NovelToon NovelToon
CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Office Romance
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!


Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.

Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.

Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.

Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.

Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30. INTEROGRASI DADAKAN

Ruangan Cedric kembali sunyi setelah pintu tertutup.

Hanya suara dengungan pendingin ruangan, layar monitor yang memancarkan barisan kode tanpa henti, dan aroma kopi yang mulai mendingin di sudut meja.

Celina berdiri di dekat meja kerja Cedric, kedua tangannya masih memegang kantong kertas bekas makanan. Ia belum sempat bergerak lebih jauh ketika menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduknya sedikit meremang.

Cedric menatapnya.

Bukan tatapan santai.

Bukan pula tatapan kosong seorang programmer yang sedang tenggelam dalam pikirannya.

Tatapan itu tajam.

Seolah menelanjangi.

Celina menggeser berat badannya, lalu mendongak.

"Ada apa?" tanya Celina akhirnya, berusaha terdengar biasa saja. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Cedric tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Celina. Matanya menyipit sedikit, fokus pada satu titik di wajah gadis itu.

Di pipi kanan Celina, jelas terlihat warna merah, bekas telapak tangan yang belum sepenuhnya memudar.

Cap yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Cedric mendecakkan lidahnya pelan. "Aku bertaruh, kau pasti memprovokasi wanita entah siapa namanya tadi, 'kan?" tanya Cedric mengonfirmasi kebenaran.

Celina terdiam sesaat.

Cedric melanjutkan tanpa memberi kesempatan Celina menyangkal. "Tidak mungkin seseorang berani menamparmu seperti itu kalau kau tidak memancingnya terlebih dahulu," lanjutnya.

Celina tersenyum kecil.

Senyum yang canggung.

Senyum seorang bak anak kecil yang ketahuan mencoret dinding lalu berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Cedric menghela napas panjang.

"Ya Tuhan," gumam Cedric, seolah sudah bisa menebak segala kemungkinan buruk yang mengiringi gadis di depannya ini.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Cedric meraih ponselnya dari atas meja.

Celina langsung panik. Seolah tahu siapa yang akan ditelepon oleh Cedric.

"Hei, tunggu!" seru Celina sambil melangkah maju, refleks ingin merebut ponsel itu dari tangan Cedric.

Namun Cedric jauh lebih cepat.

Celina menghindar dengan satu langkah ringan ke samping, mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi sambil tersenyum mengejek.

"Jangan mimpi," kata Cedric santai.

Panggilan tersambung.

Celina membeku di tempat.

Dan sebelum ia sempat berkata apa pun, Cedric sudah melontarkan kalimat yang jatuh seperti bom waktu.

"Celina ditampar oleh karyawan bagian internal," kata Cedric singkat dan jelas. "Kau ke sini sekarang."

Klik.

Panggilan langsung terputus dari pihak Theo.

Ruangan kembali sunyi, kali ini dengan ketegangan yang menggantung tebal di udara.

Celina menatap Cedric dengan mata melebar. "Kenapa kau langsung mengadu pada Theo?!" protesnya.

Cedric menurunkan ponselnya, memasukkannya ke saku celana dengan tenang. "Supaya Theo tahu, apa yang dilakukan oleh gadis kesayangannya ini."

"Aku tidak melakukan apa pun," Celina membela diri.

Cedric menatap Celina tajam.

"Gadis yang selalu dia khawatirkan, tapi entah kenapa selalu saja terlibat masalah. Kau yang paling tahu bagaimana khawatirnya Theo jika sudah berurusan denganmu. Dan aku tidak ingin sampai dihajar oleh dia hanya karena aku tidak memberitahu yang terjadi," jelas Cedric.

Celina mendengus kecil. "Aku hanya mengikuti permainan wanita itu. Wanita itu saja yang terlalu cepat marah," katanya.

Cedric menyilangkan tangan di dada.

"Apa yang kau katakan sampai dia menamparmu?"

Celina mengalihkan pandangan.

Untuk sesaat, ia tampak ragu, lalu menghela napas dan menjawab dengan nada yang seolah membicarakan cuaca.

