Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kesal
Bab 20
Kesal
Sore itu, Iqbal mendapat kejutan tak terduga dari Novia. Sebelumnya, Novia jarang sekali mengirim pesan, apalagi menelponnya. Komunikasi antara mereka memang sangat minim semenjak Novia menikah dengan Dika. Bahkan, Novia terkesan sengaja menjaga jarak agar Dika tidak salah paham mengingat Iqbal adalah adik kandungnya.
Lalu, sebuah video yang dikirim Novia membuat Iqbal semakin terkejut dan langsung terduduk di tempat tidurnya sore itu. Durasinya hanya 1 menit, namun cukup menusuk hati. Video itu memperlihatkan sosok kakaknya, Dika, sedang memeluk wanita lain yang bukan istrinya. Kening Iqbal langsung mengerut, dan perlahan-lahan rasa amarah mulai menjalar dalam dirinya.
Iqbal tidak bisa tinggal diam. Ia langsung menghubungi Novia kembali. Dan tak butuh lama, panggilannya segera diangkat oleh sahabat yang kini menjadi Kakak iparnya itu.
"Bisa kamu jelaskan Nov?"
"Justru aku ingin bertanya, apa kamu kenal wanita itu Iq?"
"Nggak. Siapa dia? Kamu pasti tahu kan Nov?"
"Aku nggak tahu pasti. Tapi kurasa..." Kalimat Novia menggantung.
"Bang Dika selingkuh?"
Gemuruh napas Iqbal terdengar di telinga Novia. Saat ini Iqbal sedang menahan amarah yang membara.
Novia diam sejenak.
"Iq..."
Hembusan napas Novia pun terdengar jelas. Iqbal sudah bisa memperkirakan jawabannya—ya, Dika memang selingkuh.
Iqbal mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sejak kapan?"
"Aku nggak tahu pasti," jawab Novia terdengar lemah. "Aku juga baru menduganya beberapa hari belakang ini."
"Shit!"
Iqbal mengusap wajahnya dengan kasar meski Novia tidak bisa melihatnya. Sesaat keheningan terjadi diantara mereka, sampai terdengar kembali suara Novia.
"Iq..."
"Hmm." Iqbal tak kuasa mendengar suara Novia yang memanggil namanya dengan nada bergetar.
"Hiks..." Perih, tangis lirih Novia yang terdengar di telinga Iqbal terasa seperti seribu jarum yang menusuk dadanya. "Tolong jangan kasih tahu Ibu dulu. Aku juga ingin memastikannya dengan kepala ku sendiri. Aku ingin kesana."
Otak Iqbal bekerja dengan cepat. Ia tak ingin Novia menghadapi kenyataan pahit itu sendiri. Ia tak dapat membayangkan, betapa rapuhnya hati wanita itu.
"Kapan?"
"Mungkin beberapa hari ke depan. Besok, atau lusa."
"Biar aku temani."
"Nggak perlu Iq. Kamu sibuk bekerja dan juga harus menjaga Ibu. Aku nggak mau jadi merepotkan. Apalagi ini masalah rumah tangga ku."
"Nggak. Lusa aku jemput. Kebetulan lusa aku menghadiri seminar disana. Setelah seminar, kita bisa pergi bersama."
"Perjalanan kesana jauh Iq... kita nggak bisa bolak balik dalam satu hari, nanti ibu nggak ada yang jaga."
"Nggak apa-apa. Nanti Ibu aku bawa berlibur ke rumah Pak Lek Leman. Sudah lama mereka nggak bertemu. Ibu pasti senang."
Novia diam di seberang sana.
"Ku rasa itu adalah solusi yang baik. Jadi tunggu aku disana. Aku tutup dulu ya, Assalamualaikum."
"Eh, Iq..."
Iqbal sengaja menutup panggilan cepat-cepat tanpa menunggu balasan Novia karena ia tahu, Novia tak bisa menolak jika sudah seperti itu. Ia sengaja mengambil keputusan sepihak karena tak mungkin membiarkan wanita yang pernah singgah di hatinya itu harus melalui kenyataan pahit seorang diri disana.
Iqbal merebahkan dirinya kembali. Memandang Langit-langit kamar penuh amarah dan sesal. Seakan-akan plafon putih itu telah melukai dirinya. Seakan-akan cahaya lampu mengolok-olok dirinya yang masih berada dalam pusara cinta yang gelap.
