"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tamu yang Tak Diundang
Hari kunjungan wali di St. Jude’s Academy selalu menjadi hari yang paling meriah sekaligus paling menyesakkan bagi Achell. Halaman asrama dipenuhi oleh kereta kuda dan mobil-mobil mewah. Para orang tua memberikan pelukan hangat, membawakan keranjang makanan, dan tawa pecah di setiap sudut taman.
Achell berdiri di koridor lantai dua, memerhatikan kerumunan itu dari balik jendela. Tangannya terasa dingin. Ia tahu, ia tidak punya siapa-siapa yang akan datang.
"Masih mencari siluet si Tuan Angkuh itu?" Suara Sophie muncul di belakangnya. Sahabatnya itu mengenakan pita merah di rambutnya, tampak segar. "Sudahlah, Achell. Lebih baik kita ke aula. Julian sudah menunggu untuk pengecekan piano terakhir."
"Aku tidak mencarinya, Soph. Hanya... memastikan cuaca," kilas Achell, meski suaranya bergetar.
"Pembohong kecil," gumam Sophie sembari menarik tangan Achell.
Saat mereka menuruni tangga menuju aula utama, suasana mendadak menjadi hening di area lobi. Sebuah mobil Rolls-Royce hitam yang sangat familiar berhenti tepat di depan pintu masuk. Jantung Achell seakan berhenti berdetak. Ia mengenali postur tegap pria yang keluar dari mobil itu.
Victor Louis Edward.
Pria itu tampak sangat tampan dalam balutan setelan jas berwarna abu-abu gelap. Namun, napas Achell tercekat saat melihat Victor berbalik ke arah pintu mobil dan mengulurkan tangannya. Seorang wanita cantik, dengan gaun sutra berwarna emerald dan rambut pirang yang tertata sempurna, turun dan langsung merangkul lengan Victor dengan mesra.
Mereka terlihat seperti pasangan sempurna dari sampul majalah kelas atas. Victor tidak melepaskan rangkulan itu, bahkan saat ia melangkah masuk ke dalam lobi asrama dengan ekspresi acuh tak acuh yang menjadi ciri khasnya.
"Astaga... dia benar-benar datang?" Sophie melotot, suaranya naik satu oktav. "Dan dia membawa... siapa wanita itu? Apa dia tidak punya otak membawa kekasihnya ke hari kunjungan keponakannya sendiri?"
Achell membeku di anak tangga. Matanya bertabrakan sejenak dengan mata tajam Victor. Pria itu menyadari keberadaannya. Namun, Achell segera membuang muka. Ia menarik napas sedalam yang ia bisa, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
"Achell?" Julian datang menghampiri, wajahnya berubah tegang saat melihat apa yang dilihat sahabatnya. "Jangan dilihat. Ayo, kita ke belakang panggung."
"Aku tidak apa-apa, Julian," ucap Achell pelan, suaranya terdengar sangat asing bagi dirinya sendiri. "Aku bahkan tidak melihat siapa pun yang kukenal."
"Itu semangat yang bagus!" seru Sophie, meski matanya tetap melotot ke arah Victor yang sedang berbincang dengan kepala sekolah di kejauhan. "Lihat pria itu! Si brengsek Edward itu benar-benar tidak punya perasaan. Dia merangkul wanita itu seolah-olah ingin memamerkannya padamu.
Benar-benar pengecut! Idiiih, lihat gaya wanita itu, tertawa dibuat-buat begitu. Menyebalkan sekali!"
"Sophie, pelankan suaramu," tegur Julian.
"Tidak mau! Biar dia dengar kalau perlu!" Sophie terus mengumpat. "Dia pikir dia siapa? Datang ke sini hanya untuk mematahkan semangat Achell? Heh, Tuan Edward! Kau tidak lebih dari sekadar manekin berbaju mahal bagi kami!"
Julian merangkul bahu Achell, mencoba menghalangi pandangan gadis itu dari kerumunan. "Achell, lihat aku. Hari ini bukan tentang dia. Bukan tentang siapa yang dia bawa. Hari ini tentang Chopin yang kau pelajari selama berbulan-bulan. Kau adalah bintangnya, bukan pria yang berdiri di lobi itu."
Achell tersenyum tipis, meski bibirnya pucat. "Terima kasih, Julian. Aku akan bersiap."
Di lobi, Victor sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan kepala sekolah. Matanya terus melirik ke arah tangga, ke tempat Achell berdiri tadi. Ia melihat bagaimana Achell mengabaikannya. Ia melihat bagaimana seorang laki-laki jangkung—Julian—merangkul bahu Achell dengan protektif.
Ada rasa panas yang aneh menjalar di dada Victor saat melihat pemandangan itu. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Victor? Ada apa? Kau melamun?" tanya Clara, wanita di sampingnya, sembari mempererat rangkulannya di lengan Victor.
"Bukan apa-apa," jawab Victor dingin. "Ayo masuk. Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan 'anak kecil' itu."
Di belakang panggung, Sophie masih belum berhenti mengoceh. Ia mondar-mandir seperti harimau dalam sangkar.
"Benar-benar sanksi bagiku harus melihat wajah sok hebatnya itu! Achell, kau harus bermain dengan sangat luar biasa sampai wanita hijau itu merasa seperti rumput liar di sampingmu. Kau dengar aku? Jangan beri dia kesempatan untuk merasa menang!"
Achell duduk di depan cermin, merapikan rambut cokelatnya yang terurai panjang. Ia tidak lagi gemetar. Justru, rasa sakit itu kini berubah menjadi kekuatan yang tenang.
"Aku akan bermain, Soph," ucap Achell sembari berdiri. "Tapi bukan untuk membuat dia terkesan. Aku akan bermain agar dia tahu... bahwa kehadirannya tidak lagi menjadi alasan jantungku berdetak."
Julian memberikan jempolnya. "Itu Achell yang kami kenal."
"Hancurkan mereka, Achell! Hancurkan!" teriak Sophie penuh semangat, tepat saat pembawa acara memanggil nama Gabriella Rachel untuk naik ke atas panggung.
Achell melangkah keluar. Cahaya lampu panggung menerpanya. Di barisan terdepan, ia bisa melihat Victor yang duduk dengan angkuh, dengan Clara yang masih bersandar di bahunya. Achell membungkuk hormat ke arah penonton, matanya melewati Victor seolah pria itu hanya udara kosong.