"Rena....,Aku mau minta maaf sebelumnya,tapi jujur ini juga berat untuk aku,tapi aku juga harus jujur sama kamu".
Rena tak memandang curiga saat suaminya berkata seperti itu,tapi setelahnya ucapan kejujuran dari suaminya seperti pisau tajam yang menusuk hatinya.
"Aku mencintai wanita lain yang kutemui 6 bulan terakhir ini,Dia bukan hanya cantik tapi juga pintar memasak,semua yang ada didiri wanita itu aku sangat menyukainya".
Rena diam membeku,tapi Ia juga ingin tau apa yang menjadi alasan suaminya bisa mencintai wanita lain padahal ada istri yang sudah Ia nikahi lebih dari 10 tahun.
"Kenapa Mas...?,Kenapa harus ada wanita lain yang Mas cintai".
"Aku sudah tidak cinta sama kamu Rena,Kamu berubah,Kamu tidak lagi menarik dimataku,Kamu juga selalu mementingkan anak-anak daripada aku suamimu".
Rena kembali diam,Ia ingin meledak tapi teringat ada 2 anaknya yang harus Ia jaga mentalnya.
"Baiklah Mas....,terus apa maumu kalau sudah seperti ini?Kamu mau pisah?".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiwit Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta mengejutkan
Pagi-pagi sekali Cika telah sibuk membangunkan Dion yang masih tertidur.
"Mas....,Ayo bangun....,Kita harus pulang,Ibu dari tadi nelponin aku terus,Aku takut Mas....",ucap Cika begitu ketakutan.
Dion perlahan membuka matanya,Ia mengusap wajahnya karena terkejut dengan ucapan Cika yang terus mengoceh tanpa henti.
"Sabar sayang....,Mas yang nanti akan menjelaskan semuanya,Udahlah santai aja",jawab Dion cuek.
Namun Cika tetap menyuruh Dion untuk bangun,dengan berat hati Dion akhirnya bangun walaupun suasana sangat mendukung untuk Ia tidur kembali.
Tanpa banyak kata Dion langsung mencuci wajahnya dan berganti pakaian,Ia melirik jam ditangannya yang masih menunjukkan jam 6 pagi.
Saat Dion sudah rapi,Cika menyeret Dion keluar dari kamar hotel,Cika tak peduli lagi tentang liburannya karena bagi Cika yang terpenting saat ini Ia harus segera bertemu Ibunya.
Setelah berhasil keluar dari hotel,Cika terus meminta Dion mempercepat laju mobilnya,Dion yang awalnya sabar jadi sedikit emosi karena sikap Cika yang tak sabaran.
"Bisa diem nggak!!,Mau kamu bilang suruh aku cepetan juga sama aja,Bandung jakarta itu bukan 5 menit sampai, tapi butuh 2 jam lebih untuk sampai dengan selamat dirumah,lebih baik kamu duduk diam agar nggak mengganggu konsentrasiku".
Cika langsung diem seribu bahasa,Ia takut dengan kemarahan yang baru Dion perlihatkan.
Terdiamnya Cika membuat Dion merasa bersalah,tapi Ia memang butuh konsentrasi untuk mengendarai mobilnya.
Selama diperjalanan Cika sama sekali tak bersuara,Ia justru tertidur yang membuat Dion merasa lega.
Perjalanan yang terasa sangat melelahkan untuk Dion akhirnya sampai ditujuan,Dion membangun Cika dengan lembut,Cika pun terbangun dengan wajah yang lebih segar.
"Sayang....,Bangun yuk?,kita sudah sampai dirumahmu".
Cika menolah kekanan dan kekiri,Ia akhirnya menyadari bahwa Ia sudah tiba didepan rumahnya.
Cika kembali merasa ketakutan,bahkan tiba-tiba mencekal tangan Dion saat Dion ingin membuka pintu mobilnya.
"Mas...,sepertinya kita perlu bicara dulu sebelum menemui Ibu,Aku takut Mas...,Aku takut kalau Ibu marah karena tau aku berbohong,bahkan sekarang kita pulang berdua,Aku harus gimana Mas...",tanya Cika gelisah.
Dion berusaha menenangkan Cika dengan sebuah pelukan hangat.
"Cika sayang....,Kamu tenang aja,Ibu pasti nggak akan marah sama kamu,Ibu pasti akan memaklumi kenapa sampai kamu bisa berbohong,Lebih baik kita sekarang keluar dan kita temui Ibu sama-sama".
Dion dan Cika akhirnya turun,Mereka jalan bergandengan tangan tanpa rasa malu,Padahal ada Ibunya Cika didalam rumah yang sudah melihat semua gerak gerik Cika dan Dion saat baru tiba sampai masuk kerumah.
Ketukan dari pintu rumahnya membuat Bu Ratih keluar dari persembunyian,Ia berusaha menenangkan emosi dan degup jantungnya dengan apa yang Cika dan Dion lakukan.
"Eh kamu Nak...,Masuk...",sapa Bu Ratih dengan ramah.
"Bu....,Cika tak bermaksud berbohong sama Ibu,Cika hanya sedang malas bekerja,Ibu nggak marah kan sama Cika....",ucap Cika sambil memeluk Ibunya.
