Menjalani Takdir Pernikahan yang Begitu Rumit Untuk Sania..
" Katakan Apa Salah Ku Sehingga Kau Memberikan Aku Ujian Seberat Ini! " Sania Terduduk Pilu Saat Menyadari Takdir Pernikahan Nya Tidak Sesuai Dengan Semua Nya....
Mampukah Sania Bertahan Atau Ia Akan Memilih Pergi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-2
( Apakah Masalalu Yang Dulu Akan Terulang Lagi Nanti? )
Sania Menganti Pakian Nya Dengan Kaos Oblong, Celana Komprang Dan Juga Jilbab Instan.
Ia Memandang Wajah Nya Di Cermin, Kulit Wajah Nya Sangat Belang Karena Terkena Sengatan Matahari, Dirinya Berangkat Ngarit Sehabis Shalat Dzuhur Sudah Pasti Mata Hari Sedang Lagi Panas-Panas Nya.
Sania Mengambil Sepatu Keraca, Di Bawah Amben Tidur Nya.
Segera Memakai Sepatu Di Kaki Nya, Dan Juga Sarung Tangan Yang Sudah Bolong Pada Bagian jempol Namun Ia Masih Mengunakan Nya.
" Buk... Sania Berangkat Ngarit Dulu Yah Buk " Sania Sudah Siap Membawa Arit Dan Karung Besar
" Hati-Hati Nduk' " Bu Lastri Tersenyum Banga Pada Anak Semata Wayang Nya, Karena Sania Bukan Hanya Patuh, Namun Juga Sangat Rajin.
Seperti Biasa Sania Selalu Menyalami Tangan Sang Ibu Saat Hendak Mencari Rumput.
Langkah Nya Sudah Seperti Kijang, Tangan Nya Jauh Dari Kata Halus, Telapak Kaki Sania Saja Jauh Dari Kata Mulus.
Kaki Kecil Nya Terus Beranjak Menaiki Bebatuan Besar Memanjat Pohon Elir Untuk Mencari Makan Kambing Pak Sep.
Tak Butuh Waktu Lama, Sudah Terkumpul Satu Karung Besar Rumput Dan Juga Daun Segar Sania Menaruh Beban Berat Itu Di Pundak Nya.
" Ya Allah,,, Kuat Ya Allah " Sania Menarik Nafas Dalam Menyemangati Dirinya Agar Bisa Kuat Saat Membawa Beban Itu.
Sania Berjalan Turun Membawa Rumput Dan Satu Tangan Nya Memegang Arit.
Langkah Demi Langkah Sania Jalani Akhirnya Sampai Juga Di Kandang Kambing Milik Pak Sep.
" Akhirnya Sampai Juga " Sania Menaruh Rumput itu Di Pemakanan...
Keringat Nya Membasahi Wajah Dan Juga Badan, Namun dirinya Tetap Bersyukur
" Masih Butuh Dua Kali Lagi " Baru Satu Karung Rumput Yang Sania Bawa, Masih Ada Dua Karung Rumput Lagi Yang Belum Ia Bawa Disana.
Sania Meluruskan kaki Nya Sejenak, Sambil Mengusap Keringat Yang Terus Berderai.
" Makanya Sekolah Yang Tinggi Biar Tidak Jadi Kuli " Sergap Bu Septi Sesuka Mulut Nya.
Bu Septi Memang Terkenal Sangat Julid Anak Nya Kasim Dan Juga Salma Memang Sebaya Dengan Sania, Namun Sekarang Mereka Menempuh Pendidikan SMA..
" Do'akan Saja Yah Bu,, Biar Saya Bisa Sukses " Bukan Nya Marah, Sania Malah Sangat Legowo Meskipun Hatinya Bergetar Namun Wajah Nya Tetap Tenang.
" Cuiiihhh..... Mimpi Kamu, Memang Nya Bisa Sukses Setiap Hari Saja Kerjaan Mu Hanya Buruh. Bahkan Ibu mu Saja Seorang Janda Kau Tidak Mungkin Bisa Sukses Sania! " Cibir Bu Septi Tampa Memikirkan Perasaan Sania.
Sania Hanya Menggeleng Pelan, Untuk Menepis Rasa Sakit Hati Nya Dirinya Langsung Beranjak Dari Duduk Nya.
" Bu,,, Saya Permisi Dulu " Ucap Sania, Tanpa Menghiraukan Ucapan Bu Septi Lagi.
" Dasar Anak Haram..." Cibir Septi Setelah Sania Berlalu Dari Hadapan Nya.
.
.
Sania Mengusap Dada Nya Yang Bergemuruh Kencang, Ingin Sekali Marah Namun Tidak Bisa, Tiba-Tiba Air Mata Jatuh Tanpa Bicara
" Ya Allah,,, Ikhlaskan Ya Allah " Sania Luruh Hatinya Sakit Jujur Saja Jika Ada Yang Menyinggung Perihal Pendidikan.
Sania Terduduk Di Karung Berisi Rumput, Ia Mengusap Kedua Mata Nya Yang Berair
Mata Nya Sembab, Namun Harus Bagai Mana? Seja Kecil Hidup Nya Memang Sangat Keras, Sejak Berusia Tujuh Tahun Sania Juga Sudah Membantu Ibu Nya Buruh Di Sawah-Sawah Warga.
Upah Nya Hanya Seberapa, Bahkan Untuk Membeli Baju Saja Tidak Mampu, Sania Dan Bu Lastri Bisa Membeli Baju Ketika Lebaran Saja, Itu Pun Jika Tidak Pasti Sania Akan Di Kasih Baju Bekas Oleh Tetangga Yang Masih Merasa Iba.
