"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Lily lapar
"Lucas, kau benar-benar jahat," kata Lily sampai ingin menangis dan akhirnya ngambek tidak mau menatap Lucas.
"Segitunya ingin hadiah pria itu?" ketus Lucas memandang Lily yang duduk memunggunginya di atas pelaminan.
"Orang yang tidak tahu cara menghargai pemberian seperti Kakak nggak bakalan paham," ketus Lily.
Lucas memegang kedua lengan Lily sampai menatapnya, "Pemberianku lebih besar darinya," kata Lucas dengan arogan.
"Jadi kalau pemberian Kak Lucas lebih besar seenaknya saja menghancurkan pemberian orang lain yang lebih kecil?" kata Lily marah atas tindakan Lucas.
"Gelang itu dia berikan pada Lily, Kak Lucas nggak punya hak untuk menghancurkannya begitu saja," kata Lily merujuk gelang itu adalah miliknya.
"Jangan bicara soal hak, kamu itu istriku, jangankan menghancurkan gelang itu bahkan setiap inci tubuhmu aku berhak," kata Lucas memegang tangan kiri Lily menunjukkan cincin pernikahan mereka.
"Kita itu nikah cuma karena dijodohkan," kata Lily menarik tangannya yang dipegang Lucas.
"Lalu kalau perjodohan kenapa? Kamu pikir aku tidak punya hak terhadap istriku?" tanya beruntun Lucas yang langsung mengklaim hak atas statusnya.
"Kak Lucas tapi..."
"Mulai hari ini kamu sepenuhnya tanggung jawabku, jadi menurut dan patuh jika tidak ingin aku hukum," kata Lucas.
"Aku pria dewasa yang mengerti segala hak dan kewajibanku, jadi jangan melakukan hal yang membuat aku bertindak tidak sewajarnya padamu," tegas Lucas.
"Hwaaaa," Lily langsung menangis mendengar ancaman Lucas.
"Jika kamu menangis sekarang, malam ini akan jadi malam pertama kita layaknya suami istri," bisik Lucas yang membuat Lily langsung berhenti menangis dan mengusap cepat-cepat air matanya.
"Mendekat padaku," perintah Lucas yang dengan cepat Lily mendekat dan kembali memeluk sebelah lengannya.
......
Selesai acara dan berganti pakaian Lucas memilih membawa Lily ke apartemennya daripada tidur di hotel tempat acara.
"Rumah sedang dalam tahap renovasi penataan interior dan perpindahan pelayanku dari luar negeri, jadi untuk 5 hari ke depan kita tinggal di apartemen dulu," jelas Lucas pada Lily begitu membuka pintu apartemennya.
Lily berjalan masuk menyeret kopernya, "Kamar Lily di mana Kak?" tanya Lily yang ingin beristirahat karena sudah lelah dengan kegiatan seharian.
"Kamar kita ada di sudut kiri, masuklah dulu, aku ingin membuat segelas kopi," ucap Lucas langsung menuju dapur.
......
"Kak, apa nggak sebaiknya kita pisah kamar saja?" tanya Lily yang duduk di tepi ranjang begitu Lucas masuk dan menutup pintu.
"Kamu ingin bercerai dariku?" tanya Lucas dengan wajah dinginnya masuk ke ruang ganti.
Lily yang duduk di tepi ranjang memainkan telinga boneka kelinci yang dipegangnya mendengar ucapan Lucas.
Masa baru menikah pagi tadi, malamnya sudah bercerai!
Lucas keluar dari ruang ganti menatap Lily yang memakai piyama senada dengan yang dipakainya.
"Kamu tidak ingin tidur, aku akan mematikan lampu?" tanya Lucas yang sudah berbaring telentang di atas ranjang pada Lily yang masih duduk di tepi ranjang.
"Iya," kata Lily naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Lucas.
Lucas mematikan lampu utama kamar meninggalkan lampu kecil di atas meja samping tempat tidur, sepertinya Lily takut kalau lampunya mati semua.
"Kak Lucas," panggil Lily berbaring menghadap Lucas yang tidur telentang itu.
"Kak," panggil Lily menusuk-nusuk lengan Lucas dengan telunjuknya.
"Apa?" tanya Lucas tanpa membuka matanya.
