Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.
Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.
Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:
Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.
Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi di markas itu terasa berbeda.
Tidak ada suara hirup piuk kota. Tidak ada kendaraan lalu lintas. Hanya desiran angin laut yang menabrak tebing dan gema langkah kaki di lorong baja.
Lyra berdiri di depan jendela sempit ruang istirahat, memandangi laut yang tampak tak berujung.
Dunia terasa sunyi.
Namun di balik kesunyian itu, ia bisa merasakan sesuatu bergerak. Persiapan. Perhitungan. Ancaman yang belum terlihat.
tiba-tiba Di belakangnya, pintu terbuka pelan.
Damian masuk.
Ia sudah mengenakan kemeja hitam baru. Luka di sisinya masih dibalut, tapi posturnya kembali tegak seperti biasa. Dingin. Tak Terkendali.
Namun Lyra kini bisa melihat sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.
Kelelahan yang disembunyikan.
“kamu Tidak bisa tidur?” tanya Lyra tanpa menoleh.
“suda Terbiasa,” jawab Damian singkat.
Lyra akhirnya menoleh.
“Kau selalu seperti ini?”
“Seperti apa.”
“Seolah dunia adalah beban yang harus kau bawa sendirian.”
Hening jatuh.
Damian berjalan mendekat ke jendela, berdiri di sampingnya. Laut di depan mereka gelap meski matahari sudah naik.
“Sendiri adalah cara paling aman,” katanya pelan.
Lyra mengangguk kecil.
“Dulu aku juga pikir begitu.”
Damian menoleh sedikit.
“Dulu?”
Lyra tersenyum tipis.
“Sampai aku sadar… bertahan sendirian bukan berarti kuat. Kadang itu cuma berarti tidak punya pilihan.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Damian tidak menjawab.
Namun sesuatu dalam tatapannya berubah.
---
Ruang Kendali — Konflik Internal
Sementara itu, di ruang kendali, suasana jauh lebih tajam.
Kael berdiri dengan tangan terlipat. Aidan di samping layar pengawasan. Lucian duduk di kursi operator, namun tidak ada santai dalam gerakannya kali ini.
“Situasi berubah,” kata Kael datar. “Dan penyebabnya jelas.”
Lucian tidak mengangkat kepala.
“Kita tidak menyalahkan seseorang yang menyelamatkan nyawa pemimpin kita, kan?”
Aidan berbicara tanpa emosi,
“Ini bukan soal menyelamatkan. Ini soal kerentanan.”
Kael menatap layar peta.
“Musuh tidak mengejar organisasi kita. Mereka mengejar keputusan Damian.”
Lucian akhirnya menoleh.
“Jadi kita menyalahkan perasaan manusia?”
“Dalam dunia kita,” jawab Kael, “perasaan adalah celah dan bisa menjadi kelemahan kita.”
Hening menekan ruangan.
Aidan berkata pelan,
“Jika ia tetap di sini… kita semua menjadi target.”
Lucian menghela napas panjang.
“Dia sudah target sejak awal.”
Kalimat itu menghentikan perdebatan.
---
Ruang Istirahat — Kebenaran Pertama
Pintu ruang istirahat terbuka cepat. Tidak lama Kael masuk.
Tatapannya langsung pada Damian.
“Kita perlu bicara.”
Damian mengangguk.
“Bicara di sini.”
Kael melirik Lyra sebentar.
Namun Damian tidak memberi isyarat apa pun untuk menyuruhnya pergi.
Itu jawaban tersendiri.
Kael akhirnya berkata langsung,
“Tim tidak sepakat dengan keputusanmu.”
Lyra menatap mereka bergantian.
Damian tetap tenang.
“Keputusan apa.”
“Menjadikannya bagian dari lingkaran kita.”
Hening.
Lyra berdiri lebih tegak.
“Aku tidak minta—”
Damian mengangkat tangan sedikit, menghentikannya.
Tatapannya tetap pada Kael.
“Ini bukan keputusan tim,” katanya pelan. “Ini keputusanku.”
Aidan masuk tanpa suara dan berdiri di samping Kael.
“Keputusan itu mengubah struktur risiko,” katanya.
Lucian muncul di ambang pintu.
“Dan mengubah rencana musuh.”
Lyra merasakan sesuatu berat menekan dadanya.
Ia menatap Damian.
“Katakan saja langsung,” katanya pelan. “Aku masalahnya.”
Tidak ada yang menjawab.
Dan justru itu jawabannya.
Lyra menarik napas dalam.
“Kalau aku pergi—”
“Tidak,” potong Damian tegas.
Satu kata.
Tanpa keraguan.
Lyra menatapnya.
“Kenapa.”
Damian akhirnya menoleh padanya.
Untuk pertama kalinya, semua lapisan pertahanan di wajahnya terasa tipis.
“Karena aku pernah membuat keputusan yang sama sebelumnya.”
Hening panjang.
“Aku pernah membiarkan seseorang pergi demi keselamatan,” lanjutnya pelan. “Dan itu… kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Suara laut terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Lyra tidak bertanya siapa.
Ia tidak perlu tahu.
Tapi ia bisa merasakan Rasa kehilangan itu terlalu jelas di mata Damian.
Kael akhirnya berkata pelan,
“Jika ini keputusan finalmu… maka kita harus mengubah strategi.”
Aidan mengangguk.
“Musuh akan meningkatkan tekanan.”
Lucian menatap layar tablet.
“Dan mereka tidak akan berhenti sampai mendapat jawaban yang mereka inginkan.”
Damian menatap satu per satu anggota timnya.
“Kalau begitu kita tidak akan memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.”
---
Panggilan Tak Terduga
Alarm kecil berbunyi dari sistem komunikasi.
Lucian menegang.
“Transmisi terenkripsi masuk… bukan dari jaringan kita.”
Kael langsung siaga.
“Aktifkan proyeksi.”
Layar holografik menyala.
Bukan wajah yang terpampang pada layar.
Hanya simbol asing.
Lalu suara pria misterius itu kembali terdengar. Tenang. Dingin. Dan pasti.
“Selamat pagi, Damian.”
Lyra merasakan udara di ruangan membeku.
“Kau bergerak sesuai prediksi,” lanjut suara itu. “Namun ada satu variabel yang belum kupastikan.”
Hening.
Damian menjawab,
“Apa yang kau inginkan.”
“Bukan yang kuinginkan,” jawab suara itu. “Yang akan kau pilih.”
Simbol di layar berubah menjadi koordinat digital.
“Misi pertama untuk melindungi gadis itu telah dimulai.”
Lyra menatap layar.
Koordinat itu menunjuk ke satu lokasi di daratan.
“Datang sendiri ke tempat yang aku tunjuk,” lanjut suara itu pelan. “Atau biarkan permainan berakhir lebih cepat dari yang kau harapkan.”
Transmisi terputus.
Ruangan tenggelam dalam keheningan.
Lyra menatap Damian.
Damian menatap koordinat itu tanpa berkedip.
Dan semua orang di ruangan itu tahu—
Pilihan tidak lagi bisa ditunda.
---