Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Perdana
Malam itu, langit kota Jakarta seolah tertutup jelaga. Tidak ada bintang, hanya pendar lampu kota yang memantul pada awan rendah yang pengap. Galen tidak membawa Shabiya ke hotel berbintang atau gedung pencakar langit kali ini. Limusin hitam itu meluncur menuju kawasan pergudangan tua di pinggiran dermaga utara yang telah disulap menjadi sebuah kelab eksklusif bawah tanah bernama The Obsidian.
Tempat ini bukan untuk konsumsi publik. Ini adalah titik temu para "hiu", mereka yang mengendalikan aliran uang kotor, penyelundupan senjata, dan negosiasi politik di balik pintu tertutup. Di sini, hukum tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas kekuatan moncong senjata dan pengaruh.
"Ingat apa yang kukatakan, Shabiya," suara Galen terdengar rendah, bergetar bersama deru mesin mobil. Ia meraih jemari Shabiya, sarung tangan kulit yang dipakainya terasa kasar di kulit halus istrinya. "Jangan pernah melepaskan lenganku. Jangan berbicara kecuali aku yang memintanya. Dan yang paling penting, jangan pernah menunjukkan ketakutanmu. Di tempat ini, rasa takut adalah undangan bagi predator."
Shabiya menelan ludah. Ia mengenakan gaun sutra hitam backless yang membalut tubuhnya seperti kulit kedua. Rambutnya, yang kini sudah mulai memanjang sesuai keinginan Galen, disanggul tinggi dengan tusuk konde perak berbentuk mawar. Galen sendiri yang memasangkan perhiasan itu, sebuah ritual yang terasa lebih seperti penandaan ternak daripada tindakan romantis menurut Shabiya.
Begitu pintu mobil dibuka oleh Arsen, bau garam laut yang bercampur dengan aroma tembakau mahal dan parfum pria menyeruak masuk. Dua baris pria berseragam hitam dengan senjata otomatis tersampir di bahu berdiri tegak, membentuk lorong menuju pintu masuk The Obsidian.
Bagian dalam kelab itu adalah simfoni kegelapan. Dinding-dinding beton ekspos dihiasi dengan lampu neon berwarna merah darah yang redup. Musik techno dengan dentuman bass yang berat berdenyut melalui lantai, terasa hingga ke tulang belakang Shabiya. Di sofa-sofa beludru, pria-pria dengan setelan jas seharga ratusan juta duduk berdampingan dengan wanita-wanita cantik yang tampak seperti pajangan.
Kehadiran Galen seketika mengubah suasana. Percakapan berhenti sesaat. Mata-mata tajam mulai menyorot ke arah Shabiya. Galen merangkul pinggang Shabiya dengan begitu posesif, telapak tangannya menekan kuat pada kulit punggung Shabiya yang terbuka, seolah sedang menegaskan pada seluruh ruangan bahwa wanita ini berada dalam kekuasaannya.
"Tuan Gemilar," seorang pria bertubuh tambun dengan bekas luka di pipinya mendekat, mengangkat gelas kristalnya. "Saya dengar Anda telah menemukan 'harta karun' baru. Saya tidak menyangka rumor itu benar. Dia... luar biasa mirip."
Galen tidak tersenyum. Matanya menyapu pria itu dengan tatapan menghina. "Dia bukan sekadar mirip, Tuan Baskoro. Dia adalah milikku. Dan aku tidak suka jika barang milikku ditatap terlalu lama."
Pria itu tertawa canggung, nyalinya menciut di bawah tatapan Galen yang mematikan. Shabiya merasa mual. Ia bukan lagi manusia di tempat ini, ia adalah sebuah keajaiban medis atau reinkarnasi mistis yang sedang ditonton oleh sekumpulan monster.
Galen kemudian ditarik ke dalam sebuah pembicaraan serius mengenai rute pengiriman baru di sudut ruangan oleh beberapa rekan bisnisnya. Ia meninggalkan Shabiya di dekat bar eksklusif, namun tetap di bawah pengawasan ketat Arsen yang berdiri beberapa meter di belakangnya.
"Minum?" sebuah suara bariton yang akrab terdengar di samping telinga Shabiya.
Shabiya menoleh dan menemukan Reza berdiri di belakangnya. Pria itu tampak sangat berantakan namun elegan dalam setelan biru gelapnya. Ia memegang segelas wiski murni, matanya menatap Shabiya dengan campuran antara rasa kasihan dan ejekan.
"Aku tidak haus, Tuan Sahika," jawab Shabiya dingin, mencoba meniru ketegaran Galen.
Elfahreza terkekeh, suara yang lebih mirip desisan ular. Ia melangkah lebih dekat, mengabaikan tatapan peringatan dari Arsen. Di tempat ini, kekuatan Reza setara dengan Galen, dan Arsen tahu ia tidak bisa sembarangan menghentikan pria ini tanpa memicu perang terbuka.