Bu Ratih melepas pelukan anaknya dengan mulut masih terdiam,Karena sebenarnya bukan itu yang menjadi masalah tapi status Dion yang begitu Ia pikirkan.
"Duduklah Nak...,Ibu mau bicara sama kalian berdua",perintah Bu Ratih dengan wajah serius
Cika dan Dion saling menatap satu sama lain,Mereka bingung dengan apa yang akan Bu Ratih katakan.
"Ada apa Bu...,Apa ada sesuatu terjadi saat Dion dan Cika tidak ada?,Kenapa Bu?",tanya Dion ingin tau,Mendadak Dion juga gelisah saat Bu Ratih tampak serius.
Bu Ratih menghela nafas panjang sebelum berbicara dengan keduanya,hal itu semakin membuat Cika dan Dion merasa bingung.
"Ibu mau ngomong apa sih?,Cika jadi takut ".
"Ibu mau ngomong serius sama kalian berdua,Ibu harap kalian mau sama-sama jujur".
Bu Ratih menjeda ucapannya,Ia merasa tak kuat jika nantinya jawaban dari keduanya tak seperti yang Ia harapkan.
Tapi bagaimanapun Ia merasa perlu tau yang sebenarnya,Ia berpikir masih ada waktu untuk memisahkan Cika dengan Dion jika benar Dion telah memiliki keluarga.
"Dion.....,Apa benar kamu telah menikah dan memiliki dua orang anak?".
Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulut Bu Ratih,Cika membulatkan matanya atas reaksi dari pertanyaan sang Ibu,begitu juga Dion yang mendadak gelisah serta ketakutan karena apa yang Ia simpan rapat-rapat telah diketahui.
Namun Dion merasa ini waktu yang pas untuk membahas semuanya,dengan perasaan menyesal dan juga niat baik Dion mengutarakan apa yang menurutnya baik.
"Bu Ratih.....,Darimana Ibu tau soal kabar itu?,Saya bukan tidak mau jujur sama Ibu tapi saat itu memang kondisi rumah tangga saya sedang ada masalah,Namun sekarang saya dan mantan istri saya telah sepakat untuk bercerai,Kami tinggal mengajukan gugatan karena sebenarnya masalah rumah tangga saya sudah ada dari sebelum bertemu dengan Cika".
Bu Ratih kembali menghela nafas panjang,Ia benar-benar merasa bodoh karena telah tertipu dengan kebaikan yang Dion perlihatkan,tapi pertanyaan kembali Ia ajukan untuk Cika yang terus menutup mulutnya.
"Apa kamu juga tau Cika?,Kalau Dion masih memiliki istri sah saat dia mendekatimu?,Bagaimana bisa itu terjadi Cika!!,Ibu nggak pernah mengajarimu untuk mendekati apa yang sudah menjadi milik orang lain,Ibu sangat kecewa sama kamu Cika,Ibu pikir kamu berbeda,Ibu pikir kamu berpendidikan yang seperti Ibu perjuangkan,Kamu menghancurkan Ibu Cika..,Ibu malu.....".
Tangisan akhirnya pecah diwajah Bu Ratih yang dari semalam terus memikirkan dan berharap anaknya bukanlah seperti yang Ia pikirkan,Namun nyatanya anaknya benar-benar berhubungan dengan lelaki yang masih memiliki seorang istri.
Rasa yang begitu kecewa dan juga perasaan malu karena merasa tertipu dengan mulut manis Dion,Bu Ratih akhirnya memberi pilihan kepada Cika dalam menentukan masa depannya.
"Cika....,Kamu pilih tetap melanjutkan hubungan Dion apa mau pilih Ibu?,Jika kamu memilih Ibu maka kamu harus putus dengan Dion,apapun alasannya Ibu tidak menyetujui hubungan kalian,Kalian dari awal sudah salah mau sampai kapanpun kalian akan salah".
Pilihan yang sulit untuk Cika,apalagi hubungannya dengan Dion bukan hubungan biasa,Ia telah memberikan tubuhnya secara cuma-cuma.
Tapi melihat kekecewaan sang Ibu membuat Cika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Dion tepat didepan wajahnya.
"Mas Dion....,lebih baik hubungan kita selesai sampai disini,Aku lebih memilih Ibuku,Silahkan Mas Dion kembali kekeluarga Mas Dion,Mereka pasti akan menerima Mas Dion kembali dengan hati yang terbuka".
Setelah mengatakan itu Cika berlari kekamarnya,Dion yang berniat mengejar dihentikan Bu Ratih dengan kedua tangannya.
"Lebih baik Nak Dion pulang biar Cika menjadi urusan saya".
Dion bingung bukan kepalang,Ia tak bisa kehilangan Cika begitu saja setelah apa yang Ia korbankan,Dion terus membujuk Bu Ratih untuk mau kembali mendengar penjelasannya,tapi Bu Ratih tetap kekeh menutup pintu rumahnya dan menyuruh Dion pergi.
Dion mau nggak mau masuk kedalam mobilnya,Ia benar-benar bingung karena selain uang yang sudah habis Dion juga tak punya tujuan untuk pulang.
amit"