NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: SISA-SISA "PERMAINAN"

Arunika tidak ingat kapan tepatnya dia jatuh pingsan karena kelelahan dan rasa takut, tapi dia ingat betul bagaimana suara tawa rendah Adrian bergema di kamar ini sepanjang malam. Pria itu tidak menyentuhnya dengan cinta, melainkan dengan dominasi yang menghancurkan. Baginya, Arunika bukan seorang istri, melainkan instrumen yang harus tunduk pada setiap perintahnya.

Pagi ini, saat cahaya matahari memaksa masuk melalui celah gorden, Arunika terbangun dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia meringkuk di atas tempat tidur king size yang terasa seperti hamparan es. Dingin dan kosong.

Ia menoleh ke samping. Adrian sudah tidak ada. Namun, di atas bantal pria itu, tergeletak sebuah benda yang membuat jantung Arunika mencelos: Sebuah kalung leher (choker) kulit berwarna hitam dengan plat emas kecil bertuliskan nama "VALERIUS".

Di samping kalung itu, ada secarik kertas bertuliskan tangan:

"Pakai ini. Ini adalah tanda kepemilikan. Jika aku pulang dan tidak melihatnya di lehermu, kau tahu konsekuensinya pada ayahmu."

Arunika melempar kertas itu dengan jijik. Air matanya kembali jatuh. "Aku bukan anjing, Adrian..." bisiknya dengan suara serak.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya ke kamar mandi. Di sana, ia tertegun melihat pantulan dirinya di cermin besar. Matanya sembap, dan di leher serta bahunya terdapat kemerahan—jejak cengkeraman Adrian semalam yang seolah sengaja ditinggalkan sebagai "stempel".

Ia baru saja hendak memutar keran air ketika matanya menangkap sesuatu yang janggal di sudut plafon kamar mandi. Sebuah benda kecil dengan lensa yang berkilat dingin.

CCTV.

Arunika membeku. Rasa malu yang luar biasa menyergapnya. Apakah Adrian menontonnya mandi semalam? Apakah dia sedang menontonnya sekarang?

"Iblis..." desis Arunika sambil menutupi dadanya dengan tangan, meskipun ia tahu itu percuma.

Satu jam kemudian, Arunika turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Ia terpaksa memakai choker pemberian Adrian karena rasa takutnya pada keselamatan ayahnya jauh lebih besar daripada harga dirinya. Kalung itu terasa mencekik, bukan karena ketat, tapi karena maknanya.

Di ruang makan, kemegahan rumah itu kembali mengejeknya. Meja panjang itu dipenuhi dengan hidangan sarapan mewah yang bisa memberi makan puluhan orang, tapi hanya ada satu kursi yang disiapkan.

Seorang wanita paruh baya berseragam kaku berdiri di sudut ruangan. "Nyonya muda, saya Bi Inah. Tuan berpesan agar Anda menghabiskan sarapan. Setelah itu, Anda diwajibkan membaca 'Buku Panduan' yang ada di meja rias Anda."

"Buku panduan?" tanya Arunika bingung.

"100 Aturan Kediaman Valerius, Nyonya," jawab Bi Inah tanpa ekspresi. "Tuan tidak mentoleransi satu pun pelanggaran. Pelanggaran pertama berarti pengurangan jatah makan ayah Anda di tahanan kota."

Arunika tersedak udaranya sendiri. Adrian benar-benar memikirkan segalanya. Dia tidak hanya mengurung fisiknya, tapi juga menyandera nyawa orang yang paling dia sayangi.

Tiba-tiba, tablet yang tergeletak di meja makan menyala otomatis. Panggilan video masuk. Wajah Adrian muncul di sana. Dia sedang berada di dalam mobil mewahnya, tampak segar dengan setelan jas abu-abu yang sangat elegan. Sangat kontras dengan kondisi Arunika yang hancur.

"Selamat pagi, mainan kecilku," sapa Adrian.

Suaranya terdengar sangat merdu, tipe suara yang bisa membuat wanita jatuh cinta jika mereka tidak tahu monster apa yang bersembunyi di baliknya. "Aku melihat kalungnya terpasang dengan manis. Kamu terlihat sangat... patuh."

Arunika mencengkeram garpu di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Sampai kapan kamu mau melakukan ini, Adrian? Kamu sudah mendapatkan tubuhku, kamu sudah mendapatkan perusahaan Ayah. Apa lagi?"

Adrian terkekeh, suara yang membuat bulu kuduk Arunika berdiri. "Tubuhmu hanyalah pembuka, Arunika. Aku ingin jiwamu. Aku ingin melihatmu sampai pada titik di mana kau tidak bisa bernapas tanpa izinku. Itu baru namanya kepuasan."

"Kau gila!"

"Gila karena menginginkan kesempurnaan?" Adrian menaikkan alisnya. "Oh, jangan lupa baca aturannya, Sayang. Aturan Nomor 15: Jangan pernah bicara dengan pelayan selain untuk urusan rumah tangga. Dan Aturan Nomor 7: Selalu tersenyum saat aku bicara padamu, meskipun lewat layar."

Adrian mendekatkan wajahnya ke kamera. "Tersenyum, Arunika. Sekarang."

Dengan bibir bergetar dan air mata yang menggenang, Arunika terpaksa menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang paling menyedihkan yang pernah ada.

"Bintang lima untuk aktingmu," ujar Adrian sinis sebelum mematikan sambungan.

Siang harinya, Arunika menghabiskan waktu di perpustakaan, mencoba mencari celah untuk melarikan diri. Namun, setiap pintu keluar dijaga oleh pria-pria berbadan tegap dengan setelan hitam. Setiap jendela dipasangi sensor laser yang akan berbunyi jika dibuka tanpa kode akses.

Saat ia sedang termenung di antara deretan buku, sebuah lipatan kertas kecil jatuh dari salah satu buku tua yang ia tarik secara acak.

Arunika membukanya dengan rasa ingin tahu. Tulisan di dalamnya tampak terburu-buru dan gemetar.

“Jika kau membaca ini, artinya kau adalah korban selanjutnya. Jangan percaya pada senyumnya. Cari kunci di balik lukisan wanita menangis di lantai dua. Lari sebelum koleksinya bertambah. — E”

Arunika ternganga. Siapa "E"? Dan apa yang dimaksud dengan "koleksi"?

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara langkah kaki sepatu pantofel yang berat menggema di lorong. Itu bukan langkah pelayan. Itu langkah yang sangat ia kenali.

Adrian pulang lebih awal.

Arunika segera menyembunyikan kertas itu di dalam saku gaunnya. Jantungnya berpacu liar. Ia teringat salah satu aturan: Istri wajib menyambut suami di depan pintu dengan kontak fisik.

Arunika berlari menuju pintu depan, namun ia terlambat. Adrian sudah berdiri di sana, menatap jam tangannya dengan raut wajah yang mendadak dingin.

"Kau terlambat tiga puluh detik, Arunika," ucap Adrian datar.

"Maaf... aku tadi di perpustakaan..."

Adrian berjalan mendekat, mencengkeram dagu Arunika dengan kuat, dan memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap. "Keterlambatan membutuhkan konsekuensi. Dan karena aku sedang dalam suasana hati yang buruk, hukumanmu akan sedikit lebih kreatif."

Adrian melirik ke arah saku gaun Arunika, tempat ia menyembunyikan kertas misterius tadi. Senyum tipis yang mengerikan muncul di bibir Adrian.

"Apa yang kau sembunyikan di sakumu, Sayang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!