NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: [SEASON 2] Kedatangan Tamu Tak Diundang

​Tiga tahun telah berlalu sejak bendera Mawar Hitam pertama kali dikibarkan di atas puing-puing kekaisaran lama. Selama waktu itu, Kekaisaran Phoenix telah berganti nama menjadi Kekaisaran Nirwana, sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai tempat paling stabil di seluruh pinggiran benua. Tidak ada lagi penindasan berdasarkan garis keturunan; yang ada hanyalah hukum yang adil di bawah pengawasan dingin sang Permaisuri Mawar Hitam, Lin Xiao.

​Malam itu, Ibu Kota sedang merayakan Festival Fajar, sebuah perayaan tahunan untuk memperingati berakhirnya tirani klan Long. Ribuan lampion berwarna ungu dan perak menghiasi langit malam, menciptakan pemandangan yang begitu indah hingga seolah-olah bintang-bintang jatuh ke bumi. Rakyat menari di jalanan, sementara aroma makanan khas musim semi memenuhi udara.

​Di puncak Paviliun Mawar, Lin Xiao berdiri dengan anggun. Ia mengenakan jubah kebesaran yang lebih santai namun tetap memancarkan otoritas yang luar biasa. Matanya yang ungu menatap kerumunan di bawah dengan tatapan yang jauh lebih lembut dibandingkan tiga tahun lalu. Di sampingnya, Yun'er yang kini telah beranjak remaja tampak sedang mencoba berbagai macam manisan yang dibawakan oleh para pelayan.

​"Kakak, lihat lampion itu! Bentuknya seperti bunga mawar milikmu!" seru Yun'er dengan ceria.

Pertumbuhannya sangat pesat; ia tidak lagi tampak lemah, dan di pinggangnya tersampir kantong obat-obatan yang menandakan kemajuannya di bawah bimbingan Kepala Paviliun Gu.

​Lin Xiao membelai rambut adiknya. "Itu karena rakyat sangat mencintaimu, Yun'er. Mereka tahu kau yang paling rajin membantu Tabib Gu di klinik rakyat."

​"Nona," suara berat Kepala Paviliun Gu memecah suasana hangat tersebut. Gu kini menjabat sebagai Penasihat Agung, wajahnya tampak lebih sehat namun kerutan di keningnya malam ini menandakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Ada laporan dari pos penjagaan perbatasan utara di Pegunungan Salju Abadi."

​Lin Xiao sedikit menyipitkan matanya. Kedamaian selama tiga tahun terakhir telah membuatnya sangat waspada terhadap setiap gangguan kecil. "Ada apa, Gu? Apakah ada sisa-sisa loyalis klan Long yang mencoba membuat kerusuhan?"

​"Bukan, Nona. Ini jauh lebih serius," Gu memberikan sebuah gulungan giok yang memancarkan aura emas yang sangat asing—aura yang jauh lebih murni dan menekan daripada energi spiritual yang ada di kekaisaran ini.

"Sebuah kapal terbang raksasa terlihat menembus awan badai di perbatasan. Kapal itu tidak memiliki bendera kekaisaran mana pun yang kita kenal, melainkan simbol Matahari Merah."

​Tiba-tiba, suhu di sekitar paviliun menurun drastis. Lin Xiao merasakan getaran aneh di dalam Inti Dewa Kegelapan-nya. Bukan getaran ketakutan, melainkan reaksi peringatan terhadap energi yang sangat bertolak belakang dengan miliknya.

​"Sesuatu yang besar sedang menuju ke sini," gumam Lin Xiao.

​Belum sempat Gu membalas, langit malam yang tadinya dipenuhi lampion tiba-tiba terbelah oleh sebuah cahaya emas yang luar biasa terang.

Suara ledakan sonik menggelegar, memecahkan sebagian besar lampion dan membuat ribuan rakyat di bawah berteriak ketakutan. Dari balik awan, sebuah kapal perang raksasa dengan ukiran kayu cendana kuno dan layar yang terbuat dari sutra dewa perlahan muncul. Kapal itu melayang tepat di atas istana, menutupi cahaya bulan.

​Tiga sosok melompat turun dari kapal tersebut, melayang di udara seolah-olah mereka tidak terpengaruh oleh gravitasi. Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman matahari di punggungnya. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda dengan wajah luar biasa tampan namun memiliki tatapan mata yang sangat merendahkan, seolah-olah seluruh manusia di bawahnya hanyalah semut.

​"Jadi, ini adalah wilayah terpencil yang katanya dikuasai oleh seorang penyihir kegelapan?" suara pemuda itu bergema ke seluruh kota, mengandung tekanan energi yang begitu kuat hingga para prajurit Garda Nirwana di bawah langsung jatuh berlutut, tak kuat menahan beban aura tersebut.

