Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Di Bawah Bulan Purnama
Malam semakin larut, kami masih berada di kerajaan Alamore waktu itu.
Paman pun masih kebingungan akan kejadian yang menimpa Putri Aurora.
"Apa yang harus kita lakukan?" Paman mulai berfikir mengenai buku kuno yang biasa ia baca.
"Tuan, kita harus cepat menyelamatkan Putri Aurora," desak Mia.
"Apa yang akan terjadi bila Aurora mati?" tanyaku benar-benar tidak tahu.
"Dalam tubuh Putri Aurora terdapat mutiara abadi, jika pemilik mutiara abadi meninggal maka secara otomatis mutiara itu akan ikut hancur," jelas paman sambil berfikir.
"Lalu jika mutiara itu hancur apa yang terjadi?" tanyaku lagi.
"Maka tidak akan ada perdamaian, kemakmuran dan kejayaan lagi di bumi ini," tutur Paman dengan serius.
"Apa yang harus kita lakukan? bukankah Paman sering membaca buku kuno itu?" Dengan santai aku memegang dahiku karena mulai terasa lemas.
"Ada satu cara" Paman meyakinkan.
"Apa itu??" tanya kami semua serentak karena khawatir.
"Jika tubuh pemilik mutiara abadi meninggal dalam keadaan belum menikah, maka kita harus menikahkannya dengan pencampuran darah," jelas Paman.
"Menikah?, apa maksud Paman?" Aku terheran belum mengerti.
"Kita hanya perlu mempelai pria untuk menyelamatkan Putri Aurora," kata Paman sambil menatapku.
"Kenapa Paman menatapku?" tanyaku.
"Karena yang paling cocok untuk menolong Putri Aurora hanya Anda, Yang Mulia" Paman mendesakku.
"Kita harus melakukannya dengan segera sebelum rambut Putri Aurora menjadi putih" Mia memohon padaku.
Aku pun mulai berfikir, apa yang harus aku lakukan selain menuruti permintaan mereka.
"Baiklah Paman, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku bersedia menolong Aurora.
Aku pun segera melakukan apa yang pamanku instruksikan yaitu melukai telapak tanganku dan telapak tangan Aurora sehingga keluarlah darah dari telapak tangan kami. Setelah itu, kami berdua saling menggenggam satu sama lain supaya darah yang keluar dari telapak tangan kami bercampur menjadi satu. Namun, setelah apa yang kami lakukan tidak ada hal aneh pun yang terjadi. Terlihat rambut Aurora terus merambat memutih. Kami sangat bingung, kenapa tidak ada perubahan pada tubuh Aurora.
"Sinar rembulan Tuan, kita butuh sinar rembulan," sahut Mia dengan cepat.
"Iya betul, kita harus keluar ke area yang luas supaya sinar rembulan bisa menyinari kalian berdua," terang pamanku.
"Sumber mutiara abadi adalah bulan purnama, kebetulan malam ini adalah malam bulan purnama" Paman mulai menoleh ke atas langit.
Aku pun langsung menggendong Putri Aurora dan segera keluar dari kerajaan untuk mencari tempat yang bisa mendapat sinar bulan purnama.
"Di sini, tempat dimana Putri Aurora sering datangi karena tempat ini sumber energi baginya," jelas Mia menunjuk area pantai.
Kami pun mencoba menggenggam kan dan menyatukan telapak tangan kami kembali. Tiba-tiba cahaya putih keluar dari sela-sela telapak tangan kami berdua yang membuat kami semua tak sanggup untuk membuka mata. Seketika itu pandanganku mulai kabur dan melihat sesosok wanita yang sangat cantik, dan dia berkata,
"Jagalah mutiara abadi untukku, karena dia telah menjadi istrimu" Aku terbangun dari lamunanku.
Aku terdiam dengan apa yang baru saja muncul di hadapanku. Tak lama kemudian, aku tersadar ketika Aurora mulai bergerak, luka di dadanya pun sembuh kembali seperti semula serta rambutnya kembali menghitam. Aurora mulai membuka matanya dan ia pun berhasil diselamatkan.
"Tuan Putri, Anda selamat!" Mia sangat bahagia.
"Apa yang telah terjadi padaku?" tanya Aurora.
"Kau telah melakukan hal yang sangat bodoh, kau mengerti!?" sahutku sambil berdiri sembari membersihkan bajuku.
"Yang Mulia, Anda telah menyelamatkan dunia ini dari banyak bencana," kata pamanku sambil menepuk bahuku.
"Kenapa kalian menyelamatkanku? bukankah, aku adalah musuh kalian?" kata Aurora tak terima dirinya di selamatkan.
"Kau pikir, aku senang menyelamatkanmu?" Sambil kuarahkan pedangku yang penuh darah ke arah wajah Aurora.
"Kau tetap musuhku dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah keluargamu perbuat pada kerajaanku khususnya pada Ayahku," ujarku sambil memasukkan pedangku kembali.
"Aku juga tak ingin diselamatkan olehmu," kata Aurora sangat menjengkelkan.
"Kauu, ..." kucoba keluarkan pedangku kembali.
"Sudah Yang Mulia, jangan diteruskan" Paman mencoba merendam amarahku.
"Jika saja kau bukan pemilik mutiara abadi itu, aku tak segan-segan untuk membunuhmu," kataku penuh kesabaran.
"Sekarang, dengarkan saya, atas kejadian ini maka kalian berdua sudah menjadi suami istri di hadapan dewa," kata paman tanpa ragu mengatakannya.
"Apa? suami istri?" tanyaku ragu.
"Apa maksud semua ini, Mia?" tanya Aurora pada dayangnya itu.
"Benar Tuan Putri, satu-satunya cara menyelamatkan Anda dengan pernikahan dengan disertai kekuatan dewa rembulan," sambil menyilakan rambut Aurora yang sedikit menutupi wajahnya.
"Jika seperti ini adanya, aku minta selain kalian yang berada di sini, jangan sampai siapa pun tahu kalau aku menikahi putri dari musuhku sendiri, kalian mengerti?" tuturku memperingatkan Kai dan paman yang waktu kejadian itu bersamaku.
"Baik, Yang Mulia," jawab mereka berdua.
"Ayo kita kembali ke kerajaan Endom, dan bawa semua tahanan yang masih hidup, dan jangan lupa bawa mereka berdua juga sebagai tahanan," perintahku mulai ingin kembali ke kerajaanku sendiri.
Kami pun mulai perjalanan pulang menuju kerajaan Endom, di tengah perjalanan aku masih terus memikirkan hal-hal aneh yang telah terjadi di kerajaan Alamore. Aku juga tak percaya jika wanita yang selama ini muncul di dalam mimpiku telah muncul di hadapanku secara nyata. Karena terus memikirkannya aku pun mulai mengantuk dan tertidur sebentar di dalam kereta. Sedangkan semua para tahanan Alamore terus berjalan tanpa istirahat.
"Tuan putri, apakah Anda lelah?" tanya Mia pada Aurora.
"Tidak Mia, apa kau baik-baik saja?" tanya Aurora kembali.
"Rasanya saya ingin pingsan Tuan Putri," kata Mia mulai lemas dan bersandar pada bahu Aurora.
Aurora pun mencoba untuk meminta rombangan beristirahat sebentar karena para tahanan mulai lelah.
"Prajurit sampaikan pesanku pada raja kalian, bahwa kami butuh istirahat," ujar Aurora penuh keberanian.
Prajurit pun melapor padaku untuk meminta waktu istirahat dan aku pun mengizinkannya.
Ketika waktu istirahat selesai dan perjalanan dilanjutkan, aku teringat akan pesan dari sosok wanita yang muncul di depanku ketika menyelamatkan Aurora. Dan itu sangat menggangguku. Aku pun memerintah Ken untuk mengantarkan kuda kepada Aurora supaya dia tidak berjalan layaknya tahanan lainnya.
"Ken, antarkan kuda pada Aurora beserta dayangnya," perintahku pada Ken.
"Baik Yang Mulia," jawab Ken.
Tak lama kemudian Ken kembali padaku dan mengatakan jika Aurora menolak kebaikanku untuk memberi tunggangan seekor kuda padanya.
"Dia benar-benar menolaknya?" tanyaku jengkel.
"Iya benar, Yang Mulia," kata Ken menjawab.
"Sepertinya Aurora ingin merasakan apa yang dirasakan tahanan lainnya," kataku tersenyum tipis karena sebal.
Tak lama kemudian prajurit memberi kabar padaku kalau Aurora pingsan ketika perjalanan.
"Pingsan?" Aku mulai menghela nafas panjang, "bawa dia masuk ke dalam keretaku," perintahku untuk mempercepat perjalanan.
BERSAMBUNG....
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan