(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 113: Reuni di Bawah Cahaya Bulan
Malam telah turun menyelimuti Ibukota Kerajaan Zhao.
Meski Kapal Roh Teratai Darah raksasa masih mengambang di atas awan, suasana di dalam Paviliun Bersantap Istana Zhao tidak lagi dipenuhi keputusasaan, melainkan kebingungan yang luar biasa canggung.
Keluarga kerajaan sedang duduk mengelilingi meja makan. Tiga jam yang lalu, sang dewi es dari Benua Tengah yang nyaris meratakan istana mereka, tiba-tiba menyatakan bahwa ia akan menjadikan paviliun tamu istana sebagai kediaman sementaranya untuk "mengawasi" wilayah ini. Dan yang paling tidak masuk akal: ia melarang anak buahnya melukai satu pun manusia fana di Kerajaan Zhao.
Zhao Ling, yang sedari tadi menopang dagu, tiba-tiba memecah keheningan dengan tawa tertahan. Ia menoleh ke arah adik bungsunya yang sedang mengunyah daging panggang dengan wajah datar tanpa dosa.
"Aku tidak percaya ini," goda Zhao Ling, menyikut lengan Zhao Xuan. "Adik kecil kita yang wajahnya selalu sekaku balok es, tiba-tiba melangkah maju dan memberikan saputangan kepada wanita paling menakutkan di dunia? Xuan'er, sejak kapan kau belajar merayu dewi dari langit?"
Uhuk!
Zhao Tian yang sedang minum teh langsung tersedak. Ia menepuk-nepuk dadanya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Benar! Aku mengira Xuan'er hanya peduli pada manisan Tanghulu dan tidur siang. Siapa sangka, selera adik bungsu kita ternyata wanita dewasa yang bisa membelah gunung!"
Raja Zhao menghela napas panjang, memijat pelipisnya antara lega dan pusing. Sementara itu, Sang Ratu (yang rahasia Roda Bintangnya masih aman tersimpan) menatap putra bungsunya dengan raut wajah khawatir bercampur geli.
"Xuan'er sayang," Sang Ratu mengusap pipi putranya dengan lembut. "Ibu bangga kau sangat berani melindungi keluarga kita. Tapi... Nona Xiao itu sangat, sangat berbahaya. Dan usianya pasti ratusan tahun lebih tua darimu. Cinta monyet pertamamu ini terlalu ekstrem, Nak."
Zhao Xuan menghentikan kunyahannya.
Sang mantan Asura yang tangannya pernah bermandikan darah jutaan kultivator, yang merancang pembantaian dewa-dewa kini menatap keluarganya dengan ekspresi datar tanpa emosi yang paling epik. Di dalam hatinya, ia sedang memukul kepalanya sendiri ke dinding.
Cinta monyet? Merayu? batin Zhao Xuan meratap. Jika kalian tahu bahwa dewi menakutkan itu dulu sering menangis memohon agar aku tidak membunuhnya saat latihan, kalian tidak akan tertawa.
"Aku tidak menyukainya, Ibunda," jawab Zhao Xuan datar, mencoba membersihkan nama baiknya. "Dia terlihat seperti seseorang yang sedang tersesat dan butuh saputangan. Itu saja."
"Oh, tentu saja," Zhao Ling mencubit pipi adiknya gemas. "Dan wajah dewi itu langsung memerah saat menerima saputanganmu! Astaga, Pangeran Ketiga kita memang penakluk hati nomor satu di Kerajaan Zhao!"
Keluarga itu kembali tertawa lepas, merayakan keselamatan mereka dengan candaan hangat. Zhao Xuan hanya bisa menghela napas pasrah, membiarkan keluarganya menikmati kebahagiaan fana ini. Selama mereka bisa tertawa seperti ini, Zhao Xuan rela diledek sebagai balita buaya darat seumur hidupnya.
Menjelang tengah malam, saat seisi istana telah terlelap, suasana di Taman Teratai Belakang Istana sangat sunyi.
