Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
USULAN IDRIS
Disaat pikiran semua orang tengah suntuk dan buntu, Idris yang sedari tadi hanya mengamati sambil ngemil kacang kulit tiba-tiba berbicara. “Bagaimana jika kita ajak cucu enek Gendhis gabung dalam kepanitian agustusan ini?”.
Begitu pria berusia dua puluh lima tahun yang biasanya cuek dan acuh terhadap kegiatan karang taruna dan hanya hadir sekedar pupuk bawang saja tiba-tiba memberikan usul, semua orang langsung menoleh dengan ekspresi terkejut.
“Cucu nenek Gendhis?”, tanya Ayu dengan ekspresi bingung.
“Ya, cucu nenek Gendhis, kalau nggak salah namanya Vallery. Kalian pasti sudah dengar kan gosip di warungnya lek Supri…”, Idris berbicara sambil menarik turunkan alisnya dengan wajah seolah menikmati semua orang yang menunggu ucapan selanjutnya.
“Kamu itu kalau ngomong mbok jangan separuh-separuh to Dris, bikin penasaran saja”, omel Yanti.
Ayu mengkerutkan keningnya sambil menatap Idris bingung. “Aku pernah mendengar cerita itu dari ibuku. Tapi apa hubungannya cucu nenek Gendhis sama proposal pengajuan acara Agustusan ini?”.
Idris yang melihat wajah semua orang yang sudah tak sabar ingin mendengar usulannya pun segera menegakkan badannya dengan cepat.
“Kalu ibumu pernah cerita berarti kamu tahu kan kalau pagi itu untuk pertama kalinya semua orang mendengar pak kepala desa berbicara dengan lembut kepada seseorang. Dan orang yang beruntung itu adalah cucunya nenek Gendhis, Vallery itu”, ucap Idris lantang.
“Selain wajahe Vallery itu uayu poll, Vallery itu juga lulusan S2, jadi ia bisa membantu kita merevisi proposal pengajuan kegiatan ini sekaligus mengajaknya maju untuk membawa proposal pengajuan kegiatan ini kehadapan pak kepala desa secara langsung. Aku yakin seratus persen, jika Vallery yang maju pasti langsung acc”, Idris berkata sambil menepuk dadanya beberapa kali sebagai bentuk keyakinan akan ucapan terakhirnya itu.
Baruna yang mendengar usulan itu sedikit menyipitkan matanya, “Memang secantik apa sih Vallery itu?”, tanyanya penasaran.
“Uayuuu polll bosss. Jan ngeten lho”, ucap Idris sambil mengacungkan dua jempolnya kehadapan Baruna.
“Jika kamu yakin, Yo ndang diajak Vallery itu gabung. Kalau bisa undang ke rumah Ayu besok, biar masalah proposal ini cepet kelar”, ucap Yanti.
Idris yang mendengar usulannya diterima semua orang merasa sangat senang. Tapi jika disuruh mengajak langsung Vallery, jelas ia menolak karena kenal saja enggak masa Idris tiba-tiba datang ke rumah nenek Gendhis dan menawarkan Vallery untuk menjadi panitia agustusan, jelas tidak mungkin!.
“Yo, jangan aku yang disuruh ngajak. Aku aja belum kenalan sama Vallery”, Idris berkata dengan nada sedikit mellow karena meruntuki kebodohannya pagi itu yang tak langsung berkenalan dengan Vallery akibat terlalu terpesona hingga membuat tubuhnya membeku sesaat dan ketika ia sadar, Vallery dan neneknya telah berjalan pulang dengan neneknya.
“Lha piye yo to, Dris. Kamu seng buat usul kok nggak bisa bertanggung jawab”, sewot Yanti.
Idris yang dikritik hanya bisa garuk-garuk kepala sambil cengengesan.
“Kalau untuk ngajak Vallery gabung, sebaiknya Mila saja yang maju. Selian kedua orang tua Mila cukup dekat dengan keluarga nenek Gendhis, Mila kan perempuan jadi nggak kikuk kalau mau ngajak Vallery”, ucap Idris memberi usul.
Mila yang ditatap semua orang pun hanya mengangguk patuh. “Nanti sepulang dari sini aku tak mampir ke rumah nenek Gendhis. Tapi nanti kalau cucunya nenek Gendhis nggak mau ikut gabung, jangan salahin aku ya”, Mila berkata dengan ekspresi minta persetujuan karena bagaimanapun ia dan Vallery tidak saling mengenal meski beberapa kali pernah bertemu ketika gadis itu membeli sesuatu diwarungnya.
Baruna yang ingin masalah proposal pengajuan kegiatan ini cepat kelar pun angkat suara.
“Kamu pulang bareng aku aja Mil. Aku yang akan menemani mu pergi menemui Vallery karena aku juga penasaran secantik apa sih cucu nenek Gendhis itu hingga pak kades yang seperti papan kayu itu bisa luluh”, ucap Baruna sambil tersenyum jail.
