NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Kamera Pengawas

...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...

Amarah yang enggak tersalurkan itu sudah seperti kanker, menyebar dan merusak apa pun yang dilewatinya.

Aku mengayunkan tongkat ke pinggul bajingan itu untuk keempat kalinya, dan dia meraung kesakitan.

Setelah pura-pura menjadi pembeli, Farris mengatur pertemuan sama cowok ini. Dialah yang menjual informasi soal Naveen di bank darah.

“Kamu kasih informasi itu ke siapa?” teriakku, nyaris enggak bisa menahan diri.

Aku menahan amarah sambil menghantam punggung bawahnya pakai tongkat baseball.

“Tolong!!” Dia meratap sambil menangis, ingusnya mengalir ke mana-mana. “Jangan bunuh aku!”

Dia cuma pakai celana dalam. Tubuhnya penuh memar dan darah. Diliputi amarah yang mendidih, aku pun memukulnya sampai napasnya habis. Dia jatuh terkapar di kakiku dan cuma bisa merintih.

Tubuhku gemeteran karena emosi. Suaraku dingin, “Kamu jual informasi itu ke siapa?”

“Aku cuma … email,” katanya terengah. “Aku enggak pernah … lihat … orangnya.”

“Kasih alamat emailnya,” tuntutku.

Dia angkat kepala, berusaha merangkak menjauh beberapa meter dari aku.

“Di HP aku.”

Pandanganku pindah ke Larron. Dia langsung menggeledah pakaian cowok itu. Begitu menemukan HPnya, dia menyerahkannya kepadaku.

Enggak ada kata sandi. Saat aku buka emailnya, aku bertanya, “Yang mana?”

“Yang ada kode nol–tiga–enam,” jawabnya cepat, dengan suara gemetar karena takut.

Setelah menemukan emailnya, aku langsung meneruskan ke Farris dan minta dia buat melacaknya.

Aku lempar balik HP itu ke Larron, lalu memandang bajingan yang masih tergeletak di lantai. Dengan kebencian yang menumpuk di dadaku, aku hajar dia berulang kali pakai tongkat baseball itu sampai aku benar-benar yakin dia sudah mati.

Satu ... tumbang lagi, Naveen.

Aku bakal menemukan mereka semua.

Aku menjatuhkan tongkat itu ke lantai dan bergumam, “Beresin kekacauan ini!!”

Setelah meninggalkan ruangan, aku turun ke kamar mandi, mencuci tangan, dan membasuh muka dengan air dingin. Saat mataku bertemu bayanganku sendiri di cermin, yang aku lihat cuma amarah yang terukir jelas di wajahku. Napasku berat, dan aku berusaha menahan semuanya.

Setelah mengelap tangan, aku ke kantor tempat Gustav bekerja. Dia yang mengurus semuanya sementara aku mencari petunjuk.

Saat aku masuk, Gustav sedang menelepon. Aku duduk di sofa, mengeluarkan HP dari saku, lalu menelepon Farris.

...📞...

^^^“Aku baru aja liat emailnya,”^^^

Aku menghembuskan napas capek.

^^^“Ini seharusnya ngarahin kita ke siapa pun yang bikin kesepakatan sama Musielak.”^^^

^^^“Aku kabarin kamu kalau aku nemu sesuatu.”^^^

“Makasih, Broo!”

^^^“Kamu gimana?”^^^

Aku enggak baik-baik saja.

Dan aku mulai muak karena semua orang terus menanyai kabarku.

Setiap petunjuk yang aku kejar enggak kasih hasil signifikan buat menemukan siapa dalang di balik perdagangan organ ini.

Subianto, bajingan yang kami tangkap di gang, enggak bisa kasih informasi apa pun. Dan setelah tujuh puluh dua jam berlalu, aku suruh Vloo buat bunuh dia.

“Aku baik-baik aja,”

^^^“Kamera yang kamu pesan sudah sampai. Kamu mau datang ambil sekarang?”^^^

“Aku sampai sana sejam lagi.”

