"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Mansion Dirgantara yang megah di pusat Jakarta pagi itu tidak sedamai biasanya. Suasana tegang menyelimuti ruang makan yang luas, di mana aroma roti panggang dan kopi organik seolah kalah oleh hawa dingin yang terpancar dari wajah Rangga.
Di ujung meja, Arkan yang baru berusia lima tahun duduk dengan punggung tegak, namun matanya yang jernih mulai berkaca-kaca. Di tangannya, ia memegang sebuah brosur taman bermain indoor terbesar di Jakarta yang ia temukan dari majalah langganan pelayan.
"Ayah... Arkan mau ke sini. Ada istana balon dan mandi bola. Teman Arkan di buku cerita juga pergi ke taman bermain," suara Arkan mencicit, mencoba keberuntungannya.
Rangga meletakkan tablet bisnisnya dengan suara denting yang tajam. Ia menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara kasih sayang yang dalam dan obsesi kontrol yang ekstrem.
"Tidak, Arkan. Sudah Ayah katakan semalam, Ayah sudah membangun perosotan dan kolam bola di halaman belakang. Di sana lebih bersih, lebih aman, dan tidak ada orang asing yang menyentuhmu."
"Tapi Arkan mau lihat anak-anak lain, Ayah! Arkan bosan di rumah terus!" teriak Arkan, keberaniannya muncul karena rasa jenuh yang memuncak.
"Keputusanku mutlak, Arkan Dirgantara. Dunia luar itu kotor. Ada kuman, ada penculik, dan ada orang-orang ceroboh yang bisa menabrakmu. Kau tetap di sini," ucap Rangga dingin, tanpa kompromi.
Seketika, pertahanan Arkan runtuh. Anak yang biasanya tegar dan penurut itu meledak dalam tangisan yang memilukan. Ia menangis sejadi-jadinya, bahunya berguncang hebat, dan suara tangisnya menggema di seluruh ruangan. Ia melempar brosur itu ke lantai dan menyembunyikan wajahnya di atas meja.
Mendengar suara tangisan Arkan yang begitu memilukan, Alya yang baru saja menuruni tangga segera mempercepat langkahnya. Perutnya yang besar karena mengandung bayi kembar perempuan—yang diprediksi Dokter Hans akan menjadi dua putri cantik—membuat gerakannya sedikit terbatas, namun insting ibunya jauh lebih cepat.
Alya langsung memeluk Arkan, mengusap punggung putranya dengan lembut. "Sshh... Arkan, Sayang. Sudah, jangan menangis lagi."
Alya menatap Rangga dengan pandangan tajam, sebuah tatapan yang hanya berani dilakukan olehnya kepada sang penguasa Dirgantara. "Arkan, naiklah ke kamarmu dulu. Cuci mukamu, nanti Ibu susul ya?"
Arkan mengangguk sesenggukan dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. Setelah Arkan menghilang dari pandangan, Alya berbalik menghadap Rangga yang masih duduk kaku di kursinya.
"Mas, sampai kapan kau mau mengurungnya seperti ini?" suara Alya lembut namun penuh penekanan.
Rangga mendongak, matanya masih memancarkan sifat posesif yang keras. "Aku menjaganya, Alya. Kau lihat apa yang terjadi di Swiss kemarin? Dia hampir hilang! Aku tidak akan mengambil risiko sekecil apa pun di kota sebuas Jakarta ini."
Alya menghela napas, ia duduk perlahan di depan Rangga dan menggenggam tangan suaminya yang dingin. "Mas, dengarkan aku. Arkan itu masih kecil. Dia belum mengerti apa-apa tentang bahaya dunia atau musuh-musuhmu. Dia hanya seorang anak laki-laki yang ingin melihat warna-warni dunia luar."
Alya mengusap perut kembarnya yang tiba-tiba menendang, seolah setuju dengan perkataannya. "Kita sebagai orang tua memang harus menjaganya, tapi tugas kita juga membahagiakannya. Bukankah ini yang kau inginkan sejak kita di Alpen? Melihat kami bahagia? Kebahagiaan bukan hanya tentang keamanan, Mas, tapi tentang kebebasan untuk tumbuh."
Rangga terdiam. Kata-kata Alya merayap masuk ke celah-celah hatinya yang keras. Ia melihat ke arah tangga, membayangkan wajah Arkan yang sembab karena tangisannya tadi.
"Jika kau terus mencekiknya dengan proteksimu yang berlebihan, dia tidak akan tumbuh menjadi pria yang kuat sepertimu, Mas. Dia justru akan tumbuh dengan ketakutan," lanjut Alya lagi. "Cintai kami dengan cara yang membuat kami merasa hidup, bukan merasa terpenjara."
