NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 3

Akhkk! Sakit nian, pelan-pelan wah, menyusunya.” Ringis Nadya. Alisnya berkerut dalam, bibirnya berdesis pelan. 

“Masih sakit?” tanya seorang paruh baya yang datang membawa sepiring kue talam dan segelas teh hangat. 

Nadya mengangguk pelan. Wajahnya masih meringis menahan sakit dan geli yang datang bersamaan. Tangannya terus-terusan meremas ujung bantal yang menopang tubuh Adam yang sedang menyusu di pangkuannya. 

“Sabar sedikit, nanti lama-lama juga terbiasa,” ucap wanita paruh baya itu—Bu Harmi, Ibunda Rizal. 

Sejak diperkenalkannya Nadya sebagai pengasuh sekaligus ibu susu cucu semata wayangnya, wanita paruh baya itu langsung memberi sambutan hangat dan menyiapkan apa saja yang dibutuhkan Nadya. 

“Kalau Adam sudah pulas, tidurkan saja, kamu tinggal makan jajanan atau mau makan nasi, biar Ibu siapkan,” lanjut Bu Harmi sambil membenarkan selimut Adam yang sedikit melorot.

“Tidak usah, Bu. Nadya masih kenyang,” jawab Nadya seraya tersenyum, sopan.  

“Ya sudah, Ibu tinggal ke depan, ya? Kalau butuh apa-apa panggil saja, jangan sungkan,” ujar Bu Harmi sambil berjalan keluar kamar.

Nadya tak menjawab, hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang masih tergaris di wajah manisnya. 

Ia kemudian menatap wajah polos Adam yang masih menyusu dengan lahap, sudut bibirnya terangkat lembut seraya bergumam pelan. “Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.” (Untung bapak kamu banyak duit, kalau tidak, tidak sudi aku menyusui kamu) 

Di ruangan yang berbeda, tepatnya di ruang tamu, perdebatan sengit terjadi. Bu Sartini mertua atau ibu almarhum Sukma—istri Rizal, berdiri sambil berkacak pinggang. Dengan suara tinggi ia terus mencerca Rizal yang membawa pulang Nadya tanpa meminta persetujuan darinya. 

“Kamu ‘kan bisa minta Dewi untuk menjadi pengganti Almarhum Sukma, Zal. Bukan malah membawa wanita yang tidak jelas asal-usulnya!” oceh Bu Sartini tanpa mendengar lebih dulu penjelasan dari Sang anak menantu.

“Mah, Dewi itu masih sekolah, gimana bisa Rizal minta dia menyusui Adam, lagi pula Nadya wanita baik, Rizal ndak laju asal ambil kalau ndak tau asal-usulnya,” jelas laki-laki itu, sedikit berdusta.  

“Tau dari mana kamu dia itu perempuan baik, kamu saja ndak jelas ketemu dia di mana, laju bilang dia baik? Cih, mamah ndak ikhlas yo, Zal, kalau Adam jadi anak ndak bener gara-gara nyusu ama dia.” Bu Sartini menajamkan suaranya, tatapannya sinis ke arah Rizal yang sedikit menunduk.

“Mah?!” 

“Telinga kamu ndak dengar? Baru menyusui sehari mulutnya sudah berteriak tidak karuan, mengumpat di depan bayi yang baru lahir, apa itu baik?” sungut Bu Sartini. “Dokter saja bilang Dewi bisa di suntik induksi apa kemarin itu, dia sekolah ndak seharian pula, masih bisa bagi waktu kalau hanya untuk menyusui Adam,” lanjutnya, sambil menatap sengit ke arah Rizal. 

Bu Harmi—ibunda Rizal, yang baru mengantar kue talam ke kamar Nadya turut menyahut, wanita keturunan Jawa itu, menepuk pundak anak laki-lakinya seraya berkedip memberi tanda untuk diam saja. 

“Adam itu bukan cuma butuh ibu susu, Bu Sar, tapi juga butuh orang yang bisa menjaganya. Rizal ‘kan harus bekerja, saya juga repot dengan jahitan, kalau tidak ada pengasuh bisa kelimpungan semua,” jelas wanita bersuara lembut itu. 

“Halah. Saya juga bisa setiap hari datang kalau cuma menjaga saja, atau Adam bisa saya bawa pulang ke rumah saya, tidak harus mengambil penjaga yang tidak jelas begitu.” protes Bu Sartini tak mau kalah.

Rizal menghela napas berat sambil mengusap wajahnya kasar, ia lalu beranjak dari duduknya, mengambil walkie-talkie yang terselip di ikat pinggangnya. 

“Kenapa, Sir?” tanyanya pada sumber suara.

“Ada yang perlu pengecekan Abang.” Suara Yasir, salah seorang anak buah Rizal menyahut di seberang. 

“Ok. Aku segera ke lokasi,” jawab Rizal seraya berpamitan dengan sang ibu mertua. “Ya sudah mah, nanti kita bicara lagi, Rizal harus kembali ke areal dulu.” 

Sebelum pergi, Rizal lebih dulu menuju kamar sang putra, mengintip sekilas punggung Nadya yang sedang memangku Adam sembari bersenandung. 

Bu Sartini menatap sinis langkah menantunya, bibir tipisnya bergumam tanpa suara, lalu beranjak menuju kamar sang cucu. 

“Bayi itu di dengarkan sholawatan, bukan lagu percintaan,” serunya membuat si pemilik kamar tersentak seketika. 