Telepon ditutup.

Aku dengar Gustav lagi ribut bernegosiasi soal pengiriman senjata Uzi sama Yakuza.

Begitu akhirnya dia menutup telepon, dia mengomel, “Bajingan sialan. Aku muak sama mereka yang selalu minta diskon.”

Dia kelihatan capek banget.

“Kamu kuat ngadepin beban kerja segini? Aku bisa minta Vloo buat bantu,” kataku.

Gustav mengangguk. “Aku masih bisa ngatasin.”

“Makasih,” kataku. Kata-kata itu bikin dia menoleh ke arahku. “Serius. Aku enggak bakal bisa jalanin semua ini tanpa kamu.”

Dia tarik napas dalam-dalam, lalu geleng-geleng kepala sebelum bertanya, “Kamu dapat sesuatu dari bajingan itu?”

“Cuma alamat email. Udah aku kirim ke Farris.”

Sudut bibir Gustav bergerak. “Bagus.” Tatapannya menyempit saat melihatku. “Terus soal dokter dan keluarga Musielak?”

“Sebentar lagi ... aku yang urus.”

Aku berdiri dan meninggalkan kantor. Aku menganggukan dagu ke arah Marius dan Chooper, kasih tanda kalau kami mau pergi.

Mereka sedang membersihkan senjata, langsung merakitnya lagi dan buru-buru menyusulku.

“Kita ke mana, Bos?” tanya Marius.

“Rumah Farris.”

Aku naik ke kursi belakang Bentley dan mengeluarkan HP lagi. Begitu foto Quinn Musielak terbuka, aku langsung menatap perempuan itu.

Aku belum lihat dia lagi sejak aku meninggalkan pesan di buku catatannya.

Begitu aku tahu kelompok mana yang ada di balik perdagangan organ ini ... aku bakal membunuh dokter itu.

Tanoko dan putrinya bakal aku habisi paling terakhir.

Terutama putrinya.

Sejujurnya, aku masih bingung mau ambil ginjalnya saat dia sadar … atau bikin dia menderita seumur hidup.

Aku sudah hafal setiap helai rambut cokelat di kepalanya, tapi aku tetap saja terus memperhatikan foto itu.

Dia kelihatan rapuh dan lemah. Bakal gampang banget buat meremukkan lehernya seperti ranting kering.

Aku membayangkan jari-jariku melingkar di lehernya, menekan sampai air mata itu mengalir di wajahnya.

Dia bakal merintih, mohon ampun. Napasnya megap-megap mencari udara, dan aku enggak bakal menunjukkan sedikit pun rasa iba.

“Bos?” Suara Marius narik perhatianku.

Aku terlalu tenggelam dalam pikiran sampai enggak sadar kami sudah sampai rumah Farris.

Aku buka pintu, turun dari mobil, dan jalan ke arah lift. Aku hembuskan napas saat masuk, mengecek kartu akses penthouse. Aku punya kunci rumah Farris sama Tully. Jaga-jaga kalau terjadi sesuatu dan kami perlu masuk.

Pintu terbuka.

Karena enggak melihat Farris di ruang tamu, aku pun lanjut ke dapur.

“Kamu di mana?” tanyaku.

“Lagi kencing!”

Aku buka kulkas, mengisi botol sama air.

Farris bertanya, “Kamu ke mana aja?”

Aku menelan air dan menjawab, “Masak.”

Beberapa detik kemudian dia datang bawa kotak kecil dan taruh di meja dapur. “Ada empat kamera. Pastiin enggak ada yang nutup sudut pandangnya. Kita harus tanemin ini. Kalau enggak, kita enggak bakal lihat apa-apa.”

 Dia miringkan kepala. “Mungkin mending aku aja yang masang.”

“Enggak. Aku yang pasang.”

Aku melirik kamera-kamera di atas plastik gelembung. Ukurannya enggak lebih besar dari kancing. Ada juga perekat dua sisi.