"Kau belajar dengan cepat, Shabiya. Tapi topeng ketenangan itu tidak cocok untukmu," ucap Reza. Ia bersandar di meja bar, menatap profil samping Shabiya. "Tahukah kau? Aku ada di sana saat Thana mati. Aku melihat bagaimana api melahap gedung itu, dan aku melihat bagaimana Galen kehilangan akal sehatnya malam itu."
Shabiya membeku. "Kenapa kau menceritakan ini padaku?"
Reza mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Shabiya. Aroma alkohol dan cerutu dari napasnya membuat Shabiya ingin mundur, namun ia memaksa kakinya tetap terpaku.
"Karena aku ingin kau tahu posisi aslimu di rumah itu," bisik Reza, suaranya begitu rendah hingga nyaris tenggelam oleh dentuman musik. "Kau berpikir kau istimewa karena dia menikahimu secara langsung? Kau berpikir sikap posesif nya adalah bentuk cinta?"
Reza menjeda, senyumnya menjadi sangat tipis dan tajam. "Jangan tertipu, gadis cantik. Kau bukan istrinya. Kau hanyalah bejana kosong yang ia isi dengan memorinya tentang wanita yang sudah mati. Di matanya, kau tidak pernah ada. Saat dia memelukmu, dia memeluk wanita itu. Kau hanya boneka pengganti yang cantik."
Kalimat itu menghantam Shabiya lebih keras daripada tamparan fisik. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
"Dan tahukah kau bagian terbaiknya?" Reza melanjutkan, suaranya kini penuh racun. "Galen tidak akan pernah membiarkanmu menjadi dirimu sendiri. Dia akan terus mendandanimu, mengubah cara bicaramu, hingga Shabiya yang asli benar-benar terhapus. Dan saat dia menyadari kau tetap tidak bisa menjadi Thana yang asli... dia akan menghancurkanmu seperti dia menghancurkan musuh-musuhnya."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Reza, cukup membuat teka-teki dalam pikirannya sedikit terpecahkan. Meski dia pun tidak tahu akan kebenaran fakta yang sesungguhnya. Yang pasti, wanita bernama 'Thana' itu adalah bagian dari masalalu suaminya yang sudah mati secara tragis.
"Jauhkan mulutmu dari istriku, Reza."
Suara Galen terdengar seperti guntur yang tenang. Ia sudah berdiri di belakang Shabiya, tangannya langsung melingkari leher Shabiya dari belakang, sebuah gerakan yang tampak seperti pelukan namun terasa seperti cekikan ringan.
Elfahreza mengangkat gelasnya, tidak tampak takut sedikit pun. "Hanya memberikan beberapa nasihat pernikahan, Galen. Istrimu tampak... bingung."
"Dia tidak butuh nasihat dari pria yang bahkan tidak bisa menjaga wilayahnya sendiri," balas Galen tajam. Ia menarik Shabiya ke dalam dekapan dadanya yang bidang. "Ayo pergi, Shabiya. Tempat ini sudah mulai berbau sampah."
Sepanjang perjalanan pulang, Galen terdiam. Namun, Shabiya bisa merasakan amarah yang mendidih di balik ketenangan suaminya. Begitu mereka sampai di mansion dan masuk ke dalam kamar, Galen langsung mencengkeram bahu Shabiya dan memutarnya hingga menghadapnya.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Galen, matanya berkilat liar di bawah lampu kamar yang temaram.
"Dia mengatakan yang sebenarnya, bukan?" Shabiya balik bertanya, suaranya bergetar hebat. "Bahwa aku hanya boneka? Bahwa kau hanya melihat wanita lain saat menatapku?"
Galen tidak membantah. Ia justru mendekat, tangannya mengusap pipi Shabiya dengan gerakan yang hampir kasar. "Jika kau menjadi boneka yang baik, kau akan hidup dalam kemewahan selamanya, Shabiya. Jangan dengarkan Reza. Dia hanya ingin melihatku kehilangan satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup kembali."
"Aku bukan barang! Aku manusia, Galen!"
Galen mencium Shabiya dengan kasar, sebuah tindakan untuk membungkam protes istrinya. Ciuman itu tidak mengandung kasih sayang, itu adalah klaim kekuasaan, sebuah cara untuk menandai bahwa raga ini adalah miliknya, tak peduli siapa jiwa yang menghuninya.
Shabiya menangis dalam diam saat Galen tertidur di sampingnya. Kata-kata Elfahreza terus bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Di dunia bawah yang baru saja ia lihat, ia menyadari bahwa ia hanyalah sebuah trofi, sebuah piala yang dimenangkan Galen dari sebuah tragedi masa lalu.
Ia adalah boneka pengganti. Dan di dalam mansion yang dingin ini, Shabiya menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan kebebasannya, tetapi ia sedang kehilangan jiwanya sendiri, inci demi inci, di bawah tangan sang pemilik kegelapan yang mencintainya hanya sebagai sebuah bayang-bayang.
baru mulai... ky'a seru