NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi ini Naina terbangun di samping tubuh Ryan. Naina menatap wajah tegas dan tampan itu dengan hati yang perih. Naina mencium kening Ryan untuk terakhir kalinya.

Naina bersikap seperti biasanya. Ia bangun pagi dan menyiapkan keperluan Ryan. Naina mencoba membangunkan Ryan, dan lanjut membangunkan Nayla.

Pagi ini, pagi yang sangat sibuk untuk Naina. Ia memandikan Nayla dan menyiapkan sarapan. Naina sengaja sarapan lebih dulu karena Ryan tak kunjung datang. Naina tak ingin jadwal sarapan anaknya telat hanya untuk menunjang Ryan.

"Nay, coba bangunkan Ayah." Pinta Naina pada putrinya, begitu Nayla beres sarapan.

"Baik, Bu."

Nayla berjalan dan mencoba membangunkan Ryan. Namun siapa sangka Ayahnya telah bangun dan hendak pergi ke kamar mandi.

"Ayah udah bangun?" Tanya Nayla dengan suara nyaringnya.

"Iya," Ryan mengelus rambut Nayla dan pergi untuk membersihkan tubuhnya.

Hanya butuh waktu tak kurang dari 30 menit, Ryan telah kemas rapih. Ia duduk di meja makan dan menunggu sarapannya. Naina dengan telaten melayani suaminya.

"Naina, satu bulan kedepan aku ada proyek di luar kota. Kamu dan Nay gak apa-apa aku tinggal?" Tiba-tiba Ryan berkata yang tak membuat Naina kaget sama sekali.

Naina tersenyum, ia sudah memprediksi hal tersebut bakal terjadi. Sesuai dugaannya, tak meleset sama sekali. Ryan pandai bermain api.

"Aku gak apa-apa. Sering-seringlah memberi kabar." Jawab Naina seolah tak mengetahui apapun.

"Mau aku bantu mengemas pakaian?" Tanya Naina.

"Tidak usah, aku sudah menyiapkannya di rumah orangtua ku."

"Kapan Bapak akan mempertemukan aku dengan orangtua mu?" Lagi Naina bertanya.

"Tunggulah waktu yang tepat. Karena mereka tidak bisa menerima orang lain begitu saja."

"Apa karena aku miskin?"

"Tunggulah sebentar lagi." Jawab Ryan yang tidak membuat Naina senang, namun sudah mewakili jawaban sesungguhnya.

Ryan tidak ingin mempertemukan Naina dengan kedua orangtuanya. Begitulah kenyataannya. Naina tak ingin berdebat lagi. Toh, besok waktunya ia meninggalkan tempat ini. Setelah Ryan pergi, Naina tinggal berkemas.

"Aku berangkat dulu." Ryan mencium kening Naina dan juga mencium pipi Nayla.

"Hati-hati di jalan, jangan lupa beri kami kabar." Pinta Naina seolah ia menantikan hal tersebut.

Naina mulai mengemasi pakaiannya begitu Ryan meninggalkan apartemen. Naina mencari surat permohonan cerai yang Ryan sembunyikan di ruang kerjanya.

Tidak butuh waktu lama, Naina menemukan surat tersebut dan langsung menandatanganinya. Meski hatinya sakit, Naina tetap melakukannya. Ia tidak ingin menjadi akar masalah bagi kebahagiaan orang.

Selain itu, Naina juga menyimpan buku nikah yang selalu ia simpan. Ini adalah syarat utama untuk perceraian itu terjadi. Naina menyimpan semua pemberian Ryan di lanci meja kerjanya.

Naina menyimpan dengan rapi handphone yang biasa gunakan, serta kalung mahal yang ia terima dari Ryan beberapa bulan lalu. Selain itu Naina menyimpan kartu kredit yang biasa ia gunakan, serta sepucuk surat perpisahan untuk Ryan.

Semua pemberian Ryan tak ada satupun yang Naina bawa. Semuanya telah Naina perhitungkan dengan matang. Ia hanya membawa cicin nikah yang menjadi mas kawinnya. Sisanya ia tinggalkan.

"Mari kita tidur, Nay. Besok kita harus pergi." Bisik Naina pada putrinya.

"Memang besok kita mau kemana, Bu?"

"Kita cari rumah baru, dan kehidupan baru."

"Apa ayah juga ikut?" Tanya Nayla.

Naina hanya tersenyum dan memeluk putrinya. "Tidak sayang. Ayah tidak akan ikut dengan kita. Ayah memiliki kehidupan baru."

"Tapi Nay pengen ayah."

Naina tersenyum dan berbisik pelan. "Mari kita tidur."

......................

Pagi yang cerah, Naina mematikan aliran listrik di apartemen itu. Sehingga cctv di sana tak mendeteksi kepergian Naina.

Dengan perasaan takut dan tak tentu arah tujuan. Naina memeluk Nayla dan dekapannya. Naina pergi menuju terminal, dan memesan tiket menuju provinsi ujung di pulau Jawa.

