Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 - harga dari tubuh awal
Perubahan tidak selalu datang dengan rasa kuat.
Kadang, ia datang sebagai rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.
Qing Lin menyadarinya saat tengah malam.
Ia terbangun tanpa mimpi, napasnya pendek, dada terasa berat seperti ditindih batu basah. Keringat dingin membasahi punggungnya, dan setiap kali ia bergerak sedikit, otot-ototnya berdenyut pelan—bukan nyeri tajam, melainkan rasa perlawanan dari dalam tubuh.
Seolah tubuhnya sendiri berkata:
Kau melangkah terlalu cepat.
Qing Lin duduk perlahan, menahan napas agar tidak membangunkan bibinya. Ia meletakkan tangan di dada, lalu di bawah pusarnya.
Qi masih ada.
Stabil.
Namun alirannya terasa kaku, seperti air yang mengalir di saluran sempit yang belum sepenuhnya terbentuk.
“Aku terlalu memaksakan fondasi…” gumamnya.
Ia teringat malam sebelumnya—saat titik kecil itu bergetar, saat tubuhnya menyatu. Ia tidak memaksa qi bertambah, tapi ia membiarkan perubahan terjadi tanpa memberi waktu tubuhnya menyesuaikan diri.
Kesalahan kecil.
Namun dunia kultivasi tidak pernah menganggap kesalahan kecil sebagai hal sepele.
Qing Lin duduk bersila.
Ia tidak mencoba menyerap qi.
Sebaliknya, ia melakukan hal yang jarang dilakukan kultivator pemula—
ia melepaskan.
Tarik napas.
Qi bergerak.
Hembuskan perlahan.
Qi mengikuti keluar, kembali ke udara, meninggalkan tubuhnya sedikit demi sedikit.
Rasa sakit mereda perlahan.
Namun bersamaan dengan itu, rasa lemah datang.
Kakinya sedikit gemetar.
Tangannya terasa berat.
Qing Lin membuka mata, menatap lantai tanah di depannya.
“Beginikah harga dari menahan diri…” ucapnya lirih.
Ia bisa menjadi sedikit lebih kuat malam itu—jika ia mau.
Namun ia memilih stabilitas.
Pilihan itu membuat jalannya lebih lambat.
Namun juga lebih aman.
Pagi datang dengan cahaya pucat.
Bibinya terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia duduk sendiri di tepi ranjang, wajahnya terlihat lebih hidup, meski masih lemah.
“Kau tidak tidur?” tanyanya saat melihat Qing Lin di sudut ruangan.
Qing Lin menggeleng. “Sedikit.”
Bibinya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Matamu… lebih tenang.”
Qing Lin tidak menjawab.
Ia hanya membantu bibinya berdiri dan menyiapkan sarapan sederhana.
Namun saat bibinya berdiri, kakinya tidak gemetar seperti biasanya.
Ia bahkan bisa berjalan beberapa langkah tanpa bersandar.
Bibinya terkejut sendiri.
“Aneh,” katanya pelan. “Tubuhku… tidak separah kemarin.”
Qing Lin terdiam.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Namun di dalam dadanya, ada perasaan campur aduk—lega, senang, dan takut.
Ia tahu apa penyebabnya.
Qi di tubuhnya, meski sedikit, telah memengaruhi lingkungan sekitarnya. Rumah itu—udara di dalamnya—perlahan berubah.
Dan perubahan selalu menarik perhatian.
Siang hari, dua orang asing memasuki Desa Qinghe.
Mereka bukan dari sekte.
Pakaian mereka kasar, berwarna cokelat gelap, dengan senjata tergantung di pinggang. Tatapan mereka tajam, penuh perhitungan.
Pemburu bayaran.
“Cari apa kalian?” tanya salah satu tetua desa dengan waspada.
“Binatang iblis,” jawab pria yang lebih tinggi. “Serigala Abu Bertaring. Ada laporan ia mati di sekitar sini.”
Qing Lin yang sedang menimba air berhenti sejenak.
Air di embernya beriak.
Qi di tubuhnya menegang secara refleks.
Ia segera menenangkan napasnya.
Tidak sekarang.
Bukan di sini.
“Bangkainya tidak ada,” lanjut pria itu. “Tapi darahnya… kami mencium baunya sampai desa ini.”
Pria kedua mengedarkan pandangan.
Tatapannya berhenti sejenak pada Qing Lin.
Tidak lama.
Namun cukup untuk membuat kulit Qing Lin terasa dingin.
Ia tidak melihat qi.
Namun ia melihat pengalaman.
Manusia-manusia ini tidak seperti pemuda desa.
Mereka terbiasa melihat kematian.
Dan lebih berbahaya dari binatang iblis.
“Kami akan mencari di hutan,” kata pria tinggi itu. “Jika menemukan apa pun… kami akan kembali.”
Mereka pergi tanpa menunggu jawaban.
Desa kembali ramai, tapi kegelisahan tertinggal seperti bayangan.
Qing Lin pulang lebih cepat hari itu.
Ia menutup pintu rumah, lalu duduk diam cukup lama.
Sutra Darah Sunyi berdenyut pelan.
Bukan mengajak.
Bukan menuntut.
Namun mengingatkan.
Darah memanggil darah.
Jika kau tidak ingin menjadi pusatnya—berjalanlah lebih hati-hati.
Qing Lin mengepalkan tangan.
“Aku tidak ingin kekuatan yang cepat,” ucapnya pelan. “Aku ingin hidup.”
Namun dunia jarang memberi keduanya sekaligus.
Malam itu, Qing Lin memutuskan satu hal:
Ia tidak akan keluar desa untuk sementara waktu.
Ia akan memperkuat tubuhnya tanpa membunuh.
Tanpa darah.
Tanpa jejak.
Jika ia harus melangkah lambat—
maka ia akan melangkah sejauh mungkin tanpa terjatuh.
Di luar, angin membawa suara langkah jauh di hutan.
Pemburu bayaran mulai bergerak.
Dan di tengah semua itu—
seorang pemuda di desa yang dilupakan langit,
baru saja menyadari:
Bertahan hidup
kadang lebih sulit
daripada menjadi kuat.