Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Ingat Janjimu.
Andrea mengerejapkan mata beberapa kali, hingga kelopaknya terbuka sempurna.
Deg!!
Jantung gadis itu bergemuruh kala tak mendapati Audrey kecil di sampingnya. Andrea seketika panik. Ia takut terjadi sesuatu dengan bayi kecil itu. Ia bahkan berjongkok memeriksa ke bawah kolong ranjang, takut Audrey kecil terjatuh.
Padahal, bayi itu baru berusia dua minggu. Belum bisa menggerakkan tubuhnya secara sempurna. Namun, kepanikan membuat Andrea kehilangan akal.
Dengan perasaan khawatir, bercampur takut, Andrea keluar dari dalam kamar. Kali ini, ia berpikir jika ada orang yang menculik bayi itu.
Namun, baru akan menuju tangga, gadis itu melihat seseorang sedang duduk di kursi dekat balkon, seperti sedang memangku sesuatu.
“Tu-tuan?” Andrea dapat bernafas lega. Ia mendapati Arthur sedang memangku bayi mungil, dengan mata yang di lindungi penutup mata bayi.
“Ada apa? Kenapa kamu terlihat panik?” Tanya Arthur dengan alis bertaut.
“A-aku tadi mengira Princess jatuh, ah tidak. Aku mengira ada yang menculiknya.” Jelas Andrea sembari menunduk. Kini ia menyadari kebodohannya. Bayi itu bahkan masih sangat lemah. Mana mungkin bisa jatuh dari atas ranjang.
Arthur mencebik. “Maaf aku tak membangunkan mu. Aku melihat tidurmu lelap sekali.”
“M-maaf tuan. Aku baru tidur subuh tadi.” Ucap Andrea yang kembali menundukkan kepalanya. Gadis itu merasa tak enak hati, karena telah bangun kesiangan.
“Hmm. Ya, aku tau. Karena itu aku tak membangunkan mu. Bukannya kita sudah sama-sama belajar. Jika bayi banyak terbangun di tengah malam. Dan tidur di siang hari.”
Andrea pun menganggukkan kepalanya. Untung saja Arthur tidak memarahinya.
Pria itu pun bangkit. “Sekarang giliranmu. Aku harus bersiap untuk ke kantor.” Kemudian menyerahkan Audrey kecil kepada Andrea.
Lagi-lagi, gadis berusia dua puluh dua tahun itu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, saat berdekatan dengan Arthur. Dan tangan mereka kembali bersentuhan di bawah tubuh mungil itu.
“Sepertinya aku harus memeriksakan jantungku. Kenapa setiap dekat tuan Arthur jadi begini?” Gumam gadis itu sembari memandang punggung Arthur yang perlahan menjauh, dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Andrea pun mengambil tempat yang tadi di tempati oleh sang majikan untuk menjemur bayi mungil itu lagi.
Setengah jam berlalu, Andrea pun membawa Audrey kecil kembali ke dalam kamar. Dengan hati-hati meletakan di atas tempat tidur. Ia kemudian menyiapkan air mandi untuk bayi mungil itu.
“Apa seperti ini rasanya menjadi ibu muda?” Ucapnya sembari membilas dengan lembut kulit renta itu.
Andrea sangat berhati-hati dalam mengurus Audrey kecil. Bagaimana pun juga, tubuh mungil itu masih sangat ringkih. Terjadi kesalahan sedikit saja, sangat berbahaya untuk anak sekecil itu.
“Sayang, cantiknya bibi Rea.” Ucapnya seolah mengobrol dengan Audrey kecil.
Namun bayi mungil itu tak merespon. Hanya mengerejapkan mata beberapa kali.
“Rea?”
Nyonya Dinata datang menghampiri.
“Nyonya.”
“Cucu oma sudah mandi, ya.” Wanita paruh baya itu kemudian mengambil alih sang cucu. Andrea dengan sigap menyiapkan handuk bayi.
“Kamu tidak kesusahan menjaga Audrey seorang diri, kan?” Tanya wanita paruh baya yang memiliki nama asli Daisy Carrisa itu.
“Tidak nyonya. Nona kecil tidak rewel. Hanya saja, dia akan terbangun di tengah malam, dan baru tidur kembali saat pagi menjelang.” Jelas Andrea sembari membalurkan minyak kayu putih pada tubuh ringkih itu.
“Memang seperti itu. Bayi yang baru lahir itu, lebih banyak tidur. Nanti, setelah ini aku yakin dia pasti tidur lagi.”
Andrea mengangguk. Ia kemudian memakaikan bayi mungil itu baju.
“Kamu disini dulu, aku mau menyiapkan sarapan untuk Arthur. Apa kamu mau di bawakan sarapan kemari?” Tanya ibu dua anak itu.
“Tidak nyonya, nanti kalau nona kecil tidur, saya akan turun untuk makan.” Jawab Andrea dengan tersenyum. Ia tak merasa tak enak, jika harus dibawakan sarapan.
“Ya sudah, aku turun dulu.”
Setelah kepergian nyonya Dinata, Andrea kembali memangku Audrey kecil. Di tatapnya lekat-lekat bayi itu.
Rasa iba kembali menyelimuti hati Andrea. Membayangkan bagaimana nanti menjelaskan pada Audrey, jika dia tidak memiliki orang tua.
“Kamu yang sabar ya, sayang. Kamu tidak sendiri. Ada bibi yang akan selalu menemani mu.” Di kecupnya sekilas kening bayi mungil itu. Andrea tak berani menempelkan bibirnya, karena kulit bayi sangat rentan. Takut ia menularkan kuman pada Audrey kecil.
🍃🍃🍃
Arthur menuruni tangga di dalam rumahnya, sudah dengan penampilan rapi dan siap untuk ke kantor. Pria itu selalu terlihat berwibawa dengan setelan apapun yang ia gunakan.
Perpaduan darah Inggris dan pribumi, membuatnya terlahir menjadi pria tampan dan mempesona.
Tinggi tubuh yang hampir mencapai dua meter, membuat penampilannya semakin sempurna.
Banyak kaum hawa yang mengagumi, bahkan ada yang terang-terangan menyatakan cinta padanya. Namun, pria kepala tiga itu tak pernah menanggapi. Hingga saat ini, di hatinya masih tertulis satu nama, cinta pertama sejak masa SMA, Celine Atmajaya.
“Arth, bagaimana jika kita mencari pengasuh untuk Audrey?” Tanya sang mama sembari mengisi piring sang putra dengan satu centong nasi goreng.
Alis Arthur bertaut, ucapan sang mama ia anggap sebagai pertanyaan. Bukan sebuah usulan.
“Sudah ada Andrea, ma. Untuk apa mencari pengasuh lagi?” Pria itu berbalik melontarkan pertanyaan. Tangannya terulur meraih piring yang di pegang sang mama.
Mama Daisy menghela nafas pelan. Ia menyuap sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Memang ada Andrea. Tetapi, tugas dia bukan menjadi pengasuh. Kamu ingatkan, apa janjimu pada mendiang Audrey?” Ucap mama Daisy memicingkan mata.
Arthur membuang nafasnya kasar. Baru dua suap nasi goreng masuk kedalam perutnya, namun kini sudah terasa kenyang.
“Aku tidak lupa, ma.” Ucap pria itu yang kemudian meminum air dari dalam gelas kaca.
“Baguslah kalau kamu ingat. Lalu kapan kamu akan merealisasikannya?”
Pertanyaan sang mama benar-benar membuat selera makan Arthur menghilang. Adiknya baru dua minggu meninggal, suasana pun masih berduka. Sang mama justru membahas tentang pernikahan.
“Tanah kubur Audrey masih basah, ma.”
“Mama tau, lagipula, kamu menikah karena permintaan adikmu, kan? Lebih cepat lebih baik, Arth. Ingat, Audrey kecil butuh orang tua lengkap. Dia harus memiliki identitas yang jelas.”
“Aku tau, ma. Beri aku waktu.”
“Sampai kapan? Sampai bayi itu bisa berjalan?”
Arthur mendorong piringnya menjauh. Tanda ia sudah selesai dengan sarapannya.
“Biarkan aku dan Andrea saling mengenal dulu, ma. Aku tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari.”
Pria itu bangkit, ia kemudian meraih tangan sang mama, untuk di ciumnya.
“Bukan karena kamu masih mengharapkan janda satu anak itu, kan?”
“Ma.”
Arthur mengeram, namun ia tidak ingin bertengkar dengan sang mama.
“Aku berangkat.” Ia begitu saja meninggalkan sang mama di meja makan.
Mama Daisy menatap punggung sang putra yang semakin menjauh.
“Mau sampai kapan lagi kamu melajang, Arth? Hanya karena menunggu dia yang tidak pernah mencintaimu.”
.
.
.
Bersambung
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an