NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — Hujan yang Tak Terduga

Sore itu, langit Jakarta yang tadinya cerah tiba-tiba berubah gelap dalam hitungan menit, disusul hujan deras yang turun tanpa ampun tepat saat Kirana baru saja keluar dari gedung kantor menuju halte, berniat pulang lebih awal karena badannya mulai meriang sejak siang.

Sialnya, payung yang biasa ia bawa—payung misterius pemberian entah siapa beberapa minggu lalu—tertinggal di mejanya karena ia terburu-buru pulang saking pusingnya. Kirana berdiri di teras gedung, menatap hujan yang semakin deras dengan wajah pucat, badannya mulai menggigil karena demam yang perlahan naik.

"Kirana?"

Suara itu membuat Kirana menoleh, mendapati Rangga baru saja keluar dari gedung, hendak menuju mobilnya, terkejut melihat Kirana berdiri sendirian dengan wajah pucat di tengah hujan deras.

"Pak," Kirana mencoba tersenyum, meski tubuhnya semakin lemas. "Saya lagi nunggu hujan reda dulu."

Rangga mendekat, memperhatikan wajah Kirana yang pucat dan berkeringat dingin meski udara sedang dingin karena hujan. "Kamu kenapa? Wajahmu pucat banget."

"Nggak apa-apa, Pak, cuma agak pusing dikit," jawab Kirana, mencoba terdengar baik-baik saja, meski suaranya sendiri terdengar lemah.

Rangga menempelkan punggung tangannya ke dahi Kirana tanpa ragu, gerakan spontan yang membuat keduanya sama-sama terkejut sesaat.

"Kamu demam. Badanmu panas banget."

"Saya baik-baik aja, Pak, cuma perlu istirahat di kos—"

"Nggak, kamu nggak boleh naik angkot sendirian dalam kondisi kayak gini, apalagi hujan deras begini," potong Rangga tegas, nada khawatirnya tidak lagi berusaha ia sembunyikan. "Ayo, saya antar ke klinik dulu."

"Nggak usah, Pak, saya cuma perlu tidur aja, nanti juga sembuh sendiri—"

Sebelum Kirana sempat melanjutkan protes, tubuhnya tiba-tiba limbung, pandangannya berkunang-kunang karena demam yang naik drastis dikombinasikan dengan kelelahan menumpuk selama seminggu terakhir karena lembur terus-menerus. Untung saja Rangga sigap menangkap tubuhnya sebelum sempat jatuh ke lantai.

"Kirana!" Rangga memanggil namanya dengan panik, memapah tubuh Kirana yang lemas ke arah mobilnya, tidak peduli hujan deras yang membuat jas mahalnya basah kuyup dalam hitungan detik. "Bertahan, ya. Saya bawa kamu ke rumah sakit sekarang."

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Kirana setengah sadar merasakan kepanikan yang jelas terpancar dari suara Rangga yang terus memanggil namanya, memastikan ia tetap sadar, tangannya menggenggam tangan Kirana erat seolah takut kehilangan pegangan.

"Pak... maaf ngerepotin," gumam Kirana lemah, matanya setengah terpejam.

"Diam. Jangan banyak bicara dulu, fokus jaga kesadaran kamu," jawab Rangga tegas, meski nada suaranya jelas menyiratkan kekhawatiran yang mendalam, jauh dari kesan dingin yang biasa ia tunjukkan.

Sesampainya di rumah sakit, Rangga bergerak cepat mengurus semua administrasi, tidak membiarkan Kirana repot memikirkan biaya sedikit pun meski gadis itu sempat protes lemah di sela-sela pemeriksaan dokter. Diagnosisnya ternyata demam tinggi akibat kelelahan dan daya tahan tubuh yang menurun drastis karena kurang istirahat dan makan tidak teratur selama seminggu terakhir lembur.

