Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Cakrawala yang Terasing
Mesin tempel ganda kapal cepat itu meraung, membelah ombak malam yang ganas dengan kecepatan yang menyentak lambung kapal. Percikan air garam yang dingin menghantam wajah Kayra, membilas paksa sisa darah Guntur yang mulai mengering di pipinya.
Di belakang mereka, daratan utama telah hilang ditelan kabut dan kegelapan, hanya menyisakan pendar kemerahan di cakrawala, sisa-sisa mansion Harry yang terbakar habis.
Di atas dek yang berguncang, Kayra mengabaikan rasa mualnya. Ia berlutut di samping Harry yang bersandar pada dinding kabin. Kapal ini penuh dengan perlengkapan taktis, namun sangat minim peralatan medis darurat. Pria itu bernapas pendek-pendek, matanya terpejam rapat, dan kulitnya terasa sedingin porselen.
"Harry, buka matamu," Kayra menepuk pipi pria itu dengan cemas. Jari-jarinya berpindah ke pergelangan tangan Harry. Denyut nadinya sehalus benang, berpacu cepat namun dangkal. "Harry Marcello, ini perintah dokter! Buka matamu!"
Perlahan, kelopak mata pria itu terangkat. Di bawah cahaya lampu navigasi yang merah remang-remang, mata obsidian itu tampak sayu, namun sisa-sisa otoritasnya masih ada di sana. Harry memaksakan sebuah seringai parau.
"Kau ... cerewet sekali, Dokter," bisiknya, hampir tak terdengar di antara deru mesin.
"Dan kau hampir mati. Lagi," balas Kayra dengan suara yang tercekat.
Ia meraih tas medisnya, satu-satunya benda yang berhasil ia bawa dari bunker. Ia mengeluarkan botol cairan infus terakhir dan menusukkannya ke vena Harry dengan presisi yang luar biasa meski kapal terus menghantam gelombang.
"Tetaplah sadar. Berapa lama lagi sampai kita tiba?" tanya Kayra.
Harry tidak menjawab. Ia hanya melirik ke arah Enzo yang berdiri di kemudi, menatap radar dengan wajah tegang.
"Dua puluh menit lagi, Tuan! Kita sudah memasuki perairan internasional. Radar bersih dari pengejar!" teriak Enzo tanpa menoleh.
Kayra menyandarkan punggungnya pada dinding kabin, tepat di samping Harry. Keheningan janggal menyelimuti mereka di tengah kebisingan mesin.
Untuk pertama kalinya sejak pria ini merangkak masuk ke puskesmasnya, Kayra merasa waktu seolah berhenti. Ia menatap tangannya yang gemetar, tangan yang malam ini telah menjahit jantung, membedah leher, dan memegang pistol.
"Kenapa kau tidak meninggalkanku?" tanya Kayra tiba-tiba, suaranya kecil melawan angin laut. "Di bunker tadi ... kau bisa lari lebih cepat tanpaku. Luca menginginkanku hanya karena kau menginginkanku. Jika kau membuangku, bebannmu berkurang."
Harry menggerakkan kepalanya perlahan, menatap Kayra dengan pandangan yang dalam. Ia mengulurkan tangannya yang lemah, menutupi tangan Kayra yang gemetar di atas lantai dek.
"Aku tidak ... membuang aset yang sudah menyelamatkan hidupku," gumam Harry. Ia terbatuk sejenak, membuat Kayra meringis melihat darah merembes di sudut bibirnya. "Dan aku ... sudah mengatakannya. Aku tidak akan membiarkanmu berada ... di tempat yang tidak bisa kulihat."
"Itu egois," bisik Kayra, namun ia tidak menarik tangannya. Malah, ia membalas genggaman tangan dingin Harry.
"Aku adalah Harry Marcello, Kayra. Aku hidup ... dari keegoisan."
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, menyemburatkan warna jingga dan keunguan di langit saat sebuah pulau mulai muncul dari balik kabut. Itu bukan pulau biasa. Dari kejauhan, Kayra bisa melihat sebuah struktur bangunan modern minimalis yang dibangun tepat di atas tebing karang yang curam. Sebuah dermaga beton yang kokoh menonjol ke laut, dijaga oleh menara pemantau yang samar terlihat.
"Isla de Sombra," bisik Enzo saat kapal mulai melambat dan memasuki teluk kecil yang tenang. "Pulau pribadi Tuan Harry. Tempat ini tidak ada dalam peta publik."
Saat kapal merapat, sebuah tim medis berseragam lengkap sudah menunggu dengan brankar canggih. Kayra berdiri, kakinya terasa goyah saat menginjak daratan padat. Ia melihat Harry diangkat dengan cepat. Sebelum pria itu dibawa masuk ke dalam lift tebing, pria itu sempat melirik Kayra, seolah memastikan wanita itu tetap mengikutinya.
Kayra dibawa menuju bagian dalam bangunan yang ternyata merupakan fasilitas medis yang jauh lebih lengkap daripada bunker mansion sebelumnya. Namun, kali ini, ia tidak diizinkan masuk ke ruang operasi.
"Dokter, Anda butuh istirahat. Biarkan tim bedah utama kami menyelesaikan sisanya," ujar seorang pria paruh baya dengan jas laboratorium putih yang rapi. "Tuan Harry sudah berada di tangan yang tepat."
Kayra ingin memprotes, namun rasa lelah yang luar biasa mendadak menghantamnya seperti ombak raksasa. Pandangannya mengabur, dan sebelum ia jatuh ke lantai, sepasang tangan menangkapnya.
Kayra terbangun di sebuah tempat tidur dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap. Aroma ruangan itu adalah perpaduan antara lavender dan laut, sangat jauh dari aroma darah dan mesiu yang menghantuinya semalaman. Ia bangkit dengan waspada, menyadari bahwa jas medisnya telah diganti dengan kemeja putih bersih yang terlalu besar untuk tubuhnya.
Ia melangkah menuju jendela besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Pemandangan di luar sana luar biasa indah, laut biru tak berujung dan deburan ombak yang menghantam karang di bawah sana. Namun, keindahan itu terasa seperti ilusi.
"Sudah bangun?"
Kayra berbalik. Harry berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menggunakan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan perban baru yang rapi di dadanya. Ia tampak jauh lebih baik, meski wajahnya masih sedikit pucat. Ia memegang sebuah map tipis di tangannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kayra, segera kembali ke mode dokter. "Kau seharusnya tidak berjalan dulu. Operasimu baru saja selesai beberapa jam yang lalu."
Harry masuk ke dalam ruangan, menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan menuju Kayra dengan langkah yang mantap, mengabaikan peringatan medisnya. Ia berhenti tepat di depan Kayra, memaksa wanita itu menengadah untuk menatap matanya.
"Jantungku masih berdetak, terima kasih padamu," ujar Harry rendah. Ia mengulurkan map yang dibawanya. "Aku punya sesuatu untukmu."
Kayra membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah identitas baru. Paspor, lisensi medis internasional, dan sertifikat kewarganegaraan dengan nama yang berbeda, Kayra Valeska.
"Apa ini?"
"Kehidupan barumu," jawab Harry. Ia melangkah mendekat, mengurung Kayra di antara tubuhnya dan jendela kaca besar, persis seperti yang dilakukannya di ruang kerja mansion sebelumnya. "Elara sudah mati. Dokter Kayra Ardeane sudah tewas dalam ledakan mansion. Di mata dunia, kau tidak lagi ada."
Kayra menatap paspor itu dengan tangan gemetar. "Kau menghapus identitasku?"
"Aku memberimu perlindungan mutlak," Harry mencondongkan tubuh, napasnya yang hangat menerpa kening Kayra. "Dengan nama ini, kau bisa pergi ke mana saja di bawah radar Luca. Tapi ada syaratnya."
"Syarat?" Kayra mendongak, matanya berkilat penuh curiga.
Harry meraih dagu Kayra dengan jarinya, memaksa wanita itu menatap ke dalam kegelapan matanya. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana. Kau akan tetap di sini, di pulau ini. Aku tidak hanya membutuhkan dokter pribadi, Kayra. Aku membutuhkan seseorang yang bisa kupercaya dalam perang yang akan datang."
"Kau ingin menjadikanku tawananmu?" desis Kayra marah.
"Bukan tawanan," Harry merunduk, bibirnya hanya berjarak satu inci dari bibir Kayra. "Tapi partner. Aku punya rencana besar untuk menjatuhkan Luca, dan namamu adalah kunci dalam struktur medis-politik yang dia kuasai. Kau adalah ahli bedah jenius yang disingkirkan oleh sistem yang dia suap. Kita punya musuh yang sama sekarang."
Kayra terdiam. Ia merasakan tarikan magnetis dari pria ini lagi, tarikan yang sangat berbahaya. Di satu sisi, ia ingin lari sejauh mungkin, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa Harry benar. Luca tidak akan berhenti mencarinya.
"Kenapa kau begitu yakin aku akan setuju?" tanya Kayra parau.
Harry tersenyum tipis, sebuah seringai predator yang kini tampak lebih lembut. "Karena di balik jas putihmu itu, kau merindukan adrenalin ini, Kayra. Kau merindukan perasaan saat memegang nyawa seseorang di tanganmu. Dan di sini, bersamaku ... kau akan memegang nyawa lebih banyak orang daripada yang pernah kau bayangkan."
Harry perlahan menempelkan keningnya pada kening Kayra, sebuah gerakan yang sangat intim namun tetap terasa seperti klaim kekuasaan. "Tetaplah bersamaku, Kayra. Dan aku akan membuat dunia berlutut di depanmu."
Kayra memejamkan matanya sejenak, merasakan detak jantung Harry yang mantap di dadanya. Ia tahu, saat ia membuka mata nanti, hidupnya sebagai Kayra si dokter desa telah berakhir. Ia telah masuk ke dalam labirin yang tidak memiliki jalan keluar, dan pria yang memegang tangannya saat ini adalah satu-satunya orang yang bisa membawanya menembus kegelapan itu.
"Hanya sampai Luca kalah," bisik Kayra akhirnya.
Harry terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Kita lihat saja nanti, Dokter. Kita lihat saja nanti."