Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERJAMUAN PARA PENGKHIANAT
Malam menyelimuti kota dengan kabut tipis, seolah sedang menyembunyikan rencana besar yang akan segera meledak. Di depan cermin besar kamarnya, Alana menatap pantulannya sekali lagi. Kali ini, ia tidak mengenakan gaun merah yang mencolok. Ia memilih gaun malam emerald green dengan potongan backless yang memamerkan punggung mulusnya—punggung yang kini menyembunyikan sebuah pisau lipat tipis berbahan keramik di balik keliman kainnya.
"Kau tampak seperti malaikat maut yang sangat cantik," suara berat Arkano memecah keheningan.
Arkano berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat seperti penguasa kegelapan yang sesungguhnya. Ia berjalan mendekat, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Alana. Dari pantulan cermin, mereka tampak seperti pasangan paling serasi di dunia, meski kenyataannya mereka adalah dua jiwa yang sedang meniti jalan menuju neraka.
"Ingat, Alana," Arkano berbisik tepat di telinganya. "Klub Golf Emerald bukan sekadar tempat olahraga. Itu adalah wilayah netral bagi para pejabat korup. Aku akan mengalihkan perhatian Hendra dan kroninya di meja biliar, sementara kau punya waktu sepuluh menit untuk masuk ke ruang loker pribadi dan mengambil buku besar itu."
Alana mengangguk pelan. Jantungnya berdebar, namun bukan karena takut. Ini adalah adrenalin yang sudah lama tidak ia rasakan—sensasi menjadi pemburu, bukan mangsa. "Aku tahu prosedurnya. Jangan khawatirkan aku."
Arkano mengecup bahu Alana yang terbuka, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya. "Aku selalu mengkhawatirkanmu. Jika dalam sepuluh menit kau tidak kembali, aku akan meratakan tempat itu."
Limasin hitam Dirgantara berhenti di depan lobi mewah Klub Golf Emerald. Begitu pintu terbuka, kilatan lampu kamera dari beberapa fotografer internal menyambut mereka. Arkano menggandeng tangan Alana dengan erat, menunjukkan pada dunia bahwa rumor tentang pengkhianatan sang agen intelijen hanyalah angin lalu bagi klan Dirgantara.
Di dalam aula besar yang beraroma cerutu mahal dan parfum kelas atas, Alana melihat sosok yang paling ia benci. Komisaris Hendra berdiri di tengah kerumunan, tertawa bersama beberapa menteri. Saat mata mereka bertemu, Hendra sempat tertegun sejenak. Ada kilat kemarahan di matanya, namun ia menutupinya dengan senyum palsu yang memuakkan.
"Ah, Arkano! Aku tidak menyangka kau akan membawa 'istrimu' ke acara yayasan ini," sapa Hendra dengan nada sarkastik yang kental.
Arkano tersenyum miring, sebuah senyuman yang lebih tajam dari sembilu. "Istriku sangat ingin melihat bagaimana uang donasiku dikelola oleh orang sehebat dirimu, Komisaris."
Alana memaksakan senyum anggun. "Selamat malam, Komandan. Oh, maaf... maksud saya, Komisaris Hendra. Senang melihat Anda masih terlihat begitu... tenang."
Hendra menyipitkan mata, merasakan sindiran dalam suara Alana. "Tetaplah waspada, Alana. Kadang-kadang keindahan bisa menipu, dan pengkhianatan selalu punya harga yang mahal."
"Aku setuju," balas Alana dingin. "Itulah sebabnya aku belajar untuk tidak pernah mempercayai siapa pun, termasuk mereka yang mengajariku cara memegang senjata."
Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Arkano kemudian mengajak Hendra untuk menuju area biliar, memulai pengalihan isu yang sudah direncanakan. Alana melihat kesempatan itu. Ia berpamitan untuk pergi ke ruang rias.
Begitu ia lepas dari pandangan publik, gerakan Alana berubah total. Ia tidak lagi berjalan dengan gaya sosialita. Ia bergerak cepat dan senyap melalui lorong-lorong staf yang sudah ia pelajari petanya dari Marco.
Ia sampai di depan pintu kayu jati menuju ruang loker eksklusif. Di sana, seorang penjaga berbadan tegap berdiri.
"Maaf, Nyonya. Area ini terlarang untuk tamu wanita," ucap penjaga itu tegas.
Alana memasang wajah panik yang dibuat-buat. "Oh, astaga! Tolong saya. Cincin kawin saya... saya rasa jatuh di area selasar dalam saat saya tadi tidak sengaja lewat. Jika Tuan Arkano tahu, dia akan sangat marah. Anda tahu sendiri bagaimana temperamennya, bukan?"
Penjaga itu ragu sejenak. Nama Arkano Dirgantara memiliki efek magis yang menakutkan bagi siapa pun di kota ini.