Cahaya bulan memantul di permukaan kolam. Di tepi jembatan kayu, sesosok wanita bergaun sutra merah darah berdiri mematung. Xiao Mei telah melepaskan cadarnya. Wajahnya yang memukau tampak pucat, cemas, dan penuh harap. Ia telah mengusir semua Tetua dan pengawalnya kembali ke kapal.
Terdengar suara langkah kaki yang sangat ringan dari arah koridor bayangan.
Xiao Mei menahan napasnya. Ia berbalik perlahan.
Dari balik bayangan pilar batu, keluarlah seorang remaja berusia dua belas tahun. Ia mengenakan jubah sutra biru gelap yang sederhana. Wajahnya adalah wajah seorang anak laki-laki fana yang tampan. Namun, saat remaja itu melangkah ke bawah cahaya bulan, seluruh postur tubuh, ritme napas, dan aura di sekitarnya berubah drastis.
Bukan lagi Zhao Xuan si pangeran bungsu yang polos. Ini adalah langkah sang penguasa kematian. Ini adalah bayangan yang menelan langit Benua Tengah.
Mata hitam pekat remaja itu menatap lurus ke mata zamrud Xiao Mei. Sudut bibirnya melengkung, mengukir senyuman arogansi absolut yang mustahil ditiru oleh siapa pun di alam semesta ini.
"Kau tumbuh lebih tinggi, Xiao Mei," suara renyah remaja itu memecah keheningan, nada bicaranya memancarkan dominasi mutlak. "Atau mungkin... tubuh fana ini yang terlalu pendek."
Mendengar nada suara itu, pertahanan jiwa Xiao Mei yang telah membeku selama dua belas tahun hancur berkeping-keping.
Air mata menderas dari mata zamrudnya. Sang dewi Soul Transformation yang ditakuti oleh miliaran kultivator itu langsung menjatuhkan dirinya, berlutut dengan kedua kaki di atas kayu jembatan. Ia membungkuk dalam-dalam hingga dahinya menyentuh ujung sepatu kain Zhao Xuan.
"Tuan... Tuan Bayangan..." suara Xiao Mei bergetar hebat, isak tangisnya pecah membelah malam. "Mei'er tahu... Mei'er tahu Tuan tidak akan mati semudah itu. Tuan kembali... Tuan benar-benar kembali..."
Zhao Xuan menunduk menatap wanita yang menangis tersedu-sedu di kakinya. Ia mengingat kembali hari di mana tubuh Asuranya dihancurkan oleh jarum Nirvana, dan bagaimana Xiao Mei harus menyaksikan semua itu tanpa daya.
Mata hitam sang Asura sedikit melembut. Ia mengulurkan tangan kecilnya, meletakkannya di atas kepala Xiao Mei, dan mengusap rambut sutra wanita itu dengan kikuk.
"Berhentilah menangis. Kau sekarang adalah monster di ranah Awal Soul Transformation, bukan pelayan lelang yang lemah," tegur Zhao Xuan pelan, meski nada suaranya sama sekali tidak memancarkan Niat Membunuh. "Dan berdirilah. Jika keluargaku melihat seorang dewi berlutut menangis di depan anak berusia dua belas tahun, mereka akan benar-benar mengira aku menggunakan pelet ilmu hitam."
Xiao Mei mendongak, wajah cantiknya dibanjiri air mata namun ia tertawa kecil mendengar humor kering tuannya. Ia perlahan berdiri, namun tidak berani menatap sejajar. Ia menundukkan wajahnya sedikit, mengingat perbedaan tinggi badan mereka yang sekarang sangat ironis. Xiao Mei jauh lebih tinggi dari tuannya saat ini.
"Di hadapan Tuan, ranah apa pun tidak ada artinya," bisik Xiao Mei, menghapus air matanya. Matanya memancarkan kesetiaan yang nyaris fanatik. "Mei'er selalu, dan akan selalu menjadi pelayan Tuan. Tapi... bagaimana Tuan bisa berada di dalam tubuh pangeran fana ini? Dan Dantian Tuan... kosong?"
