"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Bertemu Calon Mertua
"Reynan, apa benar kamu sudah memiliki anak di luar?"
Reynan terbelalak saat ibunya tiba-tiba menemuinya di kantor dan menanyakan hal yang begitu mengejutkannya. Dari mana ibunya tahu tentang rahasia itu? Bahkan tidak satupun ada yang mengetahuinya, terkecuali Dion, sahabatnya.
"Mama tahu dari mana Ma? Siapa yang udah kasih tahu Mama?" Reynan hanya bingung, siapa orang yang sudah menyebarkan rahasia itu. Bukannya ia tak ingin memberikan penjelasan pada orang tuanya, ia hanya butuh waktu mengungkap kebenarannya. Bahkan ia sendiri masih belum punya keberanian untuk berterus terang kepada si kembar.
"Kamu nggak perlu tahu siapa yang sudah memberitahuku. Aku hanya tanya, kamu tinggal jawab iya atau tidak."
Reynan mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan. Terpaksa ia harus menjelaskannya lebih cepat. "Iya, itu benar ma. Aku sendiri juga nggak nyangka kalau sudah memiliki dua anak."
"Jadi benar berita yang beredar itu? Keterlaluan kamu Rey! Bertindak ceroboh tanpa harus bertanggungjawab! Siapa yang kau turun seperti itu? Bahkan keturunanku tidak ada yang bodoh sepertimu! Papamu saja orangnya nggak pernah aneh-aneh, kembaranmu juga nggak pernah ngelakuin hal gila kayak gitu. Kenapa kamu bisa senekat itu? Setidaknya kalau mau nikah ya nikah aja, jangan ngerusak anak orang! Kalau sudah begini apa yang akan kamu lakukan?"
"Mengawininya, ma!"
Kriet... Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar. Seorang wanita masuk ke dalam dengan raut wajah panik.
"M.. maaf pak, saya tadi nggak ketuk pintu."
Liana menunduk merasa bersalah masuk ke ruangan CEO tanpa mengetuknya terlebih dulu, padahal di situ Reynan sedang tidak sendirian, ada seorang wanita bersamanya.
"Ada apa? Kamu kok terlihat panik gitu? Apa ada masalah?" tanya Reynan.
Liana mendongak dan mengangguk. "Iya pak, saya ingin minta izin sebentar. Saya mau ke sekolah anak-anak, gurunya barusan menelepon, katanya Kenzo berantem lagi."
Reynan langsung bangkit dari tempat duduknya. "Yaudah, ayo kita ke sana sekarang!"
"Tapi pak?"
"Apa ada yang lebih penting dari pada anak-anak. Anakku lagi berantem dan aku hanya diam saja di sini? Aku tidak ingin anakku sampai terluka. Sudah keberapa kalinya mereka mendapatkan masalah di sekolah, kalau perlu kita pindahkan saja ke sekolah yang lebih aman buat mereka."
Leni yang tak lain ibu Reynan tercengang, menatap anak laki-lakinya dan beralih menoleh pada sosok wanita yang berdiri agak jauh dari meja kerja putranya.
Saat Reynan hendak beranjak wanita paruh baya itu langsung menghalanginya. "Reynan tunggu! Jelaskan dulu padaku! Siapa anak-anak yang kamu maksud itu! Apakah dia cucuku?"
"Mama, tolong jangan halangi aku. Aku harus segera sampai di sekolah."
"Aku tidak akan menghalangi jalanmu kalau kau jelaskan dulu siapa anak yang kau maksud itu? Kenapa kau begitu mempedulikannya?"
Reynan menoleh pada Liana, sedangkan Liana hanya diam tidak berani berkata apa-apa, dia bahkan masih belum mengenal sosok wanita itu.
"Iya ma, seperti dugaan Mama, mereka itu anak-anakku."
"Oh..., jadi benar itu anak-anakmu? Kalau begitu Mama mau ikut. Mama mau ketemu sama mereka. Mama ingin mengenal cucu Mama."
Liana menautkan alisnya dengan membatin. 'jadi wanita ini ibunya Reynan? Apa Reynan cerita mengenai si kembar?'
"Yaudah, tunggu apa lagi? Kita berangkat sekarang juga! Jangan sampai cucuku terluka karena kebodohanmu!"
Wanita itu terlalu bersemangat ingin segera bertemu dengan si kembar. Bahkan dia tidak berpikir si kembar bakalan menolak kehadirannya.