"Aku hanya bilang, kalau dia suka tidur dengan para pria dan mengincar kau dan juga Theo ... seperti wanita murahan," ujar sang gadis.

Keheningan.

Cedric ternganga.

Ia menatap Celina seolah gadis di depannya baru saja mengaku telah meledakkan satu lantai gedung Morelli.

"Apa?" gumamnya tak percaya.

Cedric mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengangkat keduanya seolah menyerah.

"Ya Tuhan, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Kau benar-benar trouble maker sesungguhnya, Celina Lorenzo," kata Cedric.

Cedric menatap langit-langit ruangan, lalu kembali ke Celina.

"Listen, Little Girl," kata Cedric setengah gemas setengah frustasi, "kau sadar tidak apa yang kau ucapkan barusan?"

Celina mengangkat bahu ringan.

Cedric menghela napas lagi, lebih panjang dari sebelumnya.

Sebelum ia sempat melanjutkan omelannya, pintu ruangan terbuka keras.

Sosok Theo muncul di ambang pintu.

Napasnya terengah.

Rambutnya sedikit berantakan.

Jasnya bahkan belum sepenuhnya rapi.

Jelas, Theo berlari ke sini.

"Celina?" panggil Theo.

Theo melangkah cepat, langsung berdiri di hadapan gadis itu. Kedua tangannya terangkat, menangkup wajah Celina dengan lembut namun penuh kecemasan.

Pria itu menolehkan wajah Celina sedikit, mengamati pipi yang memerah dengan saksama.

"Apa yang terjadi," tanya Theo pelan tapi tegas, "sampai kau ditampar seperti ini?"

Celina belum sempat menjawab ketika Cedric menyela. "

"Dia memprovokasi wanita dari divisi internal," kata Cedric datar, "sampai akhirnya ditampar."

Theo menoleh tajam ke arah Celina. "Kenapa kau memprovokasinya?" tanyanya.

Celina langsung menjawab cepat, seolah takut disalahkan sepenuhnya.

"Karena dia yang menghadangku duluan. Dia mengatakan yang tidak-tidak, mendorong bahuku dengan jarinya, bilang aku harus tahu diri karena hanya office girl rendahan. Dia mengira aku merayu kalian berdua," jawab Celina setengah kesal ketika harus mengingat hal tadi walau sedikit menghibur ketika memerovokasi wanita itu.

Cedric menimpali tanpa ragu. "Dan Celina memprovokasinya dengan mengatakan kalau wanita itu murahan dan suka tidur dengan pria mana pun demi posisi di perusahaan."

Theo kembali menatap Celina.

Tatapannya tajam, namun bukan marah, lebih seperti kecewa bercampur khawatir.

"Itu benar?" tanya Theo.

Celina mengalihkan pandangan. Lalu mengangguk kecil.

Theo menghela napas panjang.

Sangat panjang.

Kurang dari dua puluh empat jam sejak Celina kembali menginjakkan kaki di Morelli Corporation, dan ia sudah kembali terseret masalah.

Cedric melirik Celina, tersenyum mengejek, jelas puas telah 'mengadukannya'.

Celina menatap Cedric dengan kesal.

Theo menyentil dahi Celina dengan ujung jarinya.

"Kau bahkan belum pulih sepenuhnya dari cedera," kata Theo tegas, "tapi kau sudah membiarkan tubuhmu terluka lagi."

Celina meringis kecil.

"Kau sungguh ingin melihatku dipukuli oleh ayah dan kakakmu, huh?" lanjut Theo.

Celina menunduk. Sikapnya langsung berubah seperti anak kecil yang dimarahi.

"Maaf ...," gumam Celina. "Habisnya mereka menyebalkan. Dan dia mendorong bahuku ... 'kan jadinya sakit lagi. Jadi aku kesal, tadinya ingin mengabaikan saja tapi sudah terlanjur."

Nada suara Celina pelan. Jujur.

Mendengar itu, kekesalan Theo langsung runtuh. Wajahnya berubah, rahangnya mengeras menahan emosi lain, kekhawatiran.

Theo menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sejenak.

"Bahumu sakit lagi?" tanya Theo ebih lembut. "Perlu kuambilkan obat pereda nyeri?"

Celina menggeleng pelan.

