Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Bernama PS4
Ruang tamu rumah Tante Mala sore itu terasa terlalu tenang.
Aira duduk di ujung sofa dengan buku pelajaran terbuka, meski isinya belum ia baca sama sekali. Di depannya, Tante Mala duduk rapi sambil memegang secangkir teh.
Sementara itu,
Damar berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya jelas tidak dalam kondisi bersahabat.
“Aira nilainya memang perlu dibantu,” kata Tante Mala lembut tapi tegas. “Dan Tante pikir, Harusnya ada Anak pintar yang mau bantu,”
Perasaan Damar mulai tidak enak,
"Nggak!"
Damar memotong cepat.
“Mamah belum selesai, Mar,” ujar Tante Mala masih tersenyum.
“Aku sudah selesai,” balas Damar dingin. “Aku nggak mau.”
Aira menelan ludah pelan, tante Mala menoleh ke arah Damar
“Kenapa?”
“Karena ini tidak masuk akal,” jawab Damar datar. “Kecerdasan itu tidak bisa ditularkan.”
Aira berkedip.
“Eh—”
“Dan aku harus jujur,” lanjut Damar tanpa menoleh ke Aira,
“Guru terbaik di planet bumi ini, tidak akan sanggup mengajari anak seperti dia.”
Aira mengepalkan tangan.
Tante Mala menghela napas pelan.
“Damar,” katanya. “Kepintaran itu harus diamalkan,”
“Aku bukan kotak amal,” jawab Damar cepat.
“Aku anak mamah,” Tante Mala menatapnya serius terlihat berbahaya.
“Duduk,” potong Tante Mala lembut.
Damar pun duduk di hadapannya,
Tante Mala menatap Damar dengan senyum tipis yang sangat dikenalnya sejak kecil.
“Mar,” katanya pelan, “kalau kamu tidak mau membantu Aira,”
“Aku memang tidak mau,” Damar menyela, suaranya meninggi.
“Dia bodoh, Ma! Ini buang waktu!”
Aira menunduk. Kali ini dadanya benar-benar terasa sesak.
Tante Mala mengangguk pelan.
“Oh begitu.”
Dia meletakkan cangkir tehnya di meja.
“Kalau begitu,” katanya santai,
“PS4 di kamar mu… mamah jual.”
Hening.
Detik jam dinding terdengar terlalu keras.
“Apa?”
Suara Damar terdengar seperti salah dengar.
“Mamah bilang,” Tante Mala mengulang,
“PS4 kamu. Dijual.”
“ITU BARANGKU!”
“Mamah yang beli.”
“ITU TROFI HIDUPKU!”
“Mamah yang punya kuitansi.”
Damar maju satu langkah.
“Itu kejam.”
“Aira nilainya juga kejam,” balas Tante Mala tenang.
Aira mengangkat tangan kecil.
“Tante… nggak perlu sejauh itu,”
“Diam dulu,” kata Tante Mala.
Damar mengacak rambutnya frustasi.
“Ini pemerasan.”
“Ini pendidikan karakter.”
“Aku punya masa depan!”
“Aira juga.”
Damar menoleh tajam ke arah Aira.
“Dia tidak akan berubah,” katanya dingin. “Dia terlalu.."
“Jangan lanjutkan,” potong Tante Mala tegas.
Damar terdiam.
“Empat kali seminggu,” lanjut Tante Mala.
“Kamu ajari Aira. Satu jam.”
“Aku menolak.”
“PS4,” Tante Mala mengingatkan lembut.
Damar mengepalkan tangan.
Rahangnya mengeras.
“Baik,” katanya akhirnya dengan nada penuh kebencian.
“Tapi jangan salahkan aku kalau dia tetap bodoh.”
Aira mendongak.
“Aku dengar.”
“Bagus,” jawab Damar tajam. “Biar tau,”
Tante Mala tersenyum puas.
“Mulai besok,” katanya. “Setelah pulang sekolah.”
Damar berjalan menuju tangga dengan langkah keras.
Di tengah jalan, Damar berhenti dan menoleh ke Aira.
“Ini Pemaksaan” katanya dingin.
“Jangan bikin aku repot,.”
Aira menatapnya balik.
“Tenang,” jawab Aira pelan sambil tersenyum.
“Akh, terserah.”
Damar mendengus dan naik ke kamarnya.
Aira menghela napas panjang.
Tante Mala menepuk pundaknya lembut.
“Sabar ya, Ra.”
Aira tersenyum kecil.
“Kayaknya… aku bakal sering di omelin Damar tante.”
Di lantai atas, Damar membanting pintu kamarnya.
“PS4…” gumamnya kesal.
“Gara-gara gadis bodoh itu…”
Sementara di bawah, Aira menatap buku pelajarannya.
Guru privat paling galak di dunia, pikirnya.