NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Ancaman dari Dalam

Bulan madu kami hanya berlangsung tiga hari.

Tiga hari di paviliun kecil di lereng gunung, jauh dari hiruk-pikuk markas. Hyerin menghabiskan waktu dengan memasak—meskipun hasilnya kadang terlalu asin atau gosong—dan aku menghabiskan waktu dengan memperbaikinya sambil tertawa. Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, aku merasakan kedamaian.

Tapi kedamaian tidak pernah bertahan lama di Murim.

Pada hari keempat, utusan dari Klan Utara datang lagi. Bukan untuk membeli mesiu, tapi untuk menyampaikan "undangan".

Patriark Utara mengundangku datang sendiri. "Untuk diskusi lebih lanjut tentang kerja sama," begitu katanya.

Aku tidak bodoh. Ini ada hubungannya dengan catatan yang hilang.

---

Aku duduk di ruang kerja Patriark Gong bersama Hyerin dan Gong Jinsung. Wajah mereka tegang membaca surat itu.

"Ini jebakan," kata Hyerin tegas. "Jangan pergi."

"Kalau tidak pergi, mereka akan anggap kita musuh," sahut Gong Jinsung. "Dengan catatan yang mereka curi, mereka bisa produksi mesiu sendiri. Mereka tidak butuh kita lagi."

Aku diam, memikirkan.

"Ada kemungkinan lain," kataku akhirnya. "Mungkin mereka belum bisa memproduksi mesiu. Catatanku pakai kode. Hanya aku yang bisa membaca."

"Kode?" Hyerin mengerutkan kening.

"Aku pakai simbol-simbol dan bahasa campuran. Tanpa penjelasan, mereka hanya dapat kertas kosong."

Gong Jinsung menghela napas lega. "Syukurlah... tapi tetap saja, mereka pasti curiga. Mereka akan paksa kau menjelaskan."

"Karena itu, aku harus pergi."

"TIDAK!" Hyerin berdiri. "Aku tidak akan biarkan!"

Aku meraih tangannya. "Sayang, dengar dulu."

"Aku tidak mau dengar! Kau mau mati?"

"Aku tidak akan mati." Aku menatap matanya. "Aku punya rencana."

---

Rencanaku sederhana: pura-pura kooperatif, tapi beri mereka informasi palsu.

Aku akan ajari mereka cara membuat mesiu versi "standar"—yang bisa meledak, tapi tidak sekuat buatanku. Mereka akan puas, sementara aku terus kembangkan versi lebih baik di sini.

Tapi risikonya besar. Kalau mereka tahu aku menipu, aku bisa mati.

Hyerin menangis malam itu. Aku memeluknya erat.

"Aku janji akan kembali," bisikku. "Kita baru menikah. Aku tidak akan meninggalkanmu."

---

Dua minggu kemudian, aku berangkat ke Utara lagi.

Kali ini sendirian. Hanya ditemani dua pengawal dari Klan Gong—lebih sebagai saksi daripada pelindung. Hyerin melepas kepergianku di gerbang perak. Matanya basah, tapi dia tidak menangis. Putri Patriark tidak boleh menangis di depan umum.

"Aku menunggumu," katanya.

"Aku akan cepat kembali."

---

Perjalanan kali ini terasa lebih berat.

Bukan karena medan—aku sudah hafal jalannya. Tapi karena suasana hatiku. Setiap langkah kuda membawaku menjauh dari Hyerin, mendekat pada bahaya.

Di pos perbatasan Klan Utara, sambutannya berbeda. Tidak ada pengawalan ketat. Tidak ada penundaan berjam-jam. Mereka langsung mengizinkanku masuk.

Terlalu mudah. Ini tidak baik.

---

Di istana Gunung Es, Patriark Utara menyambutku dengan senyum lebar.

"Jin Tae-kyung! Selamat atas pernikahanmu!" Suaranya ramah, tapi matanya tetap dingin. "Aku dengar kau menikahi putri Gong. Sayang sekali tidak diundang."

Aku menunduk sopan. "Terima kasih, Patriark. Itu hanya acara kecil."

"Kecil? Seluruh Murim membicarakan pernikahan itu." Dia tertawa. "Tapi tidak apa. Yang penting kau datang sekarang."

Dia mempersilakan duduk. Di ruangan itu, selain para tetua biasa, ada wajah baru. Seorang pria muda berpakaian hitam dengan bordiran emas. Matanya tajam, penuh perhitungan.

"Ini putraku, Putra Mahkota Utara," Patriark memperkenalkan. "Kang Dae-ho."

Pria itu mengangguk dingin.

---

Percakapan mengarah pada catatan yang hilang.

"Maaf," kata Patriark dengan nada pura-pura menyesal. "Anak buahku mungkin terlalu bersemangat. Mereka mengambil beberapa barang dari desamu tanpa izin. Aku sudah menghukum mereka."

Tentu saja. Pasti.

"Tapi karena sudah terlanjur, mungkin kau bisa jelaskan catatan itu? Anak buahku tidak bisa membacanya."

Aku tersenyum dalam hati. Kodeku berhasil.

"Tentu, Patriark. Itu hanya catatan teknis. Aku bisa jelaskan."

---

Dua minggu berikutnya, aku menjadi guru.

Setiap hari, aku mengajari para ahli Klan Utara cara membuat mesiu. Perbandingan, pencampuran, pengeringan. Semua versi standar. Mereka senang, produksi berjalan.

Tapi di malam hari, aku diam-diam mencatat semuanya. Tata letak istana, jumlah penjaga, pola patroli, kelemahan keamanan. Informasi ini lebih berharga dari emas.

Suatu malam, saat aku sedang menulis di kamar, pintu terbuka tanpa ketukan.

Kang Dae-ho, Putra Mahkota, berdiri di ambang pintu.

"Jin Tae-kyung."

Aku menutup catatanku cepat. "Putra Mahkota. Ada perlu?"

Dia masuk, duduk di kursi tanpa dipersilakan.

"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."

Jantungku berdetak kencang. Tapi wajahku tetap tenang.

"Maksud Putra Mahkota?"

"Mesiu versimu. Yang kau ajarkan pada anak buahku—itu bukan yang terbaik, kan?"

Aku diam.

"Aku sudah lihat luka-luka pasukan yang kembali dari pertempuran di selatan. Luka bakar mereka berbeda. Lebih parah. Itu dari mesiu versi aslimu, bukan yang kau ajarkan sekarang." Dia mencondongkan tubuh. "Jadi, kapan kau mau mengajari kami yang asli?"

---

Malam itu menjadi malam terpanjang.

Kang Dae-ho ternyata lebih pintar dari dugaanku. Dia tidak marah, tidak mengancam. Hanya bertanya dengan tenang, menungguku menjawab.

Aku butuh waktu berpikir.

"Putra Mahkota," kataku akhirnya. "Kau benar. Yang kuajarkan ini versi standar. Tapi bukan karena aku mau menipu. Tapi karena versi asli berbahaya."

"Berbahaya?"

"Ledakannya tidak stabil. Kalau salah penanganan, bisa meledak di tangan pembuatnya. Aku takut anak buahmu cedera."

Dia tersenyum tipis. "Kau baik hati. Tapi kami siap ambil risiko."

"Aku tidak meragukan itu. Tapi izinkan aku latih mereka lebih dulu dengan versi standar. Setelah mahir, baru naik level."

Dia menatapku lama. Lalu mengangguk.

"Baik. Tapi ingat: aku mengawasimu. Satu langkah salah, dan..."

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

---

Dua bulan berlalu.

Aku masih di Utara. Setiap minggu, aku kirim surat pada Hyerin—dengan kode, tentu saja. Menceritakan perkembanganku, menenangkannya.

Para ahli Utara mulai mahir. Mereka sudah bisa produksi mesiu dalam jumlah besar. Beberapa sudah coba merakit bom sederhana. Tapi tanpa bimbinganku, kualitasnya masih di bawah standar.

Kang Dae-ho sering datang mengawasi. Kadang bertanya tentang hal-hal teknis. Kadang hanya diam, memperhatikanku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Suatu hari, dia bertanya di luar topik.

"Jin Tae-kyung, dari mana asalmu sebenarnya?"

Aku pura-pura sibuk. "Dari Klan Jin, Putra Mahkota. Tuan tahu itu."

"Bukan. Maksudku, sebelum Klan Jin. Sebelum kau terkenal. Dari mana ilmumu?"

Aku diam.

"Aku sudah selidiki. Klan Jin tidak punya catatan tentang pendidikan khusus. Ayahmu pendekar biasa. Tidak mungkin dia ajari kau semua ini." Dia menatapku tajam. "Jadi, siapa sebenarnya kau?"

---

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Aku tahu kalau salah jawab, semuanya bisa berakhir. Tapi kalau terlalu banyak berbohong, dia akan curiga.

"Putra Mahkota," kataku pelan. "Aku akan jujur. Tapi ini rahasia besar. Hanya orang tertentu yang tahu."

Dia menganggut, menunggu.

"Aku bukan dari dunia ini."

Dia mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Aku terlahir kembali. Dari dunia lain. Dunia tanpa Qi, tanpa kultivasi. Tapi dengan ilmu pengetahuan yang lebih maju."

Diam. Sangat lama.

Lalu dia tertawa. Bukan tawa marah, tapi tawa tak percaya.

"Kau pikir aku percaya dongeng?"

"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Itu kebenarannya."

Dia berhenti tertawa. Matanya menyelidik.

"Kalau benar, dunia seperti apa?"

"Dunia dengan mesin terbang. Dengan bangunan setinggi gunung. Dengan senjata yang bisa membunuh dari jarak seribu li."

Dia diam lagi. Lalu berkata pelan, "Menarik."

---

Sejak itu, sikap Kang Dae-ho berubah.

Dia tidak lagi mengawasiku dengan curiga. Sebaliknya, dia mulai sering mengajakku bicara. Tentang dunia asalku, tentang teknologi, tentang masa depan. Kadang sampai larut malam.

Aku curiga ini jebakan. Tapi aku juga lihat ketertarikan aslinya. Mungkin dia jenius yang terperangkap di dunia terbelakang, sama sepertiku.

Suatu malam, dia berkata, "Jin Tae-kyung, aku ingin kau tinggal di sini. Selamanya."

Aku terkejut. "Putra Mahkota..."

"Aku tahu kau punya istri di selatan. Tapi di sini, kau bisa dapat apa pun. Wanita, uang, kekuasaan. Aku bisa jadikan kau penasihat utama."

"Ini... kehormatan besar. Tapi aku harus kembali."

Dia menghela napas. "Pikirkan. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat: dunia ini kejam. Hanya yang kuat yang bertahan. Dan kau... kau bisa jadi yang terkuat, kalau kau mau."

---

Dua minggu kemudian, aku diizinkan pulang.

Sebelum pergi, Kang Dae-ho memberiku sesuatu. Sebuah cincin giok dengan ukiran naga.

"Ini tanda persahabatan. Kalau kau butuh bantuan, tunjukkan cincin ini pada utusanku. Mereka akan bantu."

Aku menerimanya dengan hati-hati. "Terima kasih, Putra Mahkota."

"Panggil saja Dae-ho. Kita sudah seperti saudara."

Aku tidak tahu apakah ini tulus atau jebakan lain. Tapi kusimpan cincin itu baik-baik.

---

Perjalanan pulang terasa sangat lama.

Dua bulan lebih aku tinggal di Utara. Jauh dari Hyerin, jauh dari desa, jauh dari semua yang kukenal.

Saat gerbang perak Klan Gong muncul di kejauhan, jantungku berdetak kencang.

Dan di gerbang itu, berdiri Hyerin. Sendirian. Menungguku.

Aku turun dari kuda, berlari. Dia berlari juga.

Kami berpelukan erat, tidak peduli siapa yang melihat.

"Oppa... oppa... akhirnya..."

"Aku pulang, Sayang. Aku pulang."

---

Malam itu, di paviliun kami, Hyerin bertanya tentang semuanya.

Aku ceritakan tentang Kang Dae-ho, tentang kecurigaannya, tentang pengakuanku, tentang cincin giok.

Dia diam lama.

"Oppa, kau yakin dia bisa dipercaya?"

"Aku tidak yakin. Tapi aku punya firasat... dia berbeda. Mungkin dia bisa jadi sekutu sejati."

"Atau musuh paling berbahaya."

Aku menghela napas. "Mungkin. Tapi di dunia ini, kita tidak punya banyak pilihan."

Dia meraih tanganku.

"Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, aku merasa benar-benar tenang.

---

[Bersambung ke Bab 19]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!