Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Perkara Roti
Saya ingat kan kepada pembaca, semua yang berhubungan di dalam cerita, murni hanya buah pikiran yang asal-asalan jangan ditiru atau di praktekkan ya, Terimakasih.
Matahari di atas Pasar Kliwon belum menunjukkan siang yang panas, tapi keringat BARA sudah membanjiri tubuh.
Napasnya memburu, tersengal-sengal seperti kuda tua yang dipaksa untuk terus berlari
Di tangannya ada dua potong roti yang dia curi dari toko yang bernama juragan tono
"Maling! Woii! Maling!"
Teriakan itu terdengar seperti sangkakala kiamat di telinga bara. Di belakangnya, beberapa orang mengejar dengan teriakan amarah, salah satu dari mereka adalah Juragan Tono—pedagang roti paling pelit se-Kecamatan
"oiii.... berhenti oi ....malinggg...." Teriak Tono sambil terus mengejar bara, suaranya menggelegar menyaingi suara pedagang obat kuat di lapak sebelah.
Bara tidak menoleh sedikit pun yang utama baginya adalah selamat dan makan hasil curiannya. Kakinya yang kurus dan penuh koreng dipaksa berlari melompati becek, menghindari bakul jamu gendong, dan menerobos sela-sela kerumunan emak-emak yang sedang menawar harga BH dengan kegigihan seorang panglima perang.
Sial! Sial! Sial! batin bara menjerit. Ia hanya ingin makan. Sudah dua hari perutnya hanya diisi angin malam dan air keran masjid.
Namun, nasib gelandangan memang tidak pernah seindah lukisan pemandangan. Di tikungan dekat lapak penjual ikan asin, kaki bara menginjak sesuatu yang licin kulit pisang, sungguh kemalangan yang tak terduga dan tubuh kurusnya pun melayang membentur sebuah tembok rumah
Brak!
Roti di tangannya terlepas, menggelinding tragis ke dalam selokan hitam pekat.
"Tidaaak!" teriak bara,teriakan yang lebih histeris daripada saat ia diusir dari kolong jembatan.
Belum sempat ia meratapi nasib rotinya, sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari. Bara mendongak, gemetar.
Di atasnya, Juragan Tono berdiri dengan napas ngos-ngosan tapi mata menyala-nyala marah, diikuti oleh beberapa orang yang kini meregangkan otot-otot leher siap memukul bara.
"Berani-beraninya kau mencuri di siang bolong begini...sudah bosan hidup kau hah..!" Hardik Tono dengan penuh emosi
"Am... ampun, Juragan..." Bara meringkuk melindungi kepalanya. "Saya... saya lapar...belum makan 2 hari, juragan"
"Lapar bukan alasan untuk mencuri dasar bodoh!" sela salah satu orang yang memiliki tato naga—tapi lebih mirip cacing pita—di lengannya. Tanpa aba-aba, sebuah tendangan mendarat telak di rusuk bara.
Bugh!
Rasa sakit meledak di sisi tubuhnya. bara mengerang, meringkuk seperti udang rebus.
"Hajar! Biar dia tahu rasa!" perintah Juragan Tono.
Maka dimulailah pesta pora kekerasan itu. Bogem mentah, tendangan sandal kulit, hingga tamparan yang panas silih berganti mendarat di tubuh ringkih bara.
Warga pasar yang lain hanya menonton, sebagian menggeleng prihatin, sebagian lagi sibuk merekam kejadian itu dalam ingatan mereka untuk bahan gosip nanti sore.
Tidak ada yang menolong. Siapa yang peduli pada seorang gembel plus mencuri? Padahal hanya masalah sepele, 2 potong roti untuk mengganjal perut yang lapar, karena susah nya kehidupan yang di alami bara
Dunia bara mulai gelap. Suara riuh pasar perlahan menjauh, berganti dengan dengung panjang yang menyakitkan. Rasa sakit di tubuhnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang.
Apakah ini akhirnya? pikir bara samar-samar. Mati konyol gara-gara roti yang bahkan belum sempat dia gigit...
Kesadarannya pun padam.
Tiba-tiba ada sesosok jiwa yang menyatu kedalam tubuh bara
Mata bara terbuka dengan tatapan linglung, ingatan demi ingatan membanjiri kepalanya, di kepala nya ada informasi kalau jiwa yang menyatu di dalam tubuhnya ini adalah jiwa seorang ahli racun,sains,dan juga ahli ramuan yang terkenal pada zaman dulu, dua jiwa menjadi satu, sekarang bara menjadi orang yang berbeda. Dengan warisan ingatan dari jiwa yang masuk ke dalam tubuh ini mungkin dia bisa melakukan banyak hal
"Hajar lagi!" teriak Juragan Tono
Analisis Cepat.
