Gear Second?!
Dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat mata, Luffy melesat dan meninju kepala kadal dengan kekuatan penuh!
"Gomu Gomu no... JET PISTOL!"
WHAM!
Pukulan dengan kecepatan dan kekuatan yang jauh melampaui serangan biasa Luffy menghantam kepala kadal!
Kadal raksasa itu terpental puluhan meter ke belakang, menghantam bukit pasir dan menciptakan kawah besar!
Dia tidak bergerak lagi—tidak sadarkan diri.
Hening.
Luffy kembali ke bentuk normal, napasnya terengah-engah. "Hah... hah... Gear Second menguras stamina lebih dari yang kukira di gurun panas ini..."
"LUFFY! KAU SUDAH BISA PAKAI GEAR SECOND?!" aku berteriak dengan excited.
Luffy tersenyum lebar meskipun lelah. "Ya! Aku mengembangkannya dua hari terakhir! Aku pikir akan berguna untuk melawan Crocodile!"
"Itu luar biasa!" kataku. "Tapi kau benar, itu menguras stamina. Jangan gunakan terlalu sering."
Chopper langsung berlari ke Luffy dengan botol air. "Luffy! Minum! Kau kehilangan banyak cairan dengan teknik itu!"
Luffy meneguk air dengan lahap.
Vivi menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kenji-san... terima kasih sudah melindungiku..."
"Tidak masalah, Vivi," jawabku sambil tersenyum. "Kita nakama, kan?"
Tapi aku tidak bilang bahwa menggunakan Spider Burst dan Armament Haki bersamaan juga menguras energiku drastis. Aku hampir jatuh karena kelelahan, tapi aku sembunyikan agar tidak membuat yang lain khawatir.
"Ayo kita terus bergerak," kata Robin sambil menatap kadal yang tidak sadarkan diri. "Suara pertarungan pasti sudah menarik perhatian Baroque Works. Mereka akan datang lebih cepat sekarang."
Kami semua setuju dan melanjutkan perjalanan dengan langkah lebih cepat.
10 kilometer terasa seperti 100 kilometer di kondisi kami yang lelah. Tapi akhirnya, kami melihatnya—oasis kecil dengan pohon kelapa dan kolam air jernih.
"AKHIRNYA!" Usopp langsung berlari—atau lebih tepatnya terseret—ke kolam dan minum dengan lahap.
"USOPP! JANGAN MINUM TERLALU BANYAK SEKALIGUS! KAU BISA SAKIT PERUT!" Chopper berteriak sambil mencoba menghentikan Usopp.
Kami semua duduk di bawah pohon kelapa, beristirahat sejenak.
Nami mengecek peta. "Dari sini, masih sekitar 50 kilometer ke Alubarna. Kalau kita terus bergerak tanpa istirahat lama, kita bisa sampai sebelum matahari terbenam."
"Sebelum matahari terbenam..." Vivi menatap langit dengan khawatir. "Semoga kita tidak terlambat..."
Luffy berdiri dan menaruh tangannya di bahu Vivi. "Kita tidak akan terlambat. Aku janji."
Vivi tersenyum—senyuman penuh dengan harapan dan kepercayaan.
Tapi Spider Sense ku berdering lagi. Lebih keras dari sebelumnya.
"Mereka datang," gumamku sambil berdiri. "Baroque Works. Dan kali ini... mereka datang dalam jumlah banyak."
Dari balik bukit pasir di sekitar oasis, muncul puluhan—tidak, ratusan—siluet.
Million Agents dan Billion Agents dari Baroque Works, semua bersenjata lengkap.
Dan di depan mereka, berdiri beberapa sosok yang kuhafal.
Mr. 2 Bon Clay dengan pakaian balet yang mencolok.
Mr. 4 yang seharusnya sudah aku kalahkan di Nanohana—ternyata dia sudah pulih.
Dan yang paling mengkhawatirkan—
Mr. 1, Daz Bones, dengan tubuh yang bisa berubah jadi pisau.
"Straw Hat Pirates," kata Mr. 1 dengan suara datar. "Perjalanan kalian berakhir di sini."
Pertarungan di oasis akan dimulai.
Dan kami semua tahu—ini akan jadi pertarungan yang menentukan apakah kami bisa sampai ke Alubarna atau tidak.