"Hadap Lily, Kak," pinta Lily yang biasanya susah tidur jika tidak di kamarnya.
"Mmmh," Lucas malah berbaring memunggungi Lily.
Lily yang dapat perlakuan seperti itu rasanya ingin menangis tapi masih ditahan-tahannya, karena Lucas bilang kalau Lily menangis bakalan dia tiduri.
Lily menarik selimut sampai menutupi kepalanya lalu memeluk erat bonekanya.
Lucas yang memang belum tidur itu bisa merasakan Lily yang berbaring di belakang memegang ujung piyamanya.
Beberapa saat kemudian Lucas kembali berbalik dan ternyata Lily sudah tidur.
"Dasar penakut," senyum Lucas melepaskan tangan Lily yang masih memegang ujung piyamanya.
"Mmmmh," tangan Lily malah memeluk pinggang Lucas yang berbaring menghadapnya.
......
Keesokan paginya.
Rasanya Lily masih sangat mengantuk namun karena lapar akhirnya dia bangun.
Lily berjalan keluar kamar dan ternyata tidak menemukan makanan apa pun di meja makan.
"Mmmh," cemberut Lily begitu membuka kulkas dan ternyata tidak ada snack atau roti, semuanya bahan masakan.
Lily berjalan sambil menggigit apel ke dalam kamar dan membangunkan Lucas yang masih tidur.
"Kak, Kak Lucas," Lily duduk di tepi ranjang menggoyangkan lengan dan kaki Lucas agar bangun.
"Apa sih," ketus Lucas menutup wajahnya dengan bantal.
"Lily lapar Kak, tapi nggak ada makanan," kata Lily menggigit apelnya lagi.
"Ya masak sana," ucap Lucas menarik selimutnya lebih ke atas.
"Kak, bangun, Lily lapar," rengek Lily menarik selimut Lucas sampai jatuh ke lantai.
Lucas duduk di tengah ranjang, menatap dengan sebal Lily yang pagi-pagi sudah mengganggu tidurnya.
"Lily nggak bisa masak," kata Lily mengelus perutnya.
"Jika tidak bisa memasak tahan saja lapar," ketus Lucas turun dari ranjang mengambil selimut di lantai dan lanjut rebahan lagi.
"Mmmmh, tapi kan Kak Lucas suami Lily, bawa Lily ke sini, tapi nggak dikasih makan," kata Lily benar-benar menangis melempar apel yang tadi dimakannya ke arah pintu.
"Di mana-mana itu istri yang masak untuk suami," ucap Lucas yang berbaring tengkurap itu tanpa membuka matanya.
"Tapi, Lily nggak bisa masak, Lily lapar Kak," rengek Lily yang sama sekali tidak direspons Lucas, malah tangisan Lily seperti nyanyian di telinga pria dewasa itu.
Lelah menangis Lily mencari ponselnya untuk pesan makanan saja, tapi ternyata ponselnya tidak ada, sepertinya tertinggal di kamar hotel saat mereka ganti pakaian semalam.
Akhirnya Lily duduk bersandar ke kepala ranjang memeluk lututnya, tidak ada pilihan selain menunggu Lucas bangun.
Ketika Lily diam dan tidak menangis lagi Lucas yang berbaring tengkurap itu malah bangun dan celingak-celinguk mencari Lily.
Begitu hadap kanan Lucas sedikit terkejut ketika melihat Lily yang ternyata duduk di dekatnya.
"Cepatlah aku masakin," kata Lucas bangun memegang sebelah tangan Lily yang duduk memeluk kedua lututnya dan berjalan keluar kamar.
"Duduk di situ," kata Lucas menarik satu kursi di meja dapur.
Lily yang memang sudah lapar duduk dengan patuh tanpa mengganggu Lucas yang sedang memasak.
Sebenarnya untuk sekadar masak mi instan dan telur Lily bisa, tapi kedua bahan itu tidak ada di apartemen jadi Lily terpaksa harus menunggu Lucas.
Sekitar 20 menitan masakan yang Lucas buat sudah jadi, setelah menata di piring dia memberikan pada Lily yang sudah lapar sekali.
"Makanlah, aku ingin mandi," ucap Lucas langsung menuju kamar.
Lily memegang tangan Lucas yang akan pergi, "Terima kasih," kata Lily yang diangguki Lucas.