Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Ledakan Permintaan
BAB 21: Ledakan Permintaan
Kabar kesuksesan di Melbourne ternyata menjadi pedang bermata dua bagi Nayla. Di satu sisi, namanya melambung sebagai pahlawan UMKM di tahun 2026. Namun di sisi lain, ponsel kantor di meja Ranti tidak berhenti berdering sejak pukul enam pagi. Bukan hanya dari Australia, tapi agen-agen lokal dari Medan hingga Papua kini menuntut jatah stok yang lebih besar.
"Nay, kita dalam masalah besar," ujar Ranti sambil menunjukkan layar monitor yang penuh dengan pesanan masuk di sistem dashboard mereka. "Permintaan minggu ini melonjak hingga tiga puluh ribu bungkus. Kapasitas produksi maksimal kita, bahkan dengan mesin pemotong otomatis, hanya sepuluh ribu. Kita kurang dua puluh ribu bungkus, Nay!"
Nayla berdiri di tengah ruko, menatap tumpukan bakso ikan segar yang baru saja datang. Ia bisa merasakan tekanan itu merambat di pundaknya. "Kalau kita tolak, kita kehilangan momentum. Tapi kalau kita paksakan dengan tenaga kerja yang ada sekarang, Ibu-ibu akan pingsan karena kelelahan."
Bagas, pengawas produksinya, mendekat dengan wajah serius. "Mbak Nayla, ada satu solusi. Kita bisa membeli mesin penggorengan kontinu otomatis (continuous fryer). Mesin itu bisa menggoreng seratus kilo bakso hanya dalam waktu satu jam dengan suhu yang sangat stabil. Tapi harganya..."
"Berapa?" tanya Nayla pendek.
"Hampir empat ratus juta rupiah, Mbak. Itu belum termasuk biaya instalasi listrik industri di ruko ini," jawab Bagas pelan.
Angka itu membuat Nayla tertegun. Uang di rekening perusahaannya memang mulai banyak, tapi sebagian besar sudah dialokasikan untuk bahan baku dan gaji karyawan. Membeli mesin seharga rumah itu adalah risiko finansial yang sangat besar.
Di tengah kebingungan itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan ruko. Seorang pria muda dengan setelan jas rapi namun tanpa dasi keluar dari mobil. Ia memperkenalkan diri sebagai Kevin, perwakilan dari Ventura Capital, sebuah perusahaan modal ventura yang sedang mencari UMKM kuliner untuk disuntikkan dana segar.
"Mbak Nayla, kami sudah memantau pergerakan 'Basreng Matahari' sejak viral di Melbourne," ujar Kevin saat mereka duduk di ruang tamu ruko yang sempit. "Kami ingin menawarkan investasi sebesar dua miliar rupiah. Sebagai imbalannya, kami meminta dua puluh persen saham perusahaan Anda dan kursi di jajaran direksi."
Dua miliar rupiah. Angka itu bisa menyelesaikan semua masalah Nayla. Ia bisa membeli mesin tercanggih, menyewa gudang yang lebih besar, bahkan membuka cabang di kota lain. Namun, Nayla teringat pesan Pak Baskara, mentornya.
"Hati-hati dengan uang besar, Nay. Investor tidak hanya memberi uang, mereka memberi tekanan. Mereka ingin untung cepat, dan terkadang mereka akan memaksamu mengubah resep atau memecat orang-orang lamamu demi efisiensi."
Nayla menatap Kevin, lalu menatap ke arah dapur di mana Ibu-ibu tetangganya sedang bekerja sambil bersenda gurau. Mereka adalah nyawa dari Basreng Matahari. Jika ia menerima investor ini, apakah ia masih bisa menjamin kehangatan "keluarga" di tempat ini?
"Terima kasih atas tawarannya, Mas Kevin," ujar Nayla tenang. "Tapi Basreng Matahari bukan sekadar angka di atas kertas bagi saya. Saya butuh waktu untuk mempelajari dokumen Anda. Saya tidak ingin kehilangan kendali atas kualitas dan orang-orang yang sudah berjuang bersama saya dari nol."
Kevin tampak sedikit terkejut dengan penolakan halus itu. "Pikirkan baik-baik, Mbak. Di tahun 2026, jika Anda tidak berlari cepat, Anda akan digilas oleh kompetitor yang punya modal lebih kuat."
Setelah Kevin pergi, Nayla kembali ke dapur. Ia mengambil sebuah bakso yang baru saja digoreng secara manual oleh ibunya. Rasanya masih sama. Gurih, pedas, dan ada "sentuhan manusia" di sana.
"Nay, apa benar kamu menolak uang miliaran itu?" tanya ibunya yang sempat mencuri dengar pembicaraan tadi.
"Nayla tidak menolak, Bu. Nayla hanya sedang menjaga cahaya kita agar tidak padam karena terlalu banyak bahan bakar yang dipaksakan," jawab Nayla diplomatis.
Malam itu, Nayla tidak tidur. Ia menghitung ulang arus kasnya. Ia memutuskan untuk tidak mengambil investor, melainkan mengambil pinjaman usaha dari bank pemerintah yang bunganya lebih rendah dan tidak meminta saham. Ia lebih memilih tumbuh secara organik dan sehat, meski harus sedikit lebih lambat, daripada tumbuh besar secara instan tapi kehilangan jati diri.
"Ternyata, ujian paling berat bagi seorang pengusaha bukan saat ia tidak punya uang, tapi saat ia ditawarkan uang yang sangat banyak. Di tahun 2026 ini, godaan untuk menjadi besar secara instan ada di mana-mana. Tapi saya belajar dari matahari; ia tidak butuh bantuan siapa pun untuk bersinar. Ia bersinar karena energinya sendiri. Menjadi besar adalah impian, tapi tetap menjadi diri sendiri adalah sebuah keharusan. Kami akan membeli mesin itu dengan hasil keringat kami sendiri, bukan dengan menjual jiwa perusahaan kami."