NovelToon NovelToon
The Punchline

The Punchline

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cintapertama
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tamu yang Tak Diundang

Hari kunjungan wali di St. Jude’s Academy selalu menjadi hari yang paling meriah sekaligus paling menyesakkan bagi Achell. Halaman asrama dipenuhi oleh kereta kuda dan mobil-mobil mewah. Para orang tua memberikan pelukan hangat, membawakan keranjang makanan, dan tawa pecah di setiap sudut taman.

​Achell berdiri di koridor lantai dua, memerhatikan kerumunan itu dari balik jendela. Tangannya terasa dingin. Ia tahu, ia tidak punya siapa-siapa yang akan datang.

​"Masih mencari siluet si Tuan Angkuh itu?" Suara Sophie muncul di belakangnya. Sahabatnya itu mengenakan pita merah di rambutnya, tampak segar. "Sudahlah, Achell. Lebih baik kita ke aula. Julian sudah menunggu untuk pengecekan piano terakhir."

​"Aku tidak mencarinya, Soph. Hanya... memastikan cuaca," kilas Achell, meski suaranya bergetar.

​"Pembohong kecil," gumam Sophie sembari menarik tangan Achell.

​Saat mereka menuruni tangga menuju aula utama, suasana mendadak menjadi hening di area lobi. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam yang sangat familiar berhenti tepat di depan pintu masuk. Jantung Achell seakan berhenti berdetak. Ia mengenali postur tegap pria yang keluar dari mobil itu.

​Victor Louis Edward.

​Pria itu tampak sangat tampan dalam balutan setelan jas berwarna abu-abu gelap. Namun, napas Achell tercekat saat melihat Victor berbalik ke arah pintu mobil dan mengulurkan tangannya. Seorang wanita cantik, dengan gaun sutra berwarna emerald dan rambut pirang yang tertata sempurna, turun dan langsung merangkul lengan Victor dengan mesra.

​Mereka terlihat seperti pasangan sempurna dari sampul majalah kelas atas. Victor tidak melepaskan rangkulan itu, bahkan saat ia melangkah masuk ke dalam lobi asrama dengan ekspresi acuh tak acuh yang menjadi ciri khasnya.

​"Astaga... dia benar-benar datang?" Sophie melotot, suaranya naik satu oktav. "Dan dia membawa... siapa wanita itu? Apa dia tidak punya otak membawa kekasihnya ke hari kunjungan keponakannya sendiri?"

​Achell membeku di anak tangga. Matanya bertabrakan sejenak dengan mata tajam Victor. Pria itu menyadari keberadaannya. Namun, Achell segera membuang muka. Ia menarik napas sedalam yang ia bisa, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.

​"Achell?" Julian datang menghampiri, wajahnya berubah tegang saat melihat apa yang dilihat sahabatnya. "Jangan dilihat. Ayo, kita ke belakang panggung."

​"Aku tidak apa-apa, Julian," ucap Achell pelan, suaranya terdengar sangat asing bagi dirinya sendiri. "Aku bahkan tidak melihat siapa pun yang kukenal."

​"Itu semangat yang bagus!" seru Sophie, meski matanya tetap melotot ke arah Victor yang sedang berbincang dengan kepala sekolah di kejauhan. "Lihat pria itu! Si brengsek Edward itu benar-benar tidak punya perasaan. Dia merangkul wanita itu seolah-olah ingin memamerkannya padamu.

Benar-benar pengecut! Idiiih, lihat gaya wanita itu, tertawa dibuat-buat begitu. Menyebalkan sekali!"

​"Sophie, pelankan suaramu," tegur Julian.

​"Tidak mau! Biar dia dengar kalau perlu!" Sophie terus mengumpat. "Dia pikir dia siapa? Datang ke sini hanya untuk mematahkan semangat Achell? Heh, Tuan Edward! Kau tidak lebih dari sekadar manekin berbaju mahal bagi kami!"

​Julian merangkul bahu Achell, mencoba menghalangi pandangan gadis itu dari kerumunan. "Achell, lihat aku. Hari ini bukan tentang dia. Bukan tentang siapa yang dia bawa. Hari ini tentang Chopin yang kau pelajari selama berbulan-bulan. Kau adalah bintangnya, bukan pria yang berdiri di lobi itu."

​Achell tersenyum tipis, meski bibirnya pucat. "Terima kasih, Julian. Aku akan bersiap."

​Di lobi, Victor sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan kepala sekolah. Matanya terus melirik ke arah tangga, ke tempat Achell berdiri tadi. Ia melihat bagaimana Achell mengabaikannya. Ia melihat bagaimana seorang laki-laki jangkung—Julian—merangkul bahu Achell dengan protektif.

​Ada rasa panas yang aneh menjalar di dada Victor saat melihat pemandangan itu. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Victor? Ada apa? Kau melamun?" tanya Clara, wanita di sampingnya, sembari mempererat rangkulannya di lengan Victor.

​"Bukan apa-apa," jawab Victor dingin. "Ayo masuk. Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan 'anak kecil' itu."

​Di belakang panggung, Sophie masih belum berhenti mengoceh. Ia mondar-mandir seperti harimau dalam sangkar.

​"Benar-benar sanksi bagiku harus melihat wajah sok hebatnya itu! Achell, kau harus bermain dengan sangat luar biasa sampai wanita hijau itu merasa seperti rumput liar di sampingmu. Kau dengar aku? Jangan beri dia kesempatan untuk merasa menang!"

​Achell duduk di depan cermin, merapikan rambut cokelatnya yang terurai panjang. Ia tidak lagi gemetar. Justru, rasa sakit itu kini berubah menjadi kekuatan yang tenang.

​"Aku akan bermain, Soph," ucap Achell sembari berdiri. "Tapi bukan untuk membuat dia terkesan. Aku akan bermain agar dia tahu... bahwa kehadirannya tidak lagi menjadi alasan jantungku berdetak."

​Julian memberikan jempolnya. "Itu Achell yang kami kenal."

​"Hancurkan mereka, Achell! Hancurkan!" teriak Sophie penuh semangat, tepat saat pembawa acara memanggil nama Gabriella Rachel untuk naik ke atas panggung.

​Achell melangkah keluar. Cahaya lampu panggung menerpanya. Di barisan terdepan, ia bisa melihat Victor yang duduk dengan angkuh, dengan Clara yang masih bersandar di bahunya. Achell membungkuk hormat ke arah penonton, matanya melewati Victor seolah pria itu hanya udara kosong.

1
shabiru Al
akhirnya ngaku juga achell cinta sama victor
shabiru Al
sama sama keras kepala angkuh dan berego tinggi,,, kapan bisa bersama keburu victornya makin tua 🤭
shabiru Al
eleehhh sanksi saja terus,, dan akan berubah sesuai keadaan.. klo begini kapan selesainya....
shabiru Al
siapa marco,, kenapa begitu detail tahu kisah victor dan achell ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
Hanja
🤍🫶🏻
panjul man09
author memang 👍 diawal ,pemeran victor kami benci, tapi saat ini victor bisa menarik simpatik dan dukungan untuk mendapatkan achell 😄
christian Defit Karamoy
mantap thor👍
panjul man09
sosok victor yg dulu dan yg sekarang sangat kontras
panjul man09
untuk bisa sepenuhnya lepas dari victor ,achell harus menikah dgn orang lain .
panjul man09
untuk laki2 usia 32 bukan tua tapi matang , kenapa di cerita ini victor selalu disebut tua.
Anny
jgn kau hukum Victor begitu keras Gabriel aku merasa kau terlalu kejam dan tidak punya hati untuk seukuran perempuan yg pernah mencintai dan memujanya dahulu
Anny
Menurut aku yaa disini tg paling tersiksa adalah Victor karena kesalahan dia yg tidak terlalu berat dimasa lalu harus menerima hukuman yg berkali kali lipat GK adil bgt bagi dia
panjul man09
di awal cerita disebut usia victor 25 dan memasukkan achel ke asrama selama 3 tahun ,saat achel lulus usia victor 28 ditambah achel kuliah 4 tahun berarti usia victor sudah 32 tahun ,iya kan thor ???
panjul man09
sangat puitis dan/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
alur ceritanya sangat menarik ,terlihat sangat berbeda dari novel2 yg lain , sangat menyentuh hati , ada pelajaran yg bisa diambil , tata bahasanya sangat bagus ,saat membaca novel ini seolah olah kita menonton film barat romance di layar tv .
panjul man09
hanyut terbawa cerita ....lanjut
panjul man09
semoga achell mau membuka hatinya
shabiru Al
semangat up nya ya thor,, ntar senin ta kasih vote.. besok ta kasih bunga sampe abis tuh poin 😄🤭
panjul man09
jangan pernah mengingatnya lagi achell !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!