Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plumbon dan Aroma Kembang Kanthil
.Mentari pagi merayap malu di antara rerimbunan pohon jati, menyinari desa Plumbon yang masih diselimuti kabut tipis. Ayam jantan berkokok bersahutan, membangunkan penduduk desa dari tidur lelap mereka. Di sebuah rumah sederhana berdinding tembok yang dicat putih gading, seorang gadis bernama Sekar Arum menggeliat di atas kasurnya.
Desa Plumbon, Wonogiri, adalah dunia Sekar Arum. Di sinilah ia dilahirkan, dibesarkan, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya. Desa yang tenang dan damai, jauh dari hiruk pikuk kota besar. Udara segar pegunungan, sawah hijau membentang, dan keramahan penduduk desa adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Sekar Arum meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu bangkit dari kasurnya. Ia berjalan menuju jendela, membuka lebar-lebar, dan menghirup udara pagi yang segar. Aroma kembang kanthil dari pohon yang tumbuh di depan rumahnya menusuk hidungnya, membangkitkan semangat baru.
"Sugeng enjing, Plumbon," bisiknya pelan, menyapa desanya dengan senyum cerah.
Namun, ada sesuatu yang berbeda dari Sekar Arum. Di balik senyumnya yang manis, tersimpan sebuah hasrat yang membara, sebuah cinta yang tak biasa: wayang kulit. Di saat gadis-gadis seusianya tertarik pada banyak hal modern, Sekar Arum justru terpikat pada seni pertunjukan tradisional itu.
Setiap kali ada pertunjukan wayang di desa atau di desa tetangga, Sekar Arum selalu hadir. Ia rela begadang hingga pagi demi menyaksikan setiap adegan, mengabaikan anggapan teman-temannya bahwa wayang itu kuno. Baginya, ini adalah lebih dari sekadar hiburan.
Wayang adalah jendela menuju dunia lain, tempat para dewa dan raksasa bertarung, cinta dan pengkhianatan berpadu, dan nilai-nilai luhur dijunjung tinggi. Wayang adalah cermin kehidupan, yang mengajarkan tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta arti pentingnya menjaga keseimbangan alam semesta.
Di desa Plumbon yang tenang, di antara aroma kembang kanthil dan suara gamelan yang sayup-sayup terdengar, dimulailah kisah Sekar Arum, seorang gadis yang mencintai wayang lebih dari apa pun di dunia ini. Kecintaannya pada wayang bukan hanya sekadar hobi, melainkan sebuah panggilan jiwa, sebuah takdir yang harus ia jalani.
Setelah menyapa desanya, Sekar Arum bergegas menuju sumur di belakang rumah untuk mengambil air wudhu. Ia membersihkan diri dengan air dingin yang menyegarkan, lalu melaksanakan shalat Subuh dengan khusyuk. Setelah shalat, ia membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur.
Dapur sederhana itu berdinding tembok yang dicat putih, dengan beberapa rak kayu tempat menyimpan peralatan masak. Sebuah kompor gas berwarna biru berdiri di atas meja, menggantikan tungku tradisional. Aroma masakan tradisional Jawa tetap memenuhi ruangan, namun kali ini tanpa campuran aroma kayu bakar. Ibunya, seorang wanita paruh baya yang ramah dan penyayang, sedang menggoreng tempe dan membuat sambal terasi di atas kompor gas.
"Sudah bangun, Nduk?" sapa ibunya dengan senyum hangat. "Bagaimana tidurmu semalam?"
"Nyenyak, Bu," jawab Sekar Arum sambil mencium tangan ibunya. "Ibu sendiri bagaimana?"
"Ibu juga nyenyak," kata ibunya. "Semalam Ibu bermimpi tentang wayang. Sepertinya kamu akan mendapat pertunjukan wayang lagi dalam waktu dekat."
Sekar Arum tersenyum mendengar ucapan ibunya. Ia percaya bahwa mimpi ibunya sering menjadi kenyataan. Ia berharap mimpi itu benar-benar pertanda baik.
Setelah sarapan, Sekar Arum bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia mengenakan seragam batik khas Wonogiri dengan **hati riang. Ia selalu merasa bangga mengenakan batik, yang merupakan warisan budaya bangsa.
Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ayahnya, seorang petani yang sederhana dan pekerja keras, memberikan nasihat agar Sekar Arum belajar dengan rajin dan menghormati guru.
"Sing sregep anggonmu sekolah, Nduk," pesan ayahnya dengan suara lembut. "Ojo lali marang Gusti Allah lan wong tuwo." (Rajinlah belajarmu, Nak. Jangan lupa kepada Tuhan dan orang tua.)