Setelah mendapat infus dan obat penurun panas, Kirana akhirnya bisa beristirahat di salah satu ruang perawatan, tubuhnya masih lemas namun kesadarannya sudah kembali normal. Ia membuka mata, mendapati Rangga duduk di kursi samping ranjangnya, jas kerjanya sudah dilepas dan digantung di sandaran kursi, masih basah karena hujan tadi, wajahnya menunjukkan kelelahan namun matanya tetap waspada memperhatikan Kirana.

"Pak, Bapak masih di sini?" Kirana bertanya lemah, terkejut mendapati atasannya masih setia menunggu meski malam sudah semakin larut.

"Tentu aja," jawab Rangga singkat, seolah pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan sama sekali. "Kamu pikir saya bakal ninggalin kamu sendirian di rumah sakit?"

"Tapi Bapak kan sibuk, saya nggak enak ngerepotin sampe segini—"

"Kirana," potong Rangga, suaranya melembut, jauh berbeda dari nada tegas yang biasa ia gunakan di kantor. "Berhenti minta maaf terus. Kamu sakit, itu bukan kesalahan kamu."

Kirana terdiam, menatap Rangga yang balas menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia baca—campuran kekhawatiran, kelegaan, dan sesuatu yang lebih dalam yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari pria itu.

"Kenapa Bapak baik banget sih sama saya?" tanya Kirana pelan, pertanyaan yang sudah lama mengganjal di hatinya sejak rentetan kebaikan misterius yang ia terima selama ini.

Rangga terdiam cukup lama, tampak bergulat dengan jawabannya sendiri. "Saya nggak tahu," jawabnya akhirnya, jujur, suaranya terdengar seperti pengakuan yang berat untuk diucapkan.

"Sejak awal ketemu kamu, entah kenapa saya jadi... beda. Saya yang biasanya nggak peduli sama urusan orang lain, tiba-tiba jadi ngerasa perlu mastiin kamu baik-baik aja."

Jantung Kirana berdebar kencang mendengar pengakuan itu, meski tubuhnya masih lemas karena demam. "Itu artinya apa, Pak?"

Rangga menatap Kirana lama, tangannya bergerak pelan menggenggam tangan Kirana yang tergeletak di samping tubuhnya, gerakan yang begitu lembut dan hati-hati, jauh dari kesan tegas yang biasa melekat padanya.

"Saya juga masih coba cari tahu artinya apa," jawab Rangga pelan, suaranya nyaris berbisik.

"Tapi yang saya tahu pasti, saya nggak suka lihat kamu sakit kayak gini. Saya nggak suka lihat kamu kecapekan sendirian, saya nggak suka lihat orang lain deket-deket sama kamu tanpa alasan jelas."

Kirana menahan napas, jantungnya berdebar semakin kencang mendengar pengakuan setengah jujur itu, meski Rangga masih tampak berusaha keras menjaga jarak dari kata-kata yang lebih eksplisit.

"Istirahat aja dulu," Rangga akhirnya berkata, seolah menyadari ia sudah mengucapkan terlalu banyak untuk malam itu, buru-buru menarik kembali sebagian kekakuan biasanya. "Besok saya suruh Bu Marlina uruskan cuti sakit kamu."

"Terima kasih, Pak," bisik Kirana, matanya mulai terasa berat karena obat yang mulai bekerja.

"Tidur," Rangga berkata lembut, masih menggenggam tangan Kirana meski gadis itu perlahan tertidur karena kelelahan dan efek obat.

Malam itu, Rangga duduk berjam-jam di samping ranjang Kirana, menatap wajah tidurnya yang tenang, pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia coba hindari. Ia tahu, sebagai CEO, seharusnya ia menjaga jarak profesional. Tapi malam itu, melihat betapa paniknya dirinya saat Kirana limbung di pelukannya, ia akhirnya harus mengakui pada dirinya sendiri sesuatu yang sudah lama ia sangkal.

Aku jatuh cinta sama dia, batinnya, menatap wajah damai Kirana yang tertidur. Dan sepertinya, aku jatuhnya udah terlalu dalam untuk bisa ditarik kembali.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!