NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Keluh Kesah Mobil Tua

Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, mengubah jalanan protokol menjadi sungai aspal yang macet total. Wiper kaca depan Honda City tua milik Arga bergerak tersendat-sendat, mengeluarkan bunyi ciit-ciit yang menyayat hati setiap kali karet kerasnya bergesekan dengan kaca.

Di dalam kabin yang berbau vanilla—jejak perselingkuhan yang belum hilang sepenuhnya—Arga memukul setir dengan frustrasi.

"Sialan!" umpat Arga kasar. "Ini macet nggak gerak-gerak dari tadi! Mana AC-nya mulai nggak dingin lagi. Freonnya bocor kayaknya."

Arga mengelap keringat yang mulai membasahi dahinya dengan tisu, lalu melempar tisu bekas itu sembarangan ke dasbor. Wajah tampannya yang biasa rapi kini tampak kusut dan penuh amarah.

Di kursi penumpang, Nadinta duduk dengan tenang. Ia baru saja menyelesaikan "mahakarya" presentasi bunuh diri untuk Rudi di kantor, dan hatinya masih dipenuhi euforia dingin kemenangan. Melihat Arga yang uring-uringan karena hal sepele seperti macet dan AC rusak, Nadinta justru melihat sebuah celah. Celah yang menganga lebar untuk memasukkan racun manisnya.

Nadinta mengulurkan tangan, menyentuh lengan Arga yang tegang dengan lembut. Sentuhan "istri idaman" yang sudah ia latih di depan cermin toilet kantor tadi sore.

"Sabar, Mas," ucap Nadinta dengan suara mendayu, lembut seperti beludru. "Namanya juga mobil tua, wajar kalau rewel. Kamu jangan marah-marah dong, nanti gantengnya luntur, lho."

Arga menoleh, kekesalannya sedikit mereda mendengar pujian itu. "Ya habisnya kesel, Din. Seharian kerja capek, pulang malah disiksa mobil rongsokan gini. Malu aku kalau ada rekan kantor lihat aku keringetan kayak supir angkot."

Bingo. Umpan pertama disambar. Di kehidupan lalu, Nadinta selalu merasa senang ketika menjadi penumpang di mobil tua ini, karena Arga ada di sana untuk mengantar dan menjemputnya. Namun, hari ini, detik ini, wanita itu untuk yang pertama kalinya melihat mobil ini sebagai alat untuk membalaskan dendam.

Arga adalah pria dengan ego setinggi langit dan Nadinta tahu bahwa itu adalah kelemahan terbesarnya.

Nadinta tersenyum, lalu mengubah posisi duduknya menghadap Arga. Ia menatap tunangannya itu dengan tatapan memuja yang penuh manipulasi. Binar matanya seolah mengatakan bahwa Arga adalah pusat tata surya, padahal di dalam hati, Nadinta sedang menatap seekor domba yang siap digiring ke pejagalan.

"Kamu benar, Mas," kata Nadinta, nada suaranya berubah serius seolah sedang membicarakan strategi negara. "Sebenarnya... aku dari tadi mikirin hal ini. Tadi di kantor, aku sempat dengar gosip dari anak-anak HRD."

"Gosip apa?" tanya Arga, telinganya selalu peka jika menyangkut urusan kantor.

"Katanya... Pak Mahendra, Direktur baru itu, sangat memperhatikan penampilan karyawannya," Nadinta memulai dongengnya.

"Dia percaya kalau bonafiditas perusahaan tercermin dari gaya hidup para leader-nya. Konon, dia pernah membatalkan promosi seorang manajer cuma gara-gara manajer itu datang meeting pakai sepatu kulit yang sudah retak-retak."

Mata Arga membulat. "Serius? Gila, sadis banget."

"Bukan sadis, Mas. Itu standar kelas atas," koreksi Nadinta cepat. "Dan coba kamu pikir deh. Besok kan Pak Rudi presentasi. Kalau presentasinya gagal—dan aku yakin bakal gagal karena dia nggak ngerti apa-apa—siapa yang bakal menggantikan posisi dia?"

Nadinta memberi jeda dramatis, membiarkan ego Arga mengisi kekosongan itu.

Arga menegakkan punggungnya, matanya berbinar tamak. "Ya... logikanya sih aku. Aku kan Supervisor Senior. Anak buah paling lama."

"Tepat!" Nadinta menjentikkan jarinya. "Kamu itu calon Manajer Pemasaran, Mas. Penerus takhta. Kapabilitas kamu itu jauh di atas Rudi. Tapi..."

Nadinta sengaja menggantung kalimatnya, menatap sekeliling interior mobil tua itu dengan pandangan prihatin. Ia menatap plafon mobil yang mulai kusam, jok kain yang ada noda bekas kopi (atau mungkin noda lain yang Nadinta tidak ingin bayangkan), dan dasbor plastik yang sudah retak rambut.

"Tapi apa, Din?" desak Arga.

"Tapi kendaraan kamu ini... nggak mencerminkan calon manajer, Mas," desah Nadinta sedih, seolah itu adalah tragedi terbesar abad ini.

"Bayangin kalau kamu diangkat jadi manajer, terus kamu harus jemput klien VIP. Masa mereka disuruh naik mobil yang AC-nya bocor dan bunyinya gluduk-gluduk? Nanti mereka ragu sama kredibilitas kamu. Mereka bakal mikir, 'Lumina Group lagi susah ya? Kok manajernya naik mobil tahun jebot?'"

Arga terdiam. Kata-kata Nadinta menohok tepat di ulu hatinya. Insekyuritas terbesar Arga adalah terlihat miskin. Ia selalu berusaha tampil lebih kaya dari aslinya, menutupi latar belakang keluarganya yang biasa-biasa saja.

"Iya juga sih..." gumam Arga pelan, jarinya mengetuk setir dengan gelisah. "Tadi pagi juga si Bambang dari divisi Sales pamer mobil barunya. HR-V putih. Padahal dia jabatannya di bawah aku."

"Nah, kan!" Nadinta memanas-manasi.

"Masa kamu kalah sama Bambang? Kamu itu Arga, lho. Bintangnya departemen. Kamu harus punya kendaraan yang bikin orang segan begitu kamu turun di lobi. Kendaraan yang bikin satpam langsung hormat tanpa ditanya," sambungnya.

Mobil mereka merayap maju beberapa meter. Hujan semakin deras, dan suara mesin Honda City itu terdengar makin kasar, seolah mendukung argumen Nadinta.

"Tapi mobil baru mahal, Din," keluh Arga, meski matanya menyiratkan keinginan yang kuat. "Tabunganku kan... ya kamu tahu lah, lagi di 'deposito' semua."

Nadinta menahan tawa sinisnya. Deposito di toko tas branded Maya maksudmu?

"Mas," Nadinta memegang tangan Arga, meremasnya meyakinkan. "Jangan anggap ini pengeluaran. Anggap ini investasi. Branding diri. Kalau kamu terlihat sukses, rezeki akan datang sendiri. Klien akan lebih percaya, bos akan lebih respek."

Nadinta mendekatkan wajahnya, berbisik seperti iblis yang menawarkan apel merah.

"Aku kemarin lihat brosur pameran otomotif. Ada Pajero Sport Dakar warna hitam glossy. Gagah banget, Mas. Tinggi, besar, berwibawa. Itu cocok banget sama postur kamu yang tegap. Kebayang nggak sih, kamu turun dari mobil itu pakai jas, terus lempar kunci ke valet parking? Semua orang pasti nengok."

Imajinasi Arga langsung liar. Ia membayangkan dirinya di balik kemudi SUV besar itu. Membayangkan tatapan kagum rekan-rekan kantornya. Membayangkan tatapan memuja Maya saat dijemput dengan mobil mewah itu. Dan membayangkan betapa kecilnya mobil Bambang si Sales jika disandingkan dengan Pajero.

"Pajero ya..." gumam Arga, air liurnya nyaris menetes. "Keren sih. Tapi cicilannya pasti nyekik, Din."

"Kan ada promo bunga ringan, Mas," Nadinta menyambar cepat. "DP-nya bisa pakai uang tabungan nikah kita sebagian. Nanti cicilan bulanannya bisa ditutup dari kenaikan gaji kamu pas jadi manajer. Atau dari bonus proyek."

"Pakai uang nikah?" Arga tampak ragu.

"Nggak apa-apa, Mas. Aku rela kok resepsi kita sederhana sedikit, yang penting karir kamu lancar," ucap Nadinta dengan wajah malaikat. "Buat apa pesta mewah satu hari kalau besoknya kamu diremehkan orang karena naik mobil butut? Aku mau suamiku dihormati. Aku mau bangga pas duduk di samping kamu."

Kalimat 'Aku mau bangga' adalah kunci pamungkas. Arga tidak bisa menolak wanita yang memujanya. Itu adalah bahan bakar egonya.

"Kamu beneran nggak keberatan kalau uang katering dipake dulu buat DP?" tanya Arga, matanya mencari validasi.

"Sama sekali nggak, Sayang," bohong Nadinta. "Justru aku yang saranin. Demi masa depan kita. Demi wibawa kamu."

Arga tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan semu. Ia merasa didukung, merasa hebat, dan merasa memiliki pasangan yang 'pengertian'. Ia tidak sadar bahwa Nadinta baru saja mengalungkan batu pemberat di lehernya.

Mobil Pajero itu harganya lebih dari setengah miliar. Cicilannya akan memakan hampir 70% gaji Arga saat ini. Dengan gaya hidup Maya yang boros dan beban cicilan mobil, Arga akan kehabisan napas finansial dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Dan saat Arga tercekik hutang, dia akan mulai melakukan hal-hal nekat. Korupsi, misalnya.

"Oke!" seru Arga sambil memukul setir dengan semangat. "Besok pulang kerja kita ke showroom. Kita ambil unit yang ready stock. Biar minggu depan pas rapat evaluasi bulanan, aku udah bawa mobil baru."

"Asik!" Nadinta bertepuk tangan kecil seperti anak kecil yang girang. "Kamu emang hebat, Mas. Visioner banget. Nggak ragu ambil keputusan besar."

"Harus dong. Calon eksekutif muda," Arga menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya sok keren.

Nadinta bersandar kembali ke kursinya, menatap rintik hujan di kaca jendela. Senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi dingin yang menakutkan.

Karena itu akan menjadi peti mati berjalanmu.

Arga yang mabuk kepayang tidak menyadari betapa kejamnya rencana Nadinta. Arga berpikir dia sedang naik kelas. Padahal, dia baru saja menandatangani kontrak perbudakan pada gengsinya sendiri.

Malam itu, saat mobil tua itu akhirnya berbelok masuk ke pelataran apartemen, Arga merasa seperti raja dunia. Sementara Nadinta, sang ratu bayangan, sudah mulai menghitung mundur waktu kehancuran rajanya.

"Mas, nanti kalau mobil barunya datang, yang pertama kali diajak jalan-jalan aku kan?" tanya Nadinta manja saat mereka turun di lobi.

"Pasti dong, Sayang. Kamu kan prioritas aku," jawab Arga sambil merangkul pinggang Nadinta.

Bohong, cibir Nadinta dalam hati. Kamu pasti akan langsung menjemput Maya untuk pamer.

Dan Nadinta akan membiarkannya. Semakin Arga pamer, semakin tinggi dia terbang, semakin hancur remuk saat Nadinta memotong sayapnya nanti.

Langkah kaki mereka menggema di lobi apartemen yang sepi. Arga berjalan dengan langkah ringan, sementara Nadinta berjalan dengan langkah pasti seorang eksekutor yang baru saja menyelesaikan simpul tali gantungan.

Kehancuran Arga dimulai dari sini.

1
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
Wida_Ast Jcy
Waduh... bakalan miskin gak tu. atau betul-betul sudah jatuh miskin thor
chemistrynana
Iyah gimana sih mas, bukannya tau diri kamu/Facepalm//Facepalm/
chemistrynana
WHAT THE??? gak modal bet dah🤣🤣
PrettyDuck
udah dikasih hidup kedua, jangan dibuang gitu aja. bales semua sakit yg pernah mereka kasih dinnn.
PrettyDuck
gampang banget dijebaknyaa.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
PrettyDuck
lau sendiri apa rud kalo bukan predator?
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/
MARDONI
KARINA 😭🤍 Sikap sopannya itu kuat banget. Aku ikut ngerasa sedih tapi kagum sama ketenangannya.
MARDONI
NAH INI 😭📅 Karina tipikal rekan kerja sigap.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!