"Hanya dua menit, Pak. Kumohon. Saya tidak ingin malam ini berakhir dengan bencana," rayu Alana sambil menyentuh lengan penjaga itu, memberikan tatapan memohon yang sangat meyakinkan.
Penjaga itu mendesah kalah. "Baiklah, Nyonya. Tapi cepatlah."
Begitu pintu terbuka dan penjaga itu sedikit menjauh untuk memberinya privasi, Alana langsung menuju loker nomor 099—angka keberuntungan Hendra. Ia mengeluarkan alat pemecah kode elektronik kecil dari balik gaunnya.
Beep... Beep... Klik!
Pintu loker terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah buku besar bersampul kulit hitam. Alana membukanya dengan cepat. Matanya membelalak melihat deretan nama, tanggal, dan jumlah uang yang luar biasa besar. Nama Hendra ada di setiap halaman, terkait dengan proyek-proyek gelap yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan atau bencana alam.
"Dapat kau, tua bangka," desis Alana.
Ia segera mengambil ponselnya dan memotret setiap halaman dengan kecepatan tinggi. Namun, saat ia sampai di halaman terakhir, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Langkah itu bukan langkah penjaga tadi. Suaranya lebih berat dan berirama.
Alana segera menutup loker dan bersembunyi di balik lemari kayu besar tepat saat pintu ruangan terbuka.
"Aku tahu kau di sini, Alana."
Suara itu milik Hendra. Alana menahan napas. Ia meraba pisau di balik gaunnya.
Hendra masuk ke ruangan dengan pistol yang sudah tersampir di tangannya. "Kau pikir aku tidak tahu taktikmu? Aku yang melatihmu, ingat? Aku tahu kau akan mengincar buku ini."
Hendra berjalan perlahan di antara deretan loker. "Arkano mungkin memberimu kemewahan, tapi dia tidak bisa memberimu keselamatan. Serahkan fotomu, dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk tidak menembak kepalamu sekarang juga."
Alana keluar dari persembunyiannya dengan tenang, meski jantungnya berdebar kencang. "Kau sudah kalah, Hendra. Semua bukti ini akan sampai ke tangan jaksa agung dalam hitungan menit."
Hendra tertawa hambar. "Jaksa agung? Mereka semua ada di kantongku, Bodoh! Sekarang, berikan ponselmu!"
Hendra mengarahkan pistolnya tepat ke dada Alana. Namun, sebelum ia bisa menarik pelatuknya, sebuah botol wiski melayang dari arah pintu dan pecah tepat di kepala Hendra.
PRANK!
Hendra terhuyung, darah mengucur dari pelipisnya. Arkano berdiri di ambang pintu dengan wajah yang memancarkan aura iblis. Ia tidak membawa senjata, tapi kehadirannya jauh lebih menakutkan daripada pistol mana pun.
"Kau menyentuh istriku, Hendra?" Arkano melangkah masuk, suaranya rendah dan mengancam. "Itu adalah kesalahan terakhir yang akan kau lakukan dalam hidupmu."
Arkano menerjang Hendra dengan kecepatan yang tak masuk akal. Sebuah pukulan telak mendarat di rahang Hendra, menjatuhkan pria tua itu ke lantai. Arkano menginjak tangan Hendra yang memegang pistol hingga terdengar suara tulang yang retak.
"Arkano, jangan bunuh dia sekarang!" teriak Alana. "Kita butuh dia hidup-hidup untuk mengakui semuanya di depan kamera!"
Arkano menatap Alana, napasnya memburu karena amarah. Perlahan, ia melepaskan injakannya. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, memeriksa setiap jengkal tubuh istrinya. "Kau terluka?"
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah mendapatkan semuanya," bisik Alana sambil menunjukkan ponselnya.
Arkano menatap Hendra yang mengerang di lantai. "Bawa dia ke gudang belakang. Jangan biarkan siapa pun melihat," perintah Arkano pada Marco yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
Malam itu, perjamuan di Klub Golf Emerald berakhir dengan kekacauan yang disembunyikan dengan rapi. Arkano dan Alana keluar dari gedung itu seperti pahlawan kemenangan. Namun, Alana tahu ini baru permulaan. Hendra memang sudah tertangkap, tapi jaringan korupsinya masih sangat luas.
Di dalam mobil, Arkano menggenggam tangan Alana dengan sangat erat. "Mulai malam ini, dunia akan tahu bahwa klan Dirgantara tidak bisa disentuh. Dan kau... kau adalah bagian dari kekuatan itu."
Alana menyandarkan kepalanya di bahu Arkano. Ia merasa lelah, namun ada kepuasan yang mendalam. Dendam orang tuanya mulai terbayar. Dan di samping pria ini, ia merasa menemukan tempat yang lebih nyata daripada dunia kepolisian yang penuh kepalsuan.
"Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Alana.
Arkano menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang gemerlap. "Selanjutnya? Kita akan membakar seluruh sistem yang dibangun Hendra. Sampai tidak ada satu pun debu yang tersisa."