NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20- Tetap Biasa

Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan pola yang nyaris identik, seperti sebuah mesin yang sudah dilumasi dengan sempurna. Jika ada orang asing yang memperhatikan dari kejauhan setiap pagi dan sore, mereka mungkin akan mengira Alea dan Aksa adalah pasangan yang sudah sangat mapan saking sinkronnya rutinitas mereka. Jam delapan pagi, SUV hitam milik Aksa sudah ada di depan gerbang. Jam enam sore, pria itu sudah berdiri di depan toko buku, menunggu Alea mengunci pintu.

Tidak ada bunga yang tiba-tiba muncul di meja kasir. Tidak ada pesan-pesan manis “sudah makan belum?”.

Semuanya terasa sangat fungsional, sangat biasa. Tapi justru di dalam kebiasaan yang tanpa status itulah, Alea merasa jiwanya perlahan-lahan mulai tersandera.

Pagi ini, Jakarta diselimuti mendung tipis yang membuat udara terasa lebih berat. Alea masuk ke dalam mobil Aksa dan langsung memasang sabuk pengaman tanpa perlu diingatkan lagi. Gerakannya sudah otomatis, seolah kursi penumpang itu memang dicetak khusus untuk lekuk tubuhnya.

“Kopi?” tanya Aksa singkat, sambil menyodorkan sebuah gelas kertas dari coffee shop langganannya yang aroma roasted beans-nya langsung memenuhi kabin mobil.

“Makasih,” jawab Alea pelan, menyesap aroma kafein yang kuat itu. “Tumben beli dua. Biasanya kamu cuma minum yang pahit banget itu tanpa gula, kan?” tanya Alea.

Aksa mulai menjalankan mobilnya dengan tenang. “Aku pikir kamu butuh asupan tambahan. Kamu kelihatan kurang tidur semalam. Matamu agak sembab, Alea. Ada masalah?”

Alea tertawa kecil, sedikit malu karena ternyata Aksa sedetail itu memperhatikannya. “Kelihatan banget ya? Aku cuma lagi asyik baca ulang novel lama sampai lupa waktu. Ceritanya terlalu bagus buat ditinggal tidur.”

“Judulnya apa sampai bikin kamu begadang dan melupakan jam istirahat?” tanya Aksa.

“Tentang seseorang yang mencoba lari dari masa lalu, tapi akhirnya malah terjebak di tempat yang sama,” jawab Alea lirih, matanya menatap butiran embun di jendela. Dia menoleh ke arah Aksa.

“Aksa, aku perhatiin motor itu benar-benar sudah nggak pernah kelihatan lagi ya dua minggu ini? Kamu nggak ngerasa aneh?”

Aksa tetap fokus menyetir, ekspresinya sedatar aspal di depan mereka. “Kenapa harus aneh? Bukannya itu yang kita harapkan sejak malam itu?”

“Iya, tapi rasanya terlalu tiba-tiba, Aksa. Kamu nggak ngelakuin sesuatu yang…ilegal, kan? Maksudku, kamu nggak menyuruh orang buat menculik atau mencelakai orang itu, kan?” Alea bertanya dengan nada sedikit menyelidik.

Aksa terkekeh rendah, suara beratnya memberikan getaran kecil di dalam mobil. “Alea, kamu terlalu banyak baca novel thriller. Aku ini pengusaha, bukan pimpinan sindikat mafia. Aku cuma minta tim keamananku buat patroli lebih sering di area itu. Mungkin dia sadar kalau jalanan itu sudah nggak kondusif lagi buat tempat mangkal atau sekadar mengintai.”

“Tapi tetap saja, ini sudah masuk minggu ketiga kamu antar jemput aku terus.” Alea menatap profil samping wajah Aksa yang tegas. “Kamu nggak ngerasa terbebani? Maksudku, waktu kamu itu kan mahal. Kalau dihitung-hitung secara profesional, tarif jemputan ini mungkin sudah bisa buat beli setengah isi tokomu. Aku beneran nggak enak.”

Aksa menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dia melepaskan satu tangannya dari setir dan menatap Alea lurus-lurus, sebuah tatapan yang selalu berhasil bikin Alea merasa kecil sekaligus terlindungi. “Alea, dengar. Aku nggak pernah melakukan sesuatu yang aku anggap beban. Kalau aku ngerasa terganggu, aku bakal bilang langsung ke mukamu tanpa basa-basi. Kenapa sih kamu hobi banget ngerasa nggak enak?”

