Kemajuan teknologi di era globalisasi tetap tidak mampu menggerus dunia perdukunan
Bahkan masih banyak yang rutin dengan segala ritual ritualnya
Yang terang terangan ataupun yang sembunyi sembunyi
Ada banyak alasan tentunya
Ada yang pengen usahanya lebih maju
Ada yang ingin kaya tanpa harus memeras keringat
Ada yang ingin kebal senjata tajam dan ilmu santet menyantet
Ada juga yang sengaja membeli batu jimat, yang dipercaya bisa memberikannya kedudukan terpandang dan disegani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KT 7.
“Sakiiiiiit…….sakit bu, Rena sakiiiit”
Serena berteriak dan terus meraung. Tangannya sibuk menjambak rambut dan memukuli kepalanya sendiri. Tangisan tengah malam itu membuat seisi rumah terbangun kaget dan langsung berlari menuju kamar Serena.
“Jon…gimana ini Jon. Mbak Serena kumat lagi Jon.” Bi Sari dan juga ibu Serena mulai ikut menangis melihat keadaan Serena yang dilihatnya sedang berguling guling diranjangnya.
“Sakiiit bu…sakiiit”
Zahra yang kebetulan hari ini pulang ke rumah, baru melihat sakit sang kakak langsung pergi ke kamar mandi. Walau pernah mendengar ceritanya dari Bi sari, tapi ini pertama kalinya Zahra melihat secara langsung betapa tersiksanya sang kakak.
Zahra yang calon dokter, tentu sudah terlebih dahulu memeriksa kondisi tubuh Serena. Tapi Zahra tidak menemukan apapun yang masuk akal dengan keadaan saat ini.
Mengambil air wudhu dan mulai membaca ayat ayat suci Al Quran. Setelah sebelumnya menelpon teman kuliahnya. Dan teman kuliah Zahra mengatakan kalau Serena mendapat kiriman guna guna.
Sebelumnya
“Serius lo! Jaman sekarang emang masih ada yang begituan ya Nur?!” Zahra masih ragu dengan penjelasan teman kuliahnya yang bernama Nur Azizah.
“Kamu ngomong sendiri aja nih sama abi.” Nur Azizah adalah anak seorang anak pemimpin pondok pesantren yang dekat dengan fakultas kedokteran tempat Zahra menimba ilmu.
“Assalamu alaikum abi…ini Zahra….”
“Iya bi, Zahra kerjakan sekarang. Terima kasih ya bi. Wassalamu alaikum”
Zahra mengakhiri panggilannya setelah mendengar solusi yang diberikan dari Abi Azzam.
-
“Sakiiit….sakit bu. Rena sakit bu. Aaaaahhhh….sakiiiiit”
Serena terus saja memukuli kepala dan menjambaki rambutnya sampai meninggalkan rontokan rambut dilantai.
“Jon…gimana ini Jon.” ibu serena hanya bisa menangis melihat anak gadisnya tersiksa rasa sakit sampai akhirnya pingsan.
Joni dengan sigap segera memapah tubuh Serena sebelum tubuh itu jatuh ke lantai yang keras dan merebahkannya di ranjang. Ibu Serena mendekat ke dan duduk ditepian ranjang sang putri. Membelai rambut juga mengelap keringat yang membasahi tubuh Serena.
Bi Sari dan bang Jon hanya berdiri dan terus memandangi Serena yang terkulai lemas. Bersiap siaga kalau Serena tiba tiba bangun terus berteriak dan memukuli kepalanya kembali.
Zahra memberikan air putih pada Serena saat kakaknya itu mulai membuka mata. Pandangannya kosong. Bersikap seperti bukan Serena yang mereka kenal.
Ini sudah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu satu minggu. Awalnya hanya seminggu sekali. Lalu jadi seminggu dua kali. Dan minggu ini terus meningkat menjadi tiga kali.
“Apa kita bawa saja Serena ke dokter lagi ya nyah?” Bi sari mengemukakan pendapatnya.
“Sakit apa sebenarnya anakku ini ya bi Sari? Dokter jelas jelas bilang kalau dia sehat secara fisik. Bahkan hasil rontgennya juga bagus. ” Ibu Serena kembali meneteskan air mata “Apa ada masalah dengan pekerjaanya Jon?” kini Ibu Serena beralih menatap Joni meminta penjelasan.
“Tidak ada bu”
“Apa kamu lihat Serena akhir akhir ini punya masalah dengan teman seprofesinya Jon?” Ibu Serena kembali bertanya. Masih mencoba mencari tahu penyebab sakit sang anak.
“Sepertinya tidak ada bu”
Joni menutupi kebohongannya. Tidak ingin wanita yang dianggapnya ibu itu merasakan khawatir, yang pasti akan berimbas pada kesehatannya. Tapi Joni melupakan Zahra.
Zahra bisa melihat kebohongan Joni, hanya dengan melihat gelagat dan juga reaksi Joni saat menjawab pertanyaan Ibunya.
***