" Dik,,, Dik,,, Bisa Tolong Tunjukan Saya Jalan? " Suara Berat Itu Membuyarkan Kesedihan Sania.
Sania Menengok Suara Berat Itu, ia Langsung Mengusap Wajah Nya.
" Eh-iya Pak " Bibir Nya Tersenyum Pilu, Mata Nya Masih Berkaca-kaca. Sania Langsung Beranjak Dari Duduk Nya, Dan merapihkan Hijab Yang Tadi Menutup Wajah Nya.
Laki-Laki Dengan Rahang Yang Tegap Tubuh Tinggi 187cm itu Seperti Terlihat Bingung Saat Berada Di Hadapan Sania.
" Apa Adik Bisa Mengantarkan Saya Pulang Ke Rumah Penginapan Yang Sudah Di Sediakan Pak Kades? Soalnya Saya Lupa Jalan Nya. " Ungkap Nya Sedikit Terkekeh, Sambil Mengusap Tengkuk Nya Yang Tidak Gatal.
" Eh-iya " Jujur Saja Sania Gugup Saat Berbicara Dengan Orang Kota.
Mendengar Jawab Dari Laki-Laki itu, Sania Sudah Bisa Menebak Bahwa Laki-Laki Yang ada Di Hadapan Nya Adalah Seorang Jurnalis Yang Baru Saja Datang Tadi Pagi.
" Ayo-pak Mari Saya Antar " Sania Jalan Mendahului Sambil Membawa Beban Berat Di Kepala Nya.
Laki-Laki Itu Mengikuti Langkah Sania Jalan, Dirinya Sambil Membawa Camera Mengambil Gambar Pemandangan Sekitar Desa Tiga Sari
Melihat Sania Membawa Karung Berisi Rumput Di Pundak Nya, Aditya Meresa Heran Dengan Nya, Gadis Polos, Lugu Dan Sopan Santun Itu Menunjukan Jalan Pulang Pada Nya.
" Apa Kau Tidak-Papa Dik? " Aditya Tampak Kaget Melihat Langkah Sania Yang Sempoyongan.
" Tidak Papa Pak " Lirih Nya Sambil Menahan Beban.
Sania Meminta Aditya Menunggu Dirinya di Bawah Pohon Randu, Karena Sania Akan Menaruh Pakan Kambing Itu Sejenak.
" Pak Tunggu Sebentar Disini Yah, Saya Mau Naruh Rumput ini Dulu Disana..." Ungkap Nya Tampa Menoleh.
Karena untuk Menuju Jalan Setapak Menuju Rumah Penduduk Lumayan Jauh Dari Sini.
Kandang Kambing Pak Sep,,, Berada Di Tengah Sawah Yang Lumayan Jauh Dari Pemukiman Warga,
Selepas Menaruh Karung Berisi Rumput, Sania Menaruh Rumput itu Langsung Memberikan Makan Kepada Kambing Karena Hari Sudah Semakin Sore
Keluar Dari Kandang Kambing Terlihat Laki-Laki, Itu Masih Berdiri Tegap Disana Menunggu Nya Dengan Tenang Sambil Memotret Pemandangan.
" Maaf Pak,,, Saya Lama Yah " Ucap Sania Malu-Malu Menunduk Tanpa Menatap Lawan Bicara Nya.
" Iya Mari... " Selesai Memotret Pemandangan Sawah Yang Sangat Subuh, Raditya Dan Sania Jalan Beriringan Melewati Ladang Para Warga.
Di Desa Tiga Sari Sedang Musim Padi Yang Baru Saja Menjulang, Pemandangan Nya Sangat Indah Di Tambah Angin Yang Sangat Sejuk Pada Sore Hari.
Keduanya Berjalan Bersama Menyusuri Sawah Warga, Jujur Ini Untuk Pertama Kali Nya Hati Sania Bergetar Gugup Saat Berjalan Bersama Seorang Pria.
" Kayanya Gerimis Yah " Aditya Mengusap Rambut Nya Yang Terkena Gerimis..
Jam Menunjukan Pukul 16:00... Angin Nya Bertiup Sangat Sepoy-Sepoy Memang Cuaca Di Desa Tiga Sari Sedang Mengalami Pancaroba,,, Pagi Dan Siang Panas Dan Sore Terkadang Sampai Malam Hujan Lebat.
" Iya Pak Hujan,,, Oya Cepat " Sania Berlari Perlahan, Tangan Nya Memegang Sepatu Nya Dan Juga Memegang Arit
Aditya Mengikuti Langkah Sania Perlahan, Namun Langkah Mereka kalah Cepat, Hujan Turun Dengan Santai Nya Bersama Dengan Kilat Yang Langsung Terang Di Langit
" Bisakah Kita Mencari Tempat Teduh Sebentar Dik,,, Yang ada Nanti Kamera Saya Rusak Terkena Air " Ucap Nya, Sambil Menyembunyikan Kamera Di Balik Jas Yang Ia Kenakan.
" Iya pak,,, Kita Akan Mencari Gubuk Untuk Berteduh Sebentar " Ucap Sania,,, Langkah Nya Di Susul Oleh Aditya...
.
.
" Sudah Anak Haram Kau Mau Berbuat Hal Tidak Senonoh Juga Di Gubuk Ku,,, Dasar perempuan Pembawa Sial,,, Arak Saja Mereka Ke Balai Desa..."
.
.
.
" Bersambung "