Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Ulang Tahun Kampus
Aula Utama Universitas Nusantara malam itu bertransformasi menjadi sebuah istana modern yang megah. Ribuan lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Lantai marmer yang biasanya dingin kini tertutup karpet merah beludru yang mewah. Musik orkestra ringan mengalun, memenuhi udara yang sarat akan aroma parfum mahal dan bunga lili segar.
Ini adalah malam Dies Natalis. Malam paling bergengsi dalam kalender akademik, di mana semua kasta sosial kampus terlihat jelas dalam balutan gaun pesta dan setelan jas.
Rara berdiri di dekat pilar besar, mencoba untuk tidak terlihat terlalu mencolok. Ia mengenakan gaun sutra sederhana berwarna hijau zamrud yang jatuh pas di tubuhnya. Rambutnya tidak lagi dikuncir kuda, melainkan dibiarkan terurai dengan gelombang lembut di ujungnya. Tanpa kacamata dan dengan riasan tipis yang menonjolkan matanya, Rara nampak sangat berbeda dari "mahasiswi logistik" yang biasanya berkutat dengan kabel dan debu.
Namun, perhatian Rara sama sekali tidak tertuju pada kemegahan aula tersebut. Matanya, seperti mata ribuan orang lainnya di ruangan itu, terpaku pada pintu besar di ujung aula.
Pintu terbuka, dan sang "Pangeran" masuk.
Genta Erlangga nampak seperti sosok yang keluar langsung dari halaman novel romansa klasik. Ia mengenakan tuxedo hitam yang dipesan khusus, membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Kemeja putihnya yang kaku berpadu dengan dasi kupu-kupu hitam yang memberikan kesan sangat formal. Rambutnya ditata ke belakang, menonjolkan rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam.
"Gila... Kak Genta benar-benar nggak manusiawi gantengnya malam ini," bisik Maya yang berdiri di samping Rara, memegang gelas sparkling juice dengan tangan gemetar.
Rara tidak menyahut. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sesak. Ia merasa bangga sekaligus terintimidasi. Itulah Paladin-nya. Pria yang kemarin bersembunyi di balik pilar parkiran mal sambil tertawa bersamanya, kini kembali menjadi sosok yang tak tersentuh oleh dunia.
***
Tradisi malam Dies Natalis dimulai dengan "Dansa Pembukaan Pimpinan". Sebagai Presiden Mahasiswa, Genta wajib membuka lantai dansa bersama Wakil Presiden Mahasiswa.
Kania melangkah maju, menjemput Genta di tengah aula. Malam ini Kania tampil memukau dengan gaun mermaid berwarna perak yang dipenuhi payet. Ia tersenyum sangat lebar, sebuah senyuman kemenangan yang ia tujukan pada siapa pun yang melihatnya, terutama pada Rara yang ia tahu sedang mengamati dari kejauhan.
Musik berganti menjadi waltz yang melankolis. Genta meletakkan satu tangannya di pinggang Kania, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Kania. Mereka mulai bergerak berputar di tengah aula, di bawah sorotan lampu spotlight yang megah.
Rara merasakan sebuah cubitan tajam di dadanya. Ia tahu ini hanya protokol. Ia tahu ini hanya bagian dari tugas organisasi. Tapi melihat Kania bergelayut di lengan Genta, melihat kepala Kania yang hampir bersandar di bahu pria itu, dan melihat bagaimana semua orang bertepuk tangan memuji betapa serasinya mereka, membuat Rara ingin segera pergi dari sana.
"Mereka kelihatan kayak pasangan paling sempurna di kampus ya, Ra?" gumam seorang teman jurnalis Rara di sebelah. "Presma dan Wapresma. Kayak nggak ada celah buat orang ketiga masuk ke sana."
Rara hanya bisa tersenyum getir, mencengkeram tas kecilnya hingga jarinya memutih. Di tengah kerumunan yang bersorak, ia merasa sangat kecil. Ia merasa seperti Healer level rendah yang hanya bisa melihat sang Paladin bersinar di atas panggung bersama ratu yang "seharusnya".
Namun, di tengah lantai dansa, Genta sedang mengalami neraka pribadinya.
Genta melakukan dansa itu dengan sangat kaku. Tubuhnya setegang papan kayu. Senyum diplomatis yang ia pasang terasa sangat palsu hingga otot wajahnya mulai berdenyut nyeri. Ia bisa merasakan aroma parfum Kania yang terlalu kuat menusuk hidungnya, sangat berbeda dengan aroma sabun cuci baju Rara yang menenangkan.
Genta tidak fokus pada langkah kakinya. Ia tidak mendengarkan bisikan Kania yang terus mencoba memujinya. Matanya terus menyisir kerumunan ribuan tamu di sekeliling aula. Ia mencari satu titik fokus. Ia mencari jangkarnya.
Di mana kamu, Ra? batin Genta panik. Ia merasa kecemasan sosialnya mulai merayap naik. Ribuan mata yang menatapnya seolah sedang menelanjangi seleranya.
Lalu, di dekat pilar ketiga di sisi kanan aula, ia melihatnya.
Rara berdiri di sana, nampak cantik dalam gaun hijaunya, namun matanya memancarkan kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Saat mata mereka bertemu, Genta seolah mendapatkan oksigen tambahan. Gemetar di tangannya yang tersembunyi di balik punggung Kania perlahan mereda.
Genta tidak melepaskan pandangannya dari Rara. Di tengah putaran dansa yang membosankan itu, ia terus mengunci matanya pada gadis itu, seolah-olah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Ia ingin berteriak bahwa ia benci berada di sini, ia benci memegang pinggang Kania, dan ia ingin segera lari ke tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Kania menyadari perubahan itu. Ia melihat arah pandang Genta dan rahangnya mengeras. Ia mencoba menarik perhatian Genta dengan bicara lebih keras, namun Genta tetap diam, hanya menatap Rara dengan tatapan memohon yang sangat jelas.
***
Acara dansa protokol akhirnya selesai diiringi tepuk tangan meriah. Pembawa acara mengumumkan bahwa acara akan dilanjutkan dengan sesi musik modern dan makan malam bebas. Lampu aula meredup, berganti menjadi pendar biru dan ungu yang lebih santai. Musik EDM mulai menggantikan orkestra.
Genta segera melepaskan tangan Kania dengan gerakan yang hampir terlihat kasar. "Aku butuh udara segar," ucapnya pendek pada Kania yang nampak protes.
Genta berjalan membelah kerumunan. Ia mengabaikan dekan dan rektor yang mencoba menyapanya. Ia hanya memiliki satu tujuan.
Saat melewati pilar tempat Rara berdiri, Genta tidak berhenti. Namun, jarinya menyentuh pergelangan tangan Rara dengan sangat cepat, sebuah sentuhan yang tak terlihat oleh orang lain, sambil memberikan sebuah kode melalui gerakan kepalanya ke arah pintu balkon samping yang sepi.
Rara tertegun sejenak. Jantungnya meloncat. Tanpa berpikir dua kali, ia segera menyelinap di antara tamu-tamu yang mulai berdansa liar, mengikuti bayangan pria ber-tuxedo hitam itu keluar dari kemegahan aula yang menyesakkan.
Di balik pintu kayu besar itu, udara malam yang dingin menyambut mereka. Aula yang bising kini hanya terdengar seperti dengungan lebah di kejauhan. Genta berdiri di balkon yang menghadap ke arah taman kampus yang gelap, ia sudah melepas dasi kupu-kupunya dan membuka kancing kerah kemejanya, nampak sangat frustrasi.
"Genta?" panggil Rara pelan.
Genta berbalik. Begitu melihat Rara, ia langsung melangkah maju dan menarik Rara ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rara, menghirup aroma rambut gadis itu dalam-dalam untuk menenangkan sarafnya yang kacau.
"Tolong... jangan biarkan aku kembali ke sana sendirian," bisik Genta, suaranya terdengar sangat rapuh di bawah sinar rembulan.
Rara tersenyum, rasa cemburunya menguap seketika digantikan oleh rasa sayang yang meluap. Ia mengusap punggung tuxedo Genta dengan lembut. "Tenang saja, Paladin. Healer-mu nggak akan ke mana-mana."