"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah menghabiskan gelato nya, Gladis bangkit dan akan kembali ke dek sebelum Athar memberikannya hukuman jika ia tidak kembali ke dek.
Langkah Gladis terhenti di dekat deretan kursi santai area pool deck.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menangkap siluet pria yang sangat ia kenali sedang tertawa lepas di sudut bar terbuka.
"Alex?" bisik Gladis tak percaya.
Di sana, Alex yang semalaman ia tangisi, pria yang ia kira sedang sibuk berurusan dengan hal penting hingga tak bisa mengangkat teleponnya ternyata ada di atas kapal yang sama. Dan yang lebih menyakitkan, lengan Alex melingkar mesra di pinggang seorang wanita berbaju renang minim yang sedang menyuapinya buah anggur.
Rasa rindu yang tadinya menyesakkan dada seketika berubah menjadi api amarah yang membara.
Tanpa mempedulikan peringatan Arkan, Gladis melangkah cepat menghampiri mereka.
"Alex!" panggil Gladis dengan suara bergetar.
Pria itu menoleh dengan wajah yang terkejut sempat melintas di wajahnya, namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi dingin dan asing.
"Alex, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?! Dan siapa wanita ini?" cecar Gladis dengan mata berkaca-kaca.
Alex melepaskan rangkulannya pada wanita di sampingnya, lalu menatap Gladis seolah ia adalah hama yang mengganggu.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Alex dengan nada datar yang menusuk.
"Alex! Ini aku, Gladis! Jangan bercanda!"
"Dengar, Nona. Saya tidak kenal Anda. Mungkin Anda salah orang," ucap Alex sambil mendorong bahu Gladis dengan kasar hingga gadis itu terhuyung mundur.
"Jangan mengganggu privasi kami. Sayang, ayo kita pergi dari sini. Banyak orang aneh."
Wanita di samping Alex tertawa sinis dan menatap wajah Gladis.
"Iya, aneh banget sih. Penggemar rahasiamu ya, Sayang?"
Dunia Gladis seakan runtuh untuk kedua kalinya. Namun, kali ini ia tidak membiarkan dirinya hancur begitu saja.
Rasa sakit dikhianati dan dipermalukan membuatnya kehilangan kendali.
Saat Alex hendak berbalik pergi, Gladis merangsek maju.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Alex, disusul dengan satu pukulan tinju kecil namun bertenaga tepat ke arah hidung pria itu.
"Brengsek kamu, Alex!" teriak Gladis.
Alex mengaduh kesakitan sambil memegangi wajahnya.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik dan menonton drama tersebut.
Gladis mengatur napasnya yang memburu, matanya menatap Alex dengan kebencian murni.
"Mulai detik ini, kita tidak saling mengenal. Anggap saja kamu sudah mati, sama seperti sisa perasaanku padamu!"
Gladis berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju lift, mengabaikan teriakan Alex yang mulai memaki-makinya.
Di sudut lain, Gerald yang memang diperintahkan Arkan untuk mengawasi dari jauh, segera menekan tombol radio panggilnya.
"Lapor, Kapten. Nona Gladis baru saja terlibat keributan dengan seorang penumpang pria bernama Alex di dek lima. Sepertinya ada masalah pribadi yang cukup serius. Nona Gladis saat ini sedang berlari kembali ke kabin."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara berat Arkan terdengar.
"Penumpang pria itu? Alex?" tanya Arkan dengan nada yang sangat rendah, memberikan sensasi dingin bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Siap, Kapten. Pria yang sama dengan yang ada di daftar pantau ponsel Nona Gladis."
"Bagus. Lekas bawa Gladis kembali ke kabin dan kunci dari luar. Jangan biarkan dia keluar satu jengkal pun. Aku akan ke sana sebentar lagi untuk membereskan sisa kekacauan ini," perintah Arkan mutlak.
"Siap, laksanakan!"
Arkan mematikan radionya. Ia berdiri di anjungan, menatap radar dengan sorot mata yang menggelap.
"Jadi, kamu memilih muncul di wilayahku, Alex? Kamu baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu."
