Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebetulan yang Tidak Ergonomis
Perjalanan pulang dari Puncak seharusnya menjadi momen transisi yang tenang. Di dalam mobil, aroma stroberi masih mendominasi, sementara Arga menyetir dengan fokus tingkat dewa, sesekali melirik Nara yang sedang sibuk mengedit foto estetik hasil liburan mereka.
"Ga, kamu tahu nggak? Secara statistik, tingkat kebahagiaan aku naik 85% setelah liburan ini," ujar Nara sambil menunjukkan layar ponselnya.
Arga tidak menoleh, tapi sudut bibirnya berkedut.
"Itu karena asupan karbohidrat kamu meningkat drastis. Gula darah tinggi sering disalahartikan sebagai kebahagiaan."
"Iiiih, ngerusak suasana banget sih!" Nara memukul lengan Arga pelan.
"Bilang aja kamu juga seneng kan bisa tidur tanpa guling pembatas?"
Arga terdiam sejenak. Ia memarkirkan mobil di basement apartemen dengan presisi yang sangat akurat.
"Saya tidak akan menyangkal variabel yang sudah terbukti secara empiris."
Nara tersenyum puas, ia merasa menang. Namun, kemenangan itu hanya bertahan sampai pintu lift terbuka di lobi lantai 12.
Tepat di depan pintu unit mereka, seorang pria berdiri sambil menenteng kantong belanjaan supermarket. Ia memakai kaos polo santai dan celana pendek, terlihat sangat rumahan. Begitu pintu lift terbuka, mata pria itu bertemu dengan mata Nara.
"Nara?" tanya pria itu, suaranya penuh keterkejutan.
Nara membeku, spatula imajiner di kepalanya seolah jatuh berdentang.
"Raka? Kamu... kamu ngapain di sini? Kamu mau nagih utang traktir bakso zaman kuliah ya?"
Raka, sang mantan kekasih yang dulu mengakhiri hubungan karena alasan
ingin fokus karier (yang ternyata bohong karena dia malah fokus selingkuh), tersenyum lebar.
"Aku baru pindah ke sini dua hari lalu, Nar. Unit 1208. Persis di seberang lorong kamu."
Arga, yang berdiri di belakang Nara dengan koper di tangan, langsung merasakan suhu di sekitarnya turun drastis, bukan karena AC, tapi karena aura otoritasnya yang mulai bangkit. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di pinggang Nara dengan gerakan yang sangat protektif.
"Ada masalah di sini, Nara?" tanya Arga, suaranya rendah dan memiliki frekuensi yang sanggup menggetarkan lantai marmer.
Raka menatap Arga dari ujung rambut sampai ujung sepatu kulitnya yang mengkilap.
"Oh, ini... kakak kamu ya, Nar?"
Nara hampir tertawa kalau saja suasananya tidak mencekam.
"Bukan, Ka. Ini Arga. Suami aku."
Raka melongo.
"Suami? Kamu... udah nikah? Cepat banget? Padahal baru putus enam bulan lalu."
"Secara administratif," potong Arga, melangkah satu tahap lebih dekat ke arah
Raka hingga pria itu harus mundur sedikit,
"pernikahan kami adalah peristiwa hukum yang sudah sah dan final. Dan sebagai tetangga baru, saya harap kamu mengerti konsep privacy policy antar unit."
Raka mencoba tetap terlihat tenang.
"Wah, selamat ya. Aku nggak nyangka seleramu sekarang... tipe yang kaku begini, Nar. Padahal dulu kamu bilang suka cowok yang asyik dan humoris."
Nara merasa perlu membela kehormatan suaminya.
"Mas Arga asyik kok! Dia humoris dengan cara yang... intelektual! Lagian, daripada asyik tapi suka 'fokus karier' ke cewek lain, mending kaku tapi cuma fokus sama aku!"
Skakmat.
Raka terdiam dengan wajah masam.
Arga tidak membuang waktu, ia menarik kunci apartemennya.
"Nara, masuklah! Saya perlu memeriksa apakah ada intrusi asing di dalam rumah selama kita pergi."
Begitu pintu apartemen tertutup, Nara langsung ambruk di sofa bulu merah mudanya.
"Gila! Dunia sempit banget sih! Kenapa si Raka harus pindah ke sini? Apa dia dapet diskon IPL gara-gara jadi mantan aku?"
Arga tidak menjawab. Ia justru berjalan mondar-mandir di ruang tamu, melakukan pengecekan yang tidak perlu pada dispenser bebek kuning dan bantal paha ayam.
"Ga, kamu kenapa? Kok mukanya makin kayak robot lagi booting ulang?" tanya Nara heran.
Arga berhenti di depan Nara.
"Saya sedang mempertimbangkan untuk memasang kamera CCTV di koridor depan."
"Buat apa? Kan udah ada dari manajemen."
"Saya butuh akses real-time untuk memastikan tidak ada 'mantan fokus karier' yang mencoba melakukan komunikasi tanpa izin dengan istri saya," ujar Arga dengan nada serius yang luar biasa.
Nara tertawa terpingkal-pingkal.
"Cieee! Mas Arga cemburu ya? Pak Audit kita lagi panas nih hatinya!"
Arga membuang muka, tapi telinganya memerah.
"Saya tidak cemburu. Saya hanya melakukan manajemen risiko terhadap aset berharga saya."
Nara bangkit dari sofa, mendekati Arga dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Aset berharga? Jadi aku ini aset ya? Berapa nilai bukunya sekarang? Apa kepikiran mau ngejual juga ni asetnya ?"
Arga menatap mata Nara,ia menarik napas panjang, lalu tiba-tiba ia mengangkat Nara dan mendudukkannya di atas meja konsol dekat pintu.
"Nilai buku kamu tidak terukur, Nara. Karena setiap kali pria itu menatapmu, saya merasa ingin melakukan audit total terhadap seluruh keberadaannya sampai dia bangkrut."
Nara tertegun. Jarak mereka sangat dekat. Arga meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Nara, mengurung gadis itu.
"Nara, dengar," bisik Arga.
"Mungkin saya kaku, mungkin saya tidak humoris seperti mantanmu yang... tidak kompeten itu. Tapi saya pastikan, di gedung ini, hanya saya yang punya hak akses penuh untuk membuatmu marah, tertawa, atau... melakukan ini."
Arga mengecup bibir Nara. Kali ini bukan kecupan singkat seperti di mobil. Ini adalah kecupan yang penuh dengan klaim kepemilikan, kecemasan yang tertahan, dan kasih sayang yang mulai meledak-ledak. Nara memejamkan mata, membalas pelukan Arga dengan erat, jemarinya meremas kerah kemeja Arga hingga kusut persis seperti logika Arga saat ini.
"Ga..." bisik Nara terengah saat Arga sedikit menjauhkan wajahnya, namun tetap menempelkan dahinya pada dahi Nara.
"Kamu beneran... emosi ya gara-gara Raka?"
Arga menatap mata Nara dengan intensitas yang sanggup meluluhkan data digital.
"Secara profesional, saya benci adanya gangguan dalam sistem. Dan pria di depan itu adalah bug yang sangat mengganggu estetika hidup saya."
"Tapi dia cuma masa lalu," goda Nara, suaranya serak namun jenaka.
"Lagian dia nggak punya dispenser bebek yang bisa bunyi kwek."
"Dia tidak punya apa-apa dibandingkan apa yang saya miliki sekarang," balas Arga rendah, tangannya mengelus pipi Nara dengan ibu jari.
"Jangan pernah berpikir untuk membandingkan efisiensi saya dengan pria yang bahkan tidak tahu cara menghargai aset seberharga kamu."
Tiba-tiba, dari luar pintu terdengar suara krasak-krusuk dan suara Ibu Widya yang melengking, memecah suasana intim di balik pintu unit 1205.
"Lho, Mas Raka tetangga baru ya? Wah, lagi nungguin Mbak Nara? Kok nggak diketok pintunya? Mas Arga-nya sudah pulang lho, tadi saya lihat mobilnya masuk!"
Arga langsung melepaskan ciumannya. Wajahnya kembali datar sempurna dalam waktu 0,5 detik, sebuah rekor dunia untuk transisi dari mode suami bucin ke auditor killer. Ia menoleh ke arah pintu dengan tatapan tajam, seolah tatapannya bisa menembus kayu pintu dan melubangi kepala Raka di luar sana.
"Nara," panggil Arga pelan, suaranya kembali ke mode komando.
"Ya?" Nara masih berusaha mengatur napas dan detak jantungnya yang overclocking.
"Saya berubah pikiran. Besok saya akan membeli gembok tambahan dengan sistem biometrik. Dan kamu... dilarang keluar rumah tanpa pengawalan auditor pribadi."
Nara tertawa geli, mencoba meredakan ketegangan suaminya dengan menyembunyikan wajahnya di dada Arga yang bidang. Ia bisa merasakan detak jantung Arga yang ternyata sama kencangnya dengan miliknya.
"Siap, Pak Audit! Tapi pengawalnya mahal nggak nih? Harus dibayar pakai apa?" Nara mendongak, menatap Arga dengan mata berbinar jahil.
"Pakai uang saku, atau pakai ciuman denda kayak tadi?"
Arga mengecup puncak kepala Nara, menghirup aroma stroberi yang kini menjadi satu-satunya bau favoritnya di dunia.
"Dibayar dengan tidak menyebut nama pria lain di depan saya selamanya. Itu adalah bunga tetap yang tidak bisa dinegosiasikan. Jika melanggar, dendanya adalah isolasi mandiri di dalam pelukan saya selama dua puluh empat jam penuh."
Nara mencubit pinggang Arga.
"Ih, itu mah bukan denda, itu namanya kamu yang modus!"
"Anggap saja itu strategi win-win solution," pungkas Arga sambil menarik Nara masuk lebih dalam ke rumah, menjauh dari jangkauan suara Ibu Widya dan kehadiran sang mantan di koridor.
Malam itu, kepulangan mereka yang tak terduga justru menjadi momen di mana Arga menyadari bahwa logika sehebat apa pun tidak akan pernah cukup untuk menghadapi rasa cemburu seorang suami yang sedang jatuh cinta.