"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Teror Meme Alay di Tengah Malam
Sangat tidak karuan sama sekali perasaan Adrian saat ia membayangkan pesan-pesan aneh apa yang akan dikirimkan oleh Lala tepat di tengah malam nanti. Pria itu mencoba memejamkan mata di atas ranjang kamarnya yang sangat rapi dan minimalis namun bayangan wajah Lala terus menari-nari di dalam pikirannya. Suasana kamar yang biasanya hening kini terasa mencekam karena ia terus menunggu getaran dari ponsel pintar yang diletakkan tepat di samping bantal tidurnya.
"Kenapa saya harus merasa gelisah hanya karena menunggu pesan dari seorang anak sekolah yang tidak tahu sopan santun?" gumam Adrian sambil menatap langit-langit kamar.
Tepat saat jarum jam dinding menunjukkan angka dua belas malam, ponsel Adrian bergetar sangat hebat hingga hampir jatuh ke lantai marmer yang dingin. Sebuah notifikasi muncul di layar yang menampilkan gambar wajah Adrian yang sedang melotot hasil tangkapan layar dari video yang diunggah Lala kemarin. Gambar tersebut diedit dengan hiasan bunga-bunga berwarna merah muda serta tulisan berukuran besar yang sangat menyakitkan mata bagi siapa pun yang melihatnya.
"Selamat malam Dokter Kulkas kesayangan Lala, jangan lupa sebelum tidur baca doa agar mimpi bertemu bidadari berseragam abu-abu!" tulis Lala dalam pesan tersebut.
"Hapus nomor saya sekarang juga atau saya akan melaporkan kamu ke pihak berwajib atas tuduhan gangguan jiwa digital," balas Adrian dengan jemari yang menekan layar sangat keras.
Adrian mengira ancamannya akan membuat Lala ketakutan dan segera menghentikan aksi konyol yang dilakukan secara ugal-ugalan ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya karena sedetik kemudian ponselnya dibanjiri oleh puluhan gambar lucu yang menampilkan foto dirinya dengan berbagai keterangan yang sangat berlebihan. Ada gambar Adrian yang sedang memegang pisau bedah namun diedit seolah sedang memegang setangkai cokelat serta gambar jantung yang berdetak-detak dengan nama Lala di dalamnya.
"Dokter Adrian marah-marah saja tapi tetap membalas pesan dariku, itu artinya Dokter sedang kangen ya?" tanya Lala melalui pesan suara yang penuh dengan tawa riang.
"Berhenti mengirimkan sampah visual ini ke ponsel saya, kamu sedang merusak waktu istirahat seorang dokter spesialis bedah!" bentak Adrian melalui balasan pesan singkatnya.
Rasa kantuk yang tadinya menyerang Adrian kini hilang sepenuhnya berganti dengan rasa kesal yang luar biasa panas hingga membakar ubun-ubun kepalanya. Dia terduduk tegak di atas ranjang sambil terus menghapus gambar-gambar aneh yang masuk tanpa henti seperti aliran air bah yang menjebol bendungan. Lala sepertinya memiliki stok gambar yang tidak terbatas untuk meneror Adrian hingga pria itu merasa hampir gila menghadapi tingkah ajaib sang gadis.
"Kalau Dokter tidak mau aku kirimkan gambar terus, coba sekarang buka jendela kamar Dokter dan lihat ke arah pagar depan rumah," tulis Lala secara tiba-tiba.
Adrian mengerutkan dahi dengan sangat dalam sambil merasa bulu kuduknya berdiri seketika karena merasa sedang diawasi oleh sosok yang sangat misterius. Dia melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalanan komplek perumahan yang sangat sepi dan gelap. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Adrian membuka tirai kamarnya lalu melongokkan kepala ke bawah untuk mencari keberadaan sang pengirim pesan teror tersebut.
"Lala? Apa yang sedang kamu lakukan di depan rumah saya pada jam seperti ini?" teriak Adrian dengan suara tertahan saat melihat sosok kecil berdiri di depan gerbang.
"Aku cuma mau memastikan kalau Dokter sudah makan malam atau belum, jadi aku bawakan satu plastik kerupuk pedas favoritku!" seru Lala sambil melambaikan tangan dengan sangat semangat.
Lala berdiri di sana dengan masih mengenakan jaket bertudung warna biru cerah sambil memegang sebuah kantong plastik transparan berisi makanan. Adrian merasa dunianya seolah runtuh saat menyadari bahwa gadis ini benar-benar senekat itu sampai berani mendatangi rumah pribadinya di tengah malam buta. Dia segera berlari turun ke lantai bawah untuk mengusir Lala sebelum para tetangga mulai bangun dan menganggap dirinya sedang menyembunyikan siswi sekolah di dalam rumah.
"Pulang sekarang juga atau saya akan memanggil satpam komplek untuk mengamankan kamu!" bentak Adrian saat ia sudah berada tepat di hadapan Lala yang sedang tersenyum lebar.
"Aku tidak mau pulang kalau Dokter belum menerima pemberian tulus dari hatiku yang paling dalam ini," jawab Lala sambil menyodorkan plastik kerupuk tersebut ke dada Adrian.
Adrian terpaksa menerima plastik berisi kerupuk yang beraroma sangat menyengat itu hanya agar Lala segera pergi dari hadapannya saat ini juga. Sentuhan jari Lala yang sangat hangat saat menyerahkan makanan tersebut membuat Adrian terpaku diam selama beberapa detik di tengah kegelapan malam. Ada sebuah getaran aneh yang kembali muncul dan merayap pelan di dalam dada sang dokter yang selama ini terkenal sangat dingin dan kaku.
"Terima kasih, sekarang cepat pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran dan benar-benar melaporkan kamu!" perintah Adrian sambil mendorong bahu Lala pelan.
Lala tertawa riang sambil berlari menuju sebuah sepeda motor yang sudah menunggunya di ujung jalan yang remang-remang cahaya lampunya. Dia sempat berbalik sejenak untuk memberikan simbol hati dengan jarinya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan mata Adrian yang masih berdiri termangu. Adrian menatap plastik kerupuk di tangannya dengan perasaan yang sangat campur aduk antara rasa marah, rasa heran, dan sebuah rasa baru yang belum terdiagnosa secara medis.
Belum terdiagnosa secara medis adalah kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi Adrian, apalagi saat ia menyadari bahwa di dalam plastik itu terdapat sebuah surat kecil yang berisi jadwal harian miliknya.