Perjalanan yang sangat jauh dan memakan waktu hampir 2 hari. Ada sisi tega yang Naina lakukan pada Nayla. Saat Nayla merengek di dalam bus, ia memberikan setengah tablet obat tidur.

Naina hanya ingin tenang, ia tak ingin emosinya menguasai pikirannya. Naina tak ingin mengeluarkan ucapan fatal untuk putrinya. Terlebih di masa-masa yang sangat menyakitkan ini.

"Maafkan Ibu, nak. Setelah ini Ibu janji akan membahagiakanmu bagaimana pun caranya. Bertahanlah di sisi Ibu." Bisik Naina pada Nayla yang terlelap.

Kota Batu, menjadi tempat pilihan Naina. Di sana ia kenal seseorang. Teman semasa SMP yang terpaksa pindah ke kota Batu.

Naina hanya tahu sahabatnya dulu pindah karena Ayahnya di alihkan tugas di batalyon yang ada di kota Batu.

"Batalyon infanteri 315/Garuda. Dulu Maya sempat memberitahuku. Semoga ia masih di sana." Gumam Naina.

Setibanya di terminal kota Batu, Naina bertanya pada petugas dinas perhubungan. Bus mana yang mengarah ke Batalyon Garuda. Petugas itu memberikan saran agar Naina menggunakan taxi online saja. Naina pun menuruti saran dari petugas tersebut.

Setibanya di sana, Naina ragu untuk masuk ke kawasan tersebut. Naina hanya berdiam dan menunggu prajurit yang hendak masuk.

"Maaf Pak, saya mau tanya kalau Pak Rahman Aziz apakah masih bertugas di sini?" Tanya Naina ramah pada kedua prajurit yang lewat dan hendak masuk batalyon.

"Iya, masih. Anda siapa dan ada perlu apa?"

"Saya Naina, saya kerabat jauhnya Pak Aziz."

Kedua prajurit itu saling beradu pandang dan menganggukkan kepala seolah memberi isyarat. Yang satu masuk dan satunya berjaga.

Petugas itu mengamati Naina dan juga anak kecil yang anteng terlelap dalam dekapan Ibunya. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit prajurit tadi datang menghampiri dan memberikan pesan pada kawannya.

"Baik." Ucapnya tegas. "Bu Aziz menyuruh anda langsung ke kediamannya." Sambungannya.

Naina berjalan mengikuti kedua prajurit itu menuju rumah dinas. Disana sudah ada Maya yang menunggu kedatangan Naina. Maya berlari memeluk Naina.

Maya mengucapkan terimakasih pada kedua prajurit itu, dan membawa Naina masuk.

"Lama kita tak ada kabar. Mimpi apa aku semalam, kita bisa bertemu lagi." Ucap Maya senang.

"Kok kamu seolah tahu aku ke sini. Kamu seperti sedang menungguku tadi."

"Tadi Papa telepon katanya kamu datang berkunjung. Makanya aku langsung sambut kamu."

Naina memperkenalkan Nayla, putrinya. Perlahan Naina menceritakan kehidupannya yang tak baik. Mulai dari ia putus sekolah, rumahnya di kuasai pamannya, tinggal di gubuk, dan gubuk itu pun kembali di rampas pamannya.

Naina juga menceritakan kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Naina malu dengan dirinya yang menjadi pihak ketiga dalam hubungan Ryan dan Maeta. Naina menceritakan betapa tersiksanya ia menanggung beban bahtera seorang diri.

Maya memeluk Naina yang menangis gemeteran. Maya tak menyangka Naina yang dulu menjadi kembang desa dan banyak di kagumi orang-orang nasibnya tragis dan tak beruntung.

Terlebih anak yang Naina bawa, harus ikut menderita karena keegoisan orangtuanya. Maya hanya bisa menampung Naina beberapa hari saja. Selanjutnya Maya mencarikan kontrakan untuk Naina. Sekaligus memberikan modal untuk Naina berusaha.

"Aku janji, aku akan mengembalikan uang ini." Ungkap Naina tak ingin berhutang budi.

"Pakailah dulu, kembali jika kamu sudah sukses."

Naina selalu bersyukur, meski hidupnya sulit, tapi Tuhan selalu memudahkan jalannya dan mempertemukan dirinya dengan orang-orang baik.

Naina memulai usaha warung nasi dekat dengan sebuah pabrik kompleksi. Ini semua atas saran dari Pak Aziz, karena potensi Naina dalam memasak bisa membantunya dalam menyambung hidup.

Meski banyak tangis dan luka batin, Naina mencoba menghadapi dengan tenang. Terlebih saat Nayla menangis dan berteriak ingin bertemu ayahnya. Nayla yang selalu memanggil Ayahnya membuat Naina ikut menangis dan menjerit.

Sebisa mungkin Naina menahan emosinya agar putrinya tak membenci dirinya dan pergi meninggalkan dirinya.

1
Android Tv
Sakit banget aslinya kalo jadi Naina.
Mifhara Dewi: terimakasih sudah mampir kak
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army
aku mampir nih💜
Mifhara Dewi: makasih Kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!