"Kamu sudah lama bekerja sama Reynan nak?" Leni tang awalnya hanya diam tak mau bertegur sapa dengan Liana kini buka suara memecahkan keheningan di sepanjang perjalanan menuju sekolah si kembar.
"Ah..., s-saya belum terlalu lama bekerja di perusahaan Pratama, nyonya. Masih belum genap sebulan,' jawab Liana.
"Oh..., jadi masih terlalu baru ya? Gimana bekerja sama dia? Apa kamu sering menemui kesulitan? Apa Reynan tidak bersikap baik padamu?"
Reynan berdecak mengomelinya. "Ma, kenapa kau mengintrogasinya? Tentu aku selalu bersikap baik padanya. Kalau aku nggak baik tentu dia sudah nggak betah kerja bersamaku!"
Leni mendelik menajamkan matanya. "Aku tidak sedang bertanya padamu! Aku tanya sama gadis ini, kenapa kamu yang menjawabnya?"
"Mama..., apa bedanya kalau aku yang jawab, kurasa jawaban dia sama aku bakalan sama. Dan satu lagi yang perlu Mama ketahui, dia itu bukan gadis, tapi ibu-ibu yang sudah memiliki dua anak."
Leni terbelalak. "What! Benarkah seperti itu? Tapi sepertinya dia masih begitu muda? Masa iya sudah menikah dan memiliki dua anak. Apa kau sedang bercanda denganku?"
Reynan memutar bola mata dan menegurnya. "Ma! Sebenarnya Mama itu tujuannya bertanya atau gimana sih? Udah dijelasin nggak percaya, tapi maksa ingin tahu banget."
"Diamlah Reynan! Aku tidak sedang bicara denganmu! Aku sedang bicara dengan nona ini. Apa benar dia sudah memiliki anak?"
Liana mengulas senyumnya dan menjawab. "Iya Tante, saya sudah memiliki anak. Saya tidak muda lagi Tante, sudah ibu-ibu."
"Berarti sama dengan anak bodoh ini nona, dia diam-diam ternyata sudah memiliki anak di luar. Seandainya saja kamu belum menikah aku lebih suka kamu yang nikah dengan anak bodoh ini."
Reynan terkekeh. "Nggak papa ma, aku siap menjadi pasangannya."
Leni yang duduk di samping kemudi langsung menonyor pelipisnya geram. "Dasar bodoh! Apa kau ingin merebut dari suaminya? Kau mau jadi pebinor?"
"Ih! Mama apaan sih? Siapa juga yang mau rusak rumah tangga orang! Dia kan nggak ada suami, maksudnya suaminya aku."
Wajah Liana bersemu merah merona, sangatlah malu dengan cerocosan Reynan yang mengakuinya sebagai istri. 'kapan aku dinikahi sudah dianggap sebagai istrinya? Percaya diri amat ini orang! Bikin malu aja!'
"Jangan sembarangan kamu Rey! Kamu sudah memiliki anak, tentu kau harus bertanggungjawab untuk menikahi ibunya. Jangan karena nona ini cantik dan tak bersuami kau mau main-main dengannya. Mama memang setuju jika kau bisa menikahinya, tapi kau juga tidak bisa lari dari tanggungjawab. Selama ini wanita yang mengandung anakmu sudah berjuang sendirian untuk melahirkan dan merawat anakmu, apa kau tega membiarkannya tanpa rasa tanggung jawab?"
Reynan tersenyum tipis dengan mengamatinya lewat spion. "Kode keras nih, gimana Liana? Kamu udah siap belum jadi istriku?"
Liana diam tak menjawab. Haruskah ia bilang iya dan kegirangan seperti wanita murahan? Meskipun sudah mendapatkan restu ia perlu berpikir seribu kali memutuskan untuk menikah.
Leni yang mendengar langsung menjewer telinganya. "Kode keras apa maksudnya? Memangnya tadi aku bilang apa ke kamu? Bukannya tadi aku bilang kalau kamu harus menikahi ibu dari anakmu, bukan malah menikahi wanita lain! Dasar bodoh! Percuma kamu jadi direktur kalau otakmu isinya batu kerikil."
"Oh ayolah ma! Seharusnya mama nanya dulu siapa dia dan kenapa dia pergi ke sekolah bersamaku. Wanita di belakang mama ini ibu dari anak-anakku ma! Bukan orang lain."
Refleks wanita paruh baya itu menoleh. "Benarkah? Jadi kamu itu ibunya cucuku?"