Ayu yang mendengar ucapan Baruna, hatinya berdenyut nyeri. Yanti yang duduk disamping gadis manis itu pun menepuk pundaknya pelan. “Sudah jangan dipikir terlalu dalam. lagian, belum tentu juga Vallery mau gabung”.
Di karang taruna ini, hanya Yanti yang mengetahui perasaan Ayu terhadap Baruna, yang sayangnya tak berkembang dengan baik karena keduanya terjebak dalam friend zone.
“Wes, tak jamin Kowe bakal kesengsem kalau ketemu Vallery dan status jomblo mu itu pun bisa segera berakhir. Aku saja, jika tidak ingat punya tunangan, mungkin juga akan ikut mengejar Vallery buat dijadikan pasanganku”, celoteh Idris sambil tersenyum jail ala pria dengan Baruna, membuat hati Ayu semakin perih menyaksikan Baruna sama sekali tak menyanggah ucapan Idris seperti apa yang selama ini pemuda itu lakukan ketika ada orang yang tengah mengodanya.
***
Sebelum mahgrib, dibonceng Baruna, Mila sudah memasuki halaman depan rumah nenek Gendhis.
tok tok tok
“Assalamualaikum…nek, nek Gendhis”, sapa Mila.
Vallery yang kebetulan ada di ruang tengah tengah dan baru saja mengirimkan file pekerjaannya kepada rekan-rekannya, bangkit “Waalaikumsalam salam, tunggu sebentar”, teriaknya.
ceklek,
Begitu pintu terbuka, seorang gadis cantik dengan rambut dicepol asal tanpa riasan, membuka pintu.
“Oh kamu to Mil. Ayo masuk. Tumben main kemari?”, tanya Vallery sambil mengajak tamunya masuk keruang keluarga setelah ia mendengar notifikasi dari ponsel pintarnya.
Mila yang melangkah masuk menghentikan langkah kakinya ketika melihat Baruna berdiri mematung sambil senyam-senyum sendiri.
Takut Baruna kesambet karena sekarang biasanya menjelang magrib adalah waktu yang cukup rawan dimana kata orang-orang tua dulu waktu suruh seperti ini pintu dua dunia terbuka sehingga biasanya anak-anak disuruh masuk agar tak kesambet (kerasukan setan), Mila pun segera menarik satu tangan Baruna dan membawanya masuk.
“Kamu itu lo Mil, main tarik-tarik aja. Molor nih kaosku”, gerutu Baruna sambil membenarkan kaos hitam yang dipakainya setelah ditarik tangan Mila hingga kusut.
“Maaf, aku kira kamu kesambet. Habis senyum-senyum sendiri didepan pintu surup-surup (menjelang Maghrib) begini”, jawab Mila yang langsung mendapatkan tabokan di bahu dari Baruna.
Vallery yang melihat tingkah keduanya hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Keduanya pun segera mengikuti langkah Vallery dan duduk di sofa yang sama dengan gadis cantik itu.
“Ini gambar rumah siapa mbak, bagus banget”, Mila berkata sambil menatap kagum gambar 3D rumah minimalis yang baru saja Vallery buat.
"Oh ini, rumah yang diminta klien untuk aku buat desainnya", jawab Vallery.
Baruna yang penasaran pun ikut menjulurkan kepalanya kearah laptop milik Vallery. “Kamu arsitek?”, tanyanya penasaran.
“Iya, aku arsitek. Kalau kalian ada kenalan yang ingin merenovasi rumah bisa menghubungiku”, ucap Vallery berpromosi.
Begitu memutuskan untuk tinggal lama di Desa Maju Bersama ini, Vallery pun sudah mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan tambahan dengan cara menerima renovasi rumah dan pembangunan rumah baru dimana ia nantinya akan bekerjasama dengan pemborong lokal yang tinggal di kabupaten yang merupakan kenalan Yohanes, rekan Vallery yang juga merupakan pimpinan perusahaan konsultan miliknya itu agar bisa mengembangkan sayapnya dan memiliki pondasi di desa ini jika kedepannya nanti ia memutuskan untuk menetap disini.
“Iya gampang, nanti kalau ada orang yang mau merenovasi rumah aku suruh hubungi kamu. Oya, namaku Baruna. Kita bisa saling tukar nomor ponsel agar komunikasi bisa berjalan dengan lancar”, ucap Baruna sambil menyodorkan ponselnya agar Vallery menulis nomor teleponnya disana.
“ck, dasar modus!”, celetuk Mila sinis.
Baruna mengacuhkan tatapan sinis Mila dan tetap fokus kepada wajah Vallery yang cantik.
Vallery yang merasa ini kesempatan baik pun tak sungkan dan segera memasukkan nomor ponselnya.
“Aku juga mau mbak”, ucap Mila sambil menyodorkan ponselnya kearah Vallery.
Selesai bertukar kontak, Vallery yang baru saja keluar sambil membawa dua minuman dingin dari dapur pun bertanya, “Ada apa kalian berdua kemari? tak mungkin kan kalau hanya sekedar main?”.
Mendengar pertanyaan to the point dari Vallery, keduanya pun saling lirik seolah mencari kesepakatan siapa yang harus berbicara.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA