Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15🩷 Kriminalitas
Dea masih menerka-nerka dengan hati yang fyuhhhh....semua aman terkendali, hanya tinggal nanti ia pikirkan cara mengembalikan tas Rifal saja.
Nampak santai, bahkan Gibran sempat mengambil sandalnya terlebih dahulu dari rumah. Willy telah menanggalkan seragam putih atasnya dan sempat memesan cemilan siang ini. Namun obrolan yang semula santai dan nyaman ini, harus kembali terusik dengan gebrakan Inggrid yang jujur saja----terkadang dan semakin membuat Dea jengah, lelah nan tak habis pikir.
"Guys....gue rasa yang kemaren tuh perlu dibales deh." Ucapnya menikmati sushi yang dipesan Willy. Dea masih mengunyah, dan berebut memilih potongan sushi dengan Gibran. Sementara Willy masih setia memegang cup kecil berisi kecap asin jepang dicampur wasabi sambil mencocolkan potongan sushi di sumpitnya.
"Maksudnya?" tanya Dea mengunyah. Senyum Inggrid itu, membuat Dea mendadak jantungan karena---
"Gini deh." Ia mendekat dan berucap berbisik, namun di pandangan Dea, wajah Gibran dan Willy seperti datar, seperti tak lagi penasaran bahkan terkesan Willy yang tak nyaman.
"De, Lo sakit hati ngga sih kemaren waktu kita sampe disiram sama anak-anak MIPA 3 itu, rambut gue sampe rontok, dikeroyok 2 orang, emang si Alan!? Berasa banget harga diri diinjek-injek?" tanya nya bleduggg! Mengompori, namun Dea justru mengernyit, ia sedang mencerna kemana arah Inggrid bicara.
"Terus?" Dea menyudahi comotannya di kotak sushi.
"Beruntung kita kedatangan Kenzi. Karena dia juga ngga suka sama geng MIPA 3. Mereka memang mesti dikasih paham, biar ngga ngerasa paling hebat. Selama ini, mereka ngga tersentuh, tapi sekarang backingan kita kan udah ditambah Kenzi .."
Dea mendadak tak enak menelan makanannya, ia memandang Willy yang menghela nafas, dan Gibran yang menatap lurus ke arah kotak sushi.
"Dengan cara? Ngga usah aneh-aneh deh Ing. Harusnya yang kemaren aja dijadiin pelajaran ngga sih? Kalau mulai sekarang kita tuh udah mesti stop aja gitu ganggu orang. Kaya----" Dea mulai memutar memorinya beberapa hari ke belakang, beberapa Minggu, beberapa bulan yang sudah dijalani, dan semua perasaan tak enak, mimpi buruknya mungkin berakar dari situ. Ditambah, ia malas jika harus berurusan dengan MIPA 3.
"Ngga aneh Dea, kaya yang biasa kita lakuin aja. Mereka tuh mesti ada yang lawan, biar..."ia juga terlihat bingung, "biar ngga so gitu di sekolah, petantang petenteng, berisik, kaya sekolah milik sendiri...kampungan."
Lagi-lagi Dea memandang Willy dan Gibran yang terlihat diam.
"Lo kenapa sih, De. Biasanya juga ayo-ayo aja ..come on deh guys, ngga seru tau...kalian membleh begini."
"Ing, bukan gue membleh ya...tapi Lo ngga inget sama omongan mami gue kemaren? Ini kita udah kelas 3 loh, udah mau keluar...masa iya bermasalah terus. Belajar dari yang kemaren aja kita sampe masuk BK kan? Besok besok gue ngga yakin kalo mami mau tolong. Awal perjanjian pun mami tuh mau tolong kalo memang posisinya kita dijahatin orang, gue udah muak boong terus."
"Lo semua kok gitu sih."
Mereka sering berdebat tak sepaham, namun baru kali ini...Inggrid tak memiliki pembela disini, biasanya akan ada Willy, atau Gibran atau Dea yang satu paham dengannya.
"Bukan kita yang kenapa, Lo yang kenapa Ing?" tembak Gibran, "udahlah. Kita masing-masing aja. Anggap yang kemaren tuh impas karena Lo sama Dea gangguin si Mita."
Inggrid terlihat mengerucutkan bibirnya, menaruh sumpit dan bersidekap dada, "Lo semua ngga sayang gue ya. Ini Kenzi mau bantu loh...ngga terima pacarnya digituin orang."
Dan Dea merasakan perubahan yang semakin menjadi dari Inggrid sejak mengenal Kenzi, tunggu...
"Ing, mata Lo kenapa? Lebam apa----" Dea meneliti ujung dan bawah mata Inggrid yang warnanya meski samar namun berbeda, Inggrid langsung gelagapan, "ngga apa-apa. Lagian kalo peduli harusnya Lo ikut rencana gue, De."
"Rencana?" tanya Dea, bahkan Inggrid sudah memiliki rencananya sendiri.
"Rencana Kenzi sih."
Tatapan Dea begitu clueless melihat Gibran dan Willy, apa yang gue ngga tau?
"Rencananya kita jebak Rama, pake eks tasi, pas ada razia."
"Hah?!" Dea menyeru dan langsung membungkam mulutnya kala Inggrid menekan telunjuk di bibir.
"Gila ya?! Itu kriminal..."bisik Dea.
"Iya, itu kriminal, salah langkah kita yang dibui." Ujar Willy meyakinkan.
Dea menggeleng, "gue engga ikut. Ngga mau gue berurusan sama yang gituan."
Gibran tersenyum miring, "see....Dea yang biasanya mau, ngga ikutan gila kan Ing?"
"Nyebut Ing...nyebut." Pinta Dea justru memancing kemarahan Inggrid. Oke, ini bukan kali pertama Inggrid marah padanya namun, "gue balik lah. Emang Lo bertiga udah bukan temen asik lagi." ia mencangklok tasnya.
Biasanya ia akan mengejar, biasanya Willy akan menenangkan dan Gibran menahan langkah Inggrid namun sekarang, mereka membiarkan Inggrid keluar dari rumah Dea dengan membanting pintu pagar.
"Gue ngga bisa ikut, soalnya gue masih ijin. Ditambah, besok gue mesti ke Ciwidey ...mas Huda tunangan di villa keluarga kak Fani."
Willy mengangguk, "have fun De, Lo tenang aja...biar Inggrid kita yang pantau."
Dea merasakan resahnya, mondar mandir tak karuan merasa ada yang salah dengan ini. Oke ia tau, apa yang selama ini ia lakukan adalah hal jahat, kejam...pembalasannya akan rasa sakit pembullyan menjadi bystander dan menikmati perasaan puas karena merasa ada yang lebih lemah darinya itu sebuah kesalahan.
Sekarang, ia hanya sudah lelah...ingin hidup normal, memaafkan dirinya, masa lalunya dan yaa....jelas sekarang kehidupannya juga lebih baik, meskipun ia tak tau sampai kapan menyimpan rahasianya dari teman-temannya.
"Kenapa juga gue mesti tau. Kenapa juga mereka mesti cerita. Jadinya kepikiran..."
Pikiran-pikiran itu terus saja menyerang syaaraf otak Dea yang menimbulkan perasaan tak enak, bersalah dan sekaligus takut secara bersamaan, karena...jika masalah itu menyeret nama Inggrid, maka dirinya dan kedua yang lain sudah pasti akan terseret, ia tak mau itu....
Tapi pada siapa ia harus bicara dan mengadu? Tidak mungkin orangtua, mama misalnya atau semua akan terbongkar hingga akar.
Tatapan Dea jatuh ke arah tas Rifal. Iya, MIPA 3, sudah pasti mereka akan bertindak jika salah satu dari mereka diganggu. Sebelum terlambat, sebelum masa depan beberapa orang akan hancur...oke, ia kurang menyukai Rama, tapi ia tak cukup tega menghancurkan masa depan Rama...
Dea mengangguk, menanyakan alamat Rifal pada Nara dan memakai sweater rajut miliknya, "Ma!"
Dengan alasan ingin membeli martabak, dengan diantar pak Yayat satpam kompleks, Dea meraih tas milik Rifal membawa itu bersamanya, menyusuri jalanan kota selepas magrib.
"Lah, padahal bisa pesen lewat online kan neng kalo hari gini mah...ngga mesti repot-repot beli sendiri." Ujar pak Yayat, suaranya beradu dengan deru mesin motor Supra bapak yang ia kendarai.
Dea tersenyum, "sambil ngembaliin tas temen pak, tadi jenguk malah lupa dibawa...kasian besok sekolah gimana ngga ada tas." jawab Dea.
.
.
.
.
saya suka 😍😍😍
berasa dipanah ga tu neng dea..syok dan ada sensasi geli2nya gt ga sih.berbunga mksdny..😄😄
sabar yak om fal... jawabannya masih nunggu acc teh sin🤭
si pemaksa,, ini kaya bang maru cumn persi muda nya🤣🤣