Pernikahan yang awalnya didasari rasa saling cinta, harus berakhir karena sang istri yang tak kunjung hamil selama 3 tahun pernikahan.
Benarkah sang istri yang mandul?
Setelah itu mantan suami masih datang mengganggu saat mantan istri membuka hati pada pria lain. Siapakah yang akan dia pilih?
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Gadis kecil yang Imut
"Tante sedang mengaji ya?" tanya seorang gadis kecil memecah konsentrasi Yulia. Ia tiba tiba sudah berada di samping Yulia. Ia tersenyum dengan begitu manis. Lesung pipinya terlihat sangat menawan dan imut.
"Eh, adek kok disini ? Sama siapa kesini?" Yulia mengira itu adalah anak seorang pembeli yang kesasar dan terlepas dari pengawasan orang tuanya.
"Sama Ayah Shila, Tante." Gadis itu kisaran umur 5 tahunan.
"Tante, ajarin Shila ngaji dong! Biar Shila bisa doain Bunda Shila yang di surga!" ucap gadis kecil polos itu. Yulia terkesiap. Rupanya gadis kecil itu anak piatu.
"Bunda Shila di surga? Sejak kapan?"
Yulia menyentuh ubun ubun Shila. Rambutnya yang panjang bergelombang di kuncir dua, terlihat lucu dan imut.
"Kata Ayah, bunda Shila pergi ke surga sejak Shila lahir. Shila cuman lihat bunda Shila didalam foto. Cantikkk sekali, kata Ayah." Yulia tertawa.
"Tentu saja bunda Shila sangat cantik. Anaknya aja cantik dan imut beginih!" Yulia mengusap usap pipi gembul Shila gemas.
"Tante Yulia boleh peluk Shila nggak?" pinta Yulia. Dan bocah itu berbinar bahagia dan mengangguk. Ia merentangkan tangan kecilnya.
Yulia memeluk Shila sepenuh hati. Kerinduan akan hadirnya seorang anak dalam hidupnya telah musnah karena perceraiannya. Ia menciumi anak dalam pelukannya itu. Hingga Shila kegelian dan tertawa tawa.
"Memang biasanya Shila ngaji sama siapa?" tanya Yulia lagi setelah mengurai pelukan.
"Dulu Shila ngaji sama Nenek. Tapi sekarang Nenek Shila sudah bersama Bunda di surga." Yulia mengangguk paham. Kasihan gadis kecil ini. gumamnya.
"Ayah Shila katanya mau ngajarin ngaji, tapi sampai sekarang Shila nggak juga diajarin sama Ayah Shila. Katanya Ayah masih sedang sibuk." cerocos Shila.
"Tante mau ngajarin Shila belajar ngaji, asal Shila izin dulu sama Ayah. Kalau sama Ayah Shila di bolehin, mulai besok Tante bisa kok ajarin Shila. ngaji. " Ucapan Yulia membuat Shila tertawa senang
"Horeee, Shila diajarin ngaji." Anak itu berjingkrak. Betapa senangnya ia, walaupun cuman dijanjikan diajarin ngaji.
Dan semua percakapan mereka tak luput dari pendengaran seseorang dari balik tirai.
****
"Kamu ketiduran ya, Yul? Kok lama banget di atas?" sapa Yeni yang bertemu didepan tangga. Yeni melirik keatas. Yulia tersenyum.
"Maaf ya mbak Yeni, tadi waktu aku mau keluar, tiba tiba ada anak kecil yang imut nyamperin aku. Terus ngajak main aku." ucap Yulia memberi alasan yang memang benar adanya
"Anaknya cantik dan pinter banget mbak Yeni, rambutnya panjang bergelombang, punya lesung pipit juga. Mmm, namanya Shila. Katanya dia ingin aku mengajari dia ngaji, biar bisa mendoakan Bundanya yang di surga. Memang dia itu siapa sih, mbak?" Yeni yang membawa troli berisi 2 dus minyak botol dan 1 dus minyak kemasan refill , menghentikan langkah. Menatap Yulia yang mengekori langkahnya.
" Shila ya?" Yeni mencondongkan wajahnya, mendekatkan bibir ke kuping Yulia. "Dia itu anaknya yang punya swalayan ini. Dia itu du-ren loh!" Yeni mengulum senyum. Sedangkan Yulia mengernyitkan alisnya.
"Du-ren? Apaan tuh?" tanya Yulia tak mengerti istilah yang digunakan Yeni.
Yeni melebarkan senyumnya hingga terlihat gigi geraham karena mulutnya memang lebar.
"Du-ren. Duda Keren. Ih, masak yang gitu gak ngerti sih, Yul?" senyumnya memudar, saat melihat kearah tangga. Yulia tertawa lirih, belum menyadari apa yang terjadi. Yeni beralih segera membuka karton minyak yang tadi di dorongnya. Dan menyusun satu persatu di rak yang kosong.
"Ehemm, ehemm!" suara deheman membuat Yulia tersentak dan menoleh. Ia tersenyum kecut, melihat penampilan seseorang yang berdehem itu. Mata elang lelaki yang terlihat rupawan Dimata Yulia itu menatap Yeni dan dirinya dengan tajam. Tanpa senyuman sama sekali dari wajahnya. Berbanding terbalik dengan bocah disampingnya yang terus tersenyum menampakkan lesung pipi indahnya.
Tanpa berkata apapun ia ngeloyor pergi meninggalkan Yulia dan Yeni yang klejingan alias malu.
Tapi beberapa saat kemudian mereka kembali lagi.
"Tante Yulia!" panggil bocah imut itu yang ternyata anaknya.