Sekar Arum mengangguk patuh dan mencium tangan ayahnya. Ia tahu bahwa orang tuanya selalu menginginkan yang terbaik untuknya. Ia berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih cita-citanya.
Dengan langkah ringan, Sekar Arum berjalan menuju sekolah. Ia melewati jalan setapak di antara sawah yang hijau membentang. Pemandangan indah itu selalu membuatnya merasa tenang dan damai. Ia bersyukur bisa hidup di desa Plumbon yang asri dan tentram.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan teman-temannya, Rini dan Sinta. Mereka berdua adalah sahabat karib Sekar Arum sejak kecil. Rini dan Sinta juga suka menonton wayang, meskipun alasan mereka berbeda dengan Sekar Arum.
"Hai, Sekar!" sapa Rini dengan ceria. "Nanti malam ada wayang di desa sebelah, kamu ikut kan?"
"Pasti ikut dong!" jawab Sekar Arum dengan semangat. "Aku udah nggak sabar pengen nonton."
"Asyik!" timpal Sinta dengan nada gembira. "Siapa tahu nanti malam kita bisa ketemu cowok ganteng di sana."
Sekar Arum hanya tersenyum mendengar ucapan Sinta. Ia tahu bahwa Rini dan Sinta lebih tertarik pada cowok-cowok yang menonton wayang daripada pertunjukan wayangnya sendiri. Namun, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting, mereka tetap bisa menikmati waktu bersama.
"Yang penting kita happy," kata Sekar Arum sambil tertawa. "Mau nonton wayang atau cuci mata, sama aja kan?"
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Mereka bercanda dan tertawa bersama, menikmati kebersamaan mereka sebagai sahabat. Meskipun memiliki minat yang sedikit berbeda, mereka tetap saling menghormati dan menyayangi.
Sesampainya di sekolah, mereka langsung menuju kelas masing-masing. Sekar Arum duduk di bangkunya dan membuka buku pelajarannya. Namun, pikirannya masih melayang-layang tentang pertunjukan wayang yang akan ia tonton nanti malam. Ia sudah tidak sabar untuk menyaksikan kisah-kisah epik dari dunia pewayangan.
Bel berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Sekar Arum mencoba untuk memfokuskan diri pada pelajaran, namun hatinya tetap tertuju pada wayang. Ia berharap waktu segera berlalu agar ia bisa segera menikmati pertunjukan yang sudah lama ia nantikan
Di tengah pelajaran, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan seorang guru masuk dengan raut wajah yang sedikit tegang. Seluruh siswa terdiam dan menatap guru itu dengan penuh tanya.
"Anak-anak," kata guru itu dengan suara yang agak bergetar, "ada pengumuman penting. Kepala sekolah meminta kalian semua untuk berkumpul di aula sekarang juga."
Sontak, seluruh siswa merasa penasaran dan bertanya-tanya. Ada apa gerangan? Mengapa mereka tiba-tiba diminta untuk berkumpul di aula? Apakah ada kejadian penting yang terjadi?
Sekar Arum, Rini, dan Sinta saling berpandangan dengan bingung. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Yuk, kita ke aula sekarang," ajak Sekar Arum dengan nada khawatir. "Siapa tahu ada sesuatu yang penting."
Mereka bertiga pun bergegas menuju aula bersama dengan siswa-siswa lainnya. Suasana di aula Terasa sunyi dan mencekam. Seluruh siswa duduk dengan tenang dan menunggu kepala sekolah memberikan pengumuman.
Tak lama kemudian, kepala sekolah muncul di atas panggung dengan didampingi oleh beberapa guru. Ia terlihat serius dan prihatin.
"Anak-anak sekalian," kata kepala sekolah dengan suara yang berat, "saya ingin menyampaikan sebuah berita duka. Salah satu siswa kita, Budi dari kelas IX, telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas."
Seketika, seluruh siswa terkejut dan merasa sedih mendengar berita tersebut. Budi adalah seorang siswa yang baik, ramah, dan pintar. Ia dikenal sebagai sosok yang ceria dan selalu membantu teman-temannya.
Sekar Arum, Rini, dan Sinta merasa sangat terpukul dengan kepergian Budi. Mereka tidak menyangka bahwa Budi akan pergi secepat ini. Mereka pun ikut berduka cita dan berdoa agar arwah Budi diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
"Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Budi," lanjut kepala sekolah, "maka seluruh kegiatan belajar mengajar hari ini dibatalkan. Kalian diperbolehkan untuk pulang dan memberikan dukungan kepada keluarga Budi."
Mendengar pengumuman tersebut, seluruh siswa bergegas meninggalkan aula dengan wajah sedih. Mereka ingin segera menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Budi dan ikut mendoakan agar arwahnya tenang di alam sana.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*