Zhao Xuan berjalan menuju pagar jembatan, menyandarkan punggung kecilnya di sana. Ia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin abu-abu kusam.
"Cincin Jiwa Kuno menyedot sisa jiwaku sebelum jarum Yao menembus inti eksistensiku. Ia memaksaku bereinkarnasi ke dalam rahim Ratu fana di dunia ini," jelas Zhao Xuan singkat. Ia menatap telapak tangannya. "Tubuhku sekarang adalah daging fana murni. Tulang Emas Asura-ku telah hilang. Namun, aku telah menciptakan metode baru untuk menyerap kebocoran Qi dari celah dimensi yang kalian buka."
Mendengar nama Klan Yao disebut, Niat Membunuh Xiao Mei seketika meledak, membuat air kolam di sekitarnya membeku.
"Klan Yao... Leluhur Yao..." geram Xiao Mei, gigi taringnya bergemeretak. "Tuan, beri saya perintah. Kapal utama Yao Yan ada di perbatasan timur benua ini. Saya akan pergi ke sana malam ini, membakar kapalnya, dan memenggal kepala bajingan itu untuk membalaskan dendam Tuan!"
"Tenanglah," Zhao Xuan mengangkat tangannya, seketika memadamkan aura Yin Xiao Mei hanya dengan tatapannya. "Jika kau menyerang mereka sekarang secara terang-terangan, kakekmu Leluhur Xiao dan Leluhur Yao di alam atas akan turun tangan. Kita tidak akan memenangkan perang Nirvana di saat aku belum memiliki Qi yang cukup."
Zhao Xuan memutar Cincin Jiwa Kunonya. Sebuah rencana yang sangat gelap dan mematikan mulai terbentuk di otaknya.
"Mereka datang ke duniaku untuk bermain turnamen perburuan, bukan?" Zhao Xuan tersenyum dingin. "Kalau begitu, kita akan bermain sesuai aturan mereka. Biarkan Klan Yao dan Sekte Langit Absolut menyebar dan menguras sumber daya fana. Saat mereka lengah, pisau dari bayangan akan menyembelih murid-murid elit mereka satu per satu. Mereka tidak akan tahu apakah itu ulah Binatang Iblis, atau ulah hantu."
"Pisau dari bayangan?" Xiao Mei memiringkan kepalanya bingung.
Tepat saat itu, lima siluet berpakaian hitam ketat Jue Ying dan elit Sekte Langit Asura muncul dari balik pepohonan taman layaknya hantu, mendarat dengan satu lutut di belakang Zhao Xuan. Aura Tahap Pertama Pengumpulan Qi mereka terpancar tipis.
Xiao Mei terbelalak. Sebagai ahli Soul Transformation, ia baru menyadari keberadaan kelima anak fana ini saat mereka sengaja menampakkan diri. Teknik penyembunyian napas mereka sangat familiar.
"Perkenalkan, ini adalah taring baruku di dunia fana. Sekte Langit Asura," ucap Zhao Xuan. Ia menatap Xiao Mei. "Mulai besok, kau akan menggunakan statusmu sebagai penguasa wilayah ini untuk memberiku informasi intelijen mengenai pergerakan Klan Yao dan Sekte Langit Absolut. Jue Ying dan murid-muridku akan melakukan eksekusinya. Kita akan merampok semua batu spiritual mereka untuk membangkitkan kekuatanku kembali."
Xiao Mei menatap Tuan Bayangannya. Tubuhnya mungkin kecil, kultivasinya mungkin hilang, namun aura dominasi dan kejeniusan iblis itu tidak pudar sedikit pun. Hati Xiao Mei dipenuhi oleh rasa kagum dan cinta yang semakin dalam.
"Sesuai kehendak Asura," Xiao Mei membungkuk hormat, mengukir senyum mematikan yang selama ini hilang dari wajahnya. "Mari kita ubah dunia fana ini menjadi kuburan raksasa bagi musuh-musuh Tuan."