Nadya memutar bola matanya, jengah. Sejak kedatangannya kemarin, wanita paruh baya itu selalu saja mengoceh, menyalahkan apapun yang dilakukan Nadya dan membandingkannya dengan anaknya yang sudah tiada, atau Dewi—anak gadisnya adik dari almarhumah Sukma. 

“Gimana cucuku bisa paham agama kalau yang jaga saja ngertinya cuma lagu cinta.” Bu Sartini terus saja mengoceh seraya mengambil Adam dari pangkuan Nadya. 

Nadya menatap malas, bibirnya bergumam pelan. “Bayi merah mana sudah paham agama, yang penting perut dia kenyang, ndak rewel, laju beres urusan, repot betul perkara nyanyi doang.”  

Wanita berambut keriting itu mendengus kesal, tatapannya tajam ke arah Nadya. “Ck, begini yang dibilang baik sama Rizal? Di nasehatin orang tua saja menjawab, tidak punya sopan santun.” 

Nadya membalas tatapan tajam Bu Sar, lalu berjalan santai mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu. “Lebih ndak sopan mana dengan orang yang masuk kamar tanpa mengetuk pintu? Kayak mana kalau saya lagi telanjang?!” 

Bu Sar mengeratkan rahangnya, bibirnya masih ingin mengoceh, namun Nadya sudah berjalan keluar kamar, tanpa memperdulikan dirinya yang sudah meradang. 

“Bu, Nadya mandi sebentar, Adam sama neneknya, lagi disuruh menghafal ayat-ayat pendek kayanya,” celetuk Nadya begitu keluar dari kamar. “Heran, kayak Nadya ini ndak paham agama saja, tiap datang ngoceh perkara akhlak dan sopan santun.” imbuhnya sambil berjalan menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur. 

Bu Harmi yang sedang sibuk di dapur mengangguk pelan, senyum samar tergaris di wajahnya yang teduh. Ia lalu menghampiri Nadya, mengusap lembut punggung gadis muda itu seraya berujar pelan. 

“Jangan di dengarkan, orangnya memang begitu. Cerewet.” 

Senja merayap pelan, memberi semburat kuning pada hamparan perkebunan sawit di lereng bukit barisan. Traktor-traktor mulai berjalan pulang ke garasinya, meninggalkan debu yang mengepul di jalanan beralas tanah merah. 

Di balik jendela, Nadya berulang kali mengutak-ngutik ponselnya, mengangkatnya tinggi berharap ada sinyal yang menyangkut barang cuma segaris, namun nihil, jangankan sinyal pemberitahuan adanya jaringan kartu saja tidak muncul di handphonenya. 

Gadis manis itu mendengus kecil, lalu menoleh cepat saat mendengar suara ketukan di balik pintu kamarnya.

“Masih belum dapat sinyal?” tanya Rizal, begitu pintu terbuka dan mendapati Nadya sedang mengangkat tinggi ponselnya.   

“Ck, tau bakal dibawa ke pelosok begini, ndak sudi saya nerima tawaran, Abang.” keluh Nadya sembari melirik sinis. 

Rizal terkekeh kecil, lalu menatap sang putra yang tertidur lelap. “Hari ini Adam rewel tidak?” 

Nadya berjalan mendekat, kemudian membenarkan kain yang menyelimuti tubuh mungil Adam. “Ndak, neneknya yang rewel luar biasa, macam burung beo ndak di kasih makan satu minggu.” 

Rizal kembali terkekeh. “Jangan didengarkan, dari zaman mamanya Adam masih ada juga kerjaannya emang ngomel orang itu.” 

Gadis manis dengan rambut sebahu itu berdecak pelan, bibir mungilnya menyeringai kecil. “Cih, pantes saja.” 

“Kamu ada hal penting yang perlu kamu hubungi? Kalau ada, besok Abang bawa ke kantor, di sana lumayan banyak sinyal,” tawar Rizal. 

“Nggak, cuma mau ngecek aja ada kabar apa di luaran sana,” sahut Nadya sedikit menyindir. 

Biasa hidup di tengah kota dengan hiruk pikuk dan segala gemerlapnya, membuat gadis manis itu sedikit terkejut saat pertama kali tiba di rumah Rizal. 

Tempat tinggal laki-laki yang merupakan Estate Manager di sebuah perkebunan kelapa sawit itu memang sedikit terpencil. Sebuah desa kecil yang berada di tengah-tengah rimbunnya hutan bukit barisan yang jauh dari hingar bingar perkotaan. 

Jangankan jaringan telepon, satu hari tidak ada pemadaman listrik saja sudah sebuah keberuntungan. 

Rizal kembali terkekeh kecil, ada gurat kagum di wajah tampannya tiap kali melihat Nadya berada di samping putra kecilnya. Ia kemudian membelai wajah polos Adam yang tertidur lelap, mengecup singkat pipi Adam yang mulai terlihat berisi. 

“Keperluanmu masih ada semua?” tanyanya setelah puas melepas rindu pada sang putra.

“Masih, entar juga kalau habis aku laporan. Ndak sudi pula aku ngeluarkan duit buat beli sendiri,” seloroh Nadya. 

Rizal menunduk pelan, menyembunyikan senyum yang tergaris di bibir tipisnya. “Iya, kamu tinggal bilang aja, nanti Abang belikan semua yang kamu butuhkan.” 

“Jangan cuma pembantu itu yang dibelikan, aku juga harus dibelikan!”

Bersambung. 

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!