"Eh, iya Shila ada apa?" Yulia berdiri dari jongkoknya dan menghadap Shila dan ayahnya. Sedangkan Yeni hanya melirik sambil meneruskan pekerjaannya.
"Kata ayah, Shila boleh belajar mengaji sama Tante." ujarnya dengan gembira.
"Oh iya" Yulia kehilangan kata kata untuk menjawab Shila. Dia juga tak berani menatap mata elang Ayah gadis kecil itu.
"Selama satu jam, aku minta kamu mengajari anakku mengaji dan selama satu jam itu kamu saya bebas tugaskan dari pekerjaan ini sebagai gantinya" ujar lelaki itu tanpa basa basi.
Busheeet! gak ada ba bi bu orang ini. Langsung ke intinya. Yulia.
"Baik, pak! Terima kasih." Dan lelaki itupun berbalik pergi lagi dengan menggamit tangan anaknya. Sungguh pemandangan yang sangat kontras. Yulia menghela napas yang terdengar oleh Yeni. Yeni cekikikan.
Pukul delapan tepat, swalayan ditutup. Badan Yulia terasa lelah, namun ia bahagia. Teman teman barunya sangat enak untuk diajak bicara dan bercanda, membuatnya sedikit terlupa dengan lara hati yang disebabkan oleh mantan suaminya.
Pukul 8 lewat 15 menit saat dia sampai dirumahnya. Ia mengetuk pintu dan mengucap salam. Terdengar ibu menjawab salam dari dalam dan melangkah mendekati pintu. Sang ibu yang membuka pintu terlihat begitu khawatir.
"Maaf, Bu. Yulia lupa tak memberi kabar ibu. Yulia tadi langsung di terima bekerja, dan saking semangatnya Yulia kerja sampai gak kepikiran ngabarin ibu." Yulia tahu kesalahannya, sebelum ibunya mengomel panjang lebar, iapun langsung meminta maaf saat ibunya membukakan pintu.
"Kamu itu ya, selalu saja. Kalau sedang bahagia ibu ini dinomorduakan. Padahal ibu itu selalu menomorsatukan anak anak ibu. Kalau ada apa apa, selalu kalian berdua yang pertama ibu pikirkan. Dasar, anak gak peka." ternyata permintaan maaf Yulia tak mengubah keadaan. Ibu tetap saja mengomelinya. Ya, emang salah Yulia juga sih.
"Hoooam!" Yulia pura pura menguap.
"Bu, Yulia capek. Mau bersihkan badan dulu. Yulia masuk dulu ya, Bu!" Ia segera berlalu menuju kamarnya. Kalau tidak ia pasti akan terus kena semprot berjam jam lamanya.
"Yulia, kamu udah makan belum?" tanya ibu saat Yulia di kamar mandi.
"Udah, Bu tadi sore ditraktir sama teman teman." jawab Yulia dengan suara keras.
"Udah salat isya' belum?" tanya ibu lagi.
"Belum, Bu. Habis ini Yulia wudhu terus salat!" jawab Yulia terdengar tak begitu jelas dari luar. Ia sedang menggosok gigi.
"Ya sudah, Ibu tunggu buat jamaah, ya?" tak terdengar jawaban dari dalam. Namun ibu langsung menuju ruangan untuk salat.
****
Yulia berguling ke kanan dan ke kiri ditempat tidurnya. Ia tak bisa memejamkan mata. Entah mengapa ia teringat Shila, gadis kecil anak pemilik swalayan yang telah ditinggal mati oleh Bundanya.
Didalam hati kecilnya Yulia terpesona dan juga merasa iba dengan nasib Shila. Namun saat mengingat Ayah Shila, ia menggerutu sendiri.
"Huh, itu orang apa waktu ibunya hamil dia kebanyakan minum kopi tanpa gula ya? Pahit banget. Atau, apa ibunya kena diabetes. Gulanya diambil sendiri, anaknya gak kebagian."
"Gak ada manis manisnya sama sekali." gumamnya lagi.
Eh, kok jadi mikirin pak Bos Duren Sawit. DUda keREN SArang duWIT.
Tapi SAngat paHIT.
****
"Bundaaa!" Terdengar suara seorang gadis kecil. Yulia tengah berada ditepi danau yang indah. Dikelilingi bunga bunga berwarna warni nan sejuk dipandang mata. Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara.
"Bundaaa! Peluk akuuuu!" Suara itu terdengar lagi. Yulia menoleh, seorang gadis kecil berada ditepi seberang danau tempatnya berdiri.
Gadis kecil itu terlihat seperti mau menyeberang. Padahal air danau itu walaupun terlihat tenang, tapi cukup dalam. Jika gadis itu menyeberang, tentu ia akan tenggelam.
Yulia panik.
Ia mau mencegah gadis kecil itu untuk menyeberang, tapi mulutnya seperti terkunci.
Gadis itu terus berjalan ke tengah danau dan terus merentangkan tangan ingin di peluk Yulia. Air danau itu sudah sebatas lutut gadis itu.
Tiba tiba Yulia melihat sebuah perahu. Tanpa pikir panjang Yulia menaiki perahu itu dan berusaha menahan gadis kecil itu untuk tak lagi menyeberang air. Dengan susah payah Yulia mendayung, mendekatinya.
Dan berhasil.
Setelah dekat, Yulia segera mengangkat gadis yang terlihat ketakutan dan menangis itu ke dalam perahu yang dinaikinya.
"Alhamdulillah, syukurlah kamu selamat, Nak! Tak jadi tenggelam." Yulia menarik gadis kecil itu ke pelukannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC
kok beda lagi?