NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINTA IBU YANG LINDUNG NILAI

Sejak hari itu, tidak ada lagi larangan untuk aku bermain dengan Rafi. Bahkan Mama akhirnya mengizinkan setelah Pak Bara datang ke rumah kami untuk bertemu langsung dengannya dan memberikan jaminan bahwa aku akan selalu aman.

“Dia memang orang yang berbeda dari yang kubayangkan,” kata Mama pelan saat melihat aku berlari keluar rumah untuk bertemu Rafi. “Jangan lupa pulang sebelum malam ya, Caca!”

Hari itu Rafi mengajakku untuk membantu Mama Lila membuat kue untuk ulang tahun Pak Bara yang akan datang dalam beberapa hari lagi.

Kami memasuki dapur yang besar dan sudah siap dengan bahan-bahan yang lengkap—tepung terigu, gula, telur, dan berbagai macam perasa yang harum.

“Kamu bisa membantu aku mencampur bahan-bahan ya, Caca,” ujar Mama Lila dengan senyum hangat. “Rafi biasanya tidak suka memasak, tapi dia mau membantu karena ini untuk ayahnya.”

Rafi sedikit malu dan menggaruk kepalanya. “Aku cuma tidak pandai saja, Bu. Kalau salah campur rasanya bisa jadi jelek.”

“Itu tidak masalah, sayang,” jawab Mama Lila sambil menepuk pipinya. “Yang penting hati kita tulus. Ayah pasti akan suka apa saja yang kita buat.”

Kami mulai bekerja bersama. Aku dan Rafi mencampur tepung dengan gula sambil tertawa karena kita salah mengambil takaran dan tepung terbang ke sekeliling membuat wajah kita jadi putih seperti boneka salju.

Mama Lila melihatnya dan tertawa terbahak-bahak sebelum mengambil kain basah untuk membersihkan wajah kami.

“Kalian benar-benar anak-anak yang lucu,” katanya dengan mata penuh cinta. “Saya berharap Rafi selalu punya teman baik seperti Caca untuk membuatnya bahagia.”

Saat kita sedang menunggu adonan kue matang di oven, Mama Lila mengajak kami duduk di meja makan dan mulai bercerita tentang masa mudanya dengan Pak Bara.

“Ayah Rafi dulu bukan seperti sekarang,” ujarnya dengan ekspresi wajah yang penuh kenangan. “Dia adalah anak muda yang ceria dan suka membantu orang lain. Dia bahkan pernah ingin menjadi dokter untuk menyembuhkan orang sakit.”

“Kenapa kemudian Ayah jadi seperti sekarang, Bu?” tanya Rafi dengan suara penuh rasa ingin tahu.

Mama Lila menghela napas panjang. “Keluarga ayahmu sudah lama terlibat dalam bisnis tertentu.

Ketika kakekmu sakit parah dan tidak bisa lagi memimpin, ayah harus mengambil alih untuk melindungi keluarga dan orang-orang yang bekerja keluarga dan orang-orang yang bekerja untuk kita. Dia tidak punya pilihan lain, sayang.”

“Apakah Ayah tidak pernah menyesal, Bu?” tanya Rafi lagi.

“Tentu saja dia menyesal,” jawabnya dengan lembut sambil memegang tangan Rafi. “Tapi dia melakukan itu karena cinta. Cinta pada keluarga dan orang-orang yang dia sayangi. Dia selalu berusaha untuk membuat semua orang aman dan nyaman.”

Aku melihat Rafi yang terdiam dan wajahnya tampak berpikir keras. Aku tahu dia mulai mengerti mengapa ayahnya harus menjalani hidup seperti sekarang.

Setelah kue matang dan dingin, kami mulai menghiasnya dengan krim putih dan buah-buahan segar.

Rafi sangat cermat saat menghias bagian depan kue dengan bentuk bintang kecil—dia bilang itu untukku karena aku suka bintang.

“Sekarang kita punya tugas rahasia lagi,” ujar Rafi dengan suara rendah saat kita menyembunyikan kue di lemari pendingin. “Kita tidak boleh memberitahu Ayah apa-apa sampai hari ulang tahunnya ya.”

“Aku janji!” jawabku dengan senyum lebar.

Keesokan harinya, aku datang ke rumah Rafi seperti biasa tapi menemukan Mama Lila sedang menangis di ruang tamu. Aku langsung berlari mendekat dan mencium tangannya dengan lembut.

“Kenapa Mama Lila menangis? Apakah kamu sakit?” tanyaku dengan suara khawatir.

Mama Lila mengusap air matanya dan memberikan senyum lembut padaku. “Aku tidak sakit, sayang. Cuma ada beberapa orang yang datang menggangguku dan Ayah tadi pagi. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak suka dengan perubahan yang Ayah lakukan dalam bisnis keluarga.”

“Apa itu berarti ada bahaya lagi, Bu?” tanya Rafi yang baru saja keluar dari kamar.

“Jangan khawatir, sayang,” katanya sambil menarik Rafi dan aku ke pangkuannya. “Ayah sudah menangani semuanya. Kita hanya perlu tetap kuat dan saling mendukung satu sama lain ya.”

Mama Lila kemudian mengajak kita ke kamar tidurnya dan membuka sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di bawah ranjang.

Di dalamnya ada foto-foto lama dari keluarga mereka dan sebuah kalung perak dengan liontin bentuk hati.

“Ini kalung yang diberikan ayah padaku saat kita masih pacaran,” ujarnya sambil mengambil kalung itu. “Dia bilang ini adalah simbol cinta kita yang akan selalu ada bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun. Sekarang aku mau memberikannya padamu dua orang.”

Dia memasangkan kalung itu di leher Rafi, lalu mengambil gelang kecil yang mirip dengan kalung itu dari dalam kotak dan memasangkannya di tanganku.

“Untuk Rafi—semoga kamu selalu ingat bahwa cinta keluarga adalah hal terpenting di dunia ini. Untuk Caca—semoga kamu selalu menjadi teman baik bagi Rafi dan membantu dia menjadi orang yang baik seperti ayahnya.”

Kita berpelukan erat dengan Mama Lila, dan aku bisa merasakan betapa kuatnya cinta yang dia miliki untuk keluarga dan juga untukku.

Meskipun dunia mereka penuh dengan masalah dan bahaya, tapi cinta yang ada di antara mereka membuat semuanya terasa lebih mudah untuk dihadapi.

“Sekarang mari kita lupakan masalah itu ya,” ujar Mama Lila dengan suara yang lebih ceria. “Kita harus siap untuk merayakan ulang tahun ayah dengan bahagia!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!