Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Aku masuk menarik nafas lega.
Mulutku tiba-tiba di tutup tanganku di tarik ke samping pintu.
Aku terkejut, ternyata itu Pangeran Fang.
Aku melepaskan bekapan tangannya.
Tangannya dingin mungkin dari luar.
Bajunya berdarah, "Kau berdarah" kataku sampai lupa memanggilnya Pangeran.
"Bukan darahku" kata Pangeran Fang.
Dia melepaskan bajunya di hadapanku, aku menunduk membalikan badan.
Aku akan pergi mandi.
"Sudah kau boleh berbalik" katanya.
Aku berbalik.
Pangeran Fang pergi ke kamar mandi, aku memungut pakaiannya yang terdapat noda darah memasukan ke keranjang.
Selesai mandi Pangeran Fang makan makanan yang sudah dingin, aku menawarkan memanaskan makanan dia bilang tidak perlu.
Dia memintaku mendorong keretanya ke Istana Raja bersama pengawal.
Aku mengantarkan dan menunggu diluar.
"Kudengar Putri Mentri Keuangan menjadi pelayan di Istana Pangeran Fang" kata dayang lewat berbisik-bisik tertawa.
Dayang saja sudah menertawakan Nona Bangsawan, coba saja kalau Ayah dan Ibuku tau kataku dalam hati.
Aku menunduk, Pangeran keluar dari Istana di dorong Pengawal.
Aku mengikuti dari samping memegang lentera.
"Kau pulanglah ke kamarmu" kata Pangeran Fang.
Aku mengangguk.
Kembali ke kamar, menggelar tempat tidurku, mengambil selimut tebal karena di luar hujan lebat.
**
Setelah sarapan pagi, aku duduk di samping kamar menunggu di panggil Pangeran Fang ke kediamannya.
Aku menguap beberapa kali karena angin dingin sejuk, membuatku mengantuk.
Bau tanah basah yang segar mengingatkanku seharusnya aku berbulan-bulan ini menjadi mahasiswa.
Waktuku habis terjebak di Istana ini menjadi Xiu Ren dan tidak bisa pulang.
Kulihat Pangeran berlatih memanah dari samping bersama Pengawal yang mengawasinya.
Tidak lama dia duduk di kursi rodanya, Pengawal datang menemuiku.
"Pangeran meminta Nona datang" kata Pengawal.
Aku datang dengan patuh mengikuti dari belakang, merentangkan tangan mengantuk.
"Mana tata kramamu?" kata Pangeran Fang melihatku menguap sembarangan.
Andai kau tau aku bukan Xiu Ren yang tau semua tata krama istana.
Aku memalingkan wajah.
"Maaf, Pangeran hamba sedikit mengantuk karena udara dingin" kataku.
"Kalau begitu masuklah ke kediamanku dan tidurlah lebih lama" Perintah Pangeran Fang.
"Tidur di kediamanmu?" tanyaku.
Pangeran Fang melihatku dengan tatapan tajam.
Aku paham, mendorong keretanya masuk ke dalam kamar menutup dan berbalik badan dia mengganti pakaian dan setelah dia pergi aku tidur di kasurnya.
Begitu dia datang aku harus bangun lagi, makan bersama dan kembali ke kamar.
Hari ini itu yang kulakukan.
**
"Nona, pagi ini Pangeran memintaku menyampaikan pesan ini untuk nona kalau Pangeran mengijinkan Nona kembali ke Kediaman Mentri untuk berkunjung, nanti malam Nona bisa kembali lagi ke Istana" kata Pengawal.
"Baiklah" ucapku.
Aku pergi kembali ke Kediamanku meminjam kuda Pengawal untuk pulang.
**
"Putriku...kau pulang berkuda..." Ibu Xiu Ren heran
"Iya ibu.."kataku.
"Keterlaluan, tidak bisakah Pengeran Fang menyiapkan untukmu tandu" kata Ayah Xiu Ren.
"Anakku apa kau menderita disana, kau nampak kurus" Ibu Xiu Ren mengelus-elus wajahku.
Apanya yang kurus, kerjaanku hanya makan tidur.
"Kulitmu pucat tidak terkena matahari" kata Ibu Xiu Ren.
Ini baru benar.
"Tidak masalah, di Istana Pangeran Fang semua tersedia, aku juag berlatih berkuda disana" kataku
"Ternyata begitu, Pangeran Fang yang meminta..syukurlah.." kata Ayah Xiu Ren.
Pangeran Fang memang perlu dipuji, padahal aku berinisiatif berkuda karena tidak dipinjamkan apapun.
Bagaimanapun juga tidak mungkin aku kembali berjalan kaki.
Aku menikmati liburan setengah hariku dan membawa pakaian yang banyak kembali ke Istana, diantar kembali dengan kereta.
Setibanya di Istana Pangeran Fang, aku di cegat di gerbang membawa barang-barang.
Dayang membantuku membawa barangku ke kamar.
Aku mengikuti masuk Pangeran Fang ke kamarnya.
"Kau pikir kau akan tinggal lama disini?" tanya Pangeran Fang.
"Aku membawa sedikit barang dan pakaian tidak banyak" kataku heran.
"Siapa yang menyuruhmu meminjam kuda pengawal?" kata Pangeran Fang.
"Kau memintaku jalan kaki kerumah?" tanyaku.
"Kenapa tidak bilang ke Dayang kalau kau perlu kereta atau tandu" kata Pangeran Fang.
"Jangan membuat sesuatu jadi masalah besar, aku bisa berkuda, mandiri jadi tidak perlu di khawatirkan" jawabku.
Pangeran Fang mendekat, "Justru itu masalahnya seisi istana ribut melihat kau berkuda, kau semakin berani membantah" kata Pangeran Fang mencengkram daguku dengan tangannya.
aku menangkis tangannya, "Sakit..." kataku menyentuh daguku.
Pangeran Fang terkejut, aku pergi ke kamarku meninggalkan dia sendirian.
**
Setiap hari perkerjaanku menutupi kepergian Pangeran dari Istana, kupikir aku tidak tau kapan semua ini akan berakhir.
Buku di perpustakaan Pangeran Fang hampir habis aku baca sendiri.
Kudengar ribut-ribut di luar, aku berlari keluar, kerajaan di serang, konspirasi dimulai.
Istana di kepung, dayang berteriak, pengawal berjaga, aku diminta masuk ke ruangan kediaman Pangeran Fang.
Kudengar dentingan pedang diluar saling beradu aku panik mengambil busur dan anak panah milik Pangeran yang terletak di sisi ruangan, bersiap membidikkan panah kepada siapapun yang masuk ke Kediaman Pangeran.
Denting pedang berhenti.
Pintu kamar kediaman Pangeran Fang dibuka,
Aku sudah siap dengan busur panah yang sudah kutarik dari tadi.
Pangeran Fang dan pasukannya berjalan masuk ke kediamannya, aku menurunkan sasaran panahku, dengan pelan tanganku membatalkan menembakan anak panah, menyimpan busur panah ke sisiku.
Pangeran Fang masuk langsung memelukku di tengah orang banyak.
"Kau takut?" tanyanya.
Tubuhku masih gemetar.
Aku dibawa kembali ke Kediaman Mentri Keuangan malam itu juga.
Pemberontakan Perdana Mentri dan Pangeran Hong berhasil di tumpas, di luar istana aku dengar berita beberapa hari kemudian dari dayang, bahwa yang membantu Pangeran adalah Putri Nay.
Semenjak Seleksi Permaisuri di Istana Putri Nay tidak sengaja mendengar Putri Ang berbicara dengan Ayahnya Perdana Mentri, bahwa akan ada penghianatan di Istana dia segera melaporkan ke Pangeran Fang.
Semua orang tau Putri Nay yang berjasa, tentu saja akan menikahi Pangeran Fang.
**
"Putriku, kau anak yang baik...Ayah tau yang berjasa itu kau bukan Putri Nay. Kupikir Pangeran Fang sudah tau lebih dulu hal itu" kata Ayah Xiu Ren duduk di sampingku.
"Tidak masalah kau tidak menikah menjadi Permaisuri Pangeran, bibimu akan menjodohkan kau dengan beberapa Sarjana yang pintar lulusan terbaik di negeri ini" kata Ayah Xiu Ren menatap sedih mearatapi nasibku.
"Kau tetap anak ibu yang terbaik, kau lebih enak tinggal di kediaman kita" kata Ibu Xiu Ren menyentuh dan mengusap lenganku.
"Aku tidak masalah, jangan khawatirkan aku, yang penting kita tetap hidup enak dan bahagia" kataku, kami bertiga berpelukan.
**
Aku di ijinkan jalan-jalan keluar kediaman bersama Dayang May.
Semenjak kejadian di Istana aku menjadi trauma, aku selalu membawa pisau kecil di sakuku untuk berjaga-jaga.
Dari kejauhan aku lihat rombongan Pangeran Fang melintas berkuda.
Aku mengajak Dayang May, pergi menghindar.
Esok harinya, kudengar ada tamu ke kediaman Ayah.
Ibu bilang itu Permaisuri Raja dan Pangeran Fang.
Ayah dengan tegas mengatakan aku sednag tidur siang, tidak bisa di ganggu.
Padahal aku masih bangun, mereka berusaha melindungiku dari urusan istana.
Aku juga lebih tenang, belajar bersama dayang menyulam.
**
"Xiu Ren, kau berbelanja juga?" kata Putri Nay bersama Dayangnya di toko pakaian.
"Iya, aku sudah memilih" kataku menunjuk pakaian yang kubeli sedang di bungkus.
"Oh...mau minum teh bersamaku, hari ini Pangeran Fang berkunjung ke kediamanku" kata Putri Nay.
"Maafkan aku, mungkin lain kali" kataku.
"Kau sibuk? Apa kegiatanmu" tanya Putri Nay.
"Aku berlatih main musik" kataku berbohong, kulihat pengawal Pangeran Fang diluar toko baju, pasti Pangeran Fang ada di sekitar sini mengantar Putri Nay.
Aku pamit pergi bersama Dayang May.
Baru saja aku keluar betul saja pengawal membawaku ke sisi bangunan toko pakaian, disana Pangeran Fang dengan baju penyamarannya.
Aku berdiri berhadap-hadapan.
**Bersambung...