Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
Pertemuan
Saat jam istirahat tiba, Anjeli duduk di pinggiran trotoar. Ia membuka bungkusan nasi berisi sejumput garam dan sepotong tempe goreng yang ia bawah dari rumah sebagai bekal sarapannya. Satu-satunya bekal yang ia punya. Baru saja hendak menyuap ke dalam mulut, mata cantiknya menangkap sosok wanita tua yang duduk meringkik di pojok gang sempit, badannya gemetaran karena kelaparan.
Hati nurani Anjeli bergejolak. Ia tahu hika ia memberikan nasinya, ia akan kelaparan hingga sore nanti. Namun, melihat sorot nata tua sang nenek itu, Anjeli menjadi tidak tega.
“ permisi…Nek, ini ada makan. Makanlah Nek! Jangan di tolak ya, saya sudah kenyang soalnya”. Dusta Anjeli sambil menyodorkan bungkusan nasi bekalnya itu kepada wanita tua yang ada di depannya.
Wanita tua itu menatap Anjeli dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menerima bungkusan nasi itu dan memakannya dengan lahap. Sementara Anjeli hanya meneguk air putih untuk mengganjal perutnya. Setelah selesai makan, sang nenek itu merai tangan Anjeli.
“Nak, Terimah kasih banyak nak. Kamu anak yang baik, hatimu lebih berkilau dari wajahmu” kata nenek itu. “Sama-sama Nek, sesama manusia memang harus saling menolong, itu tadi juga ada rezeki lebih makanya saya bagikan ke nenek”. Jawab anjeli kepada sang nenek.
“Benar nak, apa kata kamu itu memang Benar. Sesama manusia harus saling tolong menolongnya tapi, tidak semua orabg berpikir seperti kamu nak!!” Ujar sang nenek kepada anjeli yang hanya diam tanpa menjawab. Nenek itu merogoh saku kainnya yang kumal dan mengeluarkan sebuah cincin logam yang tampak usang dan menghitam.
“Jangan di tolak ya, nak. Ini pemberian nenek itu kamu, bukan perhiasan mahal, nak. Tapi mungkin ini bisa membantumu mencari Kebahagian untuk Ayah dan adikmu”, lanjut sabg nenek sambil memakaikan cincin itu di jari manis anjeli.
Anjeli terpaku. “Apa maksud omongan nenek ini” gumam anjeli didalam hati. Cincin itu terasa dingin namun tak lama kemudian. Ada sensasi hangat yang merambat keseluruhan tubuhnya. Saat ingin mengucapkan Terimah kasih, sang nenek sudah menghilang dibalik kerumunan orang-orang pasar yang mulai ramai.
“Kemana nenek tadi, kenapa cepat sekali menghilang.”bingung anjeli dan bertanya-tanya kemana hilangnya wanita tua itu. Anjeli tidak tau, bahwa sejak detik itu, hidupnya yang berat perlahan-lahan tidak sama lagi.
Karena merasa bingung akan kepergian nenek itu, anjeli pun terus berpikir sambil celingak-celinguk mungkin menemukan wanita tua itu sembari kembali ke perkumpulan para kuli panggul dan kembali bekerja.
____________
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga yang kontraks dengan debu yang bertentangan di pasar induk. Anjeli merasakan perutnya melilit hebat. Rasa lapar yang tadinya coba ia abaikan kini menuntun haknya. Namun, seriap rasa sakit itu muncul, aneh kya setiap kulitnya bersentuhan dengan cincin logam dingin pemberian sang nenek itu, rasa lemas di kakinya seolah menguap, digantikan oleh rasa aliran energi yang asing namun menenangkan.
Karena hari mulai berganti malam, ia pun bergegas pulang dengan upah tiga puluh ribu rupiah disaku ya. Hasil dari memeras keringat sebagai kuli panggul seharian. Jumlah yang terbilang sangat kecil bagi orang lain, namun bagi anjeli, itu adalah napas bagi ayah dan adiknya.
————🌹
Terimah kasih sudah mampir di cerita ini..
jangan lupa di like dan komen ya teman-teman
Kita lanjut ceritanya…..
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