Bara (versi baru) menyipitkan mata. Waktu seakan melambat.
Kondisi tubuh: Rusuk kiri retak. Dehidrasi parah. Tenaga tinggal 5%.
Lawan: beberapa orang dewasa. Satu gendut (bos)
Senjata: Nol.
Lingkungan: Pasar becek.
Bara mengamati sekitar, mencari sesuatu yang bisa di gunakan.
Kebetulan di sebelah kirinya, ada gerobak penjual bumbu giling yang terguling karena keributan tadi. Ceceran bubuk putih dan merah berserakan di tanah basah.
Kapur sirih dan Cabai bubuk.
Sudut bibir Bara terangkat sedikit. Senyum tipis yang mengerikan terpampang di wajahnya yang babak belur.
"masih berani mencuri lagi kau hah? Gembel" hardik salah satu preman.
Bara berusaha duduk, napasnya tersengal.
"Ganti rugi atau tangan lo gue patahin, silahkan dipilih!"
Bara menunduk, seolah pasrah. Tangan kanannya merayap pelan di tanah lumpur, diam-diam menggenggam segumpal tanah becek yang bercampur bubuk kapur sirih mentah dari gerobak sebelah. Tangan kirinya menyambar sisa air genangan di batok kelapa bekas yang tergeletak di dekatnya.
Reaksi kimia sederhana: Kapur tohor (Kalsium Oksida) jika terkena air akan menghasilkan panas mendadak (eksotermik). Tidak sampai meledak, tapi cukup untuk bikin kulit melepuh dan mata buta sementara.
"Buruan jawab!" Preman pasar itu membungkuk, hendak menjambak rambut Bara.
"Ini ganti ruginya," bisik Bara.
Srekk!
Dengan gerakan cepat, Bara melemparkan gumpalan kapur itu ke wajah si preman, lalu menyiramnya dengan air kotor dari batok kelapa.
"ARGHHH!"
Jeritan preman itu membelah keramaian pasar. Campuran kapur dan air bereaksi di wajahnya, menciptakan sensasi terbakar yang luar biasa, apalagi terkena mata.
"Mataku! Panas! Panas aaahhhhhhggg!"
Juragan tono dan beberapa lainnya melongo kaget. Momen kaget itu adalah celah.
Bara tidak punya tenaga untuk berantem gaya silat. Ia harus main kotor. Efisien. Mematikan.
Ia menyambar segenggam penuh bubuk cabai kering dari tanah, lalu menerjang ke arah preman lain yang masih belum siap. Bara melompat dan menepukkan tangannya tepat di depan hidung dan mulut orang itu.
Puff!
Awan merah pedas meledak di udara.
Preman itu langsung tumbang, batuk-batuk hebat sampai wajahnya merah padam, air mata dan ingus meleleh tak terkendali. Saluran pernapasannya iritasi parah. Dia lumpuh total karena tersedak.
Si Bos Roti itu dan beberapa orang lainnya mundur selangkah, wajah mereka pucat. Karena melihat dua preman tumbang dalam hitungan detik oleh seorang gembel yang sudah sekarat.
Bara berdiri. Kakinya gemetar hebat, pandangannya kini berkunang-kunang karena lapar,dan juga hasil dari keroyokan banyak orang , tapi tatapan matanya tetap tajam setajam pisau silet
"apakah kalian juga mau coba, sama seperti mereka ?" tanya Bara dingin. Tangannya pura-pura merogoh saku celana bututnya, seolah ada senjata rahasia lain di sana (padahal cuma ada benang jahitan yang lepas).
Juragan Tono dan yang lain lansung ketakutan "A-awas lo ya! Gue laporin mandor pasar!" Ucap Tono sambil menunjuk ke arah bara
Pria gendut itu lari terbirit-birit, dan kerumunan pun bubar meninggalkan dua orang preman yang sok keras itu di tanah yang becek
Bara membuang napas kasar. Ia melangkah berat menjauh dari lokasi keributan, menyeret kakinya yang pincang menuju arah jembatan pinggiran kota.
"Tubuh ini amat lemah, gw harus racik ramuan untuk memperbaiki tubuh ini sesegera mungkin,kalau tidak, mungkin bisa terjadi hal yang bahaya seperti tadi."
Dia berjalan tertatih, punggungnya tegak meski bajunya compang-camping. Di dalam kepalanya, banyak tersimpan memori tentang ramuan-ramuan yang amat hebat, bara siap mengguncang dunia dengan pengetahuan nya ini