Rangga tertegun dalam keheningan yang panjang. Ia mencerna setiap kata yang diucapkan istrinya. Ia teringat masa kecilnya sendiri yang penuh dengan kekosongan dan tekanan dari Baskara. Ia tidak ingin Arkan merasakan hal yang sama, namun tanpa sadar, ia justru menjadi versi lain dari ayahnya dalam hal kontrol.
Setelah beberapa saat, Rangga berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah menuju lantai dua, menuju kamar Arkan yang berpintu kayu jati besar.
Ia membuka pintu kamar itu perlahan. Di sana, Arkan sedang meringkuk di atas tempat tidur besar, masih sesenggukan kecil sambil memeluk boneka beruang pemberian Alya.
Rangga duduk di tepi tempat tidur. Sifat kaku dan dinginnya luruh seketika melihat kerapuhan putranya. Ia mengulurkan tangan, mengusap rambut Arkan yang berantakan.
"Arkan..." bisik Rangga.
Arkan menoleh, matanya masih merah. Ia tampak takut Ayahnya akan memarahinya lagi karena menangis.
"Maafkan Ayah," ucap Rangga pelan—kata yang sangat sulit keluar dari mulut seorang Rangga Dirgantara. "Ayah hanya terlalu takut kehilanganmu. Tapi Ibu benar... kau berhak bahagia."
Rangga menarik napas panjang. "Besok... bersiaplah. Ayah akan membawamu dan Ibu ke taman bermain yang kau mau. Kita akan bermain di luar. Tapi kau harus janji, jangan pernah melepaskan tangan Ayah atau Ibu, mengerti?"
Mendengar itu, wajah Arkan langsung berubah cerah. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Benar, Ayah? Kita boleh pergi ke istana balon?"
Rangga tersenyum tipis—senyum tulus yang jarang ia tunjukkan. "Iya, benar. Besok kita pergi."
Arkan langsung melompat dan memeluk leher ayahnya dengan erat. "Terima kasih, Ayah! Arkan sayang Ayah!"
Rangga membalas pelukan itu, merasakan detak jantung putranya yang murni. Di ambang pintu, Alya berdiri sambil mengusap perutnya, tersenyum haru melihat pemandangan itu. Sang Singa akhirnya belajar untuk sedikit melonggarkan cengkeramannya demi kebahagiaan orang-orang yang ia cintai.
Meskipun Rangga setuju, namun bukan Rangga Dirgantara namanya jika tidak melakukan "penyesuaian" keamanan. Malam itu juga, ia menghubungi pengelola taman bermain tersebut. Ia tidak menyewa seluruh tempat karena Alya ingin Arkan melihat anak-anak lain, namun Rangga memerintahkan tim kebersihannya untuk mensterilkan seluruh area sebelum mereka datang.
"Mas, jangan terlalu berlebihan," tegur Alya saat melihat Rangga sedang memeriksa walkie-talkie tim keamanannya.
"Ini kompromiku, Alya," jawab Rangga sambil membantu Alya berbaring di tempat tidur. "Dia boleh bermain dengan anak lain, tapi kebersihan dan keamanan tetap nomor satu. Apalagi kau sedang hamil kembar perempuan. Putri-putriku tidak boleh terpapar udara yang tidak sehat di sana."
Rangga merebahkan kepalanya di perut Alya, merasakan tendangan ganda dari dua bayi perempuan di dalamnya. "Halo, Putri-putri Ayah. Besok kita akan menjaga kakakmu bermain. Kalian jadilah anak baik di dalam sana, jangan buat Ibu lelah, ya?"
Alya tertawa pelan. Ia tahu, meskipun Rangga mulai belajar untuk "normal", sifat posesif dan protektifnya adalah bagian dari jati dirinya yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun malam ini, ia merasa sangat bersyukur.
Keesokan paginya, Jakarta disambut dengan langit yang cukup cerah. Arkan sudah bangun sejak subuh, mengenakan pakaian terbaiknya dan tas punggung kecilnya.
Iring-iringan mobil Dirgantara berangkat menuju pusat perbelanjaan tempat taman bermain itu berada. Rangga menggandeng tangan Arkan dengan sangat erat, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Alya yang berjalan perlahan.
Begitu sampai di taman bermain, mata Arkan berbinar melihat warna-warni lampu dan istana balon yang besar. Rangga berdiri di pinggir area permainan, matanya terus memantau setiap pergerakan Arkan seperti radar yang tidak pernah mati.
"Lihat dia, Mas. Dia sangat bahagia," bisik Alya sambil duduk di kursi yang sudah disiapkan khusus oleh Rangga (yang tentu saja sudah disterilkan).
Rangga melihat Arkan sedang tertawa lepas sambil mengejar bola-bola plastik. Untuk pertama kalinya, Rangga merasa bahwa risiko yang ia takutkan selama ini sepadan dengan tawa yang ia dengar sekarang.
"Kau benar, Alya. Kebahagiaan mereka adalah tujuanku," ucap Rangga pelan.
Bersambung....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/