Saat aku ambil perekatnya, aku bertanya, “Ini benaran kuat?”

“Pilihan cuma ini atau lem tembak. Tapi ini harusnya bisa.”

“Semoga aja,” gumamku.

“Kamu butuh yang lain?” tanyanya.

“Kayaknya enggak.” Aku ambil kotaknya. “Nanti aku hubungi.”

Aku jalan ke arah lift.

“Grup balet aku tampil akhir pekan ini. Mau nonton?” teriak Farris.

Sambil ketawa, aku cuma geleng kepala, "Itu duniamu, Broo!" Saat memasuki lift, aku masih geleng-geleng. “Cuma kamu yang suka sama hal-hal kayak gitu.”

“Cuma aku yang punya selera bagus!” teriaknya sebelum pintu lift menutup.

Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku senyum benaran. Tapi senyum itu langsung hilang saat aku memikirkan tentang bagaimana cara membobol rumah Tanoko Musielak buat pasang kamera.

Aku ingin melihat setiap langkah yang diambil Quinn.

...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...

Setelah pakai alat pemblokir alarm nirkabel yang harganya enggak masuk akal, aku masuk ke rumah besar itu lewat salah satu jendela.

Begitu kakiku menyentuh ubin, aku menengok sekeliling dan sadar kalau aku sedang berada di ruang makan.

Saat mataku mulai terbiasa sama gelap, aku jalan ke arah pintu dan mengecek pergerakan di ruang terbuka luas di aula masuk, sebelum geser ke kiri dan menemukan dapur.

Setelah melihat sekeliling, aku memutuskan taruh kamera kecil itu di dekat ventilasi. Menurutku, itu bukan tempat yang bakal sering mereka perhatikan.

Tanpa membuat gaduh, aku pakai salah satu bangku dapur buat naik dan menjangkau ventilasi. Begitu selesai, aku langsung balikkan bangku ke tempatnya sebelum menyelinap keluar dari dapur.

Satu beres.

Tinggal tiga lagi.

Aku menemukan ruang itu dan menyelipkan kamera di rak TV. Setelah itu aku naik ke atas, seluruh tubuhku siaga penuh.

Aku enggak yakin Quinn tidur di kamar yang mana, jadi aku mengecek kamar-kamar satu per satu dengan hati-hati sampai akhirnya menemukan kamarnya.

Aku cuma melirik sekilas perempuan yang sedang tertidur itu, lalu buru-buru mencari tempat di dekat meja rias buat taruh kamera. Saat aku memutar badan, pandanganku jatuh ke tempat tidur, ke arah Quinn yang selimutnya tersingkap.

Pelan-pelan aku mendekat dan melihat sisi kanannya, di mana kausnya agak terangkat.

Begitu melihat perban itu, erangan hampir lolos dari mulutku. Aku harus menahan dorongan buat mencabik-cabik perban sialan itu dan mengeluarkan ginjal Naveen dari tubuhnya dengan tangan aku sendiri.

"Waktu kamu bakal datang. Dan aku bakal nunjukin ke kamu belas kasihan yang sama kayak yang Naveen dapat waktu mereka membantai dia," bisikku, suaraku diselimuti dendam.

Perempuan itu bergerak dan bergumam setengah sadar, “Hah?”

Aku langsung meninggalkan kamarnya dan kembali ke tangga, tempat aku menyembunyikan kamera terakhir sebelum akhirnya meninggalkan rumah besar itu.

Begitu berhasil kembali ke Bentley tanpa ketahuan, aku melihat Marius sedang menggigit kuku jempolnya.

Saat melihat aku, dia mengeluh, “Jantung aku enggak kuat sama omong kosong kayak gini. Lain kali aku aja yang masuk!!”

“Ayo cabut dari sini!” perintahku sambil naik ke mobil.

Saat kami meninggalkan rumah itu, sudut bibirku sedikit terangkat.

Sekarang aku bisa mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukan mangsaku.

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!