Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Klaim Sepihak
Kelas berakhir dengan suasana yang masih terasa janggal bagi sebagian orang. Begitu Jordan menutup sesi kuliah dengan kalimatnya yang penuh teka-teki, mahasiswa lain berhamburan keluar untuk mengejar jam makan siang. Namun, Jordan tetap berdiri di depan, sibuk merapikan berkas-berkasnya sambil sesekali melirik ke baris ketiga.
"Rin, ayo ke kantin! Aku sudah lapar sekali," ajak Thea sambil menarik-narik lengan Airin.
Airin melirik ke arah Jordan yang tampak masih sibuk, lalu beralih ke Dion dan Kriss. "Kalian duluan saja, ya? Aku... aku harus ke perpustakaan sebentar untuk mencari referensi tugas tadi."
"Perpustakaan atau mau menemui 'seseorang'?" celetuk Dion dengan nada curiga. Matanya yang tajam sempat menangkap bagaimana Jordan menatap Airin saat mengembalikan ponsel tadi.
"Dion, jangan mulai. Sudah, ayo kita pergi, jangan ganggu Airin," potong Kriss sambil merangkul bahu Dion. Namun, di balik sikap tenangnya, Kriss memberikan tatapan menyelidik ke arah Airin. Ia tahu sahabatnya ini sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.
Setelah Thea, Dion, dan Kriss menghilang di balik pintu kelas, Airin menghela napas lega. Ia segera merapikan tasnya dan bergegas keluar lewat pintu belakang, berharap bisa menghindari Jordan. Namun, harapannya pupus saat ia baru saja sampai di koridor yang mulai sepi.
Sebuah tangan besar menarik lembut lengan Airin dan membawanya masuk ke dalam celah koridor yang tertutup pilar besar.
"Mau lari ke mana, pacarku?" suara berat itu menyapa tepat di telinga Airin.
Airin tersentak, punggungnya menempel pada pilar yang dingin sementara tubuh besar Jordan sudah berdiri mengurungnya kembali. "Pak Jordan! Siapa yang Bapak panggil pacar? Saya belum menyetujui apa-apa!" protes Airin dengan suara lembutnya yang kini terdengar sedikit kesal.
Jordan hanya tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat seksi dan penuh kemenangan. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Airin dengan sorot mata posesif. "Di duniaku, Airin, diamnya seorang wanita setelah aku mencium tangannya dan mengantarnya pulang berarti sebuah kesepakatan. Jadi, mulai sekarang, kamu adalah milikku. Titik."
"Itu... itu tidak adil! Bapak sangat otoriter," bisik Airin, wajahnya memerah padam. Ia ingin marah, tapi jantungnya justru berkhianat dengan berdetak kencang karena dipanggil 'milikku' oleh pria sehebat Jordan.
"Aku memang otoriter dalam bisnis, dan aku lebih otoriter lagi dalam hal cinta," balas Jordan tanpa rasa bersalah. Ia mengacak pelan rambut Airin yang harum. "Sekarang, ikut aku ke mobil. Aku sudah bilang pada pengawal ayahmu semalam bahwa aku yang akan menjagamu."
Sementara itu, di lantai bawah, Dion dan Kriss ternyata tidak benar-benar pergi ke kantin bersama Thea. Mereka sengaja berputar arah lewat tangga darurat dan mengintip ke arah koridor atas.
"Tuh kan, benar feeling gue! Lihat itu, Kriss!" bisik Dion sambil menunjuk ke arah pilar tempat Jordan dan Airin berdiri. Dari sudut pandang mereka, posisi Jordan dan Airin tampak sangat intim.
Kriss hanya diam, wajahnya mengeras. "Jadi Pak Jordan benar-benar mengincar Airin. Dan Airin... dia sepertinya tidak bisa menolak."
"Kita harus gimana? Airin itu polos banget, dia nggak tahu kalau Pak Jordan itu singa di dunia bisnis. Bisa-bisa dia cuma dimanfaatin atau malah kena masalah sama keluarga Rodriguez," Dion tampak khawatir.
Kriss memegang bahu Dion. "Jangan bilang Thea dulu. Dia mulutnya ember, bisa heboh satu kampus kalau dia tahu. Kita simpan ini sendiri. Kita awasi mereka dari jauh. Kalau Pak Jordan macam-macam atau bikin Airin nangis, baru kita turun tangan."
Dion mengangguk setuju. "Gue nggak nyangka Airin yang pendiam bisa nyantol sama dosen galak kayak gitu. Tapi jujur, mereka berdua kalau berdiri bareng... kayak di film-film konglomerat ya?"
"Bukan saatnya kagum, Dion. Ayo pergi sebelum mereka lihat kita," ajak Kriss.
Mereka berdua pun melangkah pergi dengan perasaan yang berkecamuk. Mereka memutuskan untuk merahasiakan pengamatan ini dari Airin dan Thea, sambil terus menjaga sahabat mereka yang paling polos itu dari bayang-bayang dominasi seorang Jordan Abraham.
Di koridor atas, Airin akhirnya hanya bisa pasrah saat Jordan menggenggam tangannya dengan erat, menuntunnya menuju area parkir dosen tempat SUV hitam itu sudah menunggu untuk membawanya kembali ke dalam "labirin" yang dibuat oleh sang dosen.