"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Deretan lampu kuning menggantung di teras kafe. Meja beserta kursi kayu, tersusun rapi, dan hampir semuanya penuh. Musik akustik dari sebuah band yang sedang live, terdengar hingga halaman. Selain sibuk berbincang dan menikmati makanan, beberapa orang juga tampak sibuk mengambil gambar. Di era seperti sekarang, menikmati makanan jadi nomor kesekian, karena yang pertama harus dilakukan, bukan lagi mencicipi, tapi mengambil gambar untuk dijadikan story.
"Mau request lagu?" Kenan yang berdiri di dekat meja kasir, merangkul pinggang sang istri. Biasanya kalau sedang sangat ramai, ia membantu pekerjanya, bukan mengantarkan pesanan atau membersihkan meja, tapi jadi kasir, menerima orderan. Seperti malam ini, ia menjadi kasir, karena yang biasanya jadi kasir, membantu di dapur.
"Gak usah." Eliana sendiri sibuk mengambil video live akustik untuk dijadikan story.
"Honey!" Kenan menarik ponsel istrinya, kesal dari tadi dicuekin.
"Yank!" Eliana mendelik kesal. "Aku lagi midioin."
"Mentang-mentang yang nyanyi ganteng," Kenan mendengus.
"Ya kan sesekali aku pengen juga liat yang ganteng-ganteng."
"Maksudnya apa nih, aku gak ganteng gitu?"
"Bukan aku loh ya yang ngomong."
"Aku pesenin taksi. Pulang sana!"
Eliana tertawa cekikikan, memasang wajah unyu sambil bergelayut mesra di lengan Kenan. "Cie...ngambek." Mengedip-ngedipkan sebelah mata.
"Jelek!"
Eliana terkekeh. "Yakin jelek?" Ia menatap semakin dekat.
"Banget!"
"Aku nangis loh."
"Nangis aja. Guling-guling sana di lantai."
Eliana memasang muka cemberut. "Pulang ah, pulang." Melepas tangan Kenan, mengambil ponselnya di meja kasir.
"Ish, udah, disini aja." Kenan menarik pinggang Eliana, memeluknya dari belakang. "Kita nikmati masa kayak orang pacaran dulu," meletakkan dagu ke bahu Eliana. "Sebelum nanti dedek utun lahir." Sebelah tangannya mengusap perut sang istri.
"Yakin banget kalau aku hamil, padahal baru telat 4 hari."
"Yakin pokoknya. Beberapa hari yang lalu aku mimpi jagain bayi kembar 5."
"Busyet! Kucing kali aku, beranak lima."
Keduanya tertawa bersama. Kenan masih meletakkan dagu di bahu Eliana, bersenandung, menikmati alunan lagu. Meja kasir lumayan tinggi, jadi dari jatuh, tidak terlihat jika sekarang, ia sedang memeluk istrinya dari belakang.
"Mas, Mas!"
"Mas, ada orang." Eliana buru-buru melepas pelukan Kenan. Ada sepasang pria dan wanita di depan meja kasir.
"Iya." Kenan segera bersikap profesional, bergeser, tersenyum ramah pada pelanggan yang ingin melakukan pemesanan.
"Gak takut dipecat Mas. Kerja kok malah pacaran?"
"Kebetulan, saya yang punya kafe ini, jadi gak ada yang mau mecat."
"Oh.. gitu ya." Pelanggan tersebut langsung ketawa.
"Maaf ya Mas, Mbak, kalau pelayanannya kurang memuaskan tadi. Mas nya pasti sampai manggil beberapa kali. Maklum Mas, bini hamil, suka menggatal, minta di peluk terus." Melirik Eliana.
Eliana langsung melotot. Menggatal katanya? Apa gak salah? Ia bersedekap, memperhatikan suaminya yang sibuk melayani pemesanan.
"Terimakasih." Kenan memberikan struk setelah pelanggan melakukan pembayaran non tunai. Setelah orang tersebut pergi, matanya tiba-tiba tertuju pada seseorang yang baru masuk. "Alisya," gumamnya pelan.
Eliana yang juga melihat kedatangan Alisya, segera mendekati suaminya. "Ada Alisya tuh, tapi kok Elang gak kelihatan?"
Kenan hanya diam. Ia belum cerita pada Eliana soal hubungan Elang dan Alisya yang sedang tidak baik-baik saja. Dan soal Elang yang ternyata penabrak Ilona, ia simpan rahasia itu rapat-rapat.
"Hai, Sya." Sapa Kenan lebih dulu saat Alisya menghampirinya di meja kasir. "Sendirian?"
Alisya mengangguk. "Hai El," sapanya pada Eliana. Mereka memang tak kenal dekat, tapi kenal, beberapa kali bertemu.
"Mana Elang?" tanya Eliana.
"E..." Alisya hanya tersenyum. "Ken, sibuk gak? Aku...ada yang ingin dibicarakan sama kamu."
Kenan melirik Eliana, gelisah. "Enggak kok."
"Ya udah, aku pesen macha satu ya," ujar Alisya.
Kenan mengedarkan pandangan, mencari meja kosong. Sampai akhirnya, matanya menangkap sebuah meja di teras kafe yang baru saja ditinggal pengunjung. "Kamu tunggu disana dulu."
"Ok." Alisya tersenyum pada Eliana, lalu balik badan, melangkah menuju meja yang di maksud Kenan.
"Dia mau ngomong apa?" Eliana mengerutkan kening, penasaran.
Kenan mengedikkan bahu, pura-pura tidak tahu, padahal ia sudah bisa menebak apa yang akan Alisya obrolkan. "Kamu tunggu disini ya, jaga kasir."
"Aku ikut." Tolak Eliana.
Kenan membuang nafas kasar sambil mengusap tengkuk. "Kamu disini aja, takutnya nanti Alisya gak nyaman."
"WHAT!" Eliana mendelik. "Yang ada aku yang gak nyaman kamu ngobrol berdua sama dia. Kamu itu suami aku, Mas."
"Iya, aku suami kamu. Sampai langit runtuh, bakalan tetap jadi suami kamu. Udah, gak usah cemburu, kamu tunggu sini."
"Enggak! Aku ikut." Eliana memegang lengan Kenan. Enak aja kalian ngobrol berduaan, aku dianggap apa?"
"Astaga, Honey." Kenan kembali menggela nafas berat sambil geleng-geleng. "Berduan gimana sih, noh lihat, ada banyak orang. Mustahil aku dan Alisya macam-macam."
"Tapi aku gak akan tenang ngebiarin kalian ngobrol berdua." Eliana memasang muka cemberut.
"Ayolah, Honey. Takutnya Alisya gak nyaman ngomong kalau ada kamu." Ia mengambil dompet di saku celana, memberikan pada Eliana. "Nih, dompet seisinya. Uang, ATM, KTP, dan semuanya. Sama ponsel aku." Menunjuk dagu ponsel di atas meja. "Bawa semua, biar kamu tenang."
Diam-diam, Eliana tersenyum. "Aku...CO di market place kamu ya."
"Terserah, yang penting kamu senang. Gak usah mikir macem-macem, kasihan dedek utun." Kenan mengusap perut Eliana, lalu ke pantry untuk mengambil macha, membawanya ke tempat Alisya.
Alisya meletakkan ponsel melihat kedatangan Kenan.
"Sorry ya, nunggu lama." Kenan meletakkan segelas macha ke atas meja, lalu menarik kursi, duduk di depan Alisya.
"Makasih." Alisya mengaduk, lalu menyedot sedikit.
"Ada apa, Sya?"
Alisya membuang nafas kasar, kedua bahunya luruh ke bawah. "Elang, Ken." Ia meremat gaunnya. "Hari ini, terhitung sudah 3 minggu aku dan Elang break. Aku fikir, beberapa hari setelah memutuskan untuk break, dia bakalan menghubungi aku, menyesal, tapi sampai sekarang, dia gak menghubungi aku. Ken," menatap Kenan dengan mata sendu. "Apa kamu tahu, apa yang membuat Elang minta break? Apa ada wanita lain, Ken?"
Kenan gelisah, tak tahu harus menjawab apa.
"Ken, kamu pasti tahu. Elang paling dekat sama kamu. Bahkan jika dibandingkan Ilham, Elang lebih dekatnya sama kamu."
"A, aku gak tahu, Sya."
Alisya menggeleng. "Kamu pasti bohong! Kamu tahu Ken. Cerita sama aku, please..."
Kenan membuang nafas kasar sambil geleng-geleng. Ia menoleh ke arah Eliana yang ada di balik meja kasir, sedang menatapnya juga.
"Ken, apa ada wanita lain?" desak Alisya.
"Sya," Kenan menatap Alisya. "Ini masalah kalian berdua, aku gak berani ikut campur."
Alisya tersenyum simpul. "Jadi benar, ada wanita lain?"
"Aku gak ngomong gitu."
"Tapi dengan kamu gak nyangkal, dan gak mau cerita, itu sudah seperti jawaban, Ken." Alisya mengambil ponsel di atas meja, membuka akun instagram Elang, menunjukan postingan terbarunya. "Blossom florist, usaha milik siapa ini? Kenapa Elang mempromosikannya?"
Wajah Kenan pias. Ini bukan masalahnya, tapi kenapa ia yang ikut deg-degan. Bagaiman jika minggu depan saat grand opening, Alisya datang dan membuat kacau? Astaga! Kenapa ia yang gelisah seperti ini.