NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:174.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama

​"Sistem, ambil hadiah uang lima juta Rupiah!" Perintah itu keluar dari mulut Rama, penuh keraguan dan sedikit gemetar.

​[Ding: Proses akan segera di mulai. Tuan ingin mengambilnya secara cash atau dipindahkan ke akun Bank milik Tuan?]

​"Cash saja... Aku belum punya akun bank," jawab Rama cepat.

​[DING: Pengambilan Uang Sedang Di Proses...]

​[DING: Uang telah Berhasil Dicairkan. Silahkan Tuan Cek ke Dalam Saku Celana Milik Tuan.]

​Jantung Rama berdebar kencang. Ia segera merogoh saku celana yang masih dikenakannya. Begitu tangannya keluar, ia terpaku, matanya melebar tak percaya. puluhan lembar uang seratus ribuan berwarna merah, rapi dan renyah, tergeletak sempurna di telapak tangannya.

​"Sistem... apakah ini... sungguhan?" Rama bertanya, pupilnya memantul pada warna merah cerah uang itu seolah melihat fatamorgana. Ia masih sulit mencerna realitas aneh ini.

​[DING: Jika Tuan Meragukannya, Tuan bisa langsung membelanjakannya. Apa yang Sistem berikan 100% keasliannya. Harap kedepannya Tuan tidak lagi meragukan semua Hadiah yang Sistem Berikan.]

​Rama seketika terdiam, rahangnya sedikit turun. Entah kenapa, intonasi datar Sistem terasa seperti sentakan kekecewaan yang dalam—seperti seorang gadis yang dihadapkan pada ketidakpercayaan pasangannya.

​"Ah... I-itu... Maafkan aku, Sistem," Rama berujar cepat, jemarinya naik menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sebuah gestur canggung. "Bukan maksudku meragukanmu. Hanya saja, aku masih belum terbiasa dengan semua yang aku alami saat ini." Ia menarik napas. "Aku berjanji, mulai sekarang aku akan memercayai semuanya 100% tanpa keraguan lagi." Ada nada tulus dan sedikit rasa bersalah dalam suaranya.

​Hening.

​Tidak ada balasan dari Sistem. Rama hanya bisa menghela napas lembut, kekecewaan kecil itu ia singkirkan. Ia lalu melonggarkan ikatan handuk yang melilit pinggangnya, membiarkannya jatuh ke lantai.

​"Sial... ini benar-benar terlalu besar, bukan?" Saat melihat ukuran kejantanannya, Rama tidak bisa menahan desahan napasnya yang tertahan. Ukurannya begitu besar dan panjang, bahkan dalam keadaan "tertidur" sekalipun.

​"Aku tidak bisa membayangkan seberapa ukurannya jika 'terbangun'," gumamnya. Ia mencoba menggenggamnya, merasakan ukurannya yang memenuhi telapak. Seketika, pikiran absurd berputar di kepalanya: bagaimana nanti jika ia memiliki istri? Apakah istrinya akan sanggup menerimanya?

​"Apa yang aku pikirkan," Rama tersenyum bodoh, menertawakan kecanggungan pikirannya sendiri.

​Tok.

Tok.

Tok.

​"Kak... kenapa kamu lama sekali?" Tepat saat itu, suara Bela terdengar lagi, nada suaranya sedikit tidak sabar.

​"Iya... sebentar lagi Kakak keluar," jawab Rama, buru-buru meraih dan mengikatkan kembali handuknya. Ia bergegas ke lemari kecil.

​Cklek...

​"Eh, kok tidak terkunci?" Pikir Bela. Dorongan rasa penasaran karena Rama terlalu lama membuat Bela, dengan wajah polos tanpa prasangka, langsung memutar gagang pintu dan melangkah masuk.

​"Kak... apa yang sebenarnya kamu—Akhhhhhhh!"

​Teriakan nyaring Bela langsung memecah keheningan kamar, menggema dan memantul. Rama, yang baru saja mengenakan celana, langsung tersentak kaget, nyaris menjatuhkan kausnya.

​"Astaga, Bela! Apa yang kamu lakukan!" Rama cepat-cepat menaikkan ritsleting celana. "Bukankah Kakak menyuruhmu menunggu sebentar?"

​"I-itu... Ke-kenapa Kakak tidak memakai baju!" Bela berseru gugup, refleks menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.

​"Kan Kakak baru selesai mandi," jawab Rama santai sembari mengenakan kaus oblong putih. "Lagian kamu kenapa main masuk dan teriak segala? Bagaimana kalau Bapak dan Ibu dengar? Nanti Kakak dikira ngapain-ngapain kamu lagi."

​"I-itu... H-habisnya Kakak lama sekali. Bapak dan Ibu menyuruhku memanggilmu," jawab Bela, suaranya sedikit tercekat karena terkejut.

​"Sudah. Kakak sudah memakai baju," Rama berjalan mendekat, wajahnya menahan senyum geli. "Kamu ini aneh banget. Menutup muka, tapi jari-jarimu masih terbuka lebar seperti itu," Rama berkomentar, menatap gadis itu yang terlihat luar biasa lucu.

​"A-aku...!?" Bela langsung tergagap, seperti seseorang yang tertangkap basah sedang mengintip. Pipinya langsung memerah membara hingga ke telinga. Bela buru-buru menurunkan tangannya, merasa malu karena memang tadi ia sempat mengintip dari celah jarinya dan melihat bentuk tubuh Rama yang terlihat jauh lebih gagah dari yang ia ingat.

​Bela mengangkat kepalanya. Ia hendak membuka mulut untuk bertanya, namun Rama mendahuluinya.

​"Ayo kita keluar. Bukankah Bapak sama Ibu sudah menunggu di meja makan?" tanya Rama, alisnya sedikit terangkat, menyadari tingkah aneh gadis itu.

​"Itu... Ah, o-oke..." jawab Bela, kembali menunduk, menghindari tatapan Rama.

​Rama menggelengkan kepalanya sekilas. Ia hanya bisa tersenyum samar melihat tingkah Bela, lalu melangkah keluar. Bela mengekorinya dari belakang, sesekali mencuri pandang ke punggung pemuda itu.

​"Kenapa aku merasa Kak Rama semakin tinggi, dan... bahunya jauh lebih lebar?" Pikir Bela. Ia segera menggelengkan kepala, meyakinkan diri bahwa ia mungkin terlalu banyak berhalusinasi.

​Di Meja Makan Sederhana

Pak Suhardi tengah membaca koran, sementara Bu Maya meletakkan beberapa lauk pauk dan piring makan. Melihat Rama muncul dengan Bela mengekor di belakangnya, Pak Suhardi langsung melipat korannya, matanya sedikit menyipit mengamati pemuda itu.

​"Sebelah sini, Rama," ucap Bu Maya setelah menoleh sekilas, ekspresinya hangat.

​"Iya, Bu... Terima kasih," Rama segera duduk di depan Pak Suhardi, sementara Bela duduk di depan Bu Maya.

​"Silakan dinikmati, Rama. Maaf, ya, sarapan paginya hanya nasi putih dan lauk seadanya," kata Bu Maya.

​Rama menjawab dengan nada lembut, senyum tulus merekah di wajahnya. "Tidak apa-apa, Bu May. Ini sudah lebih dari cukup. Justru Rama yang seharusnya berterima kasih karena sudah diberi tempat tinggal dan makanan yang seenak ini."

​Bu Maya tersenyum lembut, tangannya mengambilkan sepiring nasi untuk Rama. "Makan yang banyak, Nak, dan jangan sungkan. Ibu sengaja masak banyak."

​Rama mengangguk pelan. Hatinya menghangat, diperlakukan begitu baik layaknya seorang anak kandung. "Terima kasih banyak," ucapnya pelan.

​"Bapak ini, kenapa diam saja? Ayo cepat makan sebelum sayurnya dingin," tegur Bu Maya, melihat suaminya hanya diam, tatapannya terkunci pada Rama.

​"Rama... kok Bapak merasa kamu seperti ada yang berbeda?" Pak Suhardi akhirnya bersuara, ekspresi bingung tercetak jelas di kerutan dahinya. "Bapak merasa tubuhmu lebih berisi sekarang. Dan mukamu itu kayak terlihat lebih dewasa, seperti umur 20-an..."

​Tanpa sadar, Bu Maya mengalihkan pandangannya kembali pada Rama, dan ia baru menyadari bahwa apa yang dikatakan suaminya benar. "Lho... iya, to? Ibu baru sadar. Kamu terlihat lebih bersih dan gagah sekarang."

​"Nah kan! Sebenarnya dari tadi juga Bela merasa ada yang beda sama Kak Rama," Bela, yang sedari tadi diam-diam terus memperhatikan Rama dengan saksama, akhirnya ikut menimpali. "Bela pikir cuma perasaan Bela saja, ternyata Bapak sama Ibu juga merasa hal yang sama."

​Rama terdiam beberapa saat, melihat mereka semua menatapnya penuh selidik. Ia semakin bingung bagaimana harus menjelaskan.

​"Ah, itu... Sebenarnya aku juga merasa ada yang berbeda pada tubuhku sejak bangun tadi. Terasa... terasa lebih segar dan penuh tenaga," ujar Rama, berusaha mencari alasan yang masuk akal. "Tetapi... untuk penampilan, aku merasa sama saja. Tidak ada yang berbeda," kilahnya.

​Pak Suhardi dan Bu Maya saling pandang sekilas. "Ah sudahlah. Yang jelas, asalkan Nak Rama tetap sehat, itu sudah baik," ucap Bu Maya, mengibaskan tangannya, tak ingin larut dalam kebingungan. "Ayo kita makan selagi nasinya masih anget." Pak Suhardi pun tidak bertanya lagi, meski ekspresi bingung masih sedikit tersisa di matanya.

1
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!