Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Luka yang Belum Mengering
Hening yang menyesakkan menyelimuti aula besar itu setelah pengakuan Kirana. Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara isakan Kirana yang kini berubah menjadi ketegasan yang dingin. Ia mencengkeram tangan Lyra dengan kuat, seolah takut jika ia lengah sedetik saja, putrinya akan ditelan oleh kemegahan mansion yang terkutuk ini.
"Ayo pergi, Lyra. Kita pulang," ucap Kirana dengan suara bergetar namun penuh penekanan.
"Ibu..." Lyra menatap ibunya dengan tatapan nanar. "Tapi Sean—"
"Tidak ada tapi, Lyra!" Kirana memotong tajam. Ia menoleh ke arah Edward yang masih berdiri mematung, lalu beralih ke Sean yang masih mendekap pinggang Lyra dengan posesif. "Jika sejak awal aku tahu bahwa kau adalah putra dari Edward Elgar, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuh seujung kuku putriku pun!"
Sean mengeraskan rahangnya. "Ibu, aku bukan ayahku. Aku tidak akan pernah meninggalkan Lyra. Aku sudah menikahinya!"
"Menikah?" Kirana tertawa getir, air mata kembali mengalir di pipinya. "Edward juga menjanjikan pernikahan padaku dua puluh sembilan tahun yang lalu! Dia bilang dia mencintaiku, dia bilang aku adalah dunianya. Dan lihat apa yang dia lakukan? Dia membuangku seperti sampah saat dia tahu aku sedang mengandung benihnya, hanya demi wanita angkuh ini dan harta Elgar!"
Edward melangkah maju dengan tangan terulur. "Kirana, kumohon, dengarkan aku dulu—"
"Jangan mendekat!" teriak Kirana histeris. "Jangan berani kau menyebut namaku dengan mulut yang sudah mengkhianati seluruh hidupku! Kau tidak tahu betapa menderitanya aku membesarkan anakmu sendirian di luar sana, sementara aku harus melihat putri kesayanganku ini dihina sebagai anak haram karena perbuatanmu!"
Kirana menatap Martha dan Celia dengan kebencian murni. "Kalian menyebut putriku noda? Kalian menghinanya seolah dia sampah? Lyra adalah segalanya bagiku! Dia adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup setelah kau menghancurkanku, Edward! Dan sekarang, kau ingin membiarkan putramu menjeratnya di tempat yang penuh dengan orang-orang berhati busuk ini?"
"Ibu, Sean melindungiku..." bisik Lyra pelan, mencoba menenangkan ibunya.
"Melindungimu?" Kirana menangkup wajah Lyra dengan kedua tangannya yang gemetar. "Nak, lihat Ibu. Pria Elgar tidak tahu cara mencintai. Mereka hanya tahu cara memiliki dan menjerat. Lihat lehermu, lihat tanda-tanda yang dia buat padamu. Itu bukan cinta, Lyra. Itu adalah rantai! Dia mengurungmu karena dia sama egoisnya dengan ayahnya!"
Sean menarik Lyra lebih dekat ke dadanya, matanya berkilat gelap. "Aku tidak akan membiarkan Lyra pergi. Dia istriku, Ibu Kirana. Sah di mata hukum dan Tuhan."
"Hukum bisa dibeli oleh uangmu, Sean! Tapi restuku tidak!" Kirana menarik lengan Lyra dengan paksa. "Lyra, jika kau masih menganggapku ibumu, ikut aku sekarang. Jangan biarkan dirimu menjadi 'hiburan' atau pemuas nafsu bagi keluarga yang sudah menginjak-nginjak harga diri kita!"
Lyra terjepit di antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, ia melihat ibunya yang hancur karena cinta masa lalu pada pria Elgar. Di sisi lain, ia merasakan dekapan Sean yang posesif, pria yang telah merenggut segalanya darinya namun juga menjadi satu-satunya pelindungnya.
"Sean... lepaskan aku dulu," lirih Lyra, air matanya jatuh mengenai tangan Sean yang melingkar di perutnya.
"Tidak, Lyra! Jika kau pergi sekarang, aku tahu kau tidak akan kembali," geram Sean, suaranya parau karena ketakutan yang nyata. "Jangan dengarkan masa lalu itu. Ini tentang kita!"
"Ini bukan hanya tentang kalian!" Kirana berteriak. "Ini tentang luka dua puluh sembilan tahun yang tidak akan pernah kering! Aku tidak akan membiarkan putriku berakhir sepertiku, menangis setiap malam karena dikhianati oleh pria Elgar!"
Kirana menyentakkan tangan Lyra hingga terlepas dari dekapan Sean. Keadaan menjadi kacau saat Sean mencoba meraih Lyra kembali, namun Tuan Besar Elgar tiba-tiba angkat bicara.
"Sean, biarkan mereka pergi," ujar Kakek dengan suara berat yang penuh wibawa.
"Kakek?!" Sean menoleh tak percaya.
"Biarkan wanita itu membawa putrinya. Beri mereka waktu. Kau sudah melakukan terlalu banyak kesalahan hari ini," Kakek menatap Sean dengan tajam. "Jika kau benar-benar mencintainya, kau harus belajar bahwa cinta tidak selalu tentang jeratan dan paksaan."
Sean mematung. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Ia hanya bisa menatap dengan mata merah saat Kirana menyeret Lyra keluar dari aula, meninggalkan kemegahan mansion yang kini terasa seperti kuburan bagi Sean.
Begitu pintu besar itu tertutup, Sean menghantamkan tinjunya ke meja makan hingga gelas-gelas kristal pecah berantakan.
"Aku akan menjemputnya kembali," desis Sean dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya. "Siapa pun yang menghalangiku, bahkan jika itu ibunya sendiri... aku tidak akan tinggal diam. Lyra adalah milikku, dan tidak akan ada yang bisa membawanya pergi selamanya dariku."
Malam itu, Sean Nathaniel Elgar kembali ke dalam kegelapan obsesinya, sementara Lyra dibawa pergi menuju masa lalu yang penuh dengan air mata dan rahasia yang masih tersimpan rapat.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...