Gladis masuk kedalam kabin dan ia tidak memperdulikan Gerald yang mengundi dari luar.
"Jahat kamu, Lex. Jahat!" ucap Gladis dengan air matanya yang mengalir deras.
Gladis melihat tangannya yang mengeluarkan sedikit darah saat meninju hidung Alex.
Ceklek!
Arkan masuk dan melihat Gladis yang menangis sesenggukan.
Gladies meringkuk di lantai kabin, menyembunyikan wajahnya di balik lutut.
Arkan menutup pintu kabin dengan pelan, namun bunyi kuncinya terasa begitu final.
Ia melepaskan topi kaptennya, meletakkannya di meja, lalu berjalan mendekati Gladis.
Ia tidak langsung menyentuhnya. Ia berdiri menjulang di depan gadis itu, bayangannya menutupi tubuh mungil Gladis.
"Kamu pasti puas dan tertawa terbahak-bahak, Ayah." ucap Gladis yang keceplosan memanggil dengan sebutan 'Ayah'.
Terlepas dari kemarahan yang meluap di dada Gladis, Arkan tetap bergeming.
Ia berlutut di depan Gladis, meraih tangan gadis itu yang sedikit berdarah akibat pukulannya pada Alex tadi.
Matanya yang tajam kini menatap luka itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Aku tidak tertawa, Gladis. Aku hanya sedang melihat kenyataan yang akhirnya menampar wajahmu sendiri," ucap Arkan pelan, namun setiap katanya terasa menghujam.
Arkan merogoh kotak P3K kecil dari laci bawah meja dan mulai membersihkan luka di tangan Gladis dengan kapas alkohol.
Gladis meringis kesakitan, mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Arkan terlalu kuat.
"Sakit? Bagus. Biar rasa sakit ini mengingatkanmu bahwa pria yang kamu puja itu tidak lebih dari sekadar sampah yang terhanyut ke kapalku," tambah Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Gladis.
"Kamu sengaja, kan? Kamu tahu dia ada di kapal ini! Kamu sengaja membiarkanku melihatnya!" teriak Gladis di depan wajah Arkan.
Arkan berhenti mengobati, ia mendongak dan menatap mata sembap Gladis sedalam-dalamnya.
"Aku tidak perlu sengaja melakukan apa pun, Gladis. Alam semesta punya cara sendiri untuk menunjukkan mana yang emas dan mana yang loyang. Dan Alex? Dia hanyalah debu di tengah samudera ini."
Setelah selesai membalut tangan Gladis dengan perban kecil, Arkan berdiri dan menarik Gladis agar ikut berdiri bersamanya.
Ia mencengkeram kedua bahu Gladis, memaksa gadis itu berhenti gemetar.
"Dengarkan aku, Gladis. Air matamu terlalu mahal untuk pria seperti dia. Mulai detik ini, jangan pernah sebut namanya lagi di depanku, atau aku akan memastikan dia benar-benar 'hilang' di tengah laut malam ini juga."
Gladies terdiam, ancaman Arkan tidak terdengar seperti gertakan biasa.
Ia melihat kegelapan yang nyata di mata pria yang kini menjadi suaminya itu.
"Sekarang, cuci wajahmu. Aku sudah menyuruh kru menyiapkan makan malam di balkon pribadi. Kita akan makan bersama, dan kali ini, kamu harus menghabiskannya. Itu perintah, bukan pilihan," ucap Arkan mutlak sebelum ia berjalan menuju lemari untuk mengganti seragamnya.
Gladis menatap punggung tegap Arkan dengan perasaan yang semakin campur aduk.
Di satu sisi, ia membenci pria ini karena telah merampas dunianya. Namun di sisi lain, di tengah kehancuran hatinya karena Alex, hanya Arkan yang ia sebut "iblis" ini—yang berdiri di sana, mengobati lukanya, dan menjaganya dari badai yang ia ciptakan sendiri.
Samudera di luar sana semakin gelap, dan pelayaran panjang mereka baru saja dimulai.
Di atas Ocean Empress, Gladis menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa ia andalkan, sekaligus orang yang paling ia takuti, adalah sang Kapten.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget