NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Malam itu, hujan turun rintik-rintik, menambah suasana mencekam di depan gerbang tinggi kediaman Baskoro.

Seorang wanita dengan pakaian kumal dan rambut acak-acakkan berdiri menggigil di balik jeruji besi.

Wajahnya yang dulu selalu dipoles riasan mahal kini pucat dan kuyu, matanya tampak cekung karena menahan lapar yang amat sangat.

"Pak, tolong, Pak. Saya mau ketemu Mama," rintih Intan kepada petugas keamanan yang berjaga.

Melihat kondisi memprihatinkan sang mantan nona muda, petugas itu akhirnya menghubungi ke dalam.

Tak lama kemudian, gerbang terbuka. Intan berjalan tertatih-tatih menuju teras rumah, tempat Aisyah dan Rizal sudah berdiri menunggu.

"Mama..."

Intan langsung bersimpuh di kaki Aisyah, membasahi lantai teras dengan air mata dan tetesan air hujan.

"Mama, tolong berikan Intan satu kesempatan lagi. Intan lapar, Ma. Intan tidak punya tempat tinggal."

Aisyah menatap putrinya dengan tatapan datar, namun ada sedikit gurat kesedihan di matanya.

"Bukankah Mama sudah memberimu rumah kontrakan?"

"Rumah kontrakan itu direbut oleh Hadi, Ma!" tangis Intan pecah.

"Dia mengusirku setelah mengambil semua barang berhargaku. Dia pria jahat, Ma. Tolong, biarkan Intan kembali ke sini. Intan janji akan jadi anak baik."

Aisyah melirik ke arah Rizal yang berdiri diam di sampingnya.

Rizal, yang kini telah memiliki otoritas sebagai kepala keluarga dan pemimpin perusahaan, melangkah maju satu langkah.

Suara tongkatnya yang mengetuk lantai terdengar seperti lonceng penghakiman bagi Intan.

"Kamu ingin kembali ke rumah ini?" tanya Rizal dengan suara rendah dan tegas.

Intan mengangguk cepat. "Iya, Mas. Tolong ampuni aku."

"Baik," jawab Rizal tenang.

"Tapi ada persyaratan dariku yang tidak bisa diganggu gugat jika kamu ingin menginjakkan kaki di dalam rumah ini."

Intan mendongak, ada secercah harapan di matanya.

"Apa itu, Mas? Aku akan lakukan apa saja."

"Pertama, kamu tidak akan kembali sebagai 'Nona Muda'. Kamu akan tinggal di paviliun belakang bersama Bi Inah dan bekerja sebagai asistennya. Kamu yang akan mencuci piring, mengepel lantai, dan membantu di dapur Aisyah Cookies tanpa gaji selama satu tahun sebagai penebusan dosamu."

Intan membelalakkan matanya, namun ia tidak punya pilihan.

"Kedua," lanjut Rizal, "Kamu harus memutus semua hubungan dengan Hadi. Jika aku melihatmu berbicara atau bertemu dengannya sekali saja, detik itu juga aku sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi atas tuduhan percobaan fitnah dan pencurian aset yang pernah kamu lakukan dulu. Bagaimana? Kamu terima?"

Intan tertunduk lesu. Harga dirinya hancur berkeping-keping, namun rasa lapar dan dingin jauh lebih menyiksa.

"Aku terima, Mas," bisik Intan pasrah.

Aisyah menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah dapur.

"Bi Inah, bawa Intan ke belakang. Beri dia makan sisa tadi malam, lalu suruh dia mandi. Besok pagi jam lima, dia harus sudah ada di dapur untuk mencuci loyang kue."

Bi Inah memegang lengan Intan dengan kuat, menuntunnya melewati lorong samping menuju area belakang rumah.

Tidak ada lagi sapaan hormat "Non Intan" dari mulut Bi Inah; yang ada hanyalah ketegasan seorang senior kepada bawahannya yang baru.

Di meja kayu kecil di sudut dapur, Bi Inah meletakkan sepiring nasi dengan lauk seadanya—sisa makan malam keluarga yang tadi tidak habis.

"Makanlah. Setelah ini, langsung bersihkan dirimu di kamar belakang," ucap Bi Inah singkat.

Tanpa mempedulikan rasa malu lagi, Intan memakannya dengan lahap.

Suapan demi suapan nasi masuk ke mulutnya dengan cepat.

Ia baru menyadari bahwa masakan Bi Inah yang dulu sering ia cela, kini terasa seperti hidangan paling mewah di dunia dibandingkan nasi sisa pemberian Hadi.

Sambil mengunyah, mata Intan tertuju pada deretan loyang baru yang mengkilap dan tumpukan kotak kemasan cantik bertuliskan logo elegan di sudut dapur.

"Bi, Mama mau buat usaha sendiri?" tanya Intan dengan mulut yang masih penuh makanan.

Bi Inah menganggukkan kepalanya sambil merapikan beberapa stoples kaca.

"Iya. Nyonya Aisyah sudah tidak lagi mengurus kantor. Sekarang Tuan Rizal yang memimpin perusahaan, dan Nyonya fokus membangun usaha kue ini dari rumah," jelas Bi Inah.

Ia menatap Intan dengan pandangan serius. "Dan tugasmu mulai besok adalah mencuci semua loyang ini sampai bersih tanpa ada noda sedikit pun. Nyonya sangat menjaga kebersihan untuk produknya."

Intan tertegun. Ia menelan nasinya dengan susah payah.

Mendengar pria yang dulu ia hina kini menjadi bos besar di perusahaan ibunya, sementara ibunya sendiri kini hidup tenang mengejar hobi, membuat hati Intan terasa perih.

Ia kini hanyalah seorang pembantu di rumah yang seharusnya menjadi miliknya.

"Tuan Rizal sangat tegas soal kedisiplinan, Intan. Kalau kamu malas-malasan, dia tidak akan segan-segan mengusirmu lagi," tambah Bi Inah mengingatkan.

Intan hanya bisa menunduk dalam, menatap piringnya yang sudah kosong.

Di dalam hatinya, ada rasa sesak yang luar biasa, namun ia sadar bahwa ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap bertahan hidup.

Di kamar utama yang bernuansa hangat, cahaya lampu tidur yang temaram menciptakan suasana tenang dan intim.

Rizal duduk di tepi tempat tidur, sementara Aisyah berada di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya.

Rizal perlahan melingkarkan lengannya, memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.

Ia menghirup aroma lavender dari hijab yang baru saja dilepas Aisyah, sebuah aroma yang selalu menjadi penenang di tengah badai hidupnya. Namun, di balik pelukan itu, ada gurat kecemasan di wajah Rizal.

Ia menatap kakinya yang masih terbungkus gips tebal, sisa dari kecelakaan dan masa-masa sulit yang pernah ia lalui.

"Aisyah..." bisik Rizal pelan, suaranya sedikit bergetar.

"Mas minta maaf, Sayang. Sampai sekarang, aku masih belum bisa memberikan kewajiban penuh sebagai suami di atas ranjang. Aku merasa sangat tidak berguna melihatmu begitu tulus melayaniku, sementara aku memiliki keterbatasan fisik ini."

Rizal menunduk, rasa rendah diri itu sesekali masih muncul meski ia kini telah menjadi pemimpin di kantor.

Ia merasa belum bisa menjadi lelaki yang sempurna untuk wanita sehebat Aisyah.

Aisyah menjauhkan sedikit kepalanya agar bisa menatap langsung ke dalam mata Rizal.

Ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya dengan lembut, memberikan kehangatan yang mengalir langsung ke hati Rizal.

"Mas, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap dan gips kaki kamu dilepas," ucap Aisyah dengan nada bicara yang sangat tulus dan menenangkan.

Ia tersenyum manis, senyuman yang mampu meruntuhkan segala keraguan Rizal.

"Pernikahan kita bukan hanya soal itu, Mas. Aku sudah cukup bahagia melihatmu berdiri tegak di depanku, melihatmu dihargai orang lain, dan melihatmu berada di sisiku setiap malam. Jangan pernah merasa kurang, karena bagiku, kamu sudah lebih dari cukup."

Aisyah kemudian mengecup dahi Rizal dengan lembut, sebuah simbol janji bahwa ia tidak akan pernah pergi, sesulit apa pun kondisi fisik suaminya.

"Fokuslah pada kesembuhanmu, Mas. Biarkan aku yang menjagamu sampai kakimu kuat kembali untuk berjalan—dan untuk melakukan semua tanggung jawabmu," tambah Aisyah sambil terkekeh kecil untuk mencairkan suasana.

Rizal terharu, ia menarik Aisyah kembali ke dalam pelukannya, merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena memiliki istri yang begitu sabar dan penuh pengertian.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!