Theo melirik jam tangannya.

"Kau sudah seharian bekerja di ruangan ini," lanjutnya. "Membantu Cedric tanpa henti. Kurasa cukup sampai di sini dulu."

Cedric mengangguk spontan.

"Aku setuju," ucap Cedric. "Setelah ini aku juga masih ingin mencari penyusup di sistem. Kau istirahat saja."

Theo mengangguk. "Kalau begitu, aku akan pulang bersama Celina," katanya.

"Baiklah. Pastikan Tuan Putri kita ini tidak membuat masalah lagi kalau perlu kau ikat dia," celetuk Cedric.

Celina menatap tajam Cedric.

Theo menoleh ke Cedric.

"Kalian juga. Kalau sudah selesai, pulanglah. Kalian juga butuh istirahat. Kalian sudah sampai lembur beberapa hari ini," kata Theo yang tidak hanya untuk Cedric tapi untuk karyawan Tim Khusus.

Cedric mengangguk, lalu berkata serius. "Dan pastikan kau memberikan surat peringatan kepada wanita dari bagian internal itu."

Tatapan Cedric tajam, seolah wajah mengejeknya tadi tidak pernah ada.

"Aku bukan hanya membela Celina. Aku paling tidak suka pekerjaan dicampur adukkan dengan urusan personal. Apalagi drama murahan seperti itu dan sampai menyakiti karyawan lain," kata Cedric.

Theo mengangguk paham. Lalu ia menoleh ke Celina. "Ayo. Ke ruanganku sebentar. Ambil kunci mobil," katanya

Celina mengangguk patuh.

Setelah Theo keluar dari ruangan, Celina berbalik dan memukul lengan Cedric.

"Kenapa kau mengadu?!" gerutu sang gadis.

Cedric tertawa kecil.

"Karena hanya Theo yang bisa menjinakkanmu ... dan kau pantas mendapatkan omelan Theo setelah berbuat ulah," kata Cedric.

Celina menatap tajam Cedric sebelum akhirnya keluar dari ruangan dengan wajah sebal.

1
Miss Typo
hayo lho hati² dgn Cedric ya Celine 🤣
A R
aduhh leo lucy diculik
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙘𝙧𝙖𝙯𝙮 𝙪𝙥 𝙩𝙝𝙤𝙧🤣🤣
mimief
ehhh...kata orang Betawi juga
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mimief
ga seruu dia, mainya aduan 😌🫣🤣
mimief
🤣🤣🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
mimief
kelamaan di sekep sama keluarga Lorenzo begini ni...
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
Miss Typo
karna keahlian kepintaran Celine
PengGeng EN SifHa
akhirnya...ADA TOMMY & JERRY kwwkwkkwkwkwkw


bagus

bagus

bagus

bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
Asyatun 1
lanjut
A R
😂😂😂
Wulan Sari
waaaah cerita ini sangat menarik dan selalu biat penasaran intrik2 di Kantor selalu ada yg berbuat jahat semoga nanti akhir cerita bahagia CEO nya dan tukang bersih2 yg nyamar, happy end ya Thor semangat 💪 salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
MODE BERUANG INGIN MENERKAM IKAN SALMON🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: iya juga ya 🤣
total 1 replies
Jelita S
ternyata Cedric punya tatapan maut jga🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Galak dia itu 🤭
total 1 replies
Dew666
🪸🪸🪸🪸
Archiemorarty: terima kasih udah baca ceritanya 🥰
total 1 replies
Asyatun 1
lanjut
Miss Typo
semoga nasib Celine gak terlalu berat seperti orang tuanya dulu
Archiemorarty: Semoga ya 🤭
total 1 replies
Miss Typo
siapa itu, kok aku curiga sama Rina temen office girl itu ya 😁
Archiemorarty: Ehhh....🤭
total 1 replies
mimief
ayooo,kita mulai berburu,kalau kata mamak Lily 🤭
Archiemorarty: Aduhh...jangan donk, kalau mereka udah berburu tahu sendiri 🤭
total 1 replies
mimief
lagi Thor
up lagi
up lagi
Archiemorarty: Bener...ujan bikin mager asli 🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!