Bang Dika, aku nggak nyangka Abang tega berbuat seperti itu. Aku mengalah bukan untuk melihatnya tersakiti. Aku ngalah untuk melihat kalian bahagia. Tapi kenapa Bang...?! Kenapa ....?!
Napas Iqbal bergemuruh. Dan malam itu, terasa sulit untuk ia lalui.
-
-
-
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden kamar Lyra pagi itu. Bias lembut sinarnya menerpa wajahnya yang cantik dan ayu yang masih berada di bawah selimut dengan mata terpejam.
Lyra mengerjap pelan. Sedikit silau sehingga ia harus menyipitkan mata. Suhu tubuhnya sudah kembali normal, kepalanya tidak lagi terasa berat, dan kondisinya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Obat yang diberikan dokter benar-benar manjur. Lyra merasa badan sudah jauh lebih ringan sekarang.
Lyra mencoba untuk duduk dan kemudian bangun dari ranjang, meskipun sedikit kelelahan karena tenaganya masih belum sepenuhnya pulih. Namun ia segera di hentikan Dika, yang kebetulan baru saja masuk dan membawa sarapan untuknya.
"Tetap saja disitu."
"Mas..."Panggil Lyra lirih, lalu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07.35. "Mas nggak kerja?"
Dika tersenyum lembut. "Mana bisa tenang Mas kerja ninggalin kamu dalam kondisi begini."
"Tapi aku udah baikan kok Mas. Udah nggak demam lagi. Nanti Mas malah di tegur sama atasan."
"Nggak..., Mas udah ijin kok. Kamu tenang aja ya. Nih, sarapan dulu. Terus minum lagi obatnya biar makin pulih."
Lyra tak menolak. Ia meraih nampan yang berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayuran, juga segelas air putih hangat. Perlahan ia menyuapi dirinya sendiri. Hanya separuh yang mampu ia telan, sisanya tak habis dimakan. Seleranya masih belum kembali. Apalagi pikiran yang membuatnya jatuh sakit datang lagi.
"Sayang, kenapa kemarin-kemarin kamu nggak angkat telepon Mas? Sejak kapan kamu sakit?"
Tadinya Lyra masih belum ingin membahas karena kondisinya. Tetapi karena Dika lebih dulu membuka obrolan, ia berniat menumpahkan apa yang ada di pikirannya.
Lyra meminum obatnya tanpa segera ingin menjawab pertanyaan Dika. Perlahan ia meletakkan gelasnya, lalu menghembuskannya napas pelan.
"Mas... masih punya istrikan?"
Deg,
Alih-alih menjawab Lyra malah melontarkan pertanyaan yang membuat Dika membeku. Pertanyaan Lyra dengan suara lirihnya serasa hantaman batu besar di kepala Dika. Cukup membuatnya bungkam sesaat. Dan matanya yang tadinya menatap Lyra penuh kelembutan sekejap berubah tegang. Namun dengan cepat Dika mengontrol emosinya.
"Bicara apa sih sayang?"
"Jujur saja Mas..."
Dika merasa kesal dan berkacak pinggang. Pembahasan ini lebih cepat membuat emosinya naik.
"Ck! Jujur apa? Apa yang harus aku katakan lagi?! Aku sudah pernah bilang padamu Lyra, ya... aku pernah menikah. Tapi itu dulu... sekarang aku sudah bercerai. Kamu tahu itu."
Lyra menunduk. "Aku... nggak tahu Mas. Aku nggak tahu kamu sedang jujur atau bohong."
Dika semakin kesal. Ia merasa Lyra begitu keras kepala akhir-akhir ini. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Lyra dengan perasaan berkecamuk, antara marah, kesal, takut, dan juga sayang.
"Kenapa sih kamu punya pikiran kayak gitu?! Kamu nggak percaya aku?"
Lyra diam.
Dika menunggu Lyra beraksi, dan mengatakan bahwa ia percaya. Nyatanya tak ada kalimat yang di inginkan Dika itu terucap. Lyra masih diam tak bergeming.
"Oke! Oke..., akan aku buktikan! Kita akan menikah minggu depan." Lyra tersentak, wajahnya menengadah pada Dika yang berdiri di hadapannya. "Tapi ada syaratnya, nikah siri dulu karena ini mendadak."
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra