NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Vania berjalan sendirian di tepi pantai, pasir putih yang lembut terasa menyentuh telapak kakinya. Angin laut yang sejuk meniup rambutnya yang terurai, membawa aroma garam yang menyegarkan. Di tangannya, dia memegang beberapa tangkai mawar yang dulu pernah diberikan oleh Deo sebagai simbol cinta mereka. Warna merah mawar itu kini memudar, begitu pula kenangan yang seharusnya telah lama ia tinggalkan.

Langit di atas pantai itu tampak mendung, seolah-olah memahami kesedihan yang masih bersarang di hati Vania. Duka mendalam atas kehilangan kedua orang tuanya belum sepenuhnya ia lepaskan, ditambah luka yang disebabkan oleh pengkhianatan Deo yang masih terasa perih. Vania menutup matanya, menghirup udara segar, mencoba menenangkan gelombang emosi yang menghantamnya.

Dengan pelan, ia merendahkan tubuhnya untuk membuang mawar yang ia pegang ke laut, satu per satu, simbol melepaskan masa lalu yang menyakitkan. "Aku harus melanjutkan hidup," gumamnya pelan. Setiap tangkai mawar yang tersapu ombak, membawa sedikit dari rasa sakit dan pengkhianatan yang ia rasakan. Vania tahu ini bukan akhir dari kesedihannya, namun setidaknya, hari ini, dia telah membuat langkah untuk menyembuhkan dirinya sendiri, di tepi pantai yang sunyi ini.

Aliran air yang kuat segera menarik mawar tersebut hingga menghilang dari pandangan. Dengan langkah gontai, Vania berjalan semakin jauh ke dalam, air laut kini mencapai lututnya, rasa dinginnya menyentuh kulit namun ia merasa tenang. Ia berdiri tegak, menutup mata, menarik napas dalam-dalam, merasakan setiap hembusan angin yang membawa semburat asin ke wajahnya.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, sebuah tangan yang kuat mengitari pinggangnya dan mengangkatnya dari air. Vania, yang terkejut, langsung meronta dengan keras, memukul-mukul punggung pria tersebut. "Lepaskan aku!" teriaknya, tapi pria itu hanya mengencangkan genggamannya. Dengan cepat, dia membawanya kembali ke tepi pantai.

Namun, ketika kaki mereka menyentuh pasir yang lembut, keduanya kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersama. Vania segera merangkak menjauh dari pria itu, sambil menatap tajam. "Apa-apaan ini?" desaknya, suaranya bergetar antara marah dan bingung.

"Bunuh diri bukan cara untuk menyelesaikan masalah," ujar pria itu, ia menunduk seraya membersihkan bajunya dari pasir.

"Anda pikir saya mau bunuh diri?"

"Maaf, saya hanya... Saya kira kamu akan menenggelamkan diri," jawabnya, suaranya berat dan penuh penyesalan. Raut mukanya menunjukkan kekhawatiran yang tulus, namun Vania masih terlalu marah untuk memperhatikan.

"Saya bisa menjaga diri sendiri," ucap Vania tegas, matanya masih berkaca-kaca bukan hanya dari air laut, tapi juga dari emosi yang bercampur aduk.

Farel tercengang karena ketika mendongak wanita yang dia gendong tadi ternyata adalah Vania. " Loh Vania, ternyata kamu."

"Kenapa dari sekian banyak orang, aku harus ketemu sama bapak-bapak ini si?" Gerutu Vania, ia beranjak sembari membersihkan pakaiannya. Ia memegang tangannya yang sakit karena terjatuh kalau berlari meninggalkan Farel.

"Hei, mau kemana kamu? Jangan coba-coba buat bunuh diri lagi!" Teriak Farel.

Langkah Vania terhenti, ia membalikkan tubuhnya kemudian menatap tajam Farel." Mau saya bunuh diri atau gak bukan urusan kamu!"balas Vania dengan teriakan.

"Jangan seperti itu, masih ada Tuhan yang sayang sama kamu."

Vania tidak mengindahkan ucapan Farel. Gadis itu kembali berlari sejauh mungkin agar tidak lagi berada di dekat Farel. Vania meringis begitu kakinya tak sengaja mengenai batu karang, begitu dilihat ternyata salah satu jari kakinya berdarah. Farel yang masih memerhatikan Vania dari kejauhan segera mendekat begitu melihat ada yang tidak beres dengan Vania.

Farel menghampiri Vania dengan langkah cepat, namun ia terhenti, matanya membulat melihat darah yang merembes dari kaki Vania. Pasir pantai yang hangat kini tampak kemerahan di sekitar kakinya. Dengan isyarat hati-hati, Farel menawarkan bantuan, "Naiklah ke punggungku, biar aku bawa." Namun Vania, dengan tekad yang terlihat jelas di wajahnya, menolak dan mencoba berjalan sendiri, kaki kanannya menyeret dengan kesakitan.