​Lin Xiao melangkah maju ke tepi balkon, auranya yang gelap meledak keluar untuk melindungi Yun'er dan Gu dari tekanan tersebut. "Siapa kalian, dan dengan hak apa kalian mengganggu festival rakyatku?"

​Pemuda berbaju putih itu menoleh ke arah Lin Xiao, matanya sedikit membelalak saat melihat kecantikan dan aura dingin Lin Xiao. "Oh? Jadi kau adalah penguasa tempat ini? Namaku adalah Wei Lan, Utusan Luar dari Sekte Cahaya Suci dari Benua Pusat Keabadian. Kami datang ke sini setelah mendeteksi adanya getaran Energi Nirwana yang terlarang di wilayah ini."

​Lin Xiao mengepalkan tangannya. Benua Pusat Keabadian. Ia pernah mendengar legenda tentang tempat itu dari Master Jian; sebuah benua di mana para dewa dan penguasa sejati berada, tempat yang ribuan kali lebih luas dan berbahaya daripada kekaisaran ini.

​"Energi Nirwana bukan urusan sekte kalian," jawab Lin Xiao dingin. "Pergilah sekarang sebelum aku menganggap kehadiran kalian sebagai pernyataan perang."

​Salah satu pengawal Wei Lan, seorang pria tua dengan janggut tipis, tertawa sinis. "Perang? Gadis kecil, kau berada di Tahap Inti Emas tingkat awal, dan kau berani bicara tentang perang di depan praktisi dari Benua Pusat? Di tempat kami, bahkan pelayan di gerbang sekte kami memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi darimu."

​Wei Lan mengangkat tangannya, menghentikan pengawalnya. "Nona, aku tidak ingin menumpahkan darah di malam yang indah ini. Kami datang untuk satu hal: Serahkan Inti Dewa Kegelapan yang kau curi dari situs kuno itu, dan bersediarlah ikut bersama kami ke Benua Pusat untuk menjalani pemurnian jiwa. Jika kau kooperatif, aku mungkin bisa meyakinkan para tetua untuk mengampuni nyawamu dan menjadikanku salah satu pelayan pribadiku."

​Mendengar penghinaan itu, mata Lin Xiao berubah menjadi ungu gelap yang membara. Rambut peraknya yang sempat ia sembunyikan selama tiga tahun mulai muncul kembali dari ujung-ujung helai rambut hitamnya.

​"Pelayan pribadimu?" Lin Xiao mencabut pedang Nightshade yang kini telah berevolusi menjadi lebih ramping namun memiliki haus darah yang lebih besar. "Kau datang ke rumahku, menakuti rakyatku, dan memintaku untuk menjadi budakmu? Sepertinya orang-orang dari Benua Pusat memiliki masalah serius dengan otak mereka."

​Wei Lan menghela napas, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan anak kecil yang bandel. "Sangat disayangkan. Padahal aku sangat menyukai wajahmu. Jenderal Qin, lumpuhkan dia. Jangan bunuh, kita butuh dia dalam keadaan hidup untuk ritual ekstraksi."

​Pria tua berjanggut tipis itu melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Tangannya membentuk cakar cahaya yang memancarkan panas luar biasa. "Sujudlah di depan cahaya, kau pendosa!"

​Lin Xiao tidak menghindar. Ia justru maju menyambut serangan itu. 'Seni Nirwana: Tebasan Bayangan Pemutus Cahaya!'

​CLANG!

​Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan seluruh atap paviliun. Gu segera menarik Yun'er ke tempat yang lebih aman. Di tengah debu, Jenderal Qin terbelalak kaget.

Cakarnya yang seharusnya mampu menghancurkan baja dewa ditahan dengan mudah oleh pedang hitam Lin Xiao.

​"Bagaimana mungkin?! Energimu... ini bukan energi spiritual biasa!" teriak Qin.

​"Ini adalah energi yang akan menguburmu," desis Lin Xiao. Ia memutar pedangnya, melepaskan ribuan kelopak mawar hitam yang kini memiliki tepi tajam yang mampu memotong ruang.

​Qin berteriak saat kelopak-kelopak itu menyayat jubah dan kulitnya. Ia mencoba melepaskan ledakan energi untuk menjauh, namun Lin Xiao sudah berada di belakangnya. Dengan satu tendangan yang dialiri Energi Nirwana murni, Lin Xiao mengirim Jenderal Qin menghantam kapal perang raksasa di langit hingga kapal itu bergoyang hebat.

​Wei Lan yang melihat pengawalnya dikalahkan dalam satu langkah mulai menunjukkan ekspresi serius. "Menarik. Kau menyembunyikan kekuatanmu. Kau bukan Inti Emas biasa... kau memiliki fondasi Dewa."

​"Siapa pun aku, itu bukan urusanmu," Lin Xiao berdiri di udara, rambut peraknya kini melambai dengan liar. "Ini adalah peringatan terakhir. Pergi dari langitku, atau aku akan menjatuhkan kapal itu bersama seluruh kesombongan kalian."

​Wei Lan tersenyum tipis, namun senyum itu penuh dengan niat membunuh yang pekat. Ia mengeluarkan sebuah lonceng emas kecil dari sakunya. "Kau pikir kau menang hanya karena mengalahkan seorang pengawal tingkat rendah? Biar kutunjukkan padamu perbedaan antara katak di dalam sumur dan naga di langit."

​Wei Lan membunyikan loncengnya.

Ting!

​Gelombang suara emas memancar keluar, melumpuhkan seluruh indra spiritual Lin Xiao seketika. Tubuh Lin Xiao mendadak terasa sangat berat, seolah-olah ada gunung yang menindih punggungnya. Ini adalah Artefak Penekan Jiwa, sesuatu yang jauh melampaui tingkat senjata apa pun di kekaisaran ini.

​Di saat Lin Xiao sedang berjuang menahan tekanan tersebut, Wei Lan memberikan isyarat pada pengawalnya yang satu lagi. "Ambil gadis kecil di bawah itu. Dia memiliki resonansi darah yang sama dengan target. Jika si kakak tidak mau bicara, kita gunakan adiknya."

​"YUN'ER!" teriak Lin Xiao.

​Namun, pengawal itu bergerak terlalu cepat. Sebelum Gu bisa beraksi, sebuah jaring cahaya telah menjerat Yun'er dan menariknya terbang menuju kapal raksasa tersebut.

​"KAKAK! TOLONG!" teriak Yun'er saat ia diseret ke atas kapal.

​"YUN'ER!!!" Lin Xiao meraung, amarahnya meledak hingga merusak segel penekan lonceng emas tersebut. Ia mencoba mengejar, namun Wei Lan menghalangi jalannya dengan pedang cahayanya sendiri.

​"Jangan terburu-buru, permaisuri cantik," ucap Wei Lan dengan nada mengejek. "Jika kau menginginkan adikmu kembali, datanglah ke Kota Awan Putih di Benua Pusat Keabadian dalam waktu satu bulan. Jika kau terlambat... aku tidak bisa menjamin dia akan tetap utuh. Dia memiliki bakat yang bagus untuk dijadikan wadah energi."

​Kapal raksasa itu mulai berputar dan masuk kembali ke dalam lubang cahaya di langit. Dalam sekejap, cahaya itu menghilang, meninggalkan Ibu Kota dalam kegelapan dan kekacauan.

​Lin Xiao mendarat di reruntuhan paviliun dengan napas tersengal-sengal. Ia mengepalkan tangannya hingga berdarah, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Kesunyian yang mengikuti kepergian kapal itu terasa lebih menyakitkan daripada luka apa pun yang pernah ia terima.

​Gu mendekat dengan wajah pucat. "Nona... mereka... mereka membawa Yun'er..."

​Lin Xiao tidak menjawab. Ia menatap ke langit tempat kapal itu menghilang. Matanya kini benar-benar telah berubah menjadi ungu kristal yang sangat dingin. Kedamaian yang ia bangun selama tiga tahun telah hancur dalam sekejap, namun di dalam kehancuran itu, api yang jauh lebih besar mulai menyala.

​"Gu," suara Lin Xiao terdengar begitu tenang hingga terasa menakutkan. "Persiapkan segalanya. Aku akan meninggalkan kekaisaran ini malam ini juga."

​"Tapi Nona, Benua Pusat adalah tempat yang sangat berbahaya! Anda bahkan belum tahu peta perjalanannya!"

​Lin Xiao menoleh ke arah Gu. "Aku tidak peduli seberapa bahaya tempat itu. Mereka telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka: menyentuh milikku. Jika aku harus menghancurkan seluruh Benua Pusat untuk membawa Yun'er kembali, maka itulah yang akan kulakukan."

​Lin Xiao memanggil pedang Nightshade-nya. Malam itu, bukan lagi mawar hitam yang mekar untuk kedamaian, melainkan mawar hitam yang akan menjadi badai bagi seluruh dunia.

1
Arix Zhufa
mampir thor
Dian Utami
bagus Thor jln cerita ny langsung bertindak 👍10 bintang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!