“Ya karena ini nggak seimbang! Kamu kasih aku rasa aman yang luar biasa, sementara aku, aku cuma penjaga toko buku yang kadang kasih kamu rekomendasi novel yang bahkan belum tentu kamu baca sampai habis.”

“Siapa bilang aku nggak baca?” sela Aksa cepat. “Novel tentang pelarian yang kamu kasih kemarin, aku sudah sampai bab sepuluh. Dan sejauh ini, aku suka.”

Alea tertegun. “Kamu beneran baca?”

“Iya. Jadi, anggap saja perjalanan ini adalah bayaran buat kurasi buku-bukumu yang bagus. Adil, kan?”

Alea terdiam, tidak mampu lagi mendebat argumen Aksa yang selalu punya celah untuk memenangkan pembicaraan.

Beberapa jam kemudian, di kantor pusat Pratama Group yang megah, suasana terasa jauh lebih dingin dan profesional. Aksa duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit hitam, menatap tajam ke arah asisten pribadinya, Rayyan, yang baru saja meletakkan map berisi profil lengkap si pengintai yang selama ini meresahkan Alea.

“Jadi benar dia orangnya?” tanya Aksa dengan suara yang rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

“Benar, Pak. Hanif, dia karyawan kita di divisi regional yang baru saja pindah ke kantor cabang Jakarta Barat. Dia yang selama ini menyewa orang untuk mengawasi Nona Alea secara berkala,” lapor Rayyan dengan nada yang sangat hati-hati.

Aksa menyandarkan punggungnya, memutar kursi menghadap jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi Jakarta. “Karyawan saya sendiri ternyata punya hobi jadi penguntit. Dia tahu siapa saya? Dia tahu kalau orang yang menjaga Alea itu adalah bosnya sendiri?”

“Sepertinya tidak, Pak. Hanif berada di level operasional bawah. Dia nggak pernah punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan Bapak di kantor pusat. Dan orang-orang suruhannya cuma melapor kalau ada mobil mewah yang selalu menjaga Nona Alea. Mereka nggak tahu kalau itu Bapak.”

Aksa tersenyum sinis, sebuah senyuman yang mengandung ancaman tersembunyi. “Ironis sekali. Dia digaji pakai uang saya setiap bulan, dan uang itu malah dia pakai buat menyewa preman untuk neror orang yang sedang saya lindungi. Dia benar-benar punya nyali yang besar.”

“Apa perlu saya buatkan surat pemecatan tidak hormat hari ini juga, Pak? Kita punya cukup bukti pelanggaran kode etik untuk memutus kontraknya tanpa pesangon.”

“Jangan,” potong Aksa cepat dengan gerakan tangan yang tegas. “Kalau dia dipecat sekarang, dia bakal punya banyak waktu luang. Dia bakal makin gila dan nekat mengganggu Alea karena merasa nggak punya beban atau tanggung jawab lagi. Saya mau dia tetap di posisinya, tapi dengan kondisi yang berbeda.”

Rayyan mengerutkan kening. “Maksud Bapak?”

“Ikat dia di mejanya. Beri dia tumpukan pekerjaan tambahan setiap hari. Koordinasikan dengan kepala cabang Regional, bilang kalau ada audit mendadak yang mengharuskan bagiannya lembur setiap malam sampai jam sepuluh. Pastikan dia nggak punya energi, waktu, apalagi kesempatan buat pergi ke area toko buku itu lagi,” urai Aksa dengan dingin. “Saya mau dia merasa dikuliti oleh pekerjaannya sendiri sampai dia nggak punya waktu buat napas, apalagi buat mikirin Alea.”

“Baik, Pak. Akan segera saya koordinasikan agar dia sibuk sampai akhir bulan.”

“Satu lagi, Ray,” tambah Aksa saat asistennya itu hendak keluar. “Cari tahu siapa yang memberikan informasi alamat Alea yang sekarang kepada Hanif. Alea sudah pindah kost dan ganti nomor ponsel enam bulan lalu. Bajingan itu nggak mungkin menemukannya tanpa bantuan orang dalam. Cari lubang itu, dan tutup selamanya.”

“Siap, Pak.”

Sore harinya, hujan kembali turun menyiram aspal yang panas. Aksa sampai di depan toko tepat pukul enam sore, tidak meleset satu menit pun. Dia melihat Alea sedang membereskan kursi kecil di depan toko agar tidak basah terkena tempias air. Begitu Alea masuk ke dalam mobil, suasana yang tadinya dingin bagi Aksa, mendadak berubah menjadi hangat dan manusiawi.

“Gimana hari ini? Ada buku yang laku? Atau cuma ada orang yang numpang neduh?” tanya Aksa sambil mulai menjalankan mobilnya perlahan.

“Hari ini seru! Ada lima buku laku, dan ada satu bapak-bapak yang beli ensiklopedia tua koleksi gudang. Berat banget bukunya, sampai aku harus bantu bawa ke motornya di depan jalan,” cerita Alea dengan mata yang berbinar-binar.

Aksa melirik Alea dengan dahi berkerut. “Lain kali jangan angkat yang berat-berat sendiri. Kamu itu kecil, Alea. Kalau tulangmu geser atau ototmu cedera, siapa yang mau tanggung jawab?”

“Ih, aku kuat ya! Jangan remehkan tenaga penjaga toko yang sudah terbiasa angkat-angkat kardus buku tiap minggu,” balas Alea sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

Aksa tertawa kecil, suara tawanya terdengar lebih luwes daripada biasanya. “Iya-iya. Si Paling Kuat sejagat toko buku. Karena kamu sudah kerja keras hari ini, mau merayakannya dengan makan martabak? Ada kedai martabak enak di dekat jalan pulangmu.”

“Boleh banget! Tapi kali ini, syaratnya cuma satu, aku yang bayar!” Alea menawarkan dengan semangat, seolah baru saja memenangkan lotre. “Ini tanda terima kasih karena kamu sudah nggak pernah telat jemput dan nggak pernah protes dengerin curhatanku.”

Aksa sempat ingin membantah, tapi melihat wajah Alea yang begitu antusias, dia akhirnya menyerah. “Oke. Aku nggak akan debat soal siapa yang bayar martabak malam ini. Aku terima upetinya.”

Mereka berhenti di pinggir jalan raya yang basah, mengantre martabak manis keju kacang yang aromanya sangat menggoda. Saat menunggu pesanan, mereka tetap berada di dalam mobil, memperhatikan butiran hujan yang menari-nari di kaca depan.

“Aksa,” panggil Alea lirih, tangannya memainkan ujung sabuk pengamannya.

“Hmm?” sahut Aksa.

“Kenapa kamu baik banget sama aku? Maksudku, beneran cuma karena kamu suka ketenangan di toko buku itu? Nggak ada alasan lain yang lebih emosional?” Alea memberanikan diri bertanya, matanya menatap Aksa dengan penuh rasa ingin tahu.

Aksa terdiam cukup lama, suasana di dalam mobil hanya diisi oleh suara radio yang memutar lagu jazz pelan. “Alea, kadang di hidup ini, kita butuh sesuatu buat dijaga supaya kita ngerasa punya tujuan yang nggak ada hubungannya sama target perusahaan atau angka di rekening bank. Mungkin, buat saat ini, menjaga rutinitas kita adalah caraku untuk tetap waras. Kamu nggak perlu mencari alasan yang lebih rumit dari itu.”

Alea menatap mata Aksa, mencari setitik kebohongan di sana, tapi yang dia temukan cuma kejujuran yang kokoh dan dingin. “Makasih, Aksa. Beneran. Kamu sudah menyelamatkan hidupku lebih dari yang kamu tahu.”

Alea tidak tahu bahwa pria yang sedang tertawa kecil bersamanya ini sebenarnya sedang memegang kendali penuh atas nasib mantannya yang toxic. Dia juga tidak tahu bahwa rencana lembur yang disusun Aksa adalah cara pria itu untuk memastikan masa lalu Alea tetap berada di dalam kotak gelap yang tidak bisa terbuka.

Namun, di balik ketenangan martabak manis dan obrolan jazz malam itu, sebuah badai besar sedang bersiap. Besok, rutinitas biasa ini akan hancur berantakan karena sebuah kebetulan fatal yang melibatkan kunjungan mendadak ke kantor cabang logistik.

1
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ada baiknya kadang lepasin aja Al. Siapa tahu dia memang gak ada otak
Gaza Nesia
playing victimmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!