Melihat Vania yang berusaha keras, Adam hanya bisa berdecak kesal dan khawatir dari kejauhan. Farel tidak tahan melihat Vania menderita, ia mengambil keputusan cepat. Dengan gerakan yang tegas dan penuh kekuatan, Farel mengangkat tubuh Vania, mengabaikan perlawanannya yang lemah. Vania berontak, tangannya menepis udara, namun Farel dengan hati-hati memeluknya erat, menstabilkan tubuhnya dalam gendongan.

Sesampainya di mobil, Farel membuka pintu dan dengan hati-hati menurunkan Vania, menempatkannya di jok mobil dengan lembut. Ia berjongkok di hadapan Vania, memastikan dia nyaman sebelum menutup pintu. Farel mengunci Vania di dalam agar gadis itu tidak kabur, sedangkan Farel bergegas menuju bagasi untuk mengambil kotak pertolongan pertama. Setelahnya ia kembali membuka pintu mobil, begitu terbuka Vania melayangkan tatapan tajam ke arahnya.

"Kamu jangan macam-macam ya sama saya! Kalau berani saya hajar kamu!" Ancam Vania.

"Kamu terlalu berpikir jauh, lagian siapa juga yang mau macam-macam sama perempuan kayak kamu," jawab Farel seraya membuka kotak pertolongan pertama.

Vania melotot." Kalau gitu lepasin saya!" Ujar Vania hendak membuka pintu mobil, namun tangannya terlebih dahulu di tahan oleh laki-laki itu.

"Bisa diam tidak? Saya tuh berniat baik loh, mau obatin kaki kamu. Kalau dibiarin nanti infeksi loh," ujarnya seraya meraih kaki Vania yang terluka.

Vania segera menarik kakinya." Gak usah, saya bisa obatin sendiri di mobil saya."

Adam berdecak." Jangan ngeyel deh, kamu mau obatin gimana? Mobil kamu juga dimana? Udah bagus saya mau nolongin kamu."

Vania hendak berbicara namun urung begitu Farel menarik paksa kakinya. " Jangan banyak protes, atau saya sumpal mulut kamu. Jadi cewek kok bawel banget sih, heran!"

Vania berdecak sebal, ia menggerutu sendiri ketika kakinya diobati oleh Farel. Laki-laki itu sangat teladan membersihkan darah dan mengobati luka di kaki Vania.

"Tuh kan darah yang keluar dari kaki kamu itu banyak, kalau tadi kamu memaksakan diri berjalan di atas pasir bisa-bisa karena terkena infeksi," tegur Farel.

"Iya, sudah selesai kan? Kalau begitu saya mau pulang, semoga kita tidak bertemu lagi,"ujar Vania.

"Dasar perempuan, terima kasih sudah saya obati. Ya sudah sana, kalau kenapa-napa saya gak tanggung jawab."

Vania mendelik, ia lalu membuka pintu mobil Farel berniat untuk keluar. Namun baru sempat akan membuka pintu, pintu mobil terbuka sendiri dan menampakkan Cila yang hendak masuk ke dalam mobil. Gadis itu terlihat berbinar melihat Vania bersama ayahnya.

"Tante Vania!" Sapa Cila dengan semangat.

Vania meringis, ia melambaikan tangan pada gadis kecil itu." Halo, Cila."

"Papah ketemu sama Tante Vania ya, hore! Kita bisa makan bareng dong," seru Cila.

"Kenapa jadi kayak gini, si?" Batin Vania.

Farel menggaruk kepalanya dan berusaha mencari alasan." Eum, nak Tante Vania harus pergi, soalnya masih ada pekerjaan. Makan barengnya lain kali aja ya, nak."

Wajah cerah Cila seketika berubah." Cila gak mau tahu. Papah kan janji kita mau nemuin Tante Vania. Ini Tante Vania nya udah ada loh, pah." Ujar Cila sambil menyilangkan kedua tangannya kemudian menatap Vania penuh harap." Tante, mau kan makan bareng aku dan papah?"

Vania menoleh ke arah Farel yang memasang wajah menyebalkan, lalu ia kembali menatap gadis kecil itu." Maaf ya Cila, Tante ,asih banyak pekerjaan jadi lain kali aja, ya?"

Cila merengek lantas menangis sekeras-kerasnya, sehingga mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. Vania dan Farel terkejut begitu Cila menangis. Vania cukup kesal, karena memang sedari dulu ia sangat tidak suka dengan tangisan anak kecil. Sedangkan Farel berusaha menenangkan Cila dan memberi pengertian kalau Vania tidak bisa bersama mereka karena pekerjaannya. Tapi Cila tidak mau tau, justru tangisan gadis itu malah semakin keras.

Vania menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya secara kasar." Oke, Tante mau makan bersama kalian."

Tangisan Cila seketika berhenti." Beneran Tante?"

Vania mengangguk." Sekali saja ya."

Cila mengangguk dengan semangat." Ayo pah kita ajak Tante Vania makan seafood. Yeay! Akhirnya Cila bisa makan bareng Tante Vania."

1
Wayan Suryani
sombong smg